L a h i r : Jambi, 05 Oktober 1955
Game over : Jakarta, 25 November 2010
Ardith langsung protes “ kenapa harus game over sih pa., apa gak ada kata kata yang lain..?
Alkitab menulis “ Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman “ ( 2 Timotius 4 : 7 ).
Mangapul Nasution adalah anak bungsu dari 6 bersaudara, Mangapul sendiri dalam bahasa batak berarti penghiburan, mungkin yang dimaksud orangtuanya adalah, sebagai penghibur bagi keluarganya atau juga sebagai laki laki penghibur bagi sesamanya, inilah doa dan pengharapan orangtua terhadap anak bungsunya. Amin..!
Memang sebagai laki laki penghibur dia rada cocok, setiap minggu semua keluarga besarnya, dikirimin ayat ayat alkitab untuk pencerahan, gak lupa ditutup dengan kata Selharming ( selamat hari minggu ), diulang tahun namborunya yang ke 85 thn, yang lain pada ngucapin selamat dengan berkata kata dan dengan nada terharu, dia nya ngucapin selamat malah dengan bernyanyi, dengan senyum sumringahnya dan dengan gaya yang kocak, ngebayang gak sih., badannya yang begitu gede, nyanyi dengan lagu yang kata katanya diplesetkan, udah gitu pake goyang goyang segala lagi., yang tadinya suasana sunyi, sepi dan haru membiru, mendadak langsung penuh tawa dan ceria, itulah Mangapul., laki laki penghibur untuk orang orang disekelilingnya.
Mangapul biasanya dipanggil dengan Apul saja, sedangkan gue manggilnya ‘bang Apul, dia itu anak dari tulangnya Duma, sedangkan duma itu adalah istri gue.
Mangapul ini mempunyai istri 1, namanya Friedalena Rambe dan mempunyai anak 2, namanya Soritua Samuel Nasution ( laki laki ) dan Nina Frima Nasution ( perempuan ), sesuai dengan kartu KK dan KTP nya mereka tinggal di jalan Klaseman I, desa Minomertani, kec Ngaglik Kabupaten Sleman Jogjakarta, walaupun meninggalnya di RS Cikini Jakarta, Mangapul dimakamkan nya, di pemakaman gunung sempu di kabupaten Bantul Jogjakarta pada tanggal 27 November 2010.
Ada yang bilang “ koq gue ama dia bisa deket dan akrab sih.,? “ oh itu ceritanya begini., waktu akhir tahun 80 an, dia ditempatkan oleh BRI di cabang Surabaya, saat itu gue ditempatkan oleh PT Perkebunan di Gresik, gak jauh jauh amatlah, jadi kita suka jalan bareng, makan bareng, apalagi anak anak gue ama anak anak dia masih seumuran, jadi mereka akur akur aja., malah kalau gue ama duma mau nonton, mereka gak mau nonton, anak anak gue, dititipin dirumahnya. Kita makin akrab, pada saat dia menjadi Pimpinan Cabang BRI di Sidoarjo, sedangkan saat itu gue ama keluarga lagi getol getolnya main di Surabaya.
kita pernah janjian dan barengan jalan ke Bali, dia ama keluarganya Effendi Rambe jalan duluan, gue ama keluarga nyusul belakangan, karena saat sampai di Bali gue sakit, jadilah anak anak gue jalannya sama mereka selama disana,
kita pernah barengan juga masuk hotel Polonia di Medan, dan malamnya jalan jalan cari makanan cina didaerah pasar keling didaerah Kesawan.
Kita pernah barengan rame rame jalan ke Gunung Bromo, pernah juga jalan bareng ke Taman Safari di Pandaan Jawa Timur, malah pernah juga, dia nya tidak ikut, tapi kita dapet fasilitasnya untuk jalan ke Bungabondar dan Sibolga. Itulah Mangapul Nasution, kalau bisa berbuat, kenapa tidak berbuat.
Mangapul Nasution adalah pegawai BRI, yang pada tanggal 16 Desember 2010 ini, akan mendapatkan satya lencana pengabdian 25 Thn kerja.dia mempunyai pengalaman kerja di BRI yang unik dan spesifik, bayangkanlah., separuh pengabdiaannya di BRI dia menjabat sebagai Pimpinan Cabang, mulai dari kota kecil di Kotamobagu sampai kota kota besar di Indonesia,
9 kali dia menjabat sebagai pimpinan cabang, barangkali ini menjadi catatan khusus untuk sejarah di BRI, 9 kali pimpinan cabang barangkali juga menjadi hal yang aneh dan menjadi 1 bahan pertanyaan,
“ koq levelnya hanya sebagai Pimpinan Cabang saja, apa hanya sampai segitu saja kemampuannya..? atau Mangapul Nasution ini, hebat ya..? begitu dipercaya oleh Direksi BRI, sampai 9 kali menjadi pimpinan cabang ”,
6 bulan sebelum menjalani masa MPP, dia ditugaskan sebagai wakil Inspektur wilayah di Jawa Tengah. dan dalam masa MPP ini sampai wafatnya, dia masih diberikan kepercayaan lagi oleh Direksi BRI menjadi Dewan Audit di YDP karyawan BRI.
Kalau dalam pertuturan di orang batak, gue harusnya manggil dia Opung, tapi karena gue, merasa sok kenal dan sok dekat, gue manggilnya abang, dengan gue manggilnya abang, jadi kita sepertinya tidak ada sekat sekat yang membatasi hubungan dalam persaudaran diadat batak, kita bebas ngobrol ngalor ngidul. kita bebas cerita sambil tertawa ngakak, mau saling curhatpun gak masalah.
Karena saling dekat inilah, makanya kita bisa saling ngambek2an, bisa saling protes dan bisa saling tidak bertegor sapa, namanya juga dekat., apapun bisa kita saling lakukan, kalau gak deket..? tentunya satu sama lain punya prinsip, “ emangnya gue pikirin, emangnya siapa eloe..! “
Ada satu cerita yang menarik, yang selalu gue inget dan setiap gue inget cerita ini, gue selalu senyum, karena ceritanya seperti anak anak Tk yang lagi berseteru, ceritanya gini :
Waktu itu dia Pinca BRI di Sidoarjo dan gue lagi di Surabaya, gue telponlah dia dan bilang : “ Bang gue nanti malam main kerumah ya..? jawaban dia rada sengit dan sinis, dia bilang gini : “ dom, yang bersaudara ama gue itu bukan elo, tapi ama duma, jadi kalau elo mau main kerumah gue, harusnya ama duma “,
Waduuuh., ada cerita apalagi nih.! mungkin karena saat itu gue lagi waras dan penuh dengan sukacita, gue gak ladenin omongannya, dan gue juga rada tau, kalau abang gue ini rada tipis kupingnya, setiap informasi langsung diserap dan bereaksi tanpa di konfirmasi dulu, dengan langkah pasti dan rada sedikit cu’ek, gue tetap datang kerumahnya, untung aja si Kakak (istrinya) ada disana, jadi gue tetap dipersilahkan masuk.
Kita ngobrol2nya di meja makan, walau saat itu mukanya segi 4 kaya gajah mada, dia ikut juga duduk, walaupun gak ngomong, tapi gue tau dia ngedengerin, yah., gue ngobrol aja ngalor ngidul ama si kakak, sambil nebak nebak.kira kira apa ya., masalahnya..?
Suatu saat gue cerita tentang mertua yang pergi pesta natal siregar di jakarta, berangkatnya mertua dari Bogor ke Jakarta naik taxi dan saat itu ditemani andre dan yuni, disitu gue cerita permasalahannya dengan rinci, kenapa mertua gak naik mobilnya sendiri, dan kenapa mobilnya gue yang pake berdua dengan duma dan kenapa harus ditemani ama andre dan yuni , selesai gue cerita, eh.., dia nyeletuk “ oh.. gitu ceritanya..! “ gak lama kemudian , gue diajak dia makan rawon dipinggir jalan di pinggiran kota Sidoarjo. prosesnya cepet dan langsung selesai, nah., itulah Mangapul Nasution.
Tahun 2007, saat gue lagi didaerah Tebingtinggi ( Sumatra Utara ) ngejalanin obat Kilian gue didaerah sana, dapet kabar kalau Iparnya ‘Bang Apul akan menikah di daerah Bintang Bayu Simeulungun, mumpung lagi disana dan memang gak terlalu jauh, datanglah gue ke tempat pemberkatannya di gereja Simeulungun, daerahnya dipedaleman, mau kesana, harus keluar masuk perkebunan dulu, mulai masuk kebun kelapa sawit, keluar kebun karet, masuk lagi kebun kelapa sawit, baru deh., nyampe disana, karena gue datengnya pake mobil camat dan parkirnya pas didepan gereja, orang orang sana pada melongo ngeliatin gue, mungkin mereka pada berfikir “gak salah nih Pak Camat dateng ke gereja dan blusuk blusuk.dikebun sendirian.? Sampai disana gue langsung masuk gereja, gereja masih terbuat dari papan, bangkunya juga cuman dari papan, karena penuh, makanya gue berdiri aja didepan pintu gereja, saat acara selesai dan jemaat mulai keluar,eh., si kakak saat liat gue didepan pintu gereja langsung teriak “ hay! “ he..he..he..! rupanya si kakak lupa, kalau ini di kampungnya orang batak, tanpa sadar main teriak Hay.. sama opung bayonya.
Selama disana, gue ikutin semua prosesi adat simeulungun, mulai masuknya pengantin laki laki bawa ayam yang digendong sampai bawa meriam bambu, terus gue ngikut sampai acara makan makannya, kita makannya duduk dihalaman yang sudah dialaskan terpal, waktu pembagian makanan, saksangnya ditaruh didalam ember, ngebagi’innya pake tangan dan yang ngebagi’in hanya pake singlet,
ih..! rasanya gue ama ori saat itu belum siap deh., akhirnya gue ama ori pelan pelan mundur dari arena makan, dan jalan keluar cari makan di warung diujung jalan. rasanya jauh lebih nikmat makan mie rebus, daripada makan saksang tapi campur keringat.
Waktu disana, mungkin kebetulan atau memang lagi pas aja waktunya, ‘Bang Apul telpon gue, telponnya gak gue langsung angkat, tapi gue kasih Ori yang jawab, ter kaget2lah dianya, gimana gak kagetlah, yang ditelpon gue, yang angkat anaknya, padahal saat itu dia tau, anaknya lagi dinegeri diujung langit.
Pulang dari acara, gue sempetin untuk kerumah mereka dulu di Siantar, walau cuman sebentar, tapi yang penting gue udah tau, besoknya gantian , gue yang ikut mereka balik ke Medan.
Banyak memang hal hal indah yang bisa dikenang antara gue dengan ‘bang Apul, saat dia baru operasi mata di Jogja, gue dateng ama ardith dan nginep dirumahnya selama 2 hari, kita ngobrol berlama lama dibelakang rumahnya, cumannya saat itu dia lebih banyak cerita mengenai borunya Nina ( what happened Nin..? ), kita juga barengan kerumah sakit Dr Yap untuk kontrol matanya, pernah juga kita diajak ngeliat bekas bekas gunung merapi meledak didaerah Kaliadem, dan ditunjukkin rumahnya mbah marijan, pernah juga dan sering banget malah, makan macem macem ikan di morolejar, makan pecel, sambil ditemanin musik keroncong atau sarapan pagi dideket kampus gajah mada.
Urusan bagi bagi..? wah., jangan ditanyalah, banyak yang sudah gue dapet dari dia, memang abang gue ini punya prinsip “ LEBIH INDAH MEMBERI, DARIPADA MENERIMA “.
Pada saat dia baru menjabat menjadi Pinca di Jogja, dia cerita, kalau cash flownya rada jeblok, jadi dia perlu dana segar untuk merubah yang jeblok jadi lancar, dia keluarkanlah program untuk merubah pola menyimpan uang dibawah kasur menjadi pola menyimpan uang di Bank, namanya juga konco, apalagi juga masih saudara, maka termasuklah gue yang pertama melaksanakan program tsb di Banknya, sampai sampai gue dikenalkan sama para managernya, dan dikatakan “ bahwa program ini benar dan bisa dijalankan, buktinya saudara gue ini bisa melakukannya “
Tahun 2010 ini, gue kerumahnya di Jogja 4 x, duma 3 x, andre 3 x dan ardith 5 x, sedangkan kerumahnya yang di Semarang kita 1 x, banyak banget ya..?
Ada satu cerita yang menarik tentang kedatangan Andre ke Jogja, beberapa minggu sebelum ‘Bang Apul lelayu, siang siang Andre telpon kerumah dan bilang, kalau kamis malam ini sesudah pulang kantor, dia akan langsung berangkat ke Jogja, dan hari Jum’atnya dia telah ijin untuk tidak masuk kerja dan pulangnya hari minggu, gue ama duma dengernya sih., sebel banget, tanpa ijin dulu, main langsung berangkat aja. tapi mau bilang apa lagi, dia udah bawa baju dan udah beli tiket keretanya, pulangnya dia cerita, selama disana dia ngobrol sama Tulangnya, sabtu pagi bersih bersih kebun sama tulangnya, minggu ke gereja sama tulangnya, kayanya dia lagi mencanangkan program week end bersama tulang.
Waktu kita tanyakan “ kenapa mendadak mau ke Jogja..? “ dia hanya cengengesan aja, gak pernah dijawab dan gak pernah ditanggapi, tapi sesudah Tulangnya berangkat ke negeri diatas langit, barulah dia menjawab, dia bilang begini; “ waktu kamis pagi jam 3, andre kebangun dan se olah olah mendengar suara mama yang mengatakan, ‘dre., temanilah tulangmu itu, dia ingin ngobrol2 sama kamu ‘ yah udah., pagi sebelum berangkat kantor, andre pastikan malam ini juga andre harus berangkat ke Jogja “ oh gitu toh dre..!
Itulah saat saat indah, saat andre bersama tulangnya. saat dia pergi ke jogja dengan tuntunan spiritualnya.
Itu ceritanya andre, kalau dengan ardith lain lagi, mungkin inilah satu satunya bere yang berani suka suka ama tulangnya, gak ada takutnya sama tulang, kalau diledekkin, pasti bales ngeledekkin, kalau dija’ilin, pasti bales ngeja’ilin, tapi mereka sangat kompak, sering sms an, sering telpon telponan, kadang pake rahasia rahasiaan lagi.
Sekarang ini dengan adanya macem macem makanan yang di presto, ardith langsung ngeluarin ungkapan baru, yang mengatakan “ bere makan tulang ” kita taulah., pasti ini ledekkan terbaru ardith untuk tulang Apul nya.
Gue inget, waktu gue ama ardith ke Jogja, waktu ‘bang Apul harus istirahat dirumah, karena habis operasi mata, saat itu nantulangnya lagi ikut pertandingan bowling BRI di Jakarta, malam malam kita kumpul kumpul diruang tengah, Ori main piano, ardith main gitar, tulangnya nyanyi lagu I saw her standing there nya Beatles, mendadak ruangan penuh dengan gelak tawa, canda dan sukacita,
Itulah saat saat indah, saat indah ardith bercengkrama bersama tulangnya.
Kalau dengan duma..? yah., pastilah mereka punya saat saat indah, saat saat mereka bercengkrama bersama, saat mereka saling sms an dan bertelponan untuk cari informasi urusan keluarga, tapi biarlah duma aja yang nulis, kalau yang ini, gue gak berani mewakilkan mereka.
Hari Minggu ,tanggal 21 November 2010, kakak mama Ori telpon ke duma, ngasih tau kalau ‘bang Apul dirawat dirumah sakit, tapi dengan alasan gak mau di bezuuk, maka gak dikasih taulah dirawat dimana, namanya juga duma, makin gak dikasih tau, makin jadi penasaran, di telponlah semua rumah sakit yang ada di Jakarta, eh.. kamu ketauan..! rupanya saat itu ‘bang Apul dirawat di RS Cikini dan sudah dirawat mulai hari Jum’at tgl 19 November, duma sendiri baru bezuuknya hari selasa, saat itu kondisinya sudah pasang surut kaya pantai di jakarta, dan berita yang menggelegar, gue terima pada hari rabunya, yang mengatakan, bahwa ‘bang apul kondisinya semakin kritis, tanpa duma tau, kondisi gue saat itu juga lagi gak karuan, kemarinnya di RS Lamongan gue test gula darah dan kolesterol, hasilnya gula darah gue 425 dan kolesterolnya 204, untungnya tensi gue 130 per 85, dokter sana dengan entengnya bilang “ gue harus di opname “, duma nya sibuk disana, gue nya sakit disini, jadilah gue gak cerita ke duma,gue konsultasi aja ama Ucok Pasaribu, tapi sepanjang perjalanan dari Lamongan ke Surabaya di taxi gue mewek aja.
Rabu, tanggal 24 November 2010, gue pulang dari Surabaya dengan pesawat Lion air yang jam 12.40, sedangkan Ori dan Nina rencananya datang dari Jogja ke Jakarta dengan Garuda jam 11, gue nya nyampe duluan di bandara Soetta, mereka rupanya cancel sampai jam 15 an, jadi deh., gue nungguin mereka di Bandara, dari bandara kita barengan dengan jemputan mobil BRI ke RS Cikini, sepanjang perjalanan, bolak balik yang pada telpon dan sms Ori dan Nina, ada yang pake nangis, ada yang gak pake nangis, tapi pada cerita, kalau kita secepatnya nyampe di RS, kalau perlu naik ojek aja supaya cepet nyampe, idiih sebel banget deh., ”eloe eloe enak pada disana, nah., gue disini ama mereka”, ngademin orang yang lagi bingung dan gak tau mau berbuat apa, memangnya enak..!
Sampai di RS, kita langsung masuk keruang ICU, Ori langsung nangis dan meluk papanya dengan suara 3, Nina nangis dan meluk papanya dengan suara 1, sedangkan mamanya menyambut mereka dengan tangisan dengan suara 2, langsung pecahlah paduan isak tangis diruang ICU dengan nada dan irama yang teratur, sedangkan gue hanya bisa melongo memandang wajah Mangapul, gak lama gue sedikit bergeser kearah mojok, sambil ngitungin, berapa tetes air mata yang keluar dari mata kiri dan berapa yang keluar dari mata kanan.
Malamnya gue ngomong ama Nimrod, Pendi dan Ori, gue bilang “ bahwa ‘bang apul, hidupnya sudah tergantung dengan mesin, dan mesin sendiri, tidak bisa menjadi bahan gantungan, jadi untuk Ori., kalau terjadi dengan papa, akan dibawa kemana papa nantinya.? “ saat itu Ori bilang “ bahwa papanya pernah bilang, kalau terjadi apa apa dengan papa, makamkanlah papa di Jogja“, malam itu juga gue ngomong sama orang orang BRI, “ bahwa Pak Mangapul secara ilmu kedokteran sudah tidak ada harapan lagi, tapi kami keluarga masih tetap berharap dan berdoa, agar ada Mukjizat dari Tuhan dan agar yang terbaik yang Tuhan berikan kepada kami “
Tengah malam menjelang pagi kita pulang ke Bogor, karena mertua gue harus pulang juga ke Bogor, dengan rencana sorenya kami akan kembali kerumah sakit.
Rencana boleh kita ciptakan, tapi rupanya Tuhan bertindak lain, siangnya kita di telpon, bahwa ‘bang Apul kritis, tanpa ba bi bu lagi, semua bertindak cepat, pakaian langsung disiapkan untuk beberapa hari, termasuk yang warna gelap gelap, sampai disana jam 16, dan jam 17 ‘bang Apul berangkatlah ke negeri seberang.
“ AKU AKAN PERGI, DAN AKAN PERGI
KESEBUAH RUMAH DIATAS LANGIT
DIMANA HAMPARAN RUMPUT BEGITU HIJAU
DAN MATAHARI TIDAK AKAN PERNAH MATI “
Saudaraku..! sahabatku..! berangkatlah dalam damai, Tuhan memberkatimu dan memberkati keluargamu.
Amin….!
Rabu, 15 Desember 2010
Jumat, 12 November 2010
ANGGITA
ANGGI ta
Dia ini anak adek gue Linda Harahap, nama bapaknya Sayon Lubis. Dia lahir di RS Bakti Yudha Depok tgl 27 Mey 1995.
Cirinya khasnya, dan barangkali yang gak perlu diikutin adalah, kalau ketawa hua ha ha ha dengan ayunan nada 3 oktaf. Kulitnya putih, wajahnya mirip bapaknya, hobbinya main basket dan nyanyi.
SD Sampe SMP sekolahnya di Strada, dan sekarang ini sekolahnya di SMA BHK Jakarta Barat.
