Sabtu, 06 Februari 2010

OPUNG KERASAAN

OPUNG KERASAAN


Ini adalah julukan opung gue dari mami, dibilang opung kerasaan, karena opung ini tinggalnya di Kerasaan, didaerah kabupaten Simelungun, antara Siantar dengan daerah Perdagangan. +/- 10 Km dari Pematangsiantar, daerahnya merupakan areal perkebunan karet dan kelapa sawit.

Opung awalnya adalah seorang guru didaerahnya Bungabondar, dan dipindah tugaskan ke Kerasaan, makanya anak anak dari opung ada yang lahir dan besar bersama opungnya di bungabondar, ada juga yang lahir dan besar bersama orangtuanya di Kerasaan, mami termasuk anak opung yang lahir dan besar bersama opungnya di Bungabondar ( br.Pulungan dari Silaia ).

Mami adalah anak ke 4 dari pasangan Nahason Siregar dengan Tiurma br.Lubis ( dari Bungabondar ). Opung dikaruniakan Tuhan 10 anak ( 5 anak laki dan 5 anak perempuan ). Yaitu :

1.Mayor Jenderal . Marsan Siregar SH menikah dengan Aminah br Harahap

Setau gue Tulang ini gak punya keturunan, tapi punya anak angkat, yang namanya Marlina dan menikah dengan Rudi Gultom.

Gue manggilnya Tulang Pasuruan, karena tinggal di jln.Pasuruan Menteng, kalau anak2 gue manggilnya opung jenderal, karena memang dia jenderal.

Gue ama tulang ini gak deket2 banget, palingan hanya ada 2 atau 3 kenangan yang masih terbayang, salah 1 nya adalah, pada saat gue mau marguru malua tahun 1974 dan tulang saat itu jadi oditur jenderal hukum militer dengan pangkat bintang 1, nah., gue kekantornya mau ngasih tau dan ngundang untuk datang kerumah, pas pulang gue dikasih uang Rp.10.000,- dengan pesannya “dom, jangan kasih tau nantulang ya.? “ he..he..he.., tulang bintang 1, tapi rupanya nantulang bintang 2.

Tulang meninggal dan dimakamkan di Taman makam pahlawan kalibata, kalau nantulang meninggal saat terjadi kecelakaan pesawat garuda di Sibolangit, dimakamkan disamping Tuhan yang maha esa, yah., anggaplah begitu.

2. Nur’aini Siregar menikah dengan Juma’at Damanik, sesudah masuk Kristen namanya jadi Daniel, sesudah masuk islam lagi,balik lagi namanya jadi Juma’at Damanik , ( udeh kaya setrikaan aja, kerjanya bolak balik ), mereka dikaruniakan Tuhan anak 8 orang, Yaitu :

- Roland Damanik menikah dengan, br Jawa

- Netty Damanik menikah dengan Mangatur Sitorus ( Arthur )

- Paulina Damanik menikah dengan ,

- Tua ( nama kerennya Welly Damanik )menikah dengan boru Jawa

- Pdt Sorry Tua Damanik belum menikah

- Lisbeth Damanik menikah dengan Dolok Hasibuan

- Ucok Damanik katanya belum menikah

- Butet Damanik menikah dengan marga Naibaho

Kami biasanya memanggil mereka dengan amangtua dan inangtua dukuh atas.

Yang gue ingat, inangtua ini adalah seorang guru dan menjadi tulang punggung keluarga, tapi pada saat punggungnya bisulan, dianggap biasa2 aja, padahal tanpa sadar semua turunan opung kerasaan punya penyakit gula, sesudah kronis kita semua tidak dapat berbuat apa2 lagi, kalau mau dipotong, apanya yang dipotong, belah 2 dong badannya, yah., udah kita berserah kepada Tuhan aja deh., beliau meninggal di RS Jakarta.

3. Harlan Siregar adalah seorang letnan, yang spesialisasinya jadi komandan koramil dan yang terakhir jadi komandan koramil di Serbelawan Siantar. Tulang ini menikah dengan Zubaedah br,Batubara (bungabondar), dikaruniakan Tuhan 8 anak, Yaitu :

- Harlinda Siregar menikah dan berpisah dengan ,

- Harmida Siregar menikah dengan Ir.Benny Anggara

- Arifin Siregar menikah dengan ,

- tidak menikah.

- Ati Siregar menikah dengan Pulungan tinggal di Lampung.

- Co de Siregar tidak menikah dan sdh dipanggil Tuhan.

- Bungsu Siregar menikah dengan Iin dan tinggal di bekasi

- Lumongga Siregar menikah dengan Asep orang Garut tinggal di bintaro.

Maaf, kalau gue banyak blank disini, mungkin juga karena kita jauh, dan mungkin juga karena jarang ketemu.

Gue manggil mereka dengan Tulang dan Nantulang Serbelawan.

