Parentas
Adalah sebuah desa kecil yang terpencil di lereng gunung Galunggung, desa ini masuk kecamatan Cigalontang , kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat,
Tapi gue lebih seneng ke desa ini lewat kecamatan Wanareja kabupaten Garut, selain ongkosnya jauh lebih murah, jalannya juga gak ribet ribet banget,
Gue pernah pulang dari PARENTAS lewat Tasikmalaya, baru keluar desa langsung hutan belantara, pas ditengah hutan hujan keras, mau neduh, gak ada yang bisa di teduhin, mau sekedar berhenti, banyak anjing pemburu yang berkeliaran, katanya lagi nyari celeng, bagus bagus dapetnya rusa, yah., udah lanjut aja sambil main hujan, dari bogor ke garut gue naik bis ongkosnya 35 ribu, nah.,gue naik ojek dari PARENTAS ke terminal Tasik, ongkosnya 70 ribu, ngebayangkan jauhnya dan ngebayang jugakan perjalanannya kaya apa..? udah jalannya rusak parah, jalannya kecil dan sempit, tikungannya tajem2 dan jalannya naik turun, brengseknya juga, kebiasaan ojek disana, kalau jalanannya turun, mereka matikan mesin, padahal yang gue tau, kalau mesin dimatikan, daya tahan untuk memperlambat motor jadi berkurang, udah gitu kalau jalanan turun, badan kita harus nempel banget dengan tukang ojeknya, mungkin kalau cewe jadi risih, tapi kalau gay, wah., merdeka banget tuh.!
Tapi ini bukan satu ajakan untuk para gay mencari alternative wisata lho..!
Sebelum ke PARENTAS, gue tidurnya di desa Cigadog dirumah mertuanya Deddy, desa ini merupakan perbatasan antara kecamatan Wanareja di Garut dengan kecamatan Cigalontang di Tasik, sama sama terletak di lereng gunung Galunggung, cumannya kalau di Cigadog masih ada sinyal telpon, kalau di Parentas, harus naik ke bukit dulu baru dapet sinyal, lucunya., kalau pagi orang orang PARENTAS pada naik ke bukit dan pada jongkok rame rame sambil pada nelpon, yang gue bayangin, seperti orang pada be’ol di pinggir kali ( ngeres..! ).
Desa PARENTAS pernah hancur lebur, saat gunung Galunggung meledak tahun 1982, banyak warganya yang pindah kekota, dan banyak juga yang ikut transmigrasi ke Sumatra, kata warganya, berkat bantuan Harmoko ( saat itu sbg Ketua Golkar ) rumah dan desa dibangun kembali, makanya desa disana rapi dan tertata dengan baik, makanya juga, Golkarpun sampai sekarang masih berjaya disana, waduh.. Pak Harmoko, nama Bapak sangat bagus disana, gak ada niatan mau kesana tuh..?
PARENTAS adalah desa pertanian,dimana masyarakatnya tergantung dari hasil pertanian, pada umumnya tanaman sayuran menjadi komuditas utama, sedangkan padi hanya sebagian kecil saja,
Jadi kita sama sama taulah, kenapa gue ada disana dan mau ngapain disana.
Kecuali salah satu penghasil sayuran untuk pemasaran di wilayah Jawa Barat, PARENTAS dan sekitarnya juga penghasil tukang sol sepatu dan tukang cukur untuk pemasaran di wilayah Jakarta dan sekitarnya.
2 kali gue kedaerah sana, 2 kali gue tidur di PARENTAS, dan 2 kali gue tidur dirumahnya Uztad Eddy,
Uztad Eddy ini mengajar ngaji bagi masyarakat disekitar PARENTAS, ada juga yang dari luar, nah., yang dari luar ini, tinggalnya di lantai atas rumahnya, setiap pagi, sesudah shalat subuh, pelajaran sudah dimulai,
Gue kalau disana, tidurnya di kamar depan, pake tempat tidur, tapi gak pake kasur, malemnya nanti dikasih kain dan sarung, maklumlah, dinginnya mana tahan kita, biasanya kalau mau tidur, telapak kaki gue bungkus pake sarung, jaket untuk bungkus badan, sedangkan kain untuk bungkus dari kaki sampai kepala, waktu pertama gue tidur disana, gak ada masalah, yang kedua ini yang bermasalah, bolak balik telentang, madep kiri madep kanan, tetap aja yang ada diotak gue, mayat, orang mati dan kuburan, gue duduk, gue berdiri, gue keluar masuk kamar, tetap juga urusan mayat dan orang mati yang ada diotak, mau baca ayat kursi, gue gak tau, mau nyanyi “ Tuhan sertaku ” mungkin dianya yang gak tau. takut sih., sebenarnya enggak, cuman karena gak bisa tidur ini yang merepotkan.