Liburan sekolah tahun ini dia tour ke Bali, dan tour lagi ama gue, memang rencana perjalanan ini untuk Anggi, dia lagi sumpek dirumahnya, yang gak ada pembantulah dirumahnya, yang mamanya ke timur, papanya ke baratlah, sampai kita berangkat aja, gak dianterin papanya sampe mobil, hebaaat ya., sampai segitunya yang lagi ngambek. nah., gue yang belum sebulan ini happy family tour ama anak anak, jadi jalan deh lagi nemenin mereka. Tapi gue nimat nikmat aja tuh., memang dasarnya gue tukang keluyuran x yah.?
nah., inilah cerita perjalanannya :
Kita berangkat tgl 28 Juni 2010 jam 9 pagi dari rumah linda, kita naik mobil xenia yang sewanya 200 rb/hr. yang ngikut gue, duma, linda, ardith, anggi dan novi, lumayanlah tidak terlalu berat penumpangnya, soalnya tuh mobi ccnya cuman 980. Tarikkannya bagus dan memang mobilnya masih baru banget. Perjalanan ini yg membuat gue terkagetkaget, jalanannya semua 4 jalur, mulus dan tidak padat, masuk arjawinangun kita sudah masuk tol yang langsung masuk jawa tengah, gak ngelewatin lagi perbatasan jabar dan jateng, yang biasanya suka macet. Jam setengah 2 kita sudah masuk Tegal, wow.., cepet amat ya..? disini kita istirahat dan makan di restoran Priangan, pas dipinggir jalan menuju Pemalang, makanannya enak, tempatnya enak dan makannya prasmanan, cumannya di Tegal ini lho. gak diluar kotanya, gak didalam kotanya, semuanya sedang dalam perbaikkan, macet dan debu berbaur dalam 1 kata “SUMPEK”.
Lepas Tegal, masuk Pemalang, lepas Pemalang masuk Pekalongan, disini kita banyak meliat masyarakatnya yang mengunakan sepeda sebagai sarana transportasi, dah gitu rata rata sepedanya ada keranjang didepannya, seragam banget, yang empunya cerita, mengatakan, bahwa itu sepeda second dari jepang, sangat bagus untuk mencegah terjadinya polusi, tapi barangkali gak bagus untuk polusi jarak pendek, gue gak ngebayang burket pasti ada dimana mana, ayo rexona.! katanya setia setiap saat, disana pasti pangsa pasarnya sangat menjanjikan.
Lepas Pekalongan, kita masuk daerah alas roban, rupanya kota Batang sudah tidak dilewatin kendaraan pelintas lagi, bagus juga untuk percepatan, tapi tentunya gak bagus untuk kota Batang, ini kota perlintasan jalur pantura, kalau udah gak dilewatin kendaraan lagi, sepi sunyi dong., kotanya. Harusnya sih kota Tegal dan Pekalongan aja yg dibuat jalur alternatif, masa bis, truk dan semua kendaraan lewat tengah kota, yang udah udah dan yang gue tau, ditengah kota itulah yg sering terjadi kemacetan. Lepas alas roban, yang jalannya sudah tidak melewatin tanjakan, hutan dan kelok kelokkannya, masuklah kearah gringsing, disini biasanya dipake untuk tempat peristirahatan bis dan truk, makanya disana banyak betebaran restoran dan warung, mau masuk Kendal sudah tidak melewatin lagi kota Weleri, ada jalur alternatifnya, dan 1 lagi kota menjadi sepi sunyi dengan perubahan tsb. Lepas Kendal kearah Semarang, jalur mulai macet, dan semakin macet saat masuk kota Semarang, pas pula kita masuk Semarang saat bubar kantor, yang rencananya masuk kota Semarang jam 6 malam,jadilah sampai dirumah dinas ‘Bang Apul jam setengah 8 malam.
Maaf seribu maaf ‘Bang dan Kakak, karena mereka berharap kita tidur dirumahnya, kamar udah disiapkan ,TV untuk nonton kejuaraan bola dunia tinggal dipindahkan, tapi linda dan dan anggi gak mau, yah., gimana lagi, padahal ini malam yang main Spanyol lawan , tapi maklum jugalah, karena mereka tidak terbiasa, akhirnya malam itu kita hanya makan malam aja dirumah Abang, tapi suguhannya itu lho., nasi campur dan capcay yang enak, nikmat dan porsinya banyak, Maaf lagi dan banyak terima kasih ya ‘Bang, nanti di Jogja kami pasti nginep dan ngerepotin lagi deh.,
Jam setengah 11 malam, kita keluar dari Semarang dengan tambahan logistik, ada kripik tempe, ada kripik paru , ditambah dengan 4 kaleng pocari sweat dan perut kenyang. nah ini memang kebiasaan kalau kerumah Abang, pasti ada yang dibawa kalau pulang dari rumahnya.
Kita sengaja keluar malam, untuk menghindarkan jalur macet keluar Semarang kearah Gombel, kearah Ungaran menuju Bawen dan arah Bawen menuju Salatiga, untuk perkiraan macet ini kita memang betul, tapi rupanya sepanjang jalan banyak razia oleh polisi yang berpakaian lengkap dan persenjataannya juga lengkap, ada apa ya..? mungkin karena yang duduk didepan sebagai co pilotnya ardith, sepanjang ada razia, kita gak pernah diberhenti’in, kasian deh lo dith., masih dianggap anak kecil ama polisi.
Kita sampe dirumahnya Benny Harahap didaerah Mojosongo Solo jam 1 pagi, kita udah ditunggu disana, kamar sudah disiapkan, tempat tidur sudah digelar, yang gak disiapkan makan,minum dan keceriaan, karena kamarnya cuman 2, gue ama duma tidurnya diruang tamu, komplain aja kerjanya elo dom.!
Nah., apa kerjanya Anggi selama dalam perjalanan ini, yang pertama sms an sambil ngemil, yang kedua tidur, sambil ngedengerin sms masuk. Jadi intinya selama dalam perjalanan ini , anggi sibuk dengan sms, iyakan nggi..? padahal dia bilang hobbinya nyanyi, gak ada tuh., sepanjang jalan kedengeran suara dia yang nyanyi, repot memang kalau jadi penyanyi kamar mandi, jadi gak PD yah nggi..?
Tanggal 29 Juni, Pagi ini gue nganterin para wanita belanja di pasar gede dan makan bakso enak diseberangnya pasar, tapi yang lebih enak menurut gue, pangsit gorengnya, sesudah dari pasar gede pulangkah kita..? oh enggaklah., kaya gak tau linda aja, hobbi belanjanya seimbang dengan hobbi bedandannya, dan anggipun bilang gini “ anggikan udah gadis, jadi harus ikut belanja juga dong.,” jadi berangkat lagi deh., kita kepasar Klewer, gue ama ardith nungguin aja di parkiran sambil nyari buku bekas diseberang pasar,
Setengah jam berjalan, duma nelpon, ngasih tau kalau anggi ama novi mau balik ke mobil,katanya anggi perutnya mual, he..he..he.., katanya udah gadis nggi, koq baru gitu aja langsung mual..? rupanya standard wanita sudah gadis atau belum, kalau dia bisa belanja dengan desak2an, bisa nawar dengan ulet dan bisa jalan ber jam2 tanpa betisnya keram. gitu ya..?
Malamnya gue ama duma main kerumahnya Ardi, rupanya dia sekarang sudah jadi pimpinan cabang BNI khusus kredit di Solo, wah., seru banget yang ngobrolnya, dia itu temen perjalanan koboy gue waktu ke Bali tahun 1974, kita cerita saat nyolong telor dari atas jendela bis, kita cerita saat berbugil ria dipantai Kuta, kita cerita saat perjalanan tanpa uang yang memadai, yang akhirnya jual celana jeans di pasar loak Denpasar, sarapan pagi dengan belimbing wuluh, nyantronin saudara2 supaya dapet sangu, dan pulangnya naik truk dari Denpasar ke gilimanuk,
Bener ‘Di, ini cerita yang tidak akan pernah habis dan selesai dibicarakan, indah dan manis untuk dikenang dan mungkin akan terus dibincangkan sampe ke anak cucu kita.
Jam 11 malam, gue,linda ama anak2 nongkrong dan makan di angkringan, disitu gue cerita mengenai candi ceto yang ada di segoro gunung, awal ceritanya sih., pake ungkapan2 yang halus, gak enak juga, masa cerita ama ponakkan pake bahasa yang vulgar, tapi rupanya anggi lugu banget, berapa kali dijelaskan gak ngerti2 juga, kalau ardith, yah., jangan ditanyalah, langsung aja dia nyeletuk “ seperti kamasutra ‘nggi gambar2 dicandi itu “ wow.., ardith..!
Besok paginya tgl 30 Juni, kita berangkat ke Sarangan, penumpang bertambah 2 orang Dea dan Karl dan mobil bertambah bebannya sekitar 180 Kg, makan siangnya kita di warung ‘Bu Ugi di Tawangmangu, ini kebiasaan kita2 juga, gak afdol rasanya, kalau ke tawangmangu, gak makan sop buntut ‘Bu Ugi.
Pas ditanjakkan gondosuli dari arah tawangmangu menuju cemoro sewu, mobilnya ndut endutan dan langsung berhenti, ini gara gara gak bisa nanjak, yah.,panteslah, mobil ccnya 980, yang naik beratnya sekitar 600 Kg, belum lagi berat mesinnya, yah matilah dia..!
Akhirnya linda cs pada naik angkot ke sarangan, yang di mobil tinggal gue, ardith dan novi.
Sampai sana cari Pak Yatno dulu, dia temen gue, yang selama ini ngejalani obat gue di sarangan, gak salah memang deh, gara gara pake referensi nya, kita dapet potongan biaya hotel sampai 30%.
Selama disana pada naik speedboatnya pak yatno, ardith malah dibolehin nyetir sendiri, wah., pada happy banget, kalau linda ketakutan banget, namanya juga ardith, mumpung dikasih bawa sendiri, dia kebut tuh speedboat suka sukanya. Gue seneng ngeliat mereka pada kompak, pada tidur bareng, pada becanda bareng, pada foto bareng, paginya sesudah kita ngelilingin danau, pada makan bareng, nikmat memang., makan pecel madiun sambil nongkrong dipinggir danau.
Sayang sekali musim stroberi belum datang, biasanya kalau gue disana, sambil jalan pagi, gue keliling sama pak yatno, naik turun bukit, sambil jalan ngambilin stroberi, metik sendiri, makan sendiri, walau masih bercampur dengan tanah, nikmatnya itu lho., yang tak tertandingi.
Tgl 1 Juli Jam 10 pagi kita balik ke solo, dan linda cs kembali lagi naik angkot, kita ketemunya didepan warung ‘bu Ugi di tawang mangu.
Sampai solo jam 12, kita benah benah bentaran, cabut lagi deh menuju Jogja, tapi mampir dulu kekantornya Sri, untuk pamitan dan menerima ungkapan maafnya, karena tidak bisa menemani selama kita di solo. yah.., mboten nopo nopo dik sri..!
Sampai di Jogja, para wanita langsung pada shoping di malioboro, gue ama ardith nyari hotel, kebetulan pula saat itu libur panjang dan bersamaan pula dengan kongres akbar Muhammadiyah, yah., jadi gitu deh., nyari hotelnya susah, keluar hotelnya pun susah, maklum dimana mana jalan pada macet, akhirnya dapet juga hotel yang ala kadarnya, yang penting ada AC nya dan gak begitu jauh dari malioboro.
Yang pada hebat perempuan itu deh, gue gak tau betisnya pada dibuat dari apaan, kuat banget yang pada shoping, kalau sampai gak gue batasin dan gak gue cerewetin, mungkin pada gak inget pulang,
Malamnya gue, duma dan ardith tidur dirumah ‘Bang Apul, sisanya pada di hotel.
Tgl 2 Juli paginya, gue jemput mereka lagi, sekarang duma yang gak ikut, kita pada jalan ke Keteb, katanya dari satu titik disana, kita bisa sekaligus melihat 5 puncak gunung, memang memukau dan indah dipandang mata, dari bukit keteb, mata kita langsung melihat lembah dan secara perlahan naik mencapai puncak gunung, disini juga ada pertunjukkan bioskop, yang berisi mengenai volcano, sayang kita gak pada ada yang nonton, mereka sibuk dengan sms an, nyebelin juga sih., jauh jauh gue bawa mereka kesana, eh., merekanya disana pada sms an aja, mana camera habis baterenya, mana si karel disuruh beli batere salah pula, mana si karel disuruh foto pake hpnya gak mau,, katanya sayang foto foto yang ada di hp nya harus dihapus. Habislah moment untuk mengabadikan pemandangan disana, kata yang empunya cerita, dulu Bung Karno suka kesini, mungkin bertapa, mungkin juga cari wangsit, yang jelas pada saat Megawati yang jadi Presiden, tempat ini dibuat menjadi bagus dengan segala fasilitasnya,
Pulang dari keteb, kita lewat jalur lain, ditengah jalan kita ketemu dengan perkebunan stroberi, kebetulan lagi pada panen, waktu diajak pada turun, mereka mereka pada males malesan, sesudahnya, pada ngelahap stroberi, sekali sekali nikmatilah stroberi dengan memetik sendiri, memang repot kalau bawa anak anak ini, sepanjang jalan pada pada main HP melulu, dah gitu kita mampir dulu ke kopeng, disini gue nyari lagi temen, namanya Sugeng, dia temen gue juga pada saat gue ngejalanin obat disana, dan rupanya nyari dia gak rugi juga, karena pada saat masuk ke tempat wisata kopeng, pada gak bayar, lumayan juga tuh.,
Pulang dari kopeng, nyempetin dulu ke candi Borobudur, sayang pintu masuknya udah pada tutup, jadi deh., mereka hanya ngeliat tempat parkiran dan tempat shopingnya aja, kalau borobudurnya sendiri sih., gak keliatan dari luar. Untuk sekedar melihat candi, kita sempetin liat candi Mendut, memang posisinya berada dipinggir jalan antara Borobudur kearah Jogja.
Pulangnya kita mampir dulu kerumah ‘Bang Apul, kita makan malam disana,
Gak enak jugalah, linda cs udah mampir di semarang, ditawarin nginep gak mau, masa pas di Jogja juga gak mampir lagi. malemnya nganterin mereka lagi ke hotelnya, wah., remuk redam di tulang belulang.
Tgl 3 Juli pagi, gue ama duma pamitan dengan keluarga ‘Bang Apul, ardith gak ikutan pulang, seperti biasanya, oleh oleh selalu tidak pernah ketinggalan, waktu kita jemput linda cs di hotel, mereka tidak ada, katanya lagi sarapan sop ceker di malioboro, linda linda.., gak pernah puas yah., kalau shoping..? padahal janjian jam 8 pagi kita sudah harus berangkat, eh., dia balik ke hotel jam 10.
Tadinya rencana perjalanan menuju pantai Pangandaran akan menyusuri pantai selatan Jawa Tengah. Kita sudah masuk dari Wates dan menyusuri pantai tsb, sayangnya gue gak berani terus lanjut, maklum cowonya cuman gue sendiri dan daerahnya belum gue kenal, jadi deh., sesudah melewati gombong, kita masuk lagi ke jalur biasanya, gak lupa makan bebek didaerah perbebekkan di luar kota gombong, enak, empuk,pedas dan gak mahal juga harganya.
Waktu kita masih dijalan, kita booking hotel di Pangadaran, yang punya ngasih tau, “ ada jalur potong yang lebih dekat, lebih sepi dan lebih bagus jalannya, nanti sebelum masuk daerah Sidareja, ada jalan yang belok kanan, dari situ nanti langsung bisa tembus di daerah Kalipucang,” kita lewat situ deh., bener lebih dekat sih., tapi juga gak lebih cepet, bener lebih sepi, tapi bukan berarti kita bisa jalan kenceng, jalanannya itu lho., kadang bagus, kadang jelek, kadang mulus kadang berantakkan, kalau dibilang jalannya lebih bagus, yah., enggak jugalah, lebih jelek malah, tapi gapapalah, namanya jalan jalan, yah nikmatin aja, cuman rada ngeri juga sih, mana jalan mulai gelap, perut mulai lapar, mau cari makan juga gak ada, mau cari indomart atau alfamart, yah., boro boro deh..!
Jam 7 malam kita nyampe Pangandaran dan nginepnya di Hotel Grand Mutiara, lokasinya strategis banget, dipinggir pantai dan di pusat keramaian. Saat itu bertepatan dengan acara Harley Davidson, yang biasanya dibuat setiap 5 tahun sekali, jadi sangat rame acaranya, sangat penuh manusianya, sangat banyak motornya dan sangat ribut suaranya, ngebayang gak sih., saat mereka pulang jam 5 pagi, mereka bersamaan manasin motornya, kita yang lagi tidur langsung pada kebangunan, bayangin., semua kaca dikamar pada bergetar, seperti ada gempa, nyebelin banget deh.,
Tanggal 4 Juli pagi, belum sarapan di hotel kita berangkat dulu kepasir putih, disana duma , linda dan anggi mau diving di laut, waktu dipake alatnya, lucu lucu deh., tampangnya mereka, apalagi linda, syok banget yah lin..? akhirnya hanya anggi aja bermain main dengan ikan ditengah laut, darisana kita balik sebentar ke hotel, baru lanjut ke Green Canyon yang jaraknya sekitar 30 KM dari Pangandaran, waktu berangkat kesana sama andre dan ardith, gue takut untuk nyemplung nyusurin sungai dan foto foto di cadas, tapi kalau sekarang gue takut, yah., kapan lagi dan pastinya anggi pun gak berani juga, akhirnya gue, duma dan anggi ikut nyemplung dan foto foto di cadas, tapinya itu lho., gak ada satupun gambar yang kita punya, sayang banget ya..?
Balik darisana ke Pangandaran, kita masih sempetin untuk mampir di Batu Hiu.
Sempetin berendem di laut dan foto, cuman fotonya pake tukang foto keliling, yah., daripada gak ada, lumayanlah.
Sampai di hotel, bersih bersih, benah benah, makan, berangkatlah dari sana jam 4 sore menuju Bandung, sekarang kita lewat jalur biasa.
kita makan malam dulu di Limbangan Garut dan untung aja kita makan dulu, karena pas keluar dari restoran, jalanan macet total sampai daerah Nagrek, rupanya disana sudah juga diterapkan jalur buka tutup jalan.
Baru kali ini gue nyetir sambil melayang layang, masuk Bandungpun sudah sepi, yang numpang udah pada tidur, yang nyetirpun udah keliyengan gak karuan, kita nyampe dirumahnya Joe di Taman Setiabudi sudah jam 12 malam, wow.., Pangandaran menuju Bandung 8 jam euy..!
Tanggal 5 Juli, jam 10 pagi kita keluar dari rumah Joe, kita jalan dulu kearah Lembang, mampir bentar di kebun stroberi yang lagi gak panen, dah gitu makan siang di Lembang.
Pulangnya nganterin linda kerumahnya, gak pake mampir lagi gue langsung pulang ke Bogor, malemnya ngembaliin mobil ke Pak Wawan, dan bayar uang sewa mobi Rp. 1.600.000,- ( inilah total sewa mobil selama 8 hari ).
Apa yang terkesan dan menjadi catatan untuk gue selama perjalanan ini..?
1. Persiapkan diri kalau berjalan jalan dengan para wanita, siapkan sabar, siapkan waktu, siapkan badan dan kaki yang tegap, karena selama perjalanan kita akan menghadapi segala cobaan, baik saat mereka shoping maupun saat mereka selalu tidak tepat waktu.
2. Kalau berjalan dengan wanita yang masih muda lain lagi ceritanya, kita akan merasakan dan melihat, bahwa., indahnya laut, sejuknya udara pegunungan, segarnya buah buah yang dipetik langsung dan nikmatnya perjalanan, masih kalah dengan nikmatnya internetan dan sms an disepanjang perjalanan.
Suatu saat kita akan mendengar “ akukan sudah gadis, jadi sudah bisa dong shoping berlama lama “ eh., belum lama shoping dikelas ekonomi, langsung mual mau muntah, he..he..he.., jam terbangnya belum bisa nyaingin mama dan nantulang ya ‘nggi..?
3. Kalau berjalan dengan wanita, ada 2 hal yang PASTI, yang PERTAMA. kalau mereka melek, mereka akan ngobrol dan ngemil, keDUA , sesudahnya mereka akan tidur, itu untuk wanita yang dewasa, kalau yang masih puber lain lagi, kalau dia melek, dia akan sms an, internetan, ngemil dan cekakak cekikik, sesudahnya, yah.,sama juga dengan kedua diatas, tiduuuur.
4. Cape deh..!
5. Tapi gue seneng seneng aja koq, karena memang gue seneng jalan dengan saudara saudara gue.
Juli 2010
Dia ini anak adek gue Linda Harahap, nama bapaknya Sayon Lubis. Dia lahir di RS Bakti Yudha Depok tgl 27 Mey 1995.
Cirinya khasnya, dan barangkali yang gak perlu diikutin adalah, kalau ketawa hua ha ha ha dengan ayunan nada 3 oktaf. Kulitnya putih, wajahnya mirip bapaknya, hobbinya main basket dan nyanyi.
SD Sampe SMP sekolahnya di Strada, dan sekarang ini sekolahnya di SMA BHK Jakarta Barat.