Waktu tahun 60 an ,Tulang pernah pendidikkan militer di Pangalengan Bandung, jadi kalau hari sabtu dan minggu libur, biasanya tulang datang kerumah di Grogol, dan biasanya juga tulang bawa bawang merah 2 karung dari sana, nah., jatah gue deh yang ngejualin dipasar, gue inget banget tuh., dari grogol gue naik becak ama dodo kepasar gang hober, simami bener2 deh, kalau udah untuk saudaranya apapun dilakuin. Sampai anaknya pun disuruh jualan bawang dipasar

5. Eden Maunser Siregar, sesudah menikah yang ke 2 kalinya dan masuk Islam berganti nama jadi Mansoor Siregar, beda beda tipis ya dengan nama lamanya.? Tulang ini pertama menikah dengan Merry br Menado dan dikaruniakan 2 anak, yaitu :

-.Diana Siregar menikah dan berpisah dengan dan sekarang menetap di Miami USA.

-.Farini Siregar SE menikah dengan Ajiek Anwar SH dan tinggal di Surabaya.

Pernikahan kedua Tulang dengan Liberty ( Tati ) dari Jogjakarta, dikaruniakan 4 anak, yaitu :

-. Hotma Siregar menikah dengan ,

-. Tamaro Siregar menikah dengan ,

-. Mangaraja Ondak Siregar ( si Bung ) belum menikah

-. Uli Siregar menikah dengan Lutfi pengusaha café di jogja.

Mereka semua tinggal di karangkajen Jogjakarta.

Inilah Tulang yang pertama banyak ngajarin gue berbagai hal, antara lain sifat untuk tidak takut untuk memberi, artinya hormat dengan yg lebih tua, kalau gue denger lagu lama dengan judul “to see my angel cry”, pasti gue keinget ama Tulang ini, waktu PDKT dengan nantulang yang dari jogja gue ngikut, malah selama di jogja kita berbagi tugas, Tulang khusus melayani untuk calon istri dan mertua, sedangkan gue khusus menjadi Bandar bagi saudara2nya yang laki laki, gue inget banget selama disana dikasih duit tiap hari 5000 perak, udah gede banget tuh, bayangin aja itu masih tahun 1966 , gue masih bisa makan dan borong apapun di malioboro. Banyak cerita dan kenangan gue ama Tulang gue yang 1 ini,tapi yang jelas selalu gue inget, gak pernah gak dapet duit kalau ketemu dengan Tulang.

Tulang ini sudah game over, tapi nantulang masih ada dan tinggal di Jogja.

6. Minar Siregar menikah dengan Usman Pasaribu, mereka ini sama2 dari kerasaan cuma beda kampung sedikit aja, mereka tinggal di daerah pulobrayan Medan dan dikaruniakan Tuhan anak 5 orang, yaitu :

- Domu Pasaribu menikah dengan orang China dari sanggau ledou dan tinggal disana, kenapa namanya sama ama gue, mungkin ceritanya begini ., waktu gue umur 5 tahunan, bujing Minar itu tinggal ama kami di grogol, gak tau persis ceritanya gimana, gue tersiram air panas yang dibawa oleh bujing ini, jadilah gue dirawat di RSCM dan di St.Caroles selama ber bulan2, katanya sih., kondisi gue cukup memprihatinkan saat itu, nah., untuk mengenang kejadian itu, makanya pada sat bujing mempunyai anak pertama, dinamailah DOMU.

- Parlin Pasaribu menikah dan tinggal di Batam

- Yuniar Pasaribu menikah dengan simanjuntak tinggal di Kalimantan barat

- Coki Pasaribu menikah dan tinggal di Singkawang Kalimantan barat.

- ,

Maaf gue bener 2 blank mengenai keluarga dari Uda gue ini, masalahnya yang suka datang ke Jakarta hanya bujing doang, anak2nya gak pernah ikut, apalagi si Uda, ini mah bener2 kebangetan dalam bersaudara dan bermasyarakat, ada sifat ketidak peduliannya dan sifat sabodo teuing, denger denger sih., si Uda ini katanya ada terlibat G 30 S, makanya jadi kurang PD didalam pergaulannya.

7.Pdt.Dra.Chermian Siregar M.Div menikah dengan seorang jaksa yang juga Pendeta bernama LML Simanjuntak SH. Kalau dengan bujing gue yang 1 ini, gue bingung mau mulai ceritanya darimana, soalnya sejak gue dari kecil sampai gue kawin dan punya anak, apapun ceritanya, pasti ada nama bujing yang terlibat didalamnya, dari mulai gue SD sampai gue tamat kuliah, pasti ada nama bujing didalamnya, dari gue sekolah minggu, naposobulung sampai urusan perberkatan pernikahan gue, ada juga nama bujing didalamnya, makanya gue jadi bingung mau mulai darimana, atau nanti dibuat cerita tersendiri aja ya..?

Bujing dan Uda dikaruniakan 4 orang anak, Yaitu :

- Mian Nauli Simanjuntak SH menikah dengan Dr.Enos Siburian Sp.B(K) Onk

- Joe Simanjuntak SE.Ak MSPM menikah dengan Maria Simamora SH

- Tom Simanjuntak SE.MIS belum menikah

- Grace Simanjuntak SE menikah dengan Samuel Hutabarat MBA

Rasanya memang gue perlu banget untuk menulis tersendiri cerita tentang gue, keluarga gue dengan bujing gue ini. Pasti itu..,

8.Mayor Rajamin Siregar SH M.Kn, kita2 manggilnya Tulang Porang, kalau anak2 gue manggilnya Opung tentara, menikah dengan Damaris (Ais) Harahap. Nantulang gue ini putri dari Mr.Amir Syarifoedin Harahap.