Desember kemarin waktu gue kesana, Pak Uztad bilang begini ke gue “ Pak Domu, kami warga di PARENTAS ini, sedang mengurus untuk membuat sebuah Yayasan, dimana Yayasan ini akan kami gunakan untuk mencari dana pembangunan dan renovasi madrasah kami yang sudah tidak memadai lagi, kami masyarakat kecil dari desa terpencil, tentunya sangat terbatas kemampuan pendanaannya, kami sangat berharap Pak Domu dapat mendukung kegiatan kami ini “.
Pak Uztad tau persis, gue orang batak dan agama gue Kristen, tapi apa masalahnya, kalau kita sama sama sepakat dan sependapat, bahwa urusan agama adalah urusan pribadi manusia dengan Tuhannya, sedangkan urusan gue sama Pak Uztad adalah urusan ukhuwah ihsaniyah, saling menghargai, saling menghormati dan saling bertoleransi. Indahkan..?
Gue gak kaget dengan permintaan ini, karena hal seperti itu, sudah bukan barang baru lagi untuk gue,
Di Lamongan sudah 26 tahun gue bergaul dengan mereka, dan mungkin masyarakat disanapun, belum pernah kenal dan tau namanya orang batak dan Kristen, jadi kira kira karakteristik masyarakat PARENTAS dan masyarakat LAREN di Lamongan yah., sama saja, sama sama memegang teguh ukhuwah ihsaniyah, uhkuwah wathoniyah secara ukhuwah al islamiyah.
Ke Pak Uztad, gue katakan “ saya siap untuk mendukung dan mencari dana dari teman dan saudara saudara saya, cuma kalau boleh saya usulkan, kecuali meminta dengan tangan dibawah, bagaimana kalau Yayasan pun mencari dana dengan cara usaha sendiri, ini namanya PEMBERDAYAAN, bisa dibilang pemberdayaan masyarakat desa, atau juga pemberdayaan Yayasan, dengan cara ; saya mendukung mencari dana untuk Yayasan, Yayasanpun mendukung memasarkan produk saya, dimana sebagian keuntungan yang saya terima dari setiap penjualan, akan saya serahkan kembali kepada Yayasan “
Masalahnya begini, semua masyarakat disana adalah petani, mereka menggunakan pestisida dan membelinya dikota, kalau memang produk gue itu bagus dan cocok untuk mereka, apa salahnya kan..?
Gue pernah jalankan konsep ini di daerah Kopeng dan Tawangmangu, istilah gue saat itu Pemberdayaan Gereja, sayangnya, karena dikedua daerah ini sang ketua majelis dan gembala sidangnya mau ikutan bermain, putus dijalanlah konsep ini.
Intinya, Agama tidak bisa menjamin apa apa, karena semua itu tergantung dari pribadi kita masing masing.
Jadi jangan mudah saling menghakimi .
Konsep pemberdayaan yang gue canangkan di PARENTAS masih dalam wacana, kita tunggu saja kelanjutannya, tapi setidaknya, gue sudah menikmati indahnya bukit bukit disana, dingin yang menggigit yang membuat gigi menggelutuk, ramah tamahnya masyarakat disana dan ketulusan Pak Uztad Eddy dan keluarga menerima saya untuk tidur dirumahnya.
Terimakasih Pak Uztad..! kiranya KASIH dan BERKAT Tuhan selalu menyertai Bapak dan Keluarga. Amiin..!
Bogor, ‘Januari 2011
Kamis, 13 Januari 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Salam om, kapan mau ke parentas lagi? Sekarang jalannya gak terlalu parah (menurut kami) karena warga parentas dan Cigadog serta Pameungpeuk (bukan Pameungpeuk laut) bahu membahu memperbaiki jalan menuju ke parentas, saya tunggu lagi di parentas kita dingin2 lagi sambil keliling cari sinyal hehehe, salam buat keluarga di bogor...
BalasHapus