Liburan sekolah tahun ini dia tour ke Bali, dan tour lagi ama gue, memang rencana perjalanan ini untuk Anggi, dia lagi sumpek dirumahnya, yang gak ada pembantulah dirumahnya, yang mamanya ke timur, papanya ke baratlah, sampai kita berangkat aja, gak dianterin papanya sampe mobil, hebaaat ya., sampai segitunya yang lagi ngambek. nah., gue yang belum sebulan ini happy family tour ama anak anak, jadi jalan deh lagi nemenin mereka. Tapi gue nimat nikmat aja tuh., memang dasarnya gue tukang keluyuran x yah.?
nah., inilah cerita perjalanannya :
Kita berangkat tgl 28 Juni 2010 jam 9 pagi dari rumah linda, kita naik mobil xenia yang sewanya 200 rb/hr. yang ngikut gue, duma, linda, ardith, anggi dan novi, lumayanlah tidak terlalu berat penumpangnya, soalnya tuh mobi ccnya cuman 980. Tarikkannya bagus dan memang mobilnya masih baru banget. Perjalanan ini yg membuat gue terkagetkaget, jalanannya semua 4 jalur, mulus dan tidak padat, masuk arjawinangun kita sudah masuk tol yang langsung masuk jawa tengah, gak ngelewatin lagi perbatasan jabar dan jateng, yang biasanya suka macet. Jam setengah 2 kita sudah masuk Tegal, wow.., cepet amat ya..? disini kita istirahat dan makan di restoran Priangan, pas dipinggir jalan menuju Pemalang, makanannya enak, tempatnya enak dan makannya prasmanan, cumannya di Tegal ini lho. gak diluar kotanya, gak didalam kotanya, semuanya sedang dalam perbaikkan, macet dan debu berbaur dalam 1 kata “SUMPEK”.
Lepas Tegal, masuk Pemalang, lepas Pemalang masuk Pekalongan, disini kita banyak meliat masyarakatnya yang mengunakan sepeda sebagai sarana transportasi, dah gitu rata rata sepedanya ada keranjang didepannya, seragam banget, yang empunya cerita, mengatakan, bahwa itu sepeda second dari jepang, sangat bagus untuk mencegah terjadinya polusi, tapi barangkali gak bagus untuk polusi jarak pendek, gue gak ngebayang burket pasti ada dimana mana, ayo rexona.! katanya setia setiap saat, disana pasti pangsa pasarnya sangat menjanjikan.
Lepas Pekalongan, kita masuk daerah alas roban, rupanya kota Batang sudah tidak dilewatin kendaraan pelintas lagi, bagus juga untuk percepatan, tapi tentunya gak bagus untuk kota Batang, ini kota perlintasan jalur pantura, kalau udah gak dilewatin kendaraan lagi, sepi sunyi dong., kotanya. Harusnya sih kota Tegal dan Pekalongan aja yg dibuat jalur alternatif, masa bis, truk dan semua kendaraan lewat tengah kota, yang udah udah dan yang gue tau, ditengah kota itulah yg sering terjadi kemacetan. Lepas alas roban, yang jalannya sudah tidak melewatin tanjakan, hutan dan kelok kelokkannya, masuklah kearah gringsing, disini biasanya dipake untuk tempat peristirahatan bis dan truk, makanya disana banyak betebaran restoran dan warung, mau masuk Kendal sudah tidak melewatin lagi kota Weleri, ada jalur alternatifnya, dan 1 lagi kota menjadi sepi sunyi dengan perubahan tsb. Lepas Kendal kearah Semarang, jalur mulai macet, dan semakin macet saat masuk kota Semarang, pas pula kita masuk Semarang saat bubar kantor, yang rencananya masuk kota Semarang jam 6 malam,jadilah sampai dirumah dinas ‘Bang Apul jam setengah 8 malam.
Maaf seribu maaf ‘Bang dan Kakak, karena mereka berharap kita tidur dirumahnya, kamar udah disiapkan ,TV untuk nonton kejuaraan bola dunia tinggal dipindahkan, tapi linda dan dan anggi gak mau, yah., gimana lagi, padahal ini malam yang main Spanyol lawan , tapi maklum jugalah, karena mereka tidak terbiasa, akhirnya malam itu kita hanya makan malam aja dirumah Abang, tapi suguhannya itu lho., nasi campur dan capcay yang enak, nikmat dan porsinya banyak, Maaf lagi dan banyak terima kasih ya ‘Bang, nanti di Jogja kami pasti nginep dan ngerepotin lagi deh.,
Jam setengah 11 malam, kita keluar dari Semarang dengan tambahan logistik, ada kripik tempe, ada kripik paru , ditambah dengan 4 kaleng pocari sweat dan perut kenyang. nah ini memang kebiasaan kalau kerumah Abang, pasti ada yang dibawa kalau pulang dari rumahnya.
Kita sengaja keluar malam, untuk menghindarkan jalur macet keluar Semarang kearah Gombel, kearah Ungaran menuju Bawen dan arah Bawen menuju Salatiga, untuk perkiraan macet ini kita memang betul, tapi rupanya sepanjang jalan banyak razia oleh polisi yang berpakaian lengkap dan persenjataannya juga lengkap, ada apa ya..? mungkin karena yang duduk didepan sebagai co pilotnya ardith, sepanjang ada razia, kita gak pernah diberhenti’in, kasian deh lo dith., masih dianggap anak kecil ama polisi.
Kita sampe dirumahnya Benny Harahap didaerah Mojosongo Solo jam 1 pagi, kita udah ditunggu disana, kamar sudah disiapkan, tempat tidur sudah digelar, yang gak disiapkan makan,minum dan keceriaan, karena kamarnya cuman 2, gue ama duma tidurnya diruang tamu, komplain aja kerjanya elo dom.!
Nah., apa kerjanya Anggi selama dalam perjalanan ini, yang pertama sms an sambil ngemil, yang kedua tidur, sambil ngedengerin sms masuk. Jadi intinya selama dalam perjalanan ini , anggi sibuk dengan sms, iyakan nggi..? padahal dia bilang hobbinya nyanyi, gak ada tuh., sepanjang jalan kedengeran suara dia yang nyanyi, repot memang kalau jadi penyanyi kamar mandi, jadi gak PD yah nggi..?
Tanggal 29 Juni, Pagi ini gue nganterin para wanita belanja di pasar gede dan makan bakso enak diseberangnya pasar, tapi yang lebih enak menurut gue, pangsit gorengnya, sesudah dari pasar gede pulangkah kita..? oh enggaklah., kaya gak tau linda aja, hobbi belanjanya seimbang dengan hobbi bedandannya, dan anggipun bilang gini “ anggikan udah gadis, jadi harus ikut belanja juga dong.,” jadi berangkat lagi deh., kita kepasar Klewer, gue ama ardith nungguin aja di parkiran sambil nyari buku bekas diseberang pasar,
Setengah jam berjalan, duma nelpon, ngasih tau kalau anggi ama novi mau balik ke mobil,katanya anggi perutnya mual, he..he..he.., katanya udah gadis nggi, koq baru gitu aja langsung mual..? rupanya standard wanita sudah gadis atau belum, kalau dia bisa belanja dengan desak2an, bisa nawar dengan ulet dan bisa jalan ber jam2 tanpa betisnya keram. gitu ya..?
Malamnya gue ama duma main kerumahnya Ardi, rupanya dia sekarang sudah jadi pimpinan cabang BNI khusus kredit di Solo, wah., seru banget yang ngobrolnya, dia itu temen perjalanan koboy gue waktu ke Bali tahun 1974, kita cerita saat nyolong telor dari atas jendela bis, kita cerita saat berbugil ria dipantai Kuta, kita cerita saat perjalanan tanpa uang yang memadai, yang akhirnya jual celana jeans di pasar loak Denpasar, sarapan pagi dengan belimbing wuluh, nyantronin saudara2 supaya dapet sangu, dan pulangnya naik truk dari Denpasar ke gilimanuk,
Bener ‘Di, ini cerita yang tidak akan pernah habis dan selesai dibicarakan, indah dan manis untuk dikenang dan mungkin akan terus dibincangkan sampe ke anak cucu kita.
Jam 11 malam, gue,linda ama anak2 nongkrong dan makan di angkringan, disitu gue cerita mengenai candi ceto yang ada di segoro gunung, awal ceritanya sih., pake ungkapan2 yang halus, gak enak juga, masa cerita ama ponakkan pake bahasa yang vulgar, tapi rupanya anggi lugu banget, berapa kali dijelaskan gak ngerti2 juga, kalau ardith, yah., jangan ditanyalah, langsung aja dia nyeletuk “ seperti kamasutra ‘nggi gambar2 dicandi itu “ wow.., ardith..!
Besok paginya tgl 30 Juni, kita berangkat ke Sarangan, penumpang bertambah 2 orang Dea dan Karl dan mobil bertambah bebannya sekitar 180 Kg, makan siangnya kita di warung ‘Bu Ugi di Tawangmangu, ini kebiasaan kita2 juga, gak afdol rasanya, kalau ke tawangmangu, gak makan sop buntut ‘Bu Ugi.
Pas ditanjakkan gondosuli dari arah tawangmangu menuju cemoro sewu, mobilnya ndut endutan dan langsung berhenti, ini gara gara gak bisa nanjak, yah.,panteslah, mobil ccnya 980, yang naik beratnya sekitar 600 Kg, belum lagi berat mesinnya, yah matilah dia..!
Akhirnya linda cs pada naik angkot ke sarangan, yang di mobil tinggal gue, ardith dan novi.
Sampai sana cari Pak Yatno dulu, dia temen gue, yang selama ini ngejalani obat gue di sarangan, gak salah memang deh, gara gara pake referensi nya, kita dapet potongan biaya hotel sampai 30%.
Selama disana pada naik speedboatnya pak yatno, ardith malah dibolehin nyetir sendiri, wah., pada happy banget, kalau linda ketakutan banget, namanya juga ardith, mumpung dikasih bawa sendiri, dia kebut tuh speedboat suka sukanya. Gue seneng ngeliat mereka pada kompak, pada tidur bareng, pada becanda bareng, pada foto bareng, paginya sesudah kita ngelilingin danau, pada makan bareng, nikmat memang., makan pecel madiun sambil nongkrong dipinggir danau.
Sayang sekali musim stroberi belum datang, biasanya kalau gue disana, sambil jalan pagi, gue keliling sama pak yatno, naik turun bukit, sambil jalan ngambilin stroberi, metik sendiri, makan sendiri, walau masih bercampur dengan tanah, nikmatnya itu lho., yang tak tertandingi.
Tgl 1 Juli Jam 10 pagi kita balik ke solo, dan linda cs kembali lagi naik angkot, kita ketemunya didepan warung ‘bu Ugi di tawang mangu.
Sampai solo jam 12, kita benah benah bentaran, cabut lagi deh menuju Jogja, tapi mampir dulu kekantornya Sri, untuk pamitan dan menerima ungkapan maafnya, karena tidak bisa menemani selama kita di solo. yah.., mboten nopo nopo dik sri..!
Sampai di Jogja, para wanita langsung pada shoping di malioboro, gue ama ardith nyari hotel, kebetulan pula saat itu libur panjang dan bersamaan pula dengan kongres akbar Muhammadiyah, yah., jadi gitu deh., nyari hotelnya susah, keluar hotelnya pun susah, maklum dimana mana jalan pada macet, akhirnya dapet juga hotel yang ala kadarnya, yang penting ada AC nya dan gak begitu jauh dari malioboro.
Yang pada hebat perempuan itu deh, gue gak tau betisnya pada dibuat dari apaan, kuat banget yang pada shoping, kalau sampai gak gue batasin dan gak gue cerewetin, mungkin pada gak inget pulang,
Malamnya gue, duma dan ardith tidur dirumah ‘Bang Apul, sisanya pada di hotel.
Tgl 2 Juli paginya, gue jemput mereka lagi, sekarang duma yang gak ikut, kita pada jalan ke Keteb, katanya dari satu titik disana, kita bisa sekaligus melihat 5 puncak gunung, memang memukau dan indah dipandang mata, dari bukit keteb, mata kita langsung melihat lembah dan secara perlahan naik mencapai puncak gunung, disini juga ada pertunjukkan bioskop, yang berisi mengenai volcano, sayang kita gak pada ada yang nonton, mereka sibuk dengan sms an, nyebelin juga sih., jauh jauh gue bawa mereka kesana, eh., merekanya disana pada sms an aja, mana camera habis baterenya, mana si karel disuruh beli batere salah pula, mana si karel disuruh foto pake hpnya gak mau,, katanya sayang foto foto yang ada di hp nya harus dihapus. Habislah moment untuk mengabadikan pemandangan disana, kata yang empunya cerita, dulu Bung Karno suka kesini, mungkin bertapa, mungkin juga cari wangsit, yang jelas pada saat Megawati yang jadi Presiden, tempat ini dibuat menjadi bagus dengan segala fasilitasnya,
Pulang dari keteb, kita lewat jalur lain, ditengah jalan kita ketemu dengan perkebunan stroberi, kebetulan lagi pada panen, waktu diajak pada turun, mereka mereka pada males malesan, sesudahnya, pada ngelahap stroberi, sekali sekali nikmatilah stroberi dengan memetik sendiri, memang repot kalau bawa anak anak ini, sepanjang jalan pada pada main HP melulu, dah gitu kita mampir dulu ke kopeng, disini gue nyari lagi temen, namanya Sugeng, dia temen gue juga pada saat gue ngejalanin obat disana, dan rupanya nyari dia gak rugi juga, karena pada saat masuk ke tempat wisata kopeng, pada gak bayar, lumayan juga tuh.,
Pulang dari kopeng, nyempetin dulu ke candi Borobudur, sayang pintu masuknya udah pada tutup, jadi deh., mereka hanya ngeliat tempat parkiran dan tempat shopingnya aja, kalau borobudurnya sendiri sih., gak keliatan dari luar. Untuk sekedar melihat candi, kita sempetin liat candi Mendut, memang posisinya berada dipinggir jalan antara Borobudur kearah Jogja.
Pulangnya kita mampir dulu kerumah ‘Bang Apul, kita makan malam disana,
Gak enak jugalah, linda cs udah mampir di semarang, ditawarin nginep gak mau, masa pas di Jogja juga gak mampir lagi. malemnya nganterin mereka lagi ke hotelnya, wah., remuk redam di tulang belulang.
Tgl 3 Juli pagi, gue ama duma pamitan dengan keluarga ‘Bang Apul, ardith gak ikutan pulang, seperti biasanya, oleh oleh selalu tidak pernah ketinggalan, waktu kita jemput linda cs di hotel, mereka tidak ada, katanya lagi sarapan sop ceker di malioboro, linda linda.., gak pernah puas yah., kalau shoping..? padahal janjian jam 8 pagi kita sudah harus berangkat, eh., dia balik ke hotel jam 10.
Tadinya rencana perjalanan menuju pantai Pangandaran akan menyusuri pantai selatan Jawa Tengah. Kita sudah masuk dari Wates dan menyusuri pantai tsb, sayangnya gue gak berani terus lanjut, maklum cowonya cuman gue sendiri dan daerahnya belum gue kenal, jadi deh., sesudah melewati gombong, kita masuk lagi ke jalur biasanya, gak lupa makan bebek didaerah perbebekkan di luar kota gombong, enak, empuk,pedas dan gak mahal juga harganya.
Waktu kita masih dijalan, kita booking hotel di Pangadaran, yang punya ngasih tau, “ ada jalur potong yang lebih dekat, lebih sepi dan lebih bagus jalannya, nanti sebelum masuk daerah Sidareja, ada jalan yang belok kanan, dari situ nanti langsung bisa tembus di daerah Kalipucang,” kita lewat situ deh., bener lebih dekat sih., tapi juga gak lebih cepet, bener lebih sepi, tapi bukan berarti kita bisa jalan kenceng, jalanannya itu lho., kadang bagus, kadang jelek, kadang mulus kadang berantakkan, kalau dibilang jalannya lebih bagus, yah., enggak jugalah, lebih jelek malah, tapi gapapalah, namanya jalan jalan, yah nikmatin aja, cuman rada ngeri juga sih, mana jalan mulai gelap, perut mulai lapar, mau cari makan juga gak ada, mau cari indomart atau alfamart, yah., boro boro deh..!
Jam 7 malam kita nyampe Pangandaran dan nginepnya di Hotel Grand Mutiara, lokasinya strategis banget, dipinggir pantai dan di pusat keramaian. Saat itu bertepatan dengan acara Harley Davidson, yang biasanya dibuat setiap 5 tahun sekali, jadi sangat rame acaranya, sangat penuh manusianya, sangat banyak motornya dan sangat ribut suaranya, ngebayang gak sih., saat mereka pulang jam 5 pagi, mereka bersamaan manasin motornya, kita yang lagi tidur langsung pada kebangunan, bayangin., semua kaca dikamar pada bergetar, seperti ada gempa, nyebelin banget deh.,
Tanggal 4 Juli pagi, belum sarapan di hotel kita berangkat dulu kepasir putih, disana duma , linda dan anggi mau diving di laut, waktu dipake alatnya, lucu lucu deh., tampangnya mereka, apalagi linda, syok banget yah lin..? akhirnya hanya anggi aja bermain main dengan ikan ditengah laut, darisana kita balik sebentar ke hotel, baru lanjut ke Green Canyon yang jaraknya sekitar 30 KM dari Pangandaran, waktu berangkat kesana sama andre dan ardith, gue takut untuk nyemplung nyusurin sungai dan foto foto di cadas, tapi kalau sekarang gue takut, yah., kapan lagi dan pastinya anggi pun gak berani juga, akhirnya gue, duma dan anggi ikut nyemplung dan foto foto di cadas, tapinya itu lho., gak ada satupun gambar yang kita punya, sayang banget ya..?
Balik darisana ke Pangandaran, kita masih sempetin untuk mampir di Batu Hiu.
Sempetin berendem di laut dan foto, cuman fotonya pake tukang foto keliling, yah., daripada gak ada, lumayanlah.
Sampai di hotel, bersih bersih, benah benah, makan, berangkatlah dari sana jam 4 sore menuju Bandung, sekarang kita lewat jalur biasa.
kita makan malam dulu di Limbangan Garut dan untung aja kita makan dulu, karena pas keluar dari restoran, jalanan macet total sampai daerah Nagrek, rupanya disana sudah juga diterapkan jalur buka tutup jalan.
Baru kali ini gue nyetir sambil melayang layang, masuk Bandungpun sudah sepi, yang numpang udah pada tidur, yang nyetirpun udah keliyengan gak karuan, kita nyampe dirumahnya Joe di Taman Setiabudi sudah jam 12 malam, wow.., Pangandaran menuju Bandung 8 jam euy..!
Tanggal 5 Juli, jam 10 pagi kita keluar dari rumah Joe, kita jalan dulu kearah Lembang, mampir bentar di kebun stroberi yang lagi gak panen, dah gitu makan siang di Lembang.
Pulangnya nganterin linda kerumahnya, gak pake mampir lagi gue langsung pulang ke Bogor, malemnya ngembaliin mobil ke Pak Wawan, dan bayar uang sewa mobi Rp. 1.600.000,- ( inilah total sewa mobil selama 8 hari ).
Apa yang terkesan dan menjadi catatan untuk gue selama perjalanan ini..?
1. Persiapkan diri kalau berjalan jalan dengan para wanita, siapkan sabar, siapkan waktu, siapkan badan dan kaki yang tegap, karena selama perjalanan kita akan menghadapi segala cobaan, baik saat mereka shoping maupun saat mereka selalu tidak tepat waktu.
2. Kalau berjalan dengan wanita yang masih muda lain lagi ceritanya, kita akan merasakan dan melihat, bahwa., indahnya laut, sejuknya udara pegunungan, segarnya buah buah yang dipetik langsung dan nikmatnya perjalanan, masih kalah dengan nikmatnya internetan dan sms an disepanjang perjalanan.
Suatu saat kita akan mendengar “ akukan sudah gadis, jadi sudah bisa dong shoping berlama lama “ eh., belum lama shoping dikelas ekonomi, langsung mual mau muntah, he..he..he.., jam terbangnya belum bisa nyaingin mama dan nantulang ya ‘nggi..?
3. Kalau berjalan dengan wanita, ada 2 hal yang PASTI, yang PERTAMA. kalau mereka melek, mereka akan ngobrol dan ngemil, keDUA , sesudahnya mereka akan tidur, itu untuk wanita yang dewasa, kalau yang masih puber lain lagi, kalau dia melek, dia akan sms an, internetan, ngemil dan cekakak cekikik, sesudahnya, yah.,sama juga dengan kedua diatas, tiduuuur.
4. Cape deh..!
5. Tapi gue seneng seneng aja koq, karena memang gue seneng jalan dengan saudara saudara gue.
Juli 2010
Gue pernah part 1
Gue pernah………, part 1
1. Desember 1985, gue dapet tugas untuk melaksanakan AUDIT di hotel PUTRI BALI di Nusa Dua selama 3 minggu, tahun segitu, hotel masih sedikit disana, yang gue inget baru ada hotel Nusa Dua Beach dan Balisol, fasilitaspun belum selengkap seperti sekarang ini, jadi kalau setiap hari sabtu dan minggu gue nginepnye di hotel Bali Beach di Sanur, kebetulan tim audit yang lain tugasnya disana.
Nah., di hari2 senin sampai jum’at, tiap sore kerjaan gue berenang dan kalau malam nongkrong di restaurannya di pinggir pantai, karena kerjaan gue hari hari rutin seperti itu, rupanya menjadi perhatian dari orang bule, yang tinggi besar dan badannya berbulu, setiap gue berenang, dia ikut berenang, setiap gue ngelahap lobster, dia juga makan, dan itu dilakukan selalu tidak jauh dari gue, lama lama gue sadar juga kalau ada bayang2 yang selalu ngikutin gue, kalau gue ngeliatin dia, pasti dia berikan senyum terbaiknya, sebel, risih dan sedikit takut juga, akhirnya gue laporin aja ama security hotel, ooh.. rupanya dia hombre yang memang biasa cari mangsa di hotel2, maklumlah pada saat itu, mereka sedang Berjaya, karena saat itu Dirjen Pariwisatanya Joop Ave.