Mereka dikaruniakan Tuhan 3 orang anak, yaitu :

1. Edwin Siregar menikah dengan Irene boru Jawa Menado

2. Mika Siregar menikah dengan Debby boru Jawa

3. Yusak Siregar belum menikah

Inilah Tulang gue yang jagoan, kalau berantem sih., gue gak pernah liat, tapi kalau namanya ngegertak orang gue sering ngeliatnya, keluarga dari mami memang rata2 cakep, putih dan tinggi, salah salah pandang bisa disangka keturunan cina, pernah satu kejadian, waktu gue nyekar kemakamnya Bung Karno di Blitar, Tulang itu dipanggil engkoh ama tukang becak, eh.. dia marah dan langsung cabut pestol dan ditempelin deh., tuh pestol ke jidatnya tukang becak, “ sekali lagi lu panggil gue engkoh, gue tembak kepala lu, ngerti gak.! “ percaya gak percaya deh., langsung ngompol tuh tukang beca, he..he..he.., kalau inget itu, memang kebangetan Tulang gue yang 1 ini.

Tulang gue ini masuk tentara dari mulai kopral, melalui kerasnya hidup dan berjuang untuk hidup lebih maju, jadi juga Tulang mencapai pangkat perwira, karir di militernya, pernah tinggal di hutan Pasir Pangarayan, pernah pendidikkan di Pangalengan, pernah tinggal di barak di Tanjung Priok, pernah tinggal di tenda2 di Tebet, akhirnya berhasil juga masuk Akademi Hukum MIliter, jadilah Tulang Perwira oditur hukum militer di angkatan darat, Kelamaan jadi mayor, mungkin Tulang jenuh juga kali ya., lalu Tulang ambil pensiun dini dan sekolah lagi ambil notariat, terakhir Tulang menjadi Notaris dan berkantor di Cibitung Krawang.

Ada satu pemeo dari Tulang saat ditugaskan di Timor Timur, katanya kalau tentara bayaran diluar negeri, mereka siap dibayar untuk berperang, tapi kalau tentara bayaran di Indonesia, mereka siap bayar untuk tidak berperang, maksudnya supaya tidak dipindah tugaskan ke timor timur. Masa iya sih Tulang ..?

Tulang ini juga sudah game over, tapi nantulang masih ada dan tinggal di Tanjung Duren Jakarta.

9. Inilah Tulang gue yang terakhir dari saudara2nya mami, yang terakhir juga yang masih hidup, “ the last of Mohicans ” walau ginjalnya cuman 1 tetapi semangat hidupnya terus menyala, ceritanya tentang ginjal tulang, yang 1 nya itu dikasih untuk Tulang yang nomer 1 , bedah awalnya di RS.Cikini dan transplantasinya di Belanda, gue lupa tahun berapa cerita itu, mungkin sekitar tahun 1980 an kali ya.?

Tulang dikaruniakan Tuhan dengan 4 anak, yaitu :

- Nani Siregar menikah dengan Gatot

- Evi Siregar menikah dengan Parulian (Ian) Sihombing.

- David Siregar SH menikah dengan Astried Purba

- Yessi Siregar SH menikah dengan Jonh Pasaribu St.

Namanya Tulang, Venny Agus Siregar menikah dengan Anna Manik, boru seorang notaries dari Sei Binge Medan.

The last of Mohicans ini, kita harapkan tetap sehat dan agar panjang umur ,

Kalau udah gak ada juga, bubarlah kita semua turunan Opung Kerasaan,

Karena tinggal Tulang kita inilah yang menjadi perekat diantara kita semua,

Apalagi konsep nya Tulang, bener bener elek yang marboru,

Generasi selanjutnya..? gak janji deh.,

10. Esni Siregar menikah dengan Kombes (Pol) Adijaya Saputra, nah., ini bujing

Gue yang cantik, menarik dan menawan hati, genit, centil dan ngegemesin,

semua ciri khas boru regar ada padanya, yah cerewetnya, yah petantang

petentengnya, pokoknya lengkap sudahlah, karena kita kita gak beda terlalu

jauh umurnya dengan bujing ini, jadilah bujing tempat kita curhat untuk

urusan dengan pacar, tempat kabur kalau lagi berantem sama ortu, tempat

nongkrong2 kalau lagi suntuk dirumah.

Sayang disayang bujing gue ini tidakberumur panjang, karena terkena kanker

di Otak, dan lebih disayangkan lagi, si Uda rupanya juga sudah punya istri lagi,

yah ., mau gimana lagi, si Uda boleh hilang, tapi yang kita harapkan anak2nya

tidak. Bujing dan Uda dikaruniakan Tuhan 3 Anak, yaitu :

- Iman Wijaya SH.MH sekarang menikah dengan Dr.Nia………….., yang pertama sih dgn Lilies Karlinah pedangdut,

- Ninik ( Silvia ) menikah dengan Stefanek, tinggal di Meulbourne Australi

- Uli Wijaya menikah dengan Mawardi skr tinggal di Sydney Australi

Lengkap sudah cerita tentang Opung Kerasaan, nanti dilanjut dengan cerita lebih lengkap tentang lainnya, a/l cerita gue dengan Opung Kerasaan boru.

NAMANYA JUGA DOMU..,

NAMANYA JUGA DOMU..,

Tahun 1981 s/d 1986 gue bekerja di Kantor Akuntan Publik di Jakarta, sekarang gue mau cerita pengalaman2 gue selama bekerja disana, tapi gak mau nyinggung2 masalah hasil auditnya, gue takut di PRITA kan, mending kalau nantinya ada yang mau koordinir ngumpulin koin, kalau enggak kan, gue yang keteteran, yang jelas gue ditugaskan khusus untuk audit BUMN, katanya sih., karena BPKP saat itu kurang tenaga kerjanya, makanya tugasnya dilimpahkan kepada akuntan publik, nantinya BPKP tinggal review dan hasil akhirnya atas nama BPKP, gitu loh ceritanya.

Tahun 1981 gue baru tamat dari Akademi Akuntansi Jayabaya, dan langsung kerja di kantor Akuntan Publik,

awalnya gue disuruh ngerjain dan ngelompokin biaya2 yang yang dikirim dari lokasi proyek Transmigrasi di Riau ke kantor pusat di Jakarta, sudah gitu baru ngikutin pembuatan sistem pembebanan dan pelaporan biaya proyek, tugasnya masih di Jakarta juga, jadi gak ada juga yang seru untuk di cerita’in.

Juni 1982 pindah kantor Akuntan, dan ditugasin untuk inventarisasi aktiva tetap, tim ini dibagi dua, yaitu tim penghitungan fisik dan tim tabulasi, gue kebagian jadi wakil team leader di tim fisik, pertama tugas dilaksanakan di wilayah Jakarta dan sekitarnya, karena masih di wilayah Jakarta juga, gak ada juga yang seru dicerita’in.

Desember 1982 baru deh kita dinas luar dan ditempatkan di Jawa Timur, dengan base camp di Surabaya, kenapa gue bilang base camp Surabaya, karena kita keliling di jawa timur, mulai dari ujungnya di Bojonegoro sampai ke Banyuwangi.

Awalnya kita diinapkan di hotel Majapahit ( waktu jaman Belanda namanya Hotel Orange, waktu jaman Jepang namanya Hotel Yamamoto , waktu 10 November 1945 namanya jadi Hotel Bung Tomo, he..he..he.. ) disana kita nginepnya 2 bulan, saat kita pindah tugas nanganin proyek2nya, kita pindah ke Hotel Miramar, naik pangkat dari hotel bintang 3 ke hotel bintang 4, namanya juga proyek, kaya gak tau aja., sisanya kita keliling2 Jawa Timur, bekerja sambil piknik, koq bisa begitu sih.?

Contohnya gini, kita pernah dinas di Caruban, tapi tidurnya di Sarangan ( +/- 70 Km ) pernah dinas di Malang, tapi tidurnya di Selekta, pernah dinas di Mojokerto, tapi tidurnya di Tretes, tapi masih lumayanlah., daripada dinas di Banyuwangi,tidurnya di Bali, wah.. kalau itu mah kebangetan ya.,

Itu baru di Jawa Timur, belum lagi di Jawa Tengah dan Jawa Barat, dinasnya di Salatiga, tidurnya di Kopeng, dinas di Purwokerto, tidurnya di Baturaden,dinas di Ungaran, tidurnya di Bandungan, dinas di Ciamis, tidurnya di Pangandaran, dinas di Cirebon, tidurnya di Linggarjati, hebatkan..?

Temen2 bilang, namanya juga Domu Harahap, kalau gak jail, bukan domu harahaplah namanya.

Waktu kita kita nginep di Hotel Majapahit, gue pernah bilang ke temen2 begini, “ rupanya selama kita dinas ini, yang ditanggung klien hanya penginapan dan makan saja, sedangkan laundry tidak, jadi selama ini fasilitas laundry yang kita gunakan, nantinya akan dipotong dari uang perjalanan dinas kita “ wow.. seperti disamber gledek aja mereka semua, kebayangkan biaya laundry di hotel kaya apa.? Langsung deh tim gue yang berjumlah 7 orang mengadakan rapat kilat, dengan keputusan : laundry akan dikerjakan sendiri dan peralatan2 nya akan mereka beli dengan urunan, mereka beli papan penggilisan, beli setrikaan dan beli tali rafia, kamar mereka dari ujung ke ujung terbentang tali rafia untuk ngejemur pakaian, pulang kantor mereka nyuci, paginya nyetrika, kalau gak sempat, ada pakaian basah yang cukup diperes aja, lalu mereka taruh dibawah kasur, supaya paginya kering dan gak lecek, gue ngebayangin., apa yang ada dipikirannya house keeping pada saat ngebenahin kamar tiap pagi.