Bisa aja, dia ngejar ngejar gue, karena mungkin waktu gue berenang sempet kentut keras dan dia nya denger. maklum juga sih., semakin keras kentut kita, semakin tingi pasaran kita. He..he..he..!
2. Desember 1985, kita dapet tugas untuk AUDIT hotel Bali Beach dan Putri Bali, hari pertama, kita diundang makan malam bersama General Manager dan Internal Auditnya Bali Beach, walau gak pake janjian, gue, Syufril dan Delyuzar pesannya sama sama ayam bekakak, pada saat ayam bekakaknya datang, kita pada bingung cara makannya, ayamnya setengah ekor dan dalam posisi bekakak ( terbuka ), ayamnya enak banget,tapi karena tidak terbiasa makan pake pisau, kita jadi serba salah, potong sini dapetnya sedikit, potong sana dapetnya juga sedikit, belum lagi bumbunya belepetan kemana mana, yah., sudahkan dululah perjuangan ini, walau masih pengen, tapi malu sudah menyergap, selesai makan malam, kita masuk kamar dan langsung pesan lagi ayam bekakak ke room service dan minta segera dikirim kekamar, belum juga habis setengah, eh.. internal auditnya datang kekamar gue, mau ngasih tau, kalau jam 8 pagi gue akan diantar ke Putri Bali, IDIIIH.. MALUNYA, soalnya dia ngeliat sisa2 ayam bekakak gue yang belum habis.
3. April 1983, gue ama tim dapet tugas untuk melaksanakan Stock opname dan tabulasi untuk aktiva PLN Distribusi dan proyek proyek PLN se Jawa Tengah, kita diinapkan di cottage hotel Gombel Indah di Semarang. Cottage cotaggenya bagus dan tersebar di bukit2 dengan pemandangan kota Semarang,
Setiap pulang kerja gue berenang atau main layangan, nah.., disinilah gue nyobain yang namanya loncat dari papan dengan ketinggian 3 kadang malah yang 5 meter,
Suatu saat burung gue luka, perih dan selalu basah, lama gak sembuh sembuh, malah semakin lama semakin parah, akhirnya gue bawa ke dokter spesialis kulit dan kelamin, tuh., dokter malah gelarnya sudah professor, gak dikasih tau masalahnya kenapa dan penyakit apa, pokoknya yang gue inget, bayarnya 75 rb dan obatnya sekitar 200 rb an, tapi sampai gue pulang ke Jakarta, penyakit itu gak sembuh sembuh juga, akhirnya gue coba bawa ke dokter tetangga yang baru tamat kuliah, dia bilang begini “ Dom., burung elo ini terkena penyakit syphilis, ini sdh mencapai stadium 3, kalau lambat dikit aja gak diobatin, burung elo putus dengan sendirinya, tapi elo coba dulu deh pake salep 24, harganya cuman 800 perak koq., “ buru buru gue beli dan gue pake, eh., belum 2 hari sudah sembuh, waktu gue lapor, dokter Sumitro, sambil ngakak bilang gini “penyakit elo itu dom, penyakit kampung, gak perlu professor, dokter Puskesmas pun bisa nyembuhin “
He..he..he..! rupanya karena tiap hari berenang dan nyucinya gak bersih, burung gue kena KUTU AIR.
4.Tahun 1970 an, gue ama Bonny tidur dikamar belakang, itu kamar kelas kambing, sedangkan Bang Polli tidur di Paviliun, itu kamar VVIP,
Dari kecil memang kita gak pernah bareng, jalan sendiri sendiri, main bola sendiri sendiri, naik gunung juga sendiri sendiri, sama sama kuliah di akuntansi, tapi belajarnya sendiri sendiri, ada 2 cerita yang GUE PERNAH..,
Waktu Bang Polii cerita naik gunung Pangrango dan jalan kaki dari puncak pass ke ciawi, beliau bilang gini “ elo gak bakalan sanggup dom.”
Namanya juga domu, lebih baik mati berkalang tanah, daripada hidup berkalangkabut, gue ajak deh., Budi katro dan Aryanto pendek untuk naik gunung, supaya gak kalah ama Bang Polli, karena dia naik gunung Pangrango doang, maka gue naik gunung Pangrango dan gunung Gede sekaligus, walaupun gak naik turun banget, karena ditengah tengah kedua gunung itu ada simpang yang namanya kandang badak,
Karena sangking semangatnya untuk memecahkan rekor, gue lupa yang namanya makan, pas saat turun mau pulang dari kandang badak, perut gue mules karena lapar, badan lemes sampai susah untuk dipake jalan, mau makan, yang ada cuman lontong yang sudah basi, budi ama yanto sanggup makan itu, nah., gue, pas makan langsung muntah2, akhirnya gue dipapah selama perjalanan turun, pokoknya udah kaya orang pesakitan aja deh., waktu sampai di cibodas, ada yang jualan kacang ijo, wah seperti pucuk dicinta, ulam tiba, badan langsung segar, sehat dan penuh vitalitas.
Waktu sampai rumah, langsung lapor ama Bang Polli, kalau gue naik gunung salak dan pangrango, tapi gak cerita, kalau gue termehek mehek dijalan.
Gengsi atuh ‘kang..!
Waktu ‘Bang Polli bilang “ domu itu penakut, jalan malam gak berani, tidur sendirian dikamarnya aja gak berani “
Namanya juga domu, lebih baik malu belakangan, daripada malu maluin, akhirnya buatlah kesepakatan dengan ‘Bang Polli,
Beliau sore2 berangkat kevillanya tulang Eden di cibulan, nanti malamnya gue harus nyusul kesana, kalau mau nyampe ke villa itu, caranya gini, kita turun di citeko, dah gitu jalan kaki sekitar 1 Km, ngelewatin kuburan, kebon2 dan villa2 tua yang kosong, karena pemiliknya gak pada datang, ( bukan hari sabtu soalnya ), jadi deh., gue berangkat memenuhi kesepakatan itu, sampai sana sekitar jam 11 malam, gue turun di restoran ibu di citeko, dah gitu gue jalan kaki ngelewatin kuburan sambil nyanyi lagu “ Ise do ale ale ta “ sesudah ngelewatin kuburan dilanjutkan dengan lagu “ Holan Jesus do hubaen donganku “ itu itu aja yang gue nyanyi’in sepanjang jalan, pas masuk pintu gerbang villa, gue langsung kabur dan masuk kevilla tulang dengan napas termehek mehek, he..he..he..! yang penting gue nyampe dan terpenuhi kesepakatan dengan ‘Bang Polli.
5.Tahun 1975, waktu itu gue kelas 3 SMA, ada temen gue namanya Iswansyah, anaknya cakep, pinter belajar, tapi gak pinter nabung, jago main gitar, rajin sholat dan jago bersilat lidah, suatu saat dia bilang begini ke gue “dom., ada film perang, judulnya “Green Barets” pemainnya Jonh Wayne, filmnya bagus dan sekarang lagi diputar dibioskop Roxi, sayang banget kalau kita gak nonton, coba elo pikir deh., dom, suatu saat kita banyak uang dan kita mau nonton film itu, tapi film tsb sudah tidak beredar lagi, mau kita cari kemana tuh film..?, kalau sekarang kita jual celana untuk nonton film itu, gak masalahkan, kalau elo punya duit, seratus celanapun bisa elo beli “ dalam hati gue ngomong , “bener juga ya.,” dan itulah hebatnya dia dan gobloknya gue, jadi tuh., kita nonton dengan jual celana jeans.
6. Tahun 1968 gue tamat dari SD Sumbangsih, sebagai bentuk hadiahnya, gue boleh pulang kekampung halamannya mami di Kerasaan Pematang Siantar, saat itu gue naik kapal Bengawan dan dititipin sama Uda Todung Marpaung (perwira kesehatan kapal).
Waktu sampai di Belawan Medan gue dijemput sama Tulang Agus, dan selama disana gue bisa kenal dengan opungnya mami yang boru Pulungan, kalau ngomong sama beliau harus pake penterjemah, karena beliau itu gak bisa bahasa Indonesia, sedangkan gue gak bisa bahasa batak, kalau pas ketemu beduan pake bahasa tarzan.
Selama liburan disana, gue sempat diajak tulang naik sepeda ke Laras, naik bis ke Kisaran, nongkrong di lapo minum tuak, mangaligi ligi boru di Kerasan dan diajak jalan ke Danau Toba, nah., inilah ceritanya.
Waktu di danau toba, kita sewa perahu dan marsolu solulah kita disana, pas ditengah danau tulang bilang begini “ dom., kamu bisa berenang tidak.? “ dengan gaya diplomatis dan barangkali juga karena gengsi anak Jakarta, gue jawabnya “ kalau di Jakarta sih, domu biasa berenang tulang “ belum juga selesai omong, perahu langsung dibalikkin sama tulang, yah.., gue termegap megaplah, mungkin saat itu udah seliter air yang gue minum.
Nah., inilah kejadian dengan paradigma yang berbeda, tulang beranggapan, kalau biasa berenang pasti bisa berenang, sedangkan gue jawab gitu karena malu, kalau bilang gak bisa berenang, cumannya gak nyangka aja, seketika itu juga perahu ditenggelamkan.
He..he..he..! domu ..domu.., makan tuh gengsi.
7. September 2009, gue ama purnomo naik sepeda motor dari Lamongan mau ke Laren, ditengah jalan tepatnya didaerah persawahan Pucuk, gue ngeliat ada pak petani sedang bersih2in rumput ditengah sawah, gue bilang ke pur untuk berhenti sebentar lalu kita panggillah petani tsb, gak nyangka petani tsb langsung datang dan supaya cepet memenuhi panggillan kita, dia nyebrangin kali kecil dengan berjalan, sedangkan dalamnya air mencapai pinggang dari petani tsb, gue ama pur langsung mengenalkan diri sebagai pedagang pestisida, dia mengenalkan diri sebagai petani dengan nama Tasrun dan tinggal di desa Bulu Tengger kec. Sekaran, kita bincang2nya dipinggir kali, dan dengan gaya seorang marketing handal, kita mengenalkan , bahwa produk kita kwalitasnya baik, harganya murah dan fungsinya sangat beragam, pokoknya kita bilang, bahwa produk kita harganya sangat terjangkau oleh petani, pak petani dengan khusuk mendengarkan dan sambil mengangguk2an kepala tanda mengerti, sekali sekali mengatakan “enggeh pak, enggeh pak” dan menawarkan diri, agar gue ama pur mau mampir kerumahnya nanti sore.
Pulang dari Laren, kita carilah rumahnya, kita nanya ke penduduk sana, “dimana rumah pak Tasrun..? ”, jawabnya “ bapak kenceng saja, disana ada rumah yang paling pojok dan menghadap barat “ pada saat kita kesana, yang ditemui 2 bangunan rumah yang sangat mewah dalam 1 halaman, dengan mobil CRV baru yang terparkir didalamnya, ah.., gak mungkinlah..! kita balik lagi dan nanya lagi ke penduduk lainnya, jawabannya sama “ bapak kenceng saja, nanti ada rumah yang paling pojok dan menghadap kearah barat, itulah rumah pak Haji Tasrun “ wah., udah mulai goyah nih., iman, waktu kita nyampe disana, pas pak Haji Tasrun keluar, langsung dengan sedikit membungkukkan diri dan ujung jempol dibawah, kita dipersilahkan masuk rumahnya, dasar orang jawa deh., walau dia tau kita terpesona liat keberadaannya, tetap aja dia duduk tanpa menyenderkan tubuhnya kekursi dan dengan posisi duduk kaki rapat dan kedua tangan diatas dengkulnya, bener2 dasar orang jawa kampung, gue ama pur bener2 dikerjain ama dia, sampai gue ama pur, tendang2an kaki, karena gak tau lagi mau ngomong apaan, udeh gitu die cerita, kalau die punya warung kaki 5 di bogor, namanya seafood 69, die juga cerita, sebagai salah satu perintis orang Lamongan yang berdagang kaki 5 di wilayah Jabodetabek, akhirnya gue juga tau, kalau warung kaki 5 nya di bogor, adalah warung yang paling laku dan rame dan gue juga tau, tidak hanya warung kaki 5 yang dia punya, tapi die juga punya ruko didaerah elite bogor.
Pulang dari rumahnya gue ama pur jadi lebih banyak cengengesan, yah., lucu, yah., malu, yah., pokoknya gitu deh.
Banyak pelajaran yang gue dapet dari cerita konyol ini,
Semakin tinggi keberadaan kita, harusnya semakin rendahlah hati kita, bekerja untuk maju, adalah perjuangan, dan perjuangan adalah suatu proses, dimana istirahat untuk bekerja tidak ada dalam kamus perjuangannya.
8. Tahun 2005, Domu Pasaribu kena penyakit kanker sinusitis, dia tinggal di Sanggau Kalimantan Barat dan dateng ke Jakarta untuk berobat di RSCM sama adiknya Parlin, dan gue sendiri dapet tugas dari bujing rawamangun untuk selalu mengantar dan mendampingi mereka selama berobat, tugas tetap tugas, harus tetap dilaksanakan , walau perut sakit sekalipun.
Sampai di RSCM, perut gue mules, mau masuk ke toilet semuanya penuh, dan masih banyak juga yang ngantri mau masuk, muter muter kelilingin bangsal tetap aja gak dapet, mau cari tempat sepi dan rada mojok, juga gak dapet, sedangkan posisi sudah berada diujung tanduk, keringet dingin sudah keluar, mau nahan sudah gak mampu lagi, lalu ambil posisilah yang rada sepi sidikit dan sambil pegangan ditiang, mbrodollah beliau itu., kalau ada orang lewat, gue belaga sibuk telpon2an, udah gitu gue beli minyak kayu putih, maksudnya sih., untuk menyamarkan antara bau tokay dengan harumnya kayu putih, pada saat dari jauh gue liat ada toilet yg kosong, gue buru2 datengin dan masuk, didalam toilet itulah gue bukannya trow big water, tapi ngebersihin big water yang pada nempel di celana jeans, sebersih bersihnya yang nyuci pake tangan, yah., tetap ajalah ada yang nyangkut, dan baunya gak secepat itukan hilangnya, kembali untuk menyamarkan baunya, gue siramin lagi pake minyak kayu putih, sedikit acuh dan sedikit masa bodoh, keluarlah gue dari toilet dan mencari Domu Pasaribu di bagian THT, setiap berpaspasan, pasti orang pada ngeliatin gue, dan gue kembali acuh dan masa bodoh lagi, yang serunya pada saat kita mau pulang kerumah bujing di rawamangun, yang biasanya kita naik bis, saat itu gue ngotot naik taxi, gue duduk depan, supir taxi mengendus bau yang tak sedap, domu dan parlin, juga mengendus bau yang tak sedap, kembali gue acuh dan belagak bodoh, sepanjang jalan semua pada diam seribu bahasa, sambil mengendus endus aroma aneh, selama mereka diam, yah., gue juga diam aja, sampe dirumah bujing, gue masuk kamar mandi, gue mandi yang bersih, sambil nyuci celana yang benar, keluar dari kamar mandi, sudah ada senyum dibibir gue dan merasa surga sudah ada ditangan gue.
LEGAAAH nya itu lho..!
9. Tahun1984 , berdirinya PDI.P ( Perjuangan Domu Ingin. Pacaran )
Awalnya, kita para naposobulung GKPA Diponegoro lagi kumpul kumpul di sekolah music Marcia di Tebet, saat duma mau pulang dan ngajakin abangnya Iya, untuk nganterin ke Kalibata kerumah ‘Bang Ananda, eh.., Iya nya malah ngomong “wah., itu bukan urusan gue, tapi urusannya domu“, seperti pucuk dicinta domu tiba, gak pake dua kali komando, gue langsung iya’in katanya Iya, kesempatan katanya gak datang 2 kali, ditengah jalan saat nganter, gue langsung bilang “kita nonton dulu yuuk dum..?“ rupanya duma juga berprinsip, kesempatan datangnya gak 2 kali, duma langsung setuju, tapi ijin dulu sama abangnya itu, ijin keluar, kita nonton deh., dibioskop Monas, itulah AWAL…! Dan sesudahnya banyak aral yang melintang sejak ketua dewan Syuro menentang hubungan gue ini, awalnya di Kalibata, sesudahnya di Menteng Lama, awalnya ada pendukung, sesudahnya gak ada, awalnya gak ada saingan, sesudahnya banyak saingan, awalnya terang, sesudahnya gelap.
Tapi yang gue mau cerita, perjuangan selama pacaran di Kalibata.
Kebiasaan gue, kalau pacaran selalu pulang tengah malam, dan kalau mau pulang, biar cepet harus motong jalan, didepan rumah abangnya memang ada kebon kosong yang luas, tapi katanya disitu suka ada kuntilanak yang nongkrong dibawah pohon, kalau gue lewat jalan yg gak motong, diujung rumahnya ada anjing galak yang suka ngejar2 orang yang lewat, sekarang tinggal 2 pilihan, lewat kebon kosong, tapi katanya ada kuntilanak, atau lewat jalan yang gak motong, tapi di kejar2 anjing, pikir punya pikir, akhirnya gue ambil keputusan, lewat kebon kosong, dengan alasan gue punya penangkalnya, makanya setiap lewat jalan itu, gue selalu nyanyi “Holan Jesus do hubaen donganku” , sedangkan kalau urusan dengan dikejar kejar anjing, saat itu gue belum tau lagu penangkalnya. gila kali elo itu ya..dom…!
Nanti kalau sudah sampai jalan raya Pasarminggu, baru naik angkutan lagi kearah Pancoran, disinipun sering perlu perjuangan lagi, karena bisa dalam 1 angkutan, hanya gue yang laki2, yang lainnya BENCHONG SLEBOR semua. Kalau menghadapi seperti ini, hanya 1 syaratnya, YAKIN dan JANGAN TAKUT.
10. Tahun 1994, mungkin inilah krisis awal dari likwiditas perbankan di Indonesia, jadi banyak Bank yang menawarkan komisi kalau kita menaruh uang di bank tsb, bunga dikasih lebih tinggi dan yang naruh juga dapet komisi, salah 1 nya Bank Modern di sekitar blok M yang menawarkan iming2 tsb ke gue, branch managernya gue lupa namanya, yang gue inget die orang cina menado. Saat itu memang gue lagi dipercaya pegang uang perusahaan dan kebetulan juga perusahaan gue lagi punya uang nganggur, jadilah pada saat itu uang sebesar 400 juta gue masukkan ke bank modern sebagai sertifikat deposito. Gue pikir2., lumayan jugalah, gue dapet bunga didepan dan dapet komisi pula, tunggu punya tunggu, rupanya gue seperti pungguk merindukan bulan, komisi yang gue harapkan gak nongol2, mau nagih terus, koq..kayanya gue yang jadi konyol, Akhirnya gue putuskan untuk memuat cerita itu disurat kabar.
Gue ketik dengan rapi, benar dan dengan bahasa yang sederhana, masalah tsb gue kirim ke redaksi harian Media Indonesia ( saat itu punya julukkan sang innovator ), pas besoknya gue liat di surat pembaca, isinya jauh berbeda dengan apa yang gue tulis, ya.. ampun ada permainan apa pula ini, karena isinya salah, tentunya bank modern dengan mudah menyangkalnya, malah gue yang jadi terpojokkan, sampai sampai abang gue Pollie nanya “ ada masalah apa gue dengan bank modern ..? “ tuh kan malah jadi gue yang kena.!
Yang gue bayangin itu gini, apa masih seperti itu kelakuan wartawan saat ini, atau apa semakin parah..?
1. Desember 1985, gue dapet tugas untuk melaksanakan AUDIT di hotel PUTRI BALI di Nusa Dua selama 3 minggu, tahun segitu, hotel masih sedikit disana, yang gue inget baru ada hotel Nusa Dua Beach dan Balisol, fasilitaspun belum selengkap seperti sekarang ini, jadi kalau setiap hari sabtu dan minggu gue nginepnye di hotel Bali Beach di Sanur, kebetulan tim audit yang lain tugasnya disana.
Nah., di hari2 senin sampai jum’at, tiap sore kerjaan gue berenang dan kalau malam nongkrong di restaurannya di pinggir pantai, karena kerjaan gue hari hari rutin seperti itu, rupanya menjadi perhatian dari orang bule, yang tinggi besar dan badannya berbulu, setiap gue berenang, dia ikut berenang, setiap gue ngelahap lobster, dia juga makan, dan itu dilakukan selalu tidak jauh dari gue, lama lama gue sadar juga kalau ada bayang2 yang selalu ngikutin gue, kalau gue ngeliatin dia, pasti dia berikan senyum terbaiknya, sebel, risih dan sedikit takut juga, akhirnya gue laporin aja ama security hotel, ooh.. rupanya dia hombre yang memang biasa cari mangsa di hotel2, maklumlah pada saat itu, mereka sedang Berjaya, karena saat itu Dirjen Pariwisatanya Joop Ave.
Bisa aja, dia ngejar ngejar gue, karena mungkin waktu gue berenang sempet kentut keras dan dia nya denger. maklum juga sih., semakin keras kentut kita, semakin tingi pasaran kita. He..he..he..!
2. Desember 1985, kita dapet tugas untuk AUDIT hotel Bali Beach dan Putri Bali, hari pertama, kita diundang makan malam bersama General Manager dan Internal Auditnya Bali Beach, walau gak pake janjian, gue, Syufril dan Delyuzar pesannya sama sama ayam bekakak, pada saat ayam bekakaknya datang, kita pada bingung cara makannya, ayamnya setengah ekor dan dalam posisi bekakak ( terbuka ), ayamnya enak banget,tapi karena tidak terbiasa makan pake pisau, kita jadi serba salah, potong sini dapetnya sedikit, potong sana dapetnya juga sedikit, belum lagi bumbunya belepetan kemana mana, yah., sudahkan dululah perjuangan ini, walau masih pengen, tapi malu sudah menyergap, selesai makan malam, kita masuk kamar dan langsung pesan lagi ayam bekakak ke room service dan minta segera dikirim kekamar, belum juga habis setengah, eh.. internal auditnya datang kekamar gue, mau ngasih tau, kalau jam 8 pagi gue akan diantar ke Putri Bali, IDIIIH.. MALUNYA, soalnya dia ngeliat sisa2 ayam bekakak gue yang belum habis.
3. April 1983, gue ama tim dapet tugas untuk melaksanakan Stock opname dan tabulasi untuk aktiva PLN Distribusi dan proyek proyek PLN se Jawa Tengah, kita diinapkan di cottage hotel Gombel Indah di Semarang. Cottage cotaggenya bagus dan tersebar di bukit2 dengan pemandangan kota Semarang,
Setiap pulang kerja gue berenang atau main layangan, nah.., disinilah gue nyobain yang namanya loncat dari papan dengan ketinggian 3 kadang malah yang 5 meter,
Suatu saat burung gue luka, perih dan selalu basah, lama gak sembuh sembuh, malah semakin lama semakin parah, akhirnya gue bawa ke dokter spesialis kulit dan kelamin, tuh., dokter malah gelarnya sudah professor, gak dikasih tau masalahnya kenapa dan penyakit apa, pokoknya yang gue inget, bayarnya 75 rb dan obatnya sekitar 200 rb an, tapi sampai gue pulang ke Jakarta, penyakit itu gak sembuh sembuh juga, akhirnya gue coba bawa ke dokter tetangga yang baru tamat kuliah, dia bilang begini “ Dom., burung elo ini terkena penyakit syphilis, ini sdh mencapai stadium 3, kalau lambat dikit aja gak diobatin, burung elo putus dengan sendirinya, tapi elo coba dulu deh pake salep 24, harganya cuman 800 perak koq., “ buru buru gue beli dan gue pake, eh., belum 2 hari sudah sembuh, waktu gue lapor, dokter Sumitro, sambil ngakak bilang gini “penyakit elo itu dom, penyakit kampung, gak perlu professor, dokter Puskesmas pun bisa nyembuhin “
He..he..he..! rupanya karena tiap hari berenang dan nyucinya gak bersih, burung gue kena KUTU AIR.
4.Tahun 1970 an, gue ama Bonny tidur dikamar belakang, itu kamar kelas kambing, sedangkan Bang Polli tidur di Paviliun, itu kamar VVIP,
Dari kecil memang kita gak pernah bareng, jalan sendiri sendiri, main bola sendiri sendiri, naik gunung juga sendiri sendiri, sama sama kuliah di akuntansi, tapi belajarnya sendiri sendiri, ada 2 cerita yang GUE PERNAH..,
Waktu Bang Polii cerita naik gunung Pangrango dan jalan kaki dari puncak pass ke ciawi, beliau bilang gini “ elo gak bakalan sanggup dom.”
Namanya juga domu, lebih baik mati berkalang tanah, daripada hidup berkalangkabut, gue ajak deh., Budi katro dan Aryanto pendek untuk naik gunung, supaya gak kalah ama Bang Polli, karena dia naik gunung Pangrango doang, maka gue naik gunung Pangrango dan gunung Gede sekaligus, walaupun gak naik turun banget, karena ditengah tengah kedua gunung itu ada simpang yang namanya kandang badak,
Karena sangking semangatnya untuk memecahkan rekor, gue lupa yang namanya makan, pas saat turun mau pulang dari kandang badak, perut gue mules karena lapar, badan lemes sampai susah untuk dipake jalan, mau makan, yang ada cuman lontong yang sudah basi, budi ama yanto sanggup makan itu, nah., gue, pas makan langsung muntah2, akhirnya gue dipapah selama perjalanan turun, pokoknya udah kaya orang pesakitan aja deh., waktu sampai di cibodas, ada yang jualan kacang ijo, wah seperti pucuk dicinta, ulam tiba, badan langsung segar, sehat dan penuh vitalitas.
Waktu sampai rumah, langsung lapor ama Bang Polli, kalau gue naik gunung salak dan pangrango, tapi gak cerita, kalau gue termehek mehek dijalan.
Gengsi atuh ‘kang..!
Waktu ‘Bang Polli bilang “ domu itu penakut, jalan malam gak berani, tidur sendirian dikamarnya aja gak berani “
Namanya juga domu, lebih baik malu belakangan, daripada malu maluin, akhirnya buatlah kesepakatan dengan ‘Bang Polli,
Beliau sore2 berangkat kevillanya tulang Eden di cibulan, nanti malamnya gue harus nyusul kesana, kalau mau nyampe ke villa itu, caranya gini, kita turun di citeko, dah gitu jalan kaki sekitar 1 Km, ngelewatin kuburan, kebon2 dan villa2 tua yang kosong, karena pemiliknya gak pada datang, ( bukan hari sabtu soalnya ), jadi deh., gue berangkat memenuhi kesepakatan itu, sampai sana sekitar jam 11 malam, gue turun di restoran ibu di citeko, dah gitu gue jalan kaki ngelewatin kuburan sambil nyanyi lagu “ Ise do ale ale ta “ sesudah ngelewatin kuburan dilanjutkan dengan lagu “ Holan Jesus do hubaen donganku “ itu itu aja yang gue nyanyi’in sepanjang jalan, pas masuk pintu gerbang villa, gue langsung kabur dan masuk kevilla tulang dengan napas termehek mehek, he..he..he..! yang penting gue nyampe dan terpenuhi kesepakatan dengan ‘Bang Polli.
5.Tahun 1975, waktu itu gue kelas 3 SMA, ada temen gue namanya Iswansyah, anaknya cakep, pinter belajar, tapi gak pinter nabung, jago main gitar, rajin sholat dan jago bersilat lidah, suatu saat dia bilang begini ke gue “dom., ada film perang, judulnya “Green Barets” pemainnya Jonh Wayne, filmnya bagus dan sekarang lagi diputar dibioskop Roxi, sayang banget kalau kita gak nonton, coba elo pikir deh., dom, suatu saat kita banyak uang dan kita mau nonton film itu, tapi film tsb sudah tidak beredar lagi, mau kita cari kemana tuh film..?, kalau sekarang kita jual celana untuk nonton film itu, gak masalahkan, kalau elo punya duit, seratus celanapun bisa elo beli “ dalam hati gue ngomong , “bener juga ya.,” dan itulah hebatnya dia dan gobloknya gue, jadi tuh., kita nonton dengan jual celana jeans.
6. Tahun 1968 gue tamat dari SD Sumbangsih, sebagai bentuk hadiahnya, gue boleh pulang kekampung halamannya mami di Kerasaan Pematang Siantar, saat itu gue naik kapal Bengawan dan dititipin sama Uda Todung Marpaung (perwira kesehatan kapal).
Waktu sampai di Belawan Medan gue dijemput sama Tulang Agus, dan selama disana gue bisa kenal dengan opungnya mami yang boru Pulungan, kalau ngomong sama beliau harus pake penterjemah, karena beliau itu gak bisa bahasa Indonesia, sedangkan gue gak bisa bahasa batak, kalau pas ketemu beduan pake bahasa tarzan.
Selama liburan disana, gue sempat diajak tulang naik sepeda ke Laras, naik bis ke Kisaran, nongkrong di lapo minum tuak, mangaligi ligi boru di Kerasan dan diajak jalan ke Danau Toba, nah., inilah ceritanya.
Waktu di danau toba, kita sewa perahu dan marsolu solulah kita disana, pas ditengah danau tulang bilang begini “ dom., kamu bisa berenang tidak.? “ dengan gaya diplomatis dan barangkali juga karena gengsi anak Jakarta, gue jawabnya “ kalau di Jakarta sih, domu biasa berenang tulang “ belum juga selesai omong, perahu langsung dibalikkin sama tulang, yah.., gue termegap megaplah, mungkin saat itu udah seliter air yang gue minum.
Nah., inilah kejadian dengan paradigma yang berbeda, tulang beranggapan, kalau biasa berenang pasti bisa berenang, sedangkan gue jawab gitu karena malu, kalau bilang gak bisa berenang, cumannya gak nyangka aja, seketika itu juga perahu ditenggelamkan.
He..he..he..! domu ..domu.., makan tuh gengsi.
7. September 2009, gue ama purnomo naik sepeda motor dari Lamongan mau ke Laren, ditengah jalan tepatnya didaerah persawahan Pucuk, gue ngeliat ada pak petani sedang bersih2in rumput ditengah sawah, gue bilang ke pur untuk berhenti sebentar lalu kita panggillah petani tsb, gak nyangka petani tsb langsung datang dan supaya cepet memenuhi panggillan kita, dia nyebrangin kali kecil dengan berjalan, sedangkan dalamnya air mencapai pinggang dari petani tsb, gue ama pur langsung mengenalkan diri sebagai pedagang pestisida, dia mengenalkan diri sebagai petani dengan nama Tasrun dan tinggal di desa Bulu Tengger kec. Sekaran, kita bincang2nya dipinggir kali, dan dengan gaya seorang marketing handal, kita mengenalkan , bahwa produk kita kwalitasnya baik, harganya murah dan fungsinya sangat beragam, pokoknya kita bilang, bahwa produk kita harganya sangat terjangkau oleh petani, pak petani dengan khusuk mendengarkan dan sambil mengangguk2an kepala tanda mengerti, sekali sekali mengatakan “enggeh pak, enggeh pak” dan menawarkan diri, agar gue ama pur mau mampir kerumahnya nanti sore.
Pulang dari Laren, kita carilah rumahnya, kita nanya ke penduduk sana, “dimana rumah pak Tasrun..? ”, jawabnya “ bapak kenceng saja, disana ada rumah yang paling pojok dan menghadap barat “ pada saat kita kesana, yang ditemui 2 bangunan rumah yang sangat mewah dalam 1 halaman, dengan mobil CRV baru yang terparkir didalamnya, ah.., gak mungkinlah..! kita balik lagi dan nanya lagi ke penduduk lainnya, jawabannya sama “ bapak kenceng saja, nanti ada rumah yang paling pojok dan menghadap kearah barat, itulah rumah pak Haji Tasrun “ wah., udah mulai goyah nih., iman, waktu kita nyampe disana, pas pak Haji Tasrun keluar, langsung dengan sedikit membungkukkan diri dan ujung jempol dibawah, kita dipersilahkan masuk rumahnya, dasar orang jawa deh., walau dia tau kita terpesona liat keberadaannya, tetap aja dia duduk tanpa menyenderkan tubuhnya kekursi dan dengan posisi duduk kaki rapat dan kedua tangan diatas dengkulnya, bener2 dasar orang jawa kampung, gue ama pur bener2 dikerjain ama dia, sampai gue ama pur, tendang2an kaki, karena gak tau lagi mau ngomong apaan, udeh gitu die cerita, kalau die punya warung kaki 5 di bogor, namanya seafood 69, die juga cerita, sebagai salah satu perintis orang Lamongan yang berdagang kaki 5 di wilayah Jabodetabek, akhirnya gue juga tau, kalau warung kaki 5 nya di bogor, adalah warung yang paling laku dan rame dan gue juga tau, tidak hanya warung kaki 5 yang dia punya, tapi die juga punya ruko didaerah elite bogor.
Pulang dari rumahnya gue ama pur jadi lebih banyak cengengesan, yah., lucu, yah., malu, yah., pokoknya gitu deh.
Banyak pelajaran yang gue dapet dari cerita konyol ini,
Semakin tinggi keberadaan kita, harusnya semakin rendahlah hati kita, bekerja untuk maju, adalah perjuangan, dan perjuangan adalah suatu proses, dimana istirahat untuk bekerja tidak ada dalam kamus perjuangannya.
8. Tahun 2005, Domu Pasaribu kena penyakit kanker sinusitis, dia tinggal di Sanggau Kalimantan Barat dan dateng ke Jakarta untuk berobat di RSCM sama adiknya Parlin, dan gue sendiri dapet tugas dari bujing rawamangun untuk selalu mengantar dan mendampingi mereka selama berobat, tugas tetap tugas, harus tetap dilaksanakan , walau perut sakit sekalipun.
Sampai di RSCM, perut gue mules, mau masuk ke toilet semuanya penuh, dan masih banyak juga yang ngantri mau masuk, muter muter kelilingin bangsal tetap aja gak dapet, mau cari tempat sepi dan rada mojok, juga gak dapet, sedangkan posisi sudah berada diujung tanduk, keringet dingin sudah keluar, mau nahan sudah gak mampu lagi, lalu ambil posisilah yang rada sepi sidikit dan sambil pegangan ditiang, mbrodollah beliau itu., kalau ada orang lewat, gue belaga sibuk telpon2an, udah gitu gue beli minyak kayu putih, maksudnya sih., untuk menyamarkan antara bau tokay dengan harumnya kayu putih, pada saat dari jauh gue liat ada toilet yg kosong, gue buru2 datengin dan masuk, didalam toilet itulah gue bukannya trow big water, tapi ngebersihin big water yang pada nempel di celana jeans, sebersih bersihnya yang nyuci pake tangan, yah., tetap ajalah ada yang nyangkut, dan baunya gak secepat itukan hilangnya, kembali untuk menyamarkan baunya, gue siramin lagi pake minyak kayu putih, sedikit acuh dan sedikit masa bodoh, keluarlah gue dari toilet dan mencari Domu Pasaribu di bagian THT, setiap berpaspasan, pasti orang pada ngeliatin gue, dan gue kembali acuh dan masa bodoh lagi, yang serunya pada saat kita mau pulang kerumah bujing di rawamangun, yang biasanya kita naik bis, saat itu gue ngotot naik taxi, gue duduk depan, supir taxi mengendus bau yang tak sedap, domu dan parlin, juga mengendus bau yang tak sedap, kembali gue acuh dan belagak bodoh, sepanjang jalan semua pada diam seribu bahasa, sambil mengendus endus aroma aneh, selama mereka diam, yah., gue juga diam aja, sampe dirumah bujing, gue masuk kamar mandi, gue mandi yang bersih, sambil nyuci celana yang benar, keluar dari kamar mandi, sudah ada senyum dibibir gue dan merasa surga sudah ada ditangan gue.
LEGAAAH nya itu lho..!
9. Tahun1984 , berdirinya PDI.P ( Perjuangan Domu Ingin. Pacaran )
Awalnya, kita para naposobulung GKPA Diponegoro lagi kumpul kumpul di sekolah music Marcia di Tebet, saat duma mau pulang dan ngajakin abangnya Iya, untuk nganterin ke Kalibata kerumah ‘Bang Ananda, eh.., Iya nya malah ngomong “wah., itu bukan urusan gue, tapi urusannya domu“, seperti pucuk dicinta domu tiba, gak pake dua kali komando, gue langsung iya’in katanya Iya, kesempatan katanya gak datang 2 kali, ditengah jalan saat nganter, gue langsung bilang “kita nonton dulu yuuk dum..?“ rupanya duma juga berprinsip, kesempatan datangnya gak 2 kali, duma langsung setuju, tapi ijin dulu sama abangnya itu, ijin keluar, kita nonton deh., dibioskop Monas, itulah AWAL…! Dan sesudahnya banyak aral yang melintang sejak ketua dewan Syuro menentang hubungan gue ini, awalnya di Kalibata, sesudahnya di Menteng Lama, awalnya ada pendukung, sesudahnya gak ada, awalnya gak ada saingan, sesudahnya banyak saingan, awalnya terang, sesudahnya gelap.
Tapi yang gue mau cerita, perjuangan selama pacaran di Kalibata.
Kebiasaan gue, kalau pacaran selalu pulang tengah malam, dan kalau mau pulang, biar cepet harus motong jalan, didepan rumah abangnya memang ada kebon kosong yang luas, tapi katanya disitu suka ada kuntilanak yang nongkrong dibawah pohon, kalau gue lewat jalan yg gak motong, diujung rumahnya ada anjing galak yang suka ngejar2 orang yang lewat, sekarang tinggal 2 pilihan, lewat kebon kosong, tapi katanya ada kuntilanak, atau lewat jalan yang gak motong, tapi di kejar2 anjing, pikir punya pikir, akhirnya gue ambil keputusan, lewat kebon kosong, dengan alasan gue punya penangkalnya, makanya setiap lewat jalan itu, gue selalu nyanyi “Holan Jesus do hubaen donganku” , sedangkan kalau urusan dengan dikejar kejar anjing, saat itu gue belum tau lagu penangkalnya. gila kali elo itu ya..dom…!
Nanti kalau sudah sampai jalan raya Pasarminggu, baru naik angkutan lagi kearah Pancoran, disinipun sering perlu perjuangan lagi, karena bisa dalam 1 angkutan, hanya gue yang laki2, yang lainnya BENCHONG SLEBOR semua. Kalau menghadapi seperti ini, hanya 1 syaratnya, YAKIN dan JANGAN TAKUT.
10. Tahun 1994, mungkin inilah krisis awal dari likwiditas perbankan di Indonesia, jadi banyak Bank yang menawarkan komisi kalau kita menaruh uang di bank tsb, bunga dikasih lebih tinggi dan yang naruh juga dapet komisi, salah 1 nya Bank Modern di sekitar blok M yang menawarkan iming2 tsb ke gue, branch managernya gue lupa namanya, yang gue inget die orang cina menado. Saat itu memang gue lagi dipercaya pegang uang perusahaan dan kebetulan juga perusahaan gue lagi punya uang nganggur, jadilah pada saat itu uang sebesar 400 juta gue masukkan ke bank modern sebagai sertifikat deposito. Gue pikir2., lumayan jugalah, gue dapet bunga didepan dan dapet komisi pula, tunggu punya tunggu, rupanya gue seperti pungguk merindukan bulan, komisi yang gue harapkan gak nongol2, mau nagih terus, koq..kayanya gue yang jadi konyol, Akhirnya gue putuskan untuk memuat cerita itu disurat kabar.
Gue ketik dengan rapi, benar dan dengan bahasa yang sederhana, masalah tsb gue kirim ke redaksi harian Media Indonesia ( saat itu punya julukkan sang innovator ), pas besoknya gue liat di surat pembaca, isinya jauh berbeda dengan apa yang gue tulis, ya.. ampun ada permainan apa pula ini, karena isinya salah, tentunya bank modern dengan mudah menyangkalnya, malah gue yang jadi terpojokkan, sampai sampai abang gue Pollie nanya “ ada masalah apa gue dengan bank modern ..? “ tuh kan malah jadi gue yang kena.!
Yang gue bayangin itu gini, apa masih seperti itu kelakuan wartawan saat ini, atau apa semakin parah..?
H A B I T A T
HABITAT
Opung boru saya boru regar dari bagaslombang, mama saya boru regar dari bagaslombang, istri sayapun boru regar dari bagaslombang, bagaslombang itu sendiri suatu desa kecil yang terletak di Sipirok Tapanuli Selatan, inilah perkenalan awal dari Pendeta P H Harahap STh ( Sekjen GKPA ) dalam khotbahnya pada tgl 3 Oktober ’10 di GKPA Diponegoro.
Tadinya gue pikir pendeta ini mau curhat di mimbar, karena asumsi kita bisa jadi berbeda beda mendengar perkenalan ini, “ jadi beginilah aku..! ” karena 3 generasi mendapat boru regar bagaslombang ( dgn muka sedih ) atau “ Jadi beginilah aku..! “ karena 3 generasi mendapat boru regar bagaslombang ( dengan muka bangga ).
Tapi rupanya asumsi gue itu tidak nyambung sama sekali, dan rupanya juga firman Tuhan yang diambil adalah Effesus 5 : 9-10, dimana konteksnya terfokus pada hubungan kasih antar suami istri , dimana dikatakan, bahwa suami adalah kepala bagi istri, istri harus tunduk kepada suami, dan suami harus mengasihi istri, seperti mengasihi dirinya sendiri, suami harus mengasihi istri, istri cukup menghormati suami, sebab itulah laki laki akan meninggalkan kedua orangtuanya dan bersatu dengan istrinya, tidak dikatakan wanita akan meninggalkan kedua orangtuanya dan bersatu dengan suaminya, intinya kira kira begitu, tambahannya, laki laki terbuat dari debu, wanita dari tulang rusuk, wanita diciptakan Tuhan sebagai penolong, laki laki yang ditolong,
pertanyaannya..? debu dengan tulang kuatan mana..? yang ditolong dengan yang menolong kuatan yang mana..?
Penelahan firman Tuhan yang dari Effesus rupanya cukup sampai segitu aja, dilanjutkan reteferensinya dari Amsal 31: 1 – 31, nah., disini Amang Pendeta rupanya tau persis, kalau GKPA diponegoro bukan hanya dikenal sebagai Resort II, tapi juga sebagai Resort Ina, maka dibahas habislah peranan wanita dalam kehidupan didunia dan di gereja, peranan istri dalam rumah tangga, peranan ibu dalam hubungan dengan anak anak,
Mendengar semua itu, para jemaat wanita pada tersenyum bangga, hati berbunga, mata berbinar binar, kalau ada yang pake topi, mungkin langsung kesempitan, dan mungkin juga ada yang merasa sedih dan terpukul, seolah olah diingatkan kembali, apakah selama ini saya telah menjadi wanita seperti yang ditulis oleh alkitab..?