Sesudah berjalan seminggu, kebetulan team leader gue sebelum sarapan pagi datang kekamar mereka, dia langsung bengong ngeliat kamar yang penuh dengan cucian dan jemuran, he..he..he.., kena deh gue diomelin,

2 bulan lebih kita tinggal di Hotel Majapahit, sampai kita tau cerita tentang taman ditengah hotel, cerita tentang masing2 kamar dibawah dan diatas restoran hotel, mana makanan yang enak dan gak enak, tapi yang jelas kopinya disana enak banget, dan seenak apapun makanannya disana , kalau tiap hari dan terus menerus selama 2 bulan, bosen juga ya..? banyak kenangan manis di Hotel Majapahit , tapi yang paling manis tentunya teman gue, karena dia mendapatkan jodoh salah 1 resepsionist hotel, sekarang mereka dikaruniakan 3 orang anak, sayangnya., temen gue sudah berangkat duluan ke pangkuan Tuhan pada tahun ini.

Sesudah 2 bulan lebih kita di Hotel Majapahit, kita pindah ke Hotel Miramar, naik pangkat dari hotel bintang 3 ke hotel bintang 4, dari yang gak betingkat, kita naik ke tingkat 8, dari fasilitas yang hanya dapat breakfast, naik menjadi boleh makan suka2, cuman jauh dari shoping centre, tapi ada kompensasi lainnya, kita bisa duduk2 diteras hotel, sambil ngeliatin anak2 Santa Maria pulang sekolah, kalau ini matanya yang shoping.,

Suatu saat gue lagi ngerjain tugas, ada telegram masuk ke ruangan ,

( belum ada sms an tuh.,) gue baca sebentar lalu gue ngumpulin temen2 semua, karena mereka juga tau kalau gue baru dapat telegram dari kantor di Jakarta, gue bilang begini “ Kantor di Jakarta mendapatkan laporan, bahwa kita mendapatkan fasilitas yang sangat berlebih selama di Hotel Miramar, sedangkan dalam kontrak kerja, seharusnya kita mendapatkan fasilitas sampai sebatas apa yang kita dapatkan seperti di Hotel Majapahit, jadi kita diharapkan secepatnya pindah atau balik ke Hotel Majapahit “ gegerlah kita semua, pas jam kerja selesai, mereka langsung pulang dan benah benahi berkas, ambil laundry yang belum selesai, tumpuk semua baju dan masukkin koper, lalu mereka lapor ke team leader, ngasih tau kalau mereka siap untuk berangkat, Team Leader gak komentar dan langsung cari gue kekamar, disini baru dia berkomentar “ dasar domu., kalau gak jail, memang bukan domu namanya “ he..he..he.. kena lagi deh gue diomelin.

Saat kita dinas di Suralaya Merak, kita menginap di Hotel Florida (Pulorida), rencananya ini malam kita akan kembali ke Jakarta, karena perkerjaan tim fisik sudah selesai, sedangkan tim tabulasi masih belum , sore hari gue udeh bilang ke temen2 agar semua barang dan perlengkapan masukkin ke mobil, karena sesudah kita farewell party di diskotik hotel dengan tim tabulasi, kita akan langsung pulang ke Jakarta,

Sesudah benah benah pakaian dan berkas selesai dan urusan bayar membayar dengan hotel juga selesai, kita semua masuk ke diskotik, untuk kumpul2 makan dan minum bareng tim tabulasi, malam mulai menunjukkan jam 21, suasana diskotik mulai rada hangat dikit, gue sdh bisik2 dengan temen2 untuk siap kabur, tapi satu satu aja ya., supaya jangan kentara menghilang dari tim tabulasi, urusan kabur mengabur sudah selesai, tinggal gue yg tuntaskan urusan akhir, pelan dan mantap gue ke bagian resepsionist diskotik, untuk booking benchong 2 orang selama 3 jam untuk meja yang ditempati oleh tim dan wakil tim leader tabulasi .

Hari senennya kita ketemu dengan tim tabulasi di kantor Jakarta, team leader langsung ngomel “ dasar batak kurang ajar , gue dikasih benchong udah gitu disuruh bayar lagi “ he..he..he.. gue kena diomelin lagi deh.

Awal tahun 1985, Nusa Dua Bali yang dikelola oleh BTDC belum rame2 amat, inget gue yang baru ada, Hotel Nusa Dua Beach, Hotel Putri Bali dan Hotel Balisol, nah., gue ditugasin audit disana berdua dengan teman gue selama 2 bulan, kebayangkan., udah daerahnya masih sepi, hotelnya pun masih sepi, belum lagi kalau masuk kamarnya, bentuknya seperti peti mati, ih., ngeri deh. Makanya kalau hari sabtu gue ambil mobil hotel, gue bawa dan nginep di Hotel Bali Beach Sanur dan baru balik ke Nusa Dua lagi hari senen pagi. Gaya gak tuh..?

Temen audit gue ini orang Arab, tentunya tidak seperti arab pada umumnya, dia sedang hobby mengurangi rokok, tapi bukan merokok yang dikurangi, yang dikurangi rokok orang lain dan mengurangi beli rokok, kalau urusan merokok mah., udah kaya kereta api, gak ada berhentinya. repotkan..?

Rasanya gak bisa deh begini terus, akhirnya gue akalin aja dia, gue pesen rokok Bentoel biru 2 sloft dari room service dan langsung gue bayar cash, saat malam dia datang kekamar gue dengan berbasa basi , yang sebenarnya sih., mau minta rokok, dia nanya “ koq rokoknya banyak dom.? “ gue bilang aja,gue minta ama bagian procurement, kebetulan memang gue lagi audit disana, langsung deh dia minta juga, karena dia yang merasa audit in charge, dia minta 3 sloft rokok GG filter, he..he.he.. rasain deh lo,

kejadian lainnya,

Pernah gue ngirim salak ama apel utk cemceman gue di Jakarta masing masing 2 Kg, gue cerita juga ke dia , langsung dia nanya, “gratis juga gak dom.?” gue jawab aja gratis, masa mereka berani sih., minta bayaran ama kita, wah.. keluar deh sifat arabnya, eh salah deng., sifat egonya maksud gue.

“ dom., elo bilangin ke mereka, kirimin kekeluarga gue salak dan apel masing2 4 Kg ya., sekalian elo kasih alamat rumah gue yang di Jakarta “

Okay siap Boss..! dan nanti siap2 aja ditagih pada saat check out ya boss .?

( yang ini sih., ngomongnya didalam hati ).

Beneran tuh, pada saat kita chech out, dia ditagih 3 sloft rokok plus dengan salak dan apelnya, didepan resepsionist dia pelan2 ngomong ama gue, “ elo memang batak kurang ajar dom, boss elo aja masih dikerjain juga “

Waktu perjalanan pulang, gue bingung dia bawa 1 kotak barang yg gak jelas, gue nanya “ semua berkas kan kita langsung kirim melalui paket kekantor, kotak yang itu berisi apaan boss.? “ dengan lugu dan tanpa sungkan sedikitpun dia bilang “ ini isinya mentega dan jam, jadi tiap pagi gue pesennya roti sama nasi, kalau roti dan nasi gue makan, kalau mentega ama jam gue simpen untuk oleh2 orang rumah “

Yah..ampun, ente bener2 kebangetan banget deh, kebayang gak sih., kalau sampai orang hotel tau, ada seorang auditor kantor akuntan bertaraf internasional, ngumpetin mentega dan jam sampai 2 bulan dikamarnya.

Bukan kebetulan kali ya., tapi inilah namanya memelihara jaringan,

Kantor gue ada kerja sama dengan IATA ( International Air Transport Association ), isinya kira kira begini kali ya., untuk tidak terjadi persaingan yang tidak sehat antar pengusaha travel besar biro dan kecil dalam penjualan tiket ke luar negri, maka diperlukan suatu standard harga yang jelas yang diberikan oleh perusahaan penerbangan kepada travel biro, untuk ini perlu adanya suatu pengawasan yang berkelanjutan, dengan ketentuan jika ada travel biro menjual harga tiket dibawah harga yang telah ditentukan, maka mereka terkena pinalti, dengan tidak boleh menjual tiket ketempat tujuan yang dilanggar selama 6 bulan.

Nah., selama beberapa bulan gue kebagian tugas ini, gue keliling bawa rupiah dan dollar ke kantor2 travel biro di Jakarta, dengan berbagai trik dan gayanya domu tentunya, kenangan yang gue dapet seperti ini :

Gue pernah datang kekantor travel di jl.majapahit Jakarta, gue bilang., gue mau ke Amtersdam dan harga tiketnya berapa.? Pada saat petugasnya bilang us$ 600, langsung gue bayar dan gue bilang nama gue Vino tinggal di Jl.Bidara 3 Tomang, gak tau ceritanya gimana, petugas travel curiga juga kali ya., malamnya dia datang kerumah Vino, dengan alasan untuk menanyakan status tiketnya, kebetulan vinonya gak ada yang ada mamanya, ngamuk dan nangis2lah mamanya, dia bilang vino anak kurangajar, anak gak tau diri, mau berangkat ke luar negeri gak bilang2 ke orangtua, yah., kena lagi gue diomelin deh..!

Sekali waktu gue bawa cewe depan rumah gue dan gue ajak ke travel besar di daerah pasar baru, gue bilang ke petugas travel, kalau gue mau berbulan madu selama 2 minggu di Eropa, tolong dibuatkan daerah2 yang pantas kami kunjungi, wah., langsung deh dapat pelayanan VIP, diajak ke ruangan khusus, disediakan makanan kecil dan soft drink, dia cerita tentang nikmatnya naik gondola di venezia, dia cerita tentang kota tua di Roma, dia juga cerita tentang cara bikin ice cream di kawasan salju di Swiss, dalam hati gue hanya bisa ngeluh2 dikit, koq., demi tugas dan keberhasilan pengawasan, gue harus ngebo’ong yang kebangetan kaya gini sih.,

Banyak kenangan manis selama menjadi Auditor, banyak mengenal kota2 di Indonesia dengan gratis, malah dibayarin, banyak mengenal hotel dari berbagai bintang, banyak mengenal tempat2 wisata dengan berbagai ragam.