Mendengar semua itu, para jemaat laki laki ada yang trenyuh, ada yang sinis dan ada pula yang ikutan bangga, banyak pula celetukan celetukan yang simpang siur disekitar kuping, ada yang bilang “ ah.. itukan tipe wanita jaman dulu, sudah out of date “ ada juga yang bilang “ah..masa sih..? “ dengan nada sinis tentunya,
Tapi apa hendak dikata, alkitab sudah menulisnya seperti itu, mau gak mau, bisa gak bisa, yah.. kita harus menerimanya dan menjalankannya, setidaknya para suami harus bisa mengatakan kepada istrinya “ Banyak wanita yg telah berbuat baik, tetapi engkau melebihi mereka semua “ dan harus pula bisa menerima kata kata “ kamu bapak bapak, janganlah bangkitkan amarah didalam hati anak anakmu, tetapi didiklah mereka………, ( Eff 6 : 4 )
Yah., beginilah nasib laki laki, katanya hanya bekerja 8 jam sehari, sedangkan istri, katanya 24 jam, laki laki harus mengasihi istri, istri cukup menghormati suami, urusan dengan anak anak, malah bapak bapak yang diingatkan, padahal urusan dengan ketaatan anak anak, harusnya kepada bapak dan ibu juga.
Tapi apapun itu Amang Pendeta..! kami semua pulang dengan hati yang gembira, ada sukacita di hari minggu ini, mungkin para wanita memang sedang berbahagia dan bangga dengan kodratnya, atau bisa juga, mereka sadar telah dingatkan agar kembali kembali ke kodratnya.
Dengan mengingatkan, bahwa peran wanita, peran istri dan peran ibu sangat penting dalam siklus kehidupan didunia ini, tentunya kita semua berharap tidakada lagi ungkapan ungkapan sinis yang mengatakan “ Suami adalah kepala, sedangkan istri adalah leher, yang mengatur kemana kepala berputar “.
Amin..!
Bogor, 05 Okt’r 2010
Opung boru saya boru regar dari bagaslombang, mama saya boru regar dari bagaslombang, istri sayapun boru regar dari bagaslombang, bagaslombang itu sendiri suatu desa kecil yang terletak di Sipirok Tapanuli Selatan, inilah perkenalan awal dari Pendeta P H Harahap STh ( Sekjen GKPA ) dalam khotbahnya pada tgl 3 Oktober ’10 di GKPA Diponegoro.
Tadinya gue pikir pendeta ini mau curhat di mimbar, karena asumsi kita bisa jadi berbeda beda mendengar perkenalan ini, “ jadi beginilah aku..! ” karena 3 generasi mendapat boru regar bagaslombang ( dgn muka sedih ) atau “ Jadi beginilah aku..! “ karena 3 generasi mendapat boru regar bagaslombang ( dengan muka bangga ).
Tapi rupanya asumsi gue itu tidak nyambung sama sekali, dan rupanya juga firman Tuhan yang diambil adalah Effesus 5 : 9-10, dimana konteksnya terfokus pada hubungan kasih antar suami istri , dimana dikatakan, bahwa suami adalah kepala bagi istri, istri harus tunduk kepada suami, dan suami harus mengasihi istri, seperti mengasihi dirinya sendiri, suami harus mengasihi istri, istri cukup menghormati suami, sebab itulah laki laki akan meninggalkan kedua orangtuanya dan bersatu dengan istrinya, tidak dikatakan wanita akan meninggalkan kedua orangtuanya dan bersatu dengan suaminya, intinya kira kira begitu, tambahannya, laki laki terbuat dari debu, wanita dari tulang rusuk, wanita diciptakan Tuhan sebagai penolong, laki laki yang ditolong,
pertanyaannya..? debu dengan tulang kuatan mana..? yang ditolong dengan yang menolong kuatan yang mana..?
Penelahan firman Tuhan yang dari Effesus rupanya cukup sampai segitu aja, dilanjutkan reteferensinya dari Amsal 31: 1 – 31, nah., disini Amang Pendeta rupanya tau persis, kalau GKPA diponegoro bukan hanya dikenal sebagai Resort II, tapi juga sebagai Resort Ina, maka dibahas habislah peranan wanita dalam kehidupan didunia dan di gereja, peranan istri dalam rumah tangga, peranan ibu dalam hubungan dengan anak anak,
Mendengar semua itu, para jemaat wanita pada tersenyum bangga, hati berbunga, mata berbinar binar, kalau ada yang pake topi, mungkin langsung kesempitan, dan mungkin juga ada yang merasa sedih dan terpukul, seolah olah diingatkan kembali, apakah selama ini saya telah menjadi wanita seperti yang ditulis oleh alkitab..?
Mendengar semua itu, para jemaat laki laki ada yang trenyuh, ada yang sinis dan ada pula yang ikutan bangga, banyak pula celetukan celetukan yang simpang siur disekitar kuping, ada yang bilang “ ah.. itukan tipe wanita jaman dulu, sudah out of date “ ada juga yang bilang “ah..masa sih..? “ dengan nada sinis tentunya,
Tapi apa hendak dikata, alkitab sudah menulisnya seperti itu, mau gak mau, bisa gak bisa, yah.. kita harus menerimanya dan menjalankannya, setidaknya para suami harus bisa mengatakan kepada istrinya “ Banyak wanita yg telah berbuat baik, tetapi engkau melebihi mereka semua “ dan harus pula bisa menerima kata kata “ kamu bapak bapak, janganlah bangkitkan amarah didalam hati anak anakmu, tetapi didiklah mereka………, ( Eff 6 : 4 )
Yah., beginilah nasib laki laki, katanya hanya bekerja 8 jam sehari, sedangkan istri, katanya 24 jam, laki laki harus mengasihi istri, istri cukup menghormati suami, urusan dengan anak anak, malah bapak bapak yang diingatkan, padahal urusan dengan ketaatan anak anak, harusnya kepada bapak dan ibu juga.
Tapi apapun itu Amang Pendeta..! kami semua pulang dengan hati yang gembira, ada sukacita di hari minggu ini, mungkin para wanita memang sedang berbahagia dan bangga dengan kodratnya, atau bisa juga, mereka sadar telah dingatkan agar kembali kembali ke kodratnya.
Dengan mengingatkan, bahwa peran wanita, peran istri dan peran ibu sangat penting dalam siklus kehidupan didunia ini, tentunya kita semua berharap tidakada lagi ungkapan ungkapan sinis yang mengatakan “ Suami adalah kepala, sedangkan istri adalah leher, yang mengatur kemana kepala berputar “.
Amin..!
Bogor, 05 Okt’r 2010
Ellie Wahyunie Harahap S.I Kom
Ellie Wahyunie Harahap S.I Kom
Suatu siang dibulan Juli 2010, Uda Hizkia Harahap dan Inanguda datang kerumah, mereka bilang “ Dom..! boru gue yang namanya Ellie akan menikah dengan marga Siagian pada tanggal 06 November 2010 di gedung Grand Mangaraja, acaranya memakai adat batak utara secara lengkap, dan gue minta elo bantuin Uda ya..?
Reaksi gue saat itu, hanya bisa bilang “ uda NEKAD “
Kenapa gue bisa bilang gitu..?
1. Uda itu, lahir dan besar di betawi, logat bicaranya lebih dominan betawi, dibandingkan dengan logat bataknya
2. Uda itu, gak ngerti bahasa, budaya dan adat istiadat batak, inanguda pun bukan orang batak, yang lebih parah lagi, mereka gak pernah ngikutin acara acara adat batak
3. Uda itu, Harahap yang langka dan sudah tinggal sendiri, gak ada lagi penerus marga Harahap dikeluarga besarnya, abang abangnya sudah meninggal, anak abangnyapun sudah pada meninggal, ada cucu abangnya, tapi belum menikah.
4. Gue sendiri, belum pernah ikutan membuat dan mengikuti adat utara secara awal, apalagi keturunan dari opung gue yang 3 kakak beradik, hanya ada 7 harahapnya, itupun yang 1 gak mau terlibat adat, yang satunya malah belum kawin dan sisanya sudah pada game over. bener bener repotkan..?
Dengan 4 kriteria seperti itu, pantes dong., kalau gue bilang “Uda NEKAD “
Tapi harahap tetap harahaplah, yang penting jalanin dulu, yang penting nekad dulu, urusan belakangan..? yah., belakanganlah.
Karena uda bilang “ the show must go on ”, yah udah., gue ikutan aja.
Tanggal 04 September 2010, Di rumah Hizkia Harahap di Sarua Permai.
Dilaksanakan acara MARHORI HORI DINDING, inilah acara lobby atau bisik bisik keluarga terdekat antara Harahap dengan Siagian, yang dibicarakan biasanya mengenai konsep acara dipesta, siapa yang membuat pesta, berapa masing masing undangan di pesta dan berapa jumlah mas kawin ( sinamot ) yang akan diserahkan fihak paranak ke parboru.
Yang hadir saat itu hanya keluarga uda Hizkia, keluarga gue, keluarga Damanik dan Limbong, dari fihak Siagian, yang biasanya diwakilkan oleh borunya, yang datang malah orangtuanya langsung, tapi jadi bagus juga, karena setiap yang dibicarakan dan dikonsep, langsung menjadi keputusan.
Yang menjadi catatan gue pada saat itu adalah, Uda dan inanguda memakai baju yang biasa biasa aja dan memakai sandal jepit, Tn & Ny Damanik dan Tn.Limbong sama juga, sedangkan gue masih pake batik dan sepatu, duma masih pake baju panjang dan sepatu, sedangkan mereka yang datang keren keren semua, minimal pada pake batik lengan pendek dan sepatu, mungkin gue ama duma merasa acara ini cukup penting, atau mungkin juga gue ama duma yang terlalu banyak gaya.
Tanggal 11 September 2010, Di rumah Hizkia Harahap di Sarua Permai.
Dilaksanakan acara MARHUSIP, atau umumnya dibilang acara lamaran fihak laki laki ( paranak ) kepada fihak keluarga perempuan ( parboru ).
Yang hadir pada saat ini sudah semakin luas, ada harahapnya, ada boru harahapnya dan ada bere harahapnya, ada Limbong yang telah dinobatkan sebagai raja parhata di pesta ulaonnya nanti, Tuan & Nyonya Damanik yang diangkat sebagai General Manager pesta, dan beberapa anggota punguan Naimarata di wilayah Sarua dan Pamulang.
Dari fihak Siagian cukup banyak juga rombongannya yang hadir, pastinya Siagian, boru, bere dan parhatanya mereka.
Mereka datang dengan membawa dan menyerahkan tudu tudu si panganon (anak babi yang masih utuh yang sudah dimasak), 1 krat bir bintang dan makanan lainnya, sebagai gantinya, harahap menyerahkan dekke ( ikan ).
Sesudah acara proses serah serahan anak babi dan ikan secara adat batak, maka dilanjutkan dengan acara makan siang bersama.
Ada suatu ungkapan untuk orang batak didalam acara adat batak, “ lebih baik tidak dapat hak makan, daripada tidak dapat hak bicara ”, tapi anehnya., setiap acara apapun, harus dimulai dulu dengan makan, baru bisa dimulai acara perbincangan.
Sesudah kita selesai makan, barulah dimulai dengan acara bincang bincangnya, yang dibicarakan sih., sama aja dengan apa yang dibacarakan saat hori hori dinding, cuman disini lebih resmi, lebih detail dan lebih kepada aplikasinya, tapi tetap aja seperti sinetron yang tayang ulang.
Yang menjadi catatan gue pada saat acara marhusip ini adalah ;
Kita yang hadir pada saat itu, pakaiannya lebih sedikit formil, walau masih aja ada yang pake sandal dan masih juga ada yang pake kaos dan celana panjang, padahal udah ibu ibu lho..! walau udara panas dan pengap, masih aja ada yang pada ngerokok didalam ruangan, belum lagi yang pada minum bir, wow.., batak banget ya..?
Saat itu Limbong yang sudah ditunjuk sebagai parhata, nyuruh gue untuk membuat seluruh konsep buku panduan yang akan kita lakukan pada saat pesta adat, termasuk menentukan nama nama yang akan berperan dalam acara, konsep ini harus sudah selesai pada saat kita mengadakan mariaraja dan sudah di fotocopy ( oke siap overste..! )
Sesudah rombongan Siagian pulang, mulailah simpang siur pembicaraan yang aneh aneh, ada yang bilang uda dan inanguda belum diadatin, jadi gak boleh mengadakan pesta adat, ada yang bilang gue lebih solkot ( dekat ) jadi gue yang lebih berhak, ada yang bilang, gue lebih tau tentang adat batak, jadi kenapa gak nanya dulu ke gue, tapi memang biasanya begitu sih., tidak ada pesta adat batak yang tidak dimulai dengan perseteruan dibelakang layar, daripada hanya jadi gossip, tapi tanpa ada penjelasan, makanya gue minta ama uda, sebelum kita semua pulang, gue mau ngomong dulu sama keluarga terdekatnya, karena trouble makernya, ya., mereka mereka juga.
Gue bilang “ pernikahan uda dan inanguda sudah diadatin secara adat Angkola, saat itu dilakukan dengan cara pangkupangi ( potong kambing ), sekecil apapun adat, tetap namanya adat, baik adat toba, adat karo, adat simelungun maupun adat angkola, tetap namanya adat batak, karena didalam adatnya masing masing unsur dalihan na tolu masih dijalankan, jadi karena unsur dalihan na tolu inilah yang membuat kita semua masih dibilang menjalankan adat batak, walaupun dengan cara berbeda beda “.
Gak ada yang comment tuh..!
Kalau, kenapa gue ngikut semua acara ini dari awal, yah., karena yang punya acara yang minta gue ngikut dari awal.
Tanggal 22 Oktober 2010, di Gereja HKBP Cempaka Putih.
Dilaksanakan acara MARTUPOL, inilah acara ikat janji calon pengantin berdua, semua ikat janji tsb dicatat didalam agenda gereja, siapa nama lengkap mereka masing masing, siapa nama orangtuanya masing masing, siapa yang menjadi saksi masing masing, udah gitu baru diadakan check & recheck, pernah dibaptis gak, kapan dan dimana, pernah disidi gak, kapan dan dimana, yang sedikit keras, waktu ditanya “ masih punya ikatan janji tidak dengan laki laki atau perempuan lain.? “
Yang menjadi catatan gue pada saat martupol ini adalah,
Yang memimpin acara kebaktian pada saat partupolan adalah Pendeta L Limbong, beliau antara lain mengatakan, “ bahwa Ellie dengan Leo ini cocok banget, mari kita lihat kecocokkan dan kesamaan mereka, kalau mendengar nama ELLIE, pasti akan mengingatkan kita dengan ucapan Jesus saat dikayu salib, “ellie ellie lamak sabak tanie” ( Bapak, Bapak kenapa kau meninggalkan saya ), sedangkan kalau kita menyebut nama LEO, pasti kita akan tau, bahwa kata Leo itu akronim dari singa ”, nah., disini yang bikin gue jadi bingung, apa kecocokkan dan persamaannya bapak dengan singa, apa maksudnya, kalau Ellie dan Leo bergabung mereka menjadi bapaknya singa, singa sendiri aja sudah yang paling ditakutin, gimana kalau bapaknya singa ya..?
Selesai acara kebaktian, majelis gereja meminta dari perwakilan orangtua kedua calon pengantin, untuk memberi kata sambutan di mimbar gereja,
Nah., inilah acara yang selalu membuat gue keringet dingin, gue udah bilang agar ‘Bang Pollie aja, tapi dia nya gak mau, karena harus ada kata kata mengajak harahap, boru dan bere untuk mariaraja besok ditempat uda Kia, jadilah dengan terpaksa, dengan keringet dingin dan dengan dada deg degkan, gue maju keatas mimbar, inilah pertama kali dan kayanya masih ada yang kedua kali pada saat nanti dipemberkatan nikahnya, yang ketiga kalinya ..? what ever will be, will be lah.
Mama bilang “ papa seperti penyanyi deh., pada saat memberi kata sambutan, mike dipegang terus, tapi lumayan juga koq, wajah papa gak pucat pucat banget “. Ngeledek atau menghina tuh ma..?
Saat akhir akhir acara dan selesai acara, hujan turun deres deres banget, mau pulang gak bisa, mau dibisain takut banjir dan macet dijalan, akhirnya kita kongkow2 aja dulu di gereja, sambil liat Siagian yang lagi martonggoraja, he..he..he.., mereka dengan lahapnya makan makan, sedangkan kita kita laper dan kedinginan.
Tanggal 23 Oktober 2010, Di rumah Hizkia Harahap di Sarua Permai.
Hari sabtu ini jam 10.00 kita akan mengadakan acara MARIARAJA, itu yang gue bilang saat mengundang semua harahap,boru,bere dan punguan naimarata, tapi ada yang bilang, diundangan mariaraja tertulis jam 15.00, tapi sesudahnya jam 15 pun tidak ada bertambah pesertanya,
Akhirnya acara kita mulai jam 13.00, dimulai dengan mengeluarkan tudu2 sipanganon, karena boru harahap yang ada hanya kak esther, maka dialah yang kebagian muter muterin anak babi sampai 3 kali, itu tandanya anak babi sudah melihat kita semua yang hadir dan dia siap menjadi saksi dalam perhelatan ini,
Kalau martonggoraja yang ngadain fihak paranak, kalau itu pesta ditempat paranak, tapi kalau mariaraja, yang ngadain acaranya fihak parboru, inilah forum bagi bagi tugas dan penanggung jawab pada saat pesta adat dan yang paling utama adalah, menyerahkan secara simbolis semua acara paradaton dari Harahap ( hasuhuton ) kepada K M Limbong ( sbg Raja Parhata Harahap ).
Disana ditentukan siapa siapa yang mendampingin pengantin duduk diatas pelaminan, siapa yang dapet panandaion, siapa yang mangulosi, siapa yang mendapat tugas ini dan siapa yang mendapat tugas itu, siapa yang nanti pada saat masuk gedung membawa tandok yang paling gede ( biasanya ini pada main tunjuk2an, krn hubungannya dengan sanggul yang takut pada kempes ), siapa yang nanti membawa deke suhut (nah., ini harus yang menarik dan menawan hati, karena mereka adalah rombongan yang paling depan), diacara inilah semua pekerjaan, penanggung jawab dan personel yang berperan sudah harus final pada saat hari H.
Yang menjadi catatan gue saat mariaraja ini adalah,
Makanannya banyak, tapi yang hadir sedikit dan yang paling sedikit hadir adalah undangan dari parsahutaon dan naimarata, tapi jangan lupa., walaupun sedikit, mereka sangat berperan didalam acara ini, jadi pantes pantes saja, kalau mereka bawa pulang makanan yang paling banyak.
Dikatakan oleh mereka “ bahwa acara mariaraja ini bisa cepat dan praktis, karena konsep buku panduan yang gue bawa dan yang gue sudah fotocopy untuk disebarkan kepada semua yang hadir, sudah sangat lengkap dan pas untuk dapat dilaksanakan, tinggal diperbanyak saja “ mauliate katanya, duma pun dengan bangganya langsung berdiri dan mengatakan “ itu mantan pacarku lho..! “
Para trouble maker pun saat itu sudah tidak ada komentar dan kasak kusuk lagi, karena mereka tau dan maklum siapa tulang dan nantulangnya, dan gue juga tau dan maklum siapa uda dan inanguda gue itu.
Tanggal 06 November 2010, inilah hari H dan puncak acaranya.
Malemnya, gue sekeluarga udah tidur bareng dengan rombongan keluarga Uda di mess perwira Angkatan Darat di jln Granat sumur batu Jakarta,
Jam setengah 5 paginya, gue udah nganterin duma untuk nyalon di tempatnya kak Ambar di Klender, memang gaya banget deh bojoku ini, jangankan ibu pengantin, bisa bisa sang pengantinpun kalah gaya dengan dumaku ini.
Jam 08.00 dari mess perwira, kita menuju jalan Bren no.6, ini rumah besannya Uda, rencananya disinilah kita akan menerima rombongan kecil Siagian yang akan menjemput pengantin wanita, karena sifatnya hanya menjemput, jadi kita hanya menyambut dan menerima mereka saja, karena bukan batak namanya, kalau setiap langkah tidak ada kata katanya, jadi saat mereka datang dengan berkata kata, gue pun menyambut mereka dengan berkata kata, ini lebih baik, daripada gue disuruh berdoa untuk keberangkatannya, nah., tugas berdoa inilah yang yang diemban oleh duma saat kita mau berangkat.
Waktu kita jalan dari rumah penjemputan menuju gereja, rombongan mobil kita masuk kampung keluar kampung, masuk gang kecil keluar gang sempit, seolah olah farewell party nya Ellie kepada masyarakat sekitarnya, atau Ellie mau ngasih tau, kalau Leo Frans Siagian sudah ada yang punya, jadi jangan ada yang pada ngarepin lagi.
Pada saat sampai di aula gereja, kita langsung melaksanakan acara MARSIBUHA BUHAI, acaranya dibuat di pelataran aula gereja, karena didalam aula sudah dipersiapkan untuk acara pesta yang lain.
Kembali lagi tudu tudu sipanganon dibawa oleh rombongan keluarga Siagian, dan Harahap pun kembali menyerahkan dekke , yang gue bingung, kenapa sih yang menerima bawaan mereka itu harus si warna UNGU, padahal penampilan kita pertama, menentukan penampilan kita selanjutnya lho..!
Karena fungsi protokol acara tidak berjalan, jadilah pada saat rombongan Siagian masuk lewat kanan gedung, yang disalamin mereka cuman gue aja yang kebetulan ada disitu, sedangkan rombongan Uda ada disebelah kiri gedung, jangan jangan mereka lewat kanan gedung, karena gak mau salaman ama si UNGU ya..?
Selesai urusan dengan acara marsibuha buhai, masuklah rombongan kecil dari kedua belah fihak keruangan konsisteri gereja untuk melaksanakan catatan sipil, disini kedua pengantin dikuliahin mengenai undang undang perkawinan oleh petugas catatan sipil, sesudahnya mereka bertanda tangan diakte perkawinan, dilanjutkan oleh tanda tangan kedua orangtua pengantin dan para saksi. Nah., ELLIE WAHYUNIE dan LEO FRANS sekarang anda berdua telah sah sebagai suami istri menurut undang undang Negara.
Urusan dengan Negara sudah selesai, sekarang kita berurusan dengan Tuhan, maka berangkatlah rombongan dari kedua pengantin untuk masuk kedalam gereja, disanalah mereka akan menerima pemberkatan perkawinannya.
Yang melaksanakan pemberkatan dan yang membawa firman Tuhan saat itu adalah Pendeta Simamora, yang intinya mengataka, “ APA YANG TELAH DISATUKAN OLEH TUHAN,TIDAK BOLEH DIPISAHKAN OLEH MANUSIA, KECUALI KARENA MAUT “, sedangkan kata sambutan yang mewakili keluarga fihak perempuan, kembali ke gue lagi, karena ini yang kali kedua, makanya tidak banyak lagi keringat dingin yang keluar, walaupun tetap aja gue harus ganti baju sesudahnya.
Sesudah semua acara di gereja selesai, kita langsung berangkat ke gedung GRAND MANGARAJA, dalam perjalanan sambil nyetir gue ganti baju, padahal di mobil ada ‘Bang Pollie, ada Mir dan ada istrinya Bachrum, ah..cuek ajalah, yang penting gue gak masuk angin, gara gara kaos dalam dan baju basah.
Nah., inilah puncak acara dari segala acaranya orang batak, kenapa gue bilang begitu..? karena persiapan dipesta inilah yang paling rumit dan paling lama, karena dipesta ini yang akan hadir lebih banyak dan lebih beragam, karena dipesta inilah orang batak mencari penghormatan, disinilah penentuannya, apakah mereka SANGAP, apakah mereka GABE dan apakah mereka MORA..? ataukah gedung akan kosong, karena mereka bukan siapa siapa.
Acara diawali dengan masuknya kedua pengantin dengan rombongannya masing2, dilanjutkan dengan penyambutan rombongan Harahap yang membawa beras dalam tandok dan dekke oleh rombongan Siagian, lalu penyambutan rombongan hula hula, tulang, bona tulang dan tulang rorobotnya Siagian oleh rombongan Siagian, yg terakhir rombongannya mora, dan tulangnya Harahap yang disambut oleh Harahap,
Pada saat menyambut dan disambut itu, ada aturannya, katanya posisi telapak tangan gak boleh sembarangan, ada yang porsi telapak tangannya menghadap keatas dan ada juga yang telapak tangannya menghadap kebawah, yang 1 memberi berkat, yang lainnya menerima berkat ( katanya..! ).
Sesudah selesai acara sambut menyambut, kita semua dan tamu yang hadir mulai duduk manis, gue cs, pollie cs, toga cs dan ny bachrum cs duduk diatas mendampingi uda cs, sedangkan uda cs mendampingi ellie cs di pelaminan.
Seperti biasanya para orang batak, doa makan belum dimulai, mereka sudah pada makan duluan, jadi saat doa dimulai, ada yang sudah mulai makan dan ada yang menunggu doa makan , yang kasihan yang ikut berdoa, pada saat bilang AMIN dan mata dibuka, eh., makanan dimeja sudah banyak yang hilang.
Saat tamu mulai makan, kita rombongan dari atas turun kebawah, untuk menyapa semua yang hadir, seolah olah kita lagi ngabsen, mana yang dateng dan mana yang gak dateng. Puji Tuhan..! sebagian besar yang gue undang pada dateng, ada punguan HARBONA sejabodetabek,ada Laut dgn cs csnya, malah yang gak gue bayangin, Amangtua Benny Harahap pun dateng, khusus khusus dia dateng dari Bandung untuk memenuhi undangan gue, waduh., tks banget banget Amangtua ya..?
Ada juga yang saat bersamaan yang belum ikut makan, tugas mereka sibuk motong motongin sapi, katanya sapi itu dibelah 2, dibagi yang haknya Harahap dan dibagi yang haknya Siagian, dan itu dibagi bagikan lagi sebagai jambar.
Kita yang duduk diatas memang rada repot juga, udah kaya jet coaster, sebentar turun untuk menghadap tulangnya Siagian, udah gitu naik lagi, bentar lagi turun lagi menghadap tulangnya Harahap, nanti kita berdiri lagi menerima panandaioan dari Siagian, dan gitu turun lagi memberikan ulos kepada Siagian, dan lagi lagi turun utk memberikan ulos kepada kedua pengantin, cape deh..!
Dan ada yang lebih cape dan membuat betis gemeteran, pada saat semua undangan Harahap memberikan ulos kepada kedua pengantin, kita semua turun dan berdiri dibelakang kedua pengantin, menyalami mereka semua dan mengucapkan terima kasih.
Inilah catatan gue untuk acara acara tgl 06 November 2010,
Hebat memang Siagian ini, setiap acara mulai dari martupol, pamasu masuon sampai pesta adatnya pun selalu penuh, waktu mereka martonggoraja pun, gue liat juga penuh, kita dihargai atau tidak, kita dihormati atau tidak, terlihat pada saat kita pesta atau pada saat ngolu ni ujung na.
Waktu martupol dan pamasu masuon yang hadir banyak, paduan suara yang menyumbangpun tidak hanya 1, majelis dan jemaat gereja yang hadir pun cukup banyak, itu tandanya Amang Siagian mempunyai kwalitas di gereja tsb, malah Uda Hizkia dan keluarga yang tinggal dan bergereja di daerah Sarua, tiba tiba saja bisa menjadi anggota gereja HKBP Cempaka Putih. Hebatkan…!
Saat acara adat di gedung, saat kita semua menghadap dan menyerahkan titi marangkup kepada fihak tulang paranak, kita rombongan Harahap, pada saat itu seperti anak ayam yang kehilangan induknya, overste Limbong dan JS Harahap pada duduk manis dikursinya, padahal harusnya mereka yang sebagai protokolnya, gue yang disuruh ngomong, gue yang ngerti apa apa dan gak tau apa yang mau diomongin, yah., bengong bengong aja, malah mereka gue salamin semuanya, padahal mereka udah bilang “ngomong dulu, baru bisa nyalam “ idiiih malu maluin deh.,
Akhir dari semua acara, Uda Hizkia dengan PD nya memberikan kata sambutan kepada semua yang hadir, tapi rupanya catatan yang diberikan ke Uda dan yang dihapalkan oleh Uda, bukan untuk Uda, mungkin catatan untuk Ellie, makanya pada saat Uda bicara kepada besannya, bukannya dipanggil dengan sebutan Lae dan Ito, tapi kepada Amangboru dan Namboru, ungkapan yang disampaikannya pun, seolah olah ungkapan dari boru kepada hula hulanya, waduh.., si Uda, PD boleh boleh aja, tapi jangan ke PD an gitu dong..!
Last but not least,
ELLIE WAHYUNIE HARAHAP dan LEO FRANS SIAGIAN,
kami mengucapkan selamat menempuh hidup baru dan selamat berbahagia, doa dan pengharapan kami, kiranya rumah tangga kalian, menjadi rumah tangga yang penuh dengan damai sejahtera Tuhan, rumah tangga yang takut akan Tuhan dan rumah tangga yang selalu menyinarkan sinar kasih Tuhan.
AMIN…!
Bogor, November 2010
Suatu siang dibulan Juli 2010, Uda Hizkia Harahap dan Inanguda datang kerumah, mereka bilang “ Dom..! boru gue yang namanya Ellie akan menikah dengan marga Siagian pada tanggal 06 November 2010 di gedung Grand Mangaraja, acaranya memakai adat batak utara secara lengkap, dan gue minta elo bantuin Uda ya..?
Reaksi gue saat itu, hanya bisa bilang “ uda NEKAD “
Kenapa gue bisa bilang gitu..?
1. Uda itu, lahir dan besar di betawi, logat bicaranya lebih dominan betawi, dibandingkan dengan logat bataknya
2. Uda itu, gak ngerti bahasa, budaya dan adat istiadat batak, inanguda pun bukan orang batak, yang lebih parah lagi, mereka gak pernah ngikutin acara acara adat batak
3. Uda itu, Harahap yang langka dan sudah tinggal sendiri, gak ada lagi penerus marga Harahap dikeluarga besarnya, abang abangnya sudah meninggal, anak abangnyapun sudah pada meninggal, ada cucu abangnya, tapi belum menikah.
4. Gue sendiri, belum pernah ikutan membuat dan mengikuti adat utara secara awal, apalagi keturunan dari opung gue yang 3 kakak beradik, hanya ada 7 harahapnya, itupun yang 1 gak mau terlibat adat, yang satunya malah belum kawin dan sisanya sudah pada game over. bener bener repotkan..?
Dengan 4 kriteria seperti itu, pantes dong., kalau gue bilang “Uda NEKAD “
Tapi harahap tetap harahaplah, yang penting jalanin dulu, yang penting nekad dulu, urusan belakangan..? yah., belakanganlah.
Karena uda bilang “ the show must go on ”, yah udah., gue ikutan aja.
Tanggal 04 September 2010, Di rumah Hizkia Harahap di Sarua Permai.
Dilaksanakan acara MARHORI HORI DINDING, inilah acara lobby atau bisik bisik keluarga terdekat antara Harahap dengan Siagian, yang dibicarakan biasanya mengenai konsep acara dipesta, siapa yang membuat pesta, berapa masing masing undangan di pesta dan berapa jumlah mas kawin ( sinamot ) yang akan diserahkan fihak paranak ke parboru.
Yang hadir saat itu hanya keluarga uda Hizkia, keluarga gue, keluarga Damanik dan Limbong, dari fihak Siagian, yang biasanya diwakilkan oleh borunya, yang datang malah orangtuanya langsung, tapi jadi bagus juga, karena setiap yang dibicarakan dan dikonsep, langsung menjadi keputusan.
Yang menjadi catatan gue pada saat itu adalah, Uda dan inanguda memakai baju yang biasa biasa aja dan memakai sandal jepit, Tn & Ny Damanik dan Tn.Limbong sama juga, sedangkan gue masih pake batik dan sepatu, duma masih pake baju panjang dan sepatu, sedangkan mereka yang datang keren keren semua, minimal pada pake batik lengan pendek dan sepatu, mungkin gue ama duma merasa acara ini cukup penting, atau mungkin juga gue ama duma yang terlalu banyak gaya.
Tanggal 11 September 2010, Di rumah Hizkia Harahap di Sarua Permai.
Dilaksanakan acara MARHUSIP, atau umumnya dibilang acara lamaran fihak laki laki ( paranak ) kepada fihak keluarga perempuan ( parboru ).
Yang hadir pada saat ini sudah semakin luas, ada harahapnya, ada boru harahapnya dan ada bere harahapnya, ada Limbong yang telah dinobatkan sebagai raja parhata di pesta ulaonnya nanti, Tuan & Nyonya Damanik yang diangkat sebagai General Manager pesta, dan beberapa anggota punguan Naimarata di wilayah Sarua dan Pamulang.
Dari fihak Siagian cukup banyak juga rombongannya yang hadir, pastinya Siagian, boru, bere dan parhatanya mereka.
Mereka datang dengan membawa dan menyerahkan tudu tudu si panganon (anak babi yang masih utuh yang sudah dimasak), 1 krat bir bintang dan makanan lainnya, sebagai gantinya, harahap menyerahkan dekke ( ikan ).
Sesudah acara proses serah serahan anak babi dan ikan secara adat batak, maka dilanjutkan dengan acara makan siang bersama.
Ada suatu ungkapan untuk orang batak didalam acara adat batak, “ lebih baik tidak dapat hak makan, daripada tidak dapat hak bicara ”, tapi anehnya., setiap acara apapun, harus dimulai dulu dengan makan, baru bisa dimulai acara perbincangan.
Sesudah kita selesai makan, barulah dimulai dengan acara bincang bincangnya, yang dibicarakan sih., sama aja dengan apa yang dibacarakan saat hori hori dinding, cuman disini lebih resmi, lebih detail dan lebih kepada aplikasinya, tapi tetap aja seperti sinetron yang tayang ulang.
Yang menjadi catatan gue pada saat acara marhusip ini adalah ;
Kita yang hadir pada saat itu, pakaiannya lebih sedikit formil, walau masih aja ada yang pake sandal dan masih juga ada yang pake kaos dan celana panjang, padahal udah ibu ibu lho..! walau udara panas dan pengap, masih aja ada yang pada ngerokok didalam ruangan, belum lagi yang pada minum bir, wow.., batak banget ya..?
Saat itu Limbong yang sudah ditunjuk sebagai parhata, nyuruh gue untuk membuat seluruh konsep buku panduan yang akan kita lakukan pada saat pesta adat, termasuk menentukan nama nama yang akan berperan dalam acara, konsep ini harus sudah selesai pada saat kita mengadakan mariaraja dan sudah di fotocopy ( oke siap overste..! )
Sesudah rombongan Siagian pulang, mulailah simpang siur pembicaraan yang aneh aneh, ada yang bilang uda dan inanguda belum diadatin, jadi gak boleh mengadakan pesta adat, ada yang bilang gue lebih solkot ( dekat ) jadi gue yang lebih berhak, ada yang bilang, gue lebih tau tentang adat batak, jadi kenapa gak nanya dulu ke gue, tapi memang biasanya begitu sih., tidak ada pesta adat batak yang tidak dimulai dengan perseteruan dibelakang layar, daripada hanya jadi gossip, tapi tanpa ada penjelasan, makanya gue minta ama uda, sebelum kita semua pulang, gue mau ngomong dulu sama keluarga terdekatnya, karena trouble makernya, ya., mereka mereka juga.
Gue bilang “ pernikahan uda dan inanguda sudah diadatin secara adat Angkola, saat itu dilakukan dengan cara pangkupangi ( potong kambing ), sekecil apapun adat, tetap namanya adat, baik adat toba, adat karo, adat simelungun maupun adat angkola, tetap namanya adat batak, karena didalam adatnya masing masing unsur dalihan na tolu masih dijalankan, jadi karena unsur dalihan na tolu inilah yang membuat kita semua masih dibilang menjalankan adat batak, walaupun dengan cara berbeda beda “.
Gak ada yang comment tuh..!
Kalau, kenapa gue ngikut semua acara ini dari awal, yah., karena yang punya acara yang minta gue ngikut dari awal.
Tanggal 22 Oktober 2010, di Gereja HKBP Cempaka Putih.
Dilaksanakan acara MARTUPOL, inilah acara ikat janji calon pengantin berdua, semua ikat janji tsb dicatat didalam agenda gereja, siapa nama lengkap mereka masing masing, siapa nama orangtuanya masing masing, siapa yang menjadi saksi masing masing, udah gitu baru diadakan check & recheck, pernah dibaptis gak, kapan dan dimana, pernah disidi gak, kapan dan dimana, yang sedikit keras, waktu ditanya “ masih punya ikatan janji tidak dengan laki laki atau perempuan lain.? “
Yang menjadi catatan gue pada saat martupol ini adalah,
Yang memimpin acara kebaktian pada saat partupolan adalah Pendeta L Limbong, beliau antara lain mengatakan, “ bahwa Ellie dengan Leo ini cocok banget, mari kita lihat kecocokkan dan kesamaan mereka, kalau mendengar nama ELLIE, pasti akan mengingatkan kita dengan ucapan Jesus saat dikayu salib, “ellie ellie lamak sabak tanie” ( Bapak, Bapak kenapa kau meninggalkan saya ), sedangkan kalau kita menyebut nama LEO, pasti kita akan tau, bahwa kata Leo itu akronim dari singa ”, nah., disini yang bikin gue jadi bingung, apa kecocokkan dan persamaannya bapak dengan singa, apa maksudnya, kalau Ellie dan Leo bergabung mereka menjadi bapaknya singa, singa sendiri aja sudah yang paling ditakutin, gimana kalau bapaknya singa ya..?
Selesai acara kebaktian, majelis gereja meminta dari perwakilan orangtua kedua calon pengantin, untuk memberi kata sambutan di mimbar gereja,
Nah., inilah acara yang selalu membuat gue keringet dingin, gue udah bilang agar ‘Bang Pollie aja, tapi dia nya gak mau, karena harus ada kata kata mengajak harahap, boru dan bere untuk mariaraja besok ditempat uda Kia, jadilah dengan terpaksa, dengan keringet dingin dan dengan dada deg degkan, gue maju keatas mimbar, inilah pertama kali dan kayanya masih ada yang kedua kali pada saat nanti dipemberkatan nikahnya, yang ketiga kalinya ..? what ever will be, will be lah.
Mama bilang “ papa seperti penyanyi deh., pada saat memberi kata sambutan, mike dipegang terus, tapi lumayan juga koq, wajah papa gak pucat pucat banget “. Ngeledek atau menghina tuh ma..?
Saat akhir akhir acara dan selesai acara, hujan turun deres deres banget, mau pulang gak bisa, mau dibisain takut banjir dan macet dijalan, akhirnya kita kongkow2 aja dulu di gereja, sambil liat Siagian yang lagi martonggoraja, he..he..he.., mereka dengan lahapnya makan makan, sedangkan kita kita laper dan kedinginan.
Tanggal 23 Oktober 2010, Di rumah Hizkia Harahap di Sarua Permai.
Hari sabtu ini jam 10.00 kita akan mengadakan acara MARIARAJA, itu yang gue bilang saat mengundang semua harahap,boru,bere dan punguan naimarata, tapi ada yang bilang, diundangan mariaraja tertulis jam 15.00, tapi sesudahnya jam 15 pun tidak ada bertambah pesertanya,
Akhirnya acara kita mulai jam 13.00, dimulai dengan mengeluarkan tudu2 sipanganon, karena boru harahap yang ada hanya kak esther, maka dialah yang kebagian muter muterin anak babi sampai 3 kali, itu tandanya anak babi sudah melihat kita semua yang hadir dan dia siap menjadi saksi dalam perhelatan ini,
Kalau martonggoraja yang ngadain fihak paranak, kalau itu pesta ditempat paranak, tapi kalau mariaraja, yang ngadain acaranya fihak parboru, inilah forum bagi bagi tugas dan penanggung jawab pada saat pesta adat dan yang paling utama adalah, menyerahkan secara simbolis semua acara paradaton dari Harahap ( hasuhuton ) kepada K M Limbong ( sbg Raja Parhata Harahap ).
Disana ditentukan siapa siapa yang mendampingin pengantin duduk diatas pelaminan, siapa yang dapet panandaion, siapa yang mangulosi, siapa yang mendapat tugas ini dan siapa yang mendapat tugas itu, siapa yang nanti pada saat masuk gedung membawa tandok yang paling gede ( biasanya ini pada main tunjuk2an, krn hubungannya dengan sanggul yang takut pada kempes ), siapa yang nanti membawa deke suhut (nah., ini harus yang menarik dan menawan hati, karena mereka adalah rombongan yang paling depan), diacara inilah semua pekerjaan, penanggung jawab dan personel yang berperan sudah harus final pada saat hari H.
Yang menjadi catatan gue saat mariaraja ini adalah,
Makanannya banyak, tapi yang hadir sedikit dan yang paling sedikit hadir adalah undangan dari parsahutaon dan naimarata, tapi jangan lupa., walaupun sedikit, mereka sangat berperan didalam acara ini, jadi pantes pantes saja, kalau mereka bawa pulang makanan yang paling banyak.
Dikatakan oleh mereka “ bahwa acara mariaraja ini bisa cepat dan praktis, karena konsep buku panduan yang gue bawa dan yang gue sudah fotocopy untuk disebarkan kepada semua yang hadir, sudah sangat lengkap dan pas untuk dapat dilaksanakan, tinggal diperbanyak saja “ mauliate katanya, duma pun dengan bangganya langsung berdiri dan mengatakan “ itu mantan pacarku lho..! “
Para trouble maker pun saat itu sudah tidak ada komentar dan kasak kusuk lagi, karena mereka tau dan maklum siapa tulang dan nantulangnya, dan gue juga tau dan maklum siapa uda dan inanguda gue itu.
Tanggal 06 November 2010, inilah hari H dan puncak acaranya.
Malemnya, gue sekeluarga udah tidur bareng dengan rombongan keluarga Uda di mess perwira Angkatan Darat di jln Granat sumur batu Jakarta,
Jam setengah 5 paginya, gue udah nganterin duma untuk nyalon di tempatnya kak Ambar di Klender, memang gaya banget deh bojoku ini, jangankan ibu pengantin, bisa bisa sang pengantinpun kalah gaya dengan dumaku ini.
Jam 08.00 dari mess perwira, kita menuju jalan Bren no.6, ini rumah besannya Uda, rencananya disinilah kita akan menerima rombongan kecil Siagian yang akan menjemput pengantin wanita, karena sifatnya hanya menjemput, jadi kita hanya menyambut dan menerima mereka saja, karena bukan batak namanya, kalau setiap langkah tidak ada kata katanya, jadi saat mereka datang dengan berkata kata, gue pun menyambut mereka dengan berkata kata, ini lebih baik, daripada gue disuruh berdoa untuk keberangkatannya, nah., tugas berdoa inilah yang yang diemban oleh duma saat kita mau berangkat.
Waktu kita jalan dari rumah penjemputan menuju gereja, rombongan mobil kita masuk kampung keluar kampung, masuk gang kecil keluar gang sempit, seolah olah farewell party nya Ellie kepada masyarakat sekitarnya, atau Ellie mau ngasih tau, kalau Leo Frans Siagian sudah ada yang punya, jadi jangan ada yang pada ngarepin lagi.
Pada saat sampai di aula gereja, kita langsung melaksanakan acara MARSIBUHA BUHAI, acaranya dibuat di pelataran aula gereja, karena didalam aula sudah dipersiapkan untuk acara pesta yang lain.
Kembali lagi tudu tudu sipanganon dibawa oleh rombongan keluarga Siagian, dan Harahap pun kembali menyerahkan dekke , yang gue bingung, kenapa sih yang menerima bawaan mereka itu harus si warna UNGU, padahal penampilan kita pertama, menentukan penampilan kita selanjutnya lho..!
Karena fungsi protokol acara tidak berjalan, jadilah pada saat rombongan Siagian masuk lewat kanan gedung, yang disalamin mereka cuman gue aja yang kebetulan ada disitu, sedangkan rombongan Uda ada disebelah kiri gedung, jangan jangan mereka lewat kanan gedung, karena gak mau salaman ama si UNGU ya..?
Selesai urusan dengan acara marsibuha buhai, masuklah rombongan kecil dari kedua belah fihak keruangan konsisteri gereja untuk melaksanakan catatan sipil, disini kedua pengantin dikuliahin mengenai undang undang perkawinan oleh petugas catatan sipil, sesudahnya mereka bertanda tangan diakte perkawinan, dilanjutkan oleh tanda tangan kedua orangtua pengantin dan para saksi. Nah., ELLIE WAHYUNIE dan LEO FRANS sekarang anda berdua telah sah sebagai suami istri menurut undang undang Negara.
Urusan dengan Negara sudah selesai, sekarang kita berurusan dengan Tuhan, maka berangkatlah rombongan dari kedua pengantin untuk masuk kedalam gereja, disanalah mereka akan menerima pemberkatan perkawinannya.
Yang melaksanakan pemberkatan dan yang membawa firman Tuhan saat itu adalah Pendeta Simamora, yang intinya mengataka, “ APA YANG TELAH DISATUKAN OLEH TUHAN,TIDAK BOLEH DIPISAHKAN OLEH MANUSIA, KECUALI KARENA MAUT “, sedangkan kata sambutan yang mewakili keluarga fihak perempuan, kembali ke gue lagi, karena ini yang kali kedua, makanya tidak banyak lagi keringat dingin yang keluar, walaupun tetap aja gue harus ganti baju sesudahnya.
Sesudah semua acara di gereja selesai, kita langsung berangkat ke gedung GRAND MANGARAJA, dalam perjalanan sambil nyetir gue ganti baju, padahal di mobil ada ‘Bang Pollie, ada Mir dan ada istrinya Bachrum, ah..cuek ajalah, yang penting gue gak masuk angin, gara gara kaos dalam dan baju basah.
Nah., inilah puncak acara dari segala acaranya orang batak, kenapa gue bilang begitu..? karena persiapan dipesta inilah yang paling rumit dan paling lama, karena dipesta ini yang akan hadir lebih banyak dan lebih beragam, karena dipesta inilah orang batak mencari penghormatan, disinilah penentuannya, apakah mereka SANGAP, apakah mereka GABE dan apakah mereka MORA..? ataukah gedung akan kosong, karena mereka bukan siapa siapa.
Acara diawali dengan masuknya kedua pengantin dengan rombongannya masing2, dilanjutkan dengan penyambutan rombongan Harahap yang membawa beras dalam tandok dan dekke oleh rombongan Siagian, lalu penyambutan rombongan hula hula, tulang, bona tulang dan tulang rorobotnya Siagian oleh rombongan Siagian, yg terakhir rombongannya mora, dan tulangnya Harahap yang disambut oleh Harahap,
Pada saat menyambut dan disambut itu, ada aturannya, katanya posisi telapak tangan gak boleh sembarangan, ada yang porsi telapak tangannya menghadap keatas dan ada juga yang telapak tangannya menghadap kebawah, yang 1 memberi berkat, yang lainnya menerima berkat ( katanya..! ).
Sesudah selesai acara sambut menyambut, kita semua dan tamu yang hadir mulai duduk manis, gue cs, pollie cs, toga cs dan ny bachrum cs duduk diatas mendampingi uda cs, sedangkan uda cs mendampingi ellie cs di pelaminan.
Seperti biasanya para orang batak, doa makan belum dimulai, mereka sudah pada makan duluan, jadi saat doa dimulai, ada yang sudah mulai makan dan ada yang menunggu doa makan , yang kasihan yang ikut berdoa, pada saat bilang AMIN dan mata dibuka, eh., makanan dimeja sudah banyak yang hilang.
Saat tamu mulai makan, kita rombongan dari atas turun kebawah, untuk menyapa semua yang hadir, seolah olah kita lagi ngabsen, mana yang dateng dan mana yang gak dateng. Puji Tuhan..! sebagian besar yang gue undang pada dateng, ada punguan HARBONA sejabodetabek,ada Laut dgn cs csnya, malah yang gak gue bayangin, Amangtua Benny Harahap pun dateng, khusus khusus dia dateng dari Bandung untuk memenuhi undangan gue, waduh., tks banget banget Amangtua ya..?
Ada juga yang saat bersamaan yang belum ikut makan, tugas mereka sibuk motong motongin sapi, katanya sapi itu dibelah 2, dibagi yang haknya Harahap dan dibagi yang haknya Siagian, dan itu dibagi bagikan lagi sebagai jambar.
Kita yang duduk diatas memang rada repot juga, udah kaya jet coaster, sebentar turun untuk menghadap tulangnya Siagian, udah gitu naik lagi, bentar lagi turun lagi menghadap tulangnya Harahap, nanti kita berdiri lagi menerima panandaioan dari Siagian, dan gitu turun lagi memberikan ulos kepada Siagian, dan lagi lagi turun utk memberikan ulos kepada kedua pengantin, cape deh..!
Dan ada yang lebih cape dan membuat betis gemeteran, pada saat semua undangan Harahap memberikan ulos kepada kedua pengantin, kita semua turun dan berdiri dibelakang kedua pengantin, menyalami mereka semua dan mengucapkan terima kasih.
Inilah catatan gue untuk acara acara tgl 06 November 2010,
Hebat memang Siagian ini, setiap acara mulai dari martupol, pamasu masuon sampai pesta adatnya pun selalu penuh, waktu mereka martonggoraja pun, gue liat juga penuh, kita dihargai atau tidak, kita dihormati atau tidak, terlihat pada saat kita pesta atau pada saat ngolu ni ujung na.
Waktu martupol dan pamasu masuon yang hadir banyak, paduan suara yang menyumbangpun tidak hanya 1, majelis dan jemaat gereja yang hadir pun cukup banyak, itu tandanya Amang Siagian mempunyai kwalitas di gereja tsb, malah Uda Hizkia dan keluarga yang tinggal dan bergereja di daerah Sarua, tiba tiba saja bisa menjadi anggota gereja HKBP Cempaka Putih. Hebatkan…!
Saat acara adat di gedung, saat kita semua menghadap dan menyerahkan titi marangkup kepada fihak tulang paranak, kita rombongan Harahap, pada saat itu seperti anak ayam yang kehilangan induknya, overste Limbong dan JS Harahap pada duduk manis dikursinya, padahal harusnya mereka yang sebagai protokolnya, gue yang disuruh ngomong, gue yang ngerti apa apa dan gak tau apa yang mau diomongin, yah., bengong bengong aja, malah mereka gue salamin semuanya, padahal mereka udah bilang “ngomong dulu, baru bisa nyalam “ idiiih malu maluin deh.,
Akhir dari semua acara, Uda Hizkia dengan PD nya memberikan kata sambutan kepada semua yang hadir, tapi rupanya catatan yang diberikan ke Uda dan yang dihapalkan oleh Uda, bukan untuk Uda, mungkin catatan untuk Ellie, makanya pada saat Uda bicara kepada besannya, bukannya dipanggil dengan sebutan Lae dan Ito, tapi kepada Amangboru dan Namboru, ungkapan yang disampaikannya pun, seolah olah ungkapan dari boru kepada hula hulanya, waduh.., si Uda, PD boleh boleh aja, tapi jangan ke PD an gitu dong..!
Last but not least,
ELLIE WAHYUNIE HARAHAP dan LEO FRANS SIAGIAN,
kami mengucapkan selamat menempuh hidup baru dan selamat berbahagia, doa dan pengharapan kami, kiranya rumah tangga kalian, menjadi rumah tangga yang penuh dengan damai sejahtera Tuhan, rumah tangga yang takut akan Tuhan dan rumah tangga yang selalu menyinarkan sinar kasih Tuhan.
AMIN…!
Bogor, November 2010
Yuanita Hasibuan
YUANITA HASIBUAN
======================.
Tanggal 7 November 2010, YUANITA ( Ita ) HASIBUAN, akan melangsungkan pernikahannya dengan BAYU SETIAWAN POLUAN SE , resepsi akan diadakan di Restauran Cazasuki di Jln.Kebon Sirih Raya no. 38 Jakarta Pusat.
Ita ini putri bungsu dari Alm.Drs.Saner Hasibuan dengan Esther Harahap, sedangkan Bayu adalah putra dari Johnny Poluan dengan Tiena Poluan.
Walau kami Harahap yang turun temurun sudah lahir di Jakarta, gak ngerti bahasa batak, gak ngerti budaya batak, tapi kami selalu berusaha agar budaya batak yang kami tau, tetap kami laksanakan, inilah budaya yang selalu diajarkan oleh orangtua kami.
Makanya, pada hari minggu kemarin tgl 31 Oktober ’01 malam, kita yang berkakak beradik ditambah dengan Keluarga Tulang Rempoa dan Nantulang Ais, berkumpul untuk melaksanakan “ MANGALEHEN MANGAN BORU “.
Budaya ini adalah ciri khas dari Tapanuli Selatan, dimana pada saat kita akan melepas boru ( anak perempuan ), semua keluarga terdekat, terutama orangtuanya akan memberikan makan dengan menyulangi kepada calon pengantin perempuan, sesudahnya, semua yang hadir diharapkan memberikan petatah petitih, nasehat, wejangan dan kalau perlu kritikkan, yang pedes boleh, yang setengah pedes juga boleh, ini sebagai bekal nantinya sesudah mereka berumah tangga,
Karena di budaya batak yang boleh bicara di forum hanya yang sudah menikah, maka biasanya petatah petitihnya mengenai permasalahan dalam rumah tangga, malah tanpa disadari sebenarnya dia lagi curhat mengenai pengalaman dalam rumah tangganya, kalau orang pinter, biasanya dia minum tolak angin atau dia akan berbicara dan mengupas yang alkitabiah saja, bisa aja dia mengambil dari Effesus 5 : 22-dst mengenai “KASIH KRISTUS ADALAH DASAR HIDUP DARI SUAMI ISTRI” atau dia mengambil dari Amsal 31 : 19-dst mengenai “PUJI PUJIAN UNTUK ISTRI YANG CAKAP”, itu kalau yang pinter, kalau yang gak pinter..? yah., gitu deh, tanpa disadarinya, sebenarnya dia lagi menceritakan rumah tangganya sendiri.
Kemarin itu gue jadi malu sendiri, karena gue dateng jam 8 lewat, sedangkan perjanjiannya paling lambat jam 7 sudah harus dimulai, bertambah besar kemaluan gue, karena acara belum bisa dimulai kalau gue belum dateng, dan bertambah besar lagi kemaluan gue, karena diacara itu gue ditunjuk sebagai protokol pembuka acara.
Sebelum kita menyampaikan petatah petitih, kita menyerahkan dulu makanan tumpeng cari khas batak, yang memberikan makan dengan disuapin adalah kak esther sebagai mamanya dan linda sebagai bujingnya, tapi sebelumnya kita berdoa dulu yang dipimpin oleh tulang rempoa,
Sebagai pembicara tamu adalah Adek, Stevie dan ardith, yang mengatakan ; “karena kami belum punya pengalaman menikah, maka kami hanya bisa mengucapkan selamat dan kiranya rumah tangga Ita dan Bayu selalu dalam damai sejahtera Tuhan”, lalu Stevie memberikan cendera mata dari kita semua.
Pembicara tamu kedua adalah Anggi, yang mengatakan ; “Kak Ita adalah tempat mengadu dan tempat curhat, yang selalu mengerti dan memberi pengertian, yang selalu dapat memberikan jalan terang dan solusi yang tepat, terima kasih untuk kebaikkan kak Ita selama ini kepada Anggi, semoga selalu berbahagia “
Pembicara selanjut adalah Linda sebagai bujingnya, yang intinya mengatakan ; “dengan pengalaman berpacaran dengan Bayu selama 5 tahun dan ribut ributnya lebih dari 10.000 kali, diharapkan ini menjadi bekal dan pengalaman untuk lebih bisa saling mengerti sesudah menikah, jangan hanya melihat hal yang kecil kecilnya saja, walaupun si Bayu kecil, tapi lihatlah., segala sesuatu dalam scope yang lebih besar “
Edwin Siregar dan Nantulang Ais kira kira mengatakan begini ; “ Ita dan Bayu kita yakin, adalah pasangan yang memang telah disatukan oleh Tuhan, karena mereka saling mengenal digereja, saling berhubungan digereja dan sama sama melayani di gereja, mamanya Ita adalah pelayan digereja dan calon mertua Ita pun melayani digereja dan semua itu ada dalam 1 gereja yang sama, yaitu Gereja Kabar Mempelai di Tanah Abang Jakarta Pusat “
Karena nantulang rempoa katanya lagi tidak mood, maka semuanya diwakilkan kepada opung doli saja, maksudnya kepada tulang rempoa,
Tulang banyak mengupas nilai nilai pernikahan dari segi alkitabiahnya, walau dikemas dengan gaya yang lembut dan halus ( ini memang ciri khasnya tulang ) sebenarnya sih., kalau mau dimaknai dan mau dimengerti, yah.,pedes pedes juga, yah., itulah gaya tulang, makanya semua bere berenya, ponakkan dan cucu cucunya pada sayang dengan beliau ini.
Kalau Miranda mengatakan, jangan lupa untuk banyak berdoa, karena saya inget sekali, kalau amangboru ( maksudnya papi ) selalu mendoakan satu persatu anak anaknya, agar berguna untuk sesama, terlebih kepada Tuhan. (parumaen hasian memang beda lho..!).
Sesudah mir, baru gue deh., inilah gue yang suka ngomong suka suka, asal jeplak, gak mau mengerti yang diomongin sakit hati apa enggak, tapi yang udah udah sih., kalau gue masih mau ngomong, tandanya gue masih sayang, yang repot kalau gue udah gak mau ngomong lagi, itu tandanya elo kekanan, gue kekiri, elo dibarat, gue ditimur, istilahnya sundanya sabodo teuing waelah..!
Saat itu gue bilang gini “ nantul Ais bilang, mamanya bayu orangnya baik dan rohani, tapi menurut gue, mamanya bayu orangnya sangat dominan, tapi bukan berarti orang yang dominan tidak rohani, untuk Ita sebagai seorang wanita, agar kembali ke habitatnya sebagai tulang rusuk, penopang dan penolong bagi suami, jangan sampai overlapping dalam bertindak didalam keluarga, kalau selama masih pacaran, Ita lebih banyak ngaturnya daripada diatur, nah., nanti kalau sudah bekeluarga, ubah semua tabiat itu, karena katanya dan yang tulang tau, kalau ita itu lebih cenderung seperti namborunya, yah., judesnya, yah., galaknya, apalagi wajah ita, seperti pinang dibelah dua dengan wajah namborunya, pesen tulang, jangan terlalu mudah mengemas keluarga itu seperti jambu cingcalok, bagus bentuknya , manis rupanya, tapi didalamnya banyak yang ada ulatnya , tapi nantinya tulang yakin dan percaya, suatu saat Bayu akan mengatakan ,” BANYAK WANITA YANG BERBUAT BAIK, TAPI ITA LEBIH DARI SEMUANYA ITU,” tuhkan., domu ini lagi memberikan wejangan ke ita atau lagi curhat sih..?
Sesudah gue, barulah ‘Bang Pollie yang berbicara, singkat,padat dan harap maklum, ‘Bang Pollie bilang gini “ Ita kan singer di gerejanya, nah., lakukanlah itu dalam kehidupan sehari hari ita “ nah., ita. nanti kalau dirumah, dijalan, dikantor maupun dikamar mandi, ita tetap harus jadi singer yah., bukan maksudnya sing a song melulu, tapi apa yang kamu nyanyikan, PERBUATLAH..!
Sesudah semua kita keluarga yang berbicara, barulah mereka yang kakak beradik yang berbicara.
Teteh bilang “ waktu kita masih bekerja dan punya uang sendiri, kita suka menjadi suka suka berbuat kepada suami, kita mau sok jadi jagoan yang gak mau diatur suami, tapi sesudah teteh gak kerja dan ikut suami ke Balikpapan, teteh seperti macan ompong, yang gak punya taring lagi, apa kata suami sekarang ngikut aja, tapi dibalik itu semua, ada hikmat yang diberikan Tuhan kepada teteh, setidaknya sekarang ini teteh kembali kepada habitat nya sebagai seorang wanita yang berpedoman kepada alkitab.
Kalau Devi berbicara dengan sedikit sesunggukkan, bahwa devipun merasakan adanya kesombongan sebagai seorang wanita yang mempunyai penghasilan sendiri, dan mengharapkan agar ita menghilangkan sifat sifatnya tsb.
Nah., sekarang gilirannya coco yang berbicara, dengan gaya cengengesannya, dia bilang gini “ ‘Ta., kalau ada apa apa dengan ita dan bayu, jangan cerita kemana mana dulu, cerita dengan coco dulu ya..?
Wow…! Hebat sekali pernyataan itu ‘co, tapi tulang salut juga koq, setidaknya coco mengikrarkan diri sebagai pengganti papa bagi adik2 perempuanmu, itu sangat bagus dan sangat batak banget, asal jangan jadi lebay aja ya ‘co..?
Inilah kak esther, karena mungkin tidak mengerti makna dari acara “mangalehen mangan”, maka gaya bicaranya santai santai aja, malah masih sempet2nya mengkritik calon mantunya, yang ginilah, yang gitulah, yang pendeklah, bersyukur ajalah kak, dia pendek tapi rambutnya lebatkan..? ada yang tinggi, tapi rambutnya botak, sama sama ajakan..?
Yang terakhir, dan inilah puncak acaranya, Ita bercerita tentang masa kecilnya yang telah ditinggal oleh papanya, yang selalu takut keluar dari kamar, karena takut dimarahin orang lain, yang takut berbuat apa apa, karena takut berbuat salah, intinya kira kira begini, masa kecil ita selalu dalam ketakutan dan mempunyai rasa rendah diri,
Yang tadi acaranya kita masih santai santai dan masih ada senyum, sejak ita cerita itu, langsung deh., suasana menjadi hening, sepi , sedih dan trenyuh semuanya.
Yang ini terakhir, tapi diluar dari konteks acara , kita nyanyi, kita tiup lilin dan potong kue ultah, karena pada bulan oktober ini kedua ito gue tersayang, kak esther dan linda berulang tahun.
Sehat sehat agar pada panjang umur ya..?
Tanggal 07 November 2010 jam 15.00,
Ita dan Bayu melaksanakan catatan sipil untuk pernikahannya di salah satu ruangan di restaurant Cazasuki.
Gue sekeluarga gak hadir, karena mengikuti dulu acara ultahnya mertua yang ke 86 tahun dirumah Bogor. Tapi saat itu ‘Bang Pollie ama Mir hadir
Tanggal 07 November 2010 jam 16.00
Ita dan Bayu melaksanakan peneguhan pernikahannya disalah satu ruangan di restaurant Cazasuki.
Saat itu gue ama keluarga sudah hadir, dan yang hadir dari kita, hanya kita yang kakak beradik, lainnya keluarga Bayu dan anggota gereja.
Ibadah peneguhan pernikahannya Ita dan Bayu, nyanyi nyanyinya sekitar 10 menit, khotbahnya 55 menit, doanya 30 menit, yang hadir diacara peneguhannya sekitar 30 orang, simple banget acaranya, dan saat itu tidak ada acara tumpang tangan dikepala dikedua