KELUAR KANDANG

KELUAR KANDANG

‘Juli 1986 gue berangkat ke Lumajang Jawa Timur, gue pindah kerja dan menjadi pegawai PT.Perkebunan disana, rencananya gue menjadi calon pegawai selama 6 bulan, dengan honor Rp.70.000,- sementara tidurnya di mess perusahaan, yang gak ada kasur dan gak ada apa2nya, bangun pagi nyuci baju, pulang kerja setrika baju, sarapan pagi nasi pecel plus sepotong tempe, cukup dengan harga 250 perak, makan siang dan makan malamnya hanya beda2 tipis aja dengan makan paginya, kalau sabtu atau minggu mau piknik, keluarin aja truk dari bengkel dan kita bawa kabur ke pantai didaerah Pasirian. Beda banget dengan gaya hidup gue waktu jadi auditor dan gaya hidup yang selalu dilayani kalau lagi dirumah,

Masalahnya, kenapa gue mau ngejalanin gaya hidup seperti ini.?

Ceritanya begini., saat itu ada 2 boru regar yang sangat berperan dalam hidup gue, yang satu berkeinginan agar mimpi masa lalunya menjadi kenyataan, yang satunya ingin mimpi masa depannya menjadi kenyataan.

Masa kecil dan remaja mami memang di Bungabondar, tapi sebelum berangkat ke Jakarta, mami masih transit dulu dirumah orangtuanya di Kerasaan, nah., didaerah sinilah mami mengenal gaya hidup orang2 Perkebunan, apalagi tidak jauh dari rumah Opung ada rumah Asisten Perkebunan, rumahnya luas, rapi,bersih dan paling hebatlah penampilannya,

Jadi waktu gue masih kecil, ceritalah mami mengenai orang2 Perkebunan itu, malah mami sampai ber angan2 menjadi seorang istri pegawai perkebunan, padahal yang ada dalam pandangan nyata mami hanya sampai seorang Asisten, tapi cita citanya menjadi istri seorang Administratur Perkebunan, biasalah perempuan, cita citanya kadang2 melampaui garis pembatas, tapi akhirnya mami bilang begini, yah., udahlah gak jadi istri orang kebun juga gapapa, kali aja nanti mami jadi ibu dari orang kebun,tuh., kan jadi kenyataan ‘mi.

Nah., itu alasan boru yang regar yang 1, kalau yang 1 nya lagi ceritanya begini :

Gue kan kerja di Kantor Akuntan Publik DL.Pamintori.S ( Coopers & Lybrand ), nah., Pamintori itu masih abangnya dan saudara2nya juga banyak yang kerja disitu, jadi pada saat ketua dewan syuro tidak menyetujui hubungan gue dengan borunya, secara serentak dan aklamasi semua ikut ikutan berjemaah untuk menentang hubungan gue ini, nah., gue tinggal punya 2 keputusan yang harus cepat gue ambil, angkat tangan dan tetap bekerja disana, atau angkat kaki tinggalkan pekerjaan disana,

Hasil rembug2 dengan kedua boru regar, akhirnya gue ambil opsi yang ke 2 dan gue angkat kaki dari kantor akuntan pada bulan Juni 1986. Itu namanya perjuangan gak ya..?

Inilah proloognya kenapa gue sampai jadi pegawai perkebunan, kalau cerita selama gue 5 tahun disana, inilah ceritanya :

Oktober 1986, gue bertugas memeriksa semua laporan keuangan kantor2 cabang untuk wilayah Jawa Timur, suatu saat gue pegang laporan dari kantor cabang Jombang, ada laporan khusus yang namanya Laporan pembelian benih dari petani, mungkin saat itu feeling audit gue masih moncer ya., gue cek, gue korek, gue bandingkan semua angka2 dengan data, dan yang terakhir gue bikin network proses dari mulai pembelian, pengiriman benih ke gudang sampai dengan pembayarannya, gue plototin tuh., network, gue analisa, gue ber angan2, kalau gue mau bermain curang dengan proses seperti ini, caranya gimana ya..? akhirnya gue tentukan titik titik kritis dari proses tsb, dengan data dan network gue menghadap kepada KTU, gue jelasin semuanya dan kecenderungan2 yang mungkin terjadi, Puji Tuhan beliau percaya tuh., gue ditugasin deh ke Jombang dengan hak yang sama dengan KTU, karena gue masih capeg harusnya belum punya hak apa apa, makanya gue berangkat dengan Surat Perjalanan Dinasnya KTU, he..he..he.., dapet deh gue kendaraan, dapet hotel dan uang jalan yang melebihi honor gue sebulan.

Udah 4 hari di Jombang gue gak nemuin kejanggalan apapun disana, semua angka selalu didukung oleh data dan approval yang lengkap dari pejabat yang berwenang, network yang gue bikin, satu persatu gue uji, petugas yang berwenang satu persatu gue panggil dan gue tanyain, masih tetap aja gue gak nemuin kejanggalan, yah., ampun gue harus gimana lagi nih, uang dinas gue udah dapet, tapi tidak ada data apapun yang gue dapat untuk membuktikan kecurigaan gue, malunya itu lho..! Tuhan rupanya kasihan juga ya ama gue, pada Jum’at siang saat semua pegawai pada sholat, gue nongkrong di pos satpam sambil buka buka laporannya. Gue nyanyi deh ‘ I now the Lord will make away for me “, pesan yang gue dapet dari cerita ini adalah, kalau mau bermain, bermainlah, tapi lakukan secara berjemaah, sekecil apapun kerikil, tetap saja kerikil, dia akan bikin sakit juga kalau terinjak saat kita jalan. Kalau saja satpam dilibatkan dalam kasus kolusi besar ini, bereslah semuanya dan gue pulang dengan tangan hampa dan malu yang gak ketolongan lagi. Thanks my Lord.!

Januari 1987 gue diangkat menjadi pegawai PT.Perkebunan dan ditempatkan dibagian pengawasan wilayah, gaji udah lumayan ( 3 kali lipat dari gaji pegawai negeri ) udah bisalah ngajak jajan dan jalan2 nyonya besar di Lumajang, status gue saat itu udeh menikah dan nyonya besar udah gue ajak pindah dari lamongan ke lumajang.

April 1987 gue diangkat jadi pelaksana tugas Kepala Kantor Perkebunan wilayah Pantura Jawa Timur, Mey 1987 gue udah definitive jadi Kepala Kantor, jadi waktu anak gue lahir, mereka sudah menikmati nikmatnya fasilitas dan tunjangan yang ada di PT.Perkebunan. bulan Agustus 1987 yang selama ini mereka masih tinggal di Lumajang, gue ajak boyongan di Lamongan.

Apa cerita ini sudah beres.? Wow., belum dan masih panjang, rupanya buntut dari pengungkapan kasus kolusi yang gue kerjain di Jombang, jadi cerita positif & negativ dari perjalanan karier gue di Perkebunan,

Positifnya, nama gue berkibar ditingkat kantor direksi, dan gue diangkat menjadi kepala kantor dengan golongan yang harusnya belum pantas menjabat jabatan tsb, gue kepala kantor yang paling muda dan dengan golongan yang paling rendah, kata Direksi sih., bahwa jabatan kepala kantor adalah jabatan manajemen, jadi gak ada hubungannya dengan disiplin ilmu dan golongan kepangkatan. Jadi kalau memang pantas, yah., siapapun bisa2aja. adu balap lari kira kira gitulah.

Negatifnya, banyak juga sih., rupanya yang terlibat dalam kolusi itu tidak hanya melibatkan kantor Jombang aja, tapi ada juga setoran Jombang ke kantor wilayah Jawa Timur dan kantor Direksi, termasuk bagian SPI ( Satuan Pengawasan Intern ), nah., kena deh gue . selama gue menjabat kepala kantor ada aja yang dicari cari, dari mulai penerimaan pegawai, uang kas kelebihan 100 ribu, target tidak mencapai 100 %, padahal produksi gue yang paling tinggi, dan harga pokok yang paling rendah ditempat gue, pokoknya macem2 deh., kalau ketempat lain SPI datang selalu bilang dulu, kalau ketempat gue lain lagi, gue belum masuk kantor eh., mereka udeh nongol, langsung minta buka brankas dan laporan harian kas dan bank.

Sejak kapan ya., tugas pengawasan itu mencari cari kesalahan..?

Yah., ginilah kalau jadi pegawai negeri, maunya bener, tapi jadinya tidak bener, kadang kita mau bener, tapi sistem yang membuat kita jadi gak bener.

Makanya Build in control tidak akan bisa berjalan bener di pemerintahan, gimana mau bener, kalau bossnya juga gak bener, malah dia yang ngajarin gak bener.

Benar yang dikatakan oleh Moechtar Lubis, bahwa di Indonesia adalah jaman KEBENEREN, kalau kita salah, tapi kebeneran kita lagi kuat, yah., bener aja, tapi kalau kita tidak salah, tapi kebeneran kita tidak kuat, yah., jadi salah juga.

28 Februari 1991 gue kena PHK dari PT.Perkebunan, gue termasuk gelombang pertama yang kena, karena Perusahaannya kena di merger dengan PT.Perkebunan yang lebih kuat,

Gua kena yang pertama, mungkin karena gue bandel, karena gue dianggap tidak berprestasi dan karena gue banyak coreng moreng dalam laporan SPI, atau bisa juga karena gue pernah nangkep basah kepala SPI yang begitu kelihatan rohani, tapi sedang gendag gendag an di Tretes pada saat hari kerja. nekadnya gue juga, mobil dinasnya walau sudah di parkir ngumpet2 masih juga gue foto dan gue kirim ke dia,, gue tantang dia untuk ketemu berdua, eh., gak berani tuh.? Makanya boss, selama ini elo injak2 gue, akhirnya elo kena juga ama gue kan.? Surat sama foto2 mobil dinas yang ngumpet gue kirim aja ke Direksi, sekarang bukan urusan gue lagi, tinggal beliau dengan Direksi, wajahnya beliau itu rohani banget lho., tapi kalau ngeliat kelakuannya jasmani banget,

Maaf ya boss, kalau gue ngebalesnya dengan cara gitu, gue bukan orang yang rohani2 banget sih., jadi kalau ada yang berbuat tidak baik, gue usahakan juga tidak baik.

28 Februari 1991 gue kena PHK dari Perkebunan, dan per 1 Mey 1991 gue kerja lagi di perusahaan Engineering Construction di Gresik. Disini nanti lebih banyak anekdot2 yang cukup menggelitik.

Kita tunggu aja ya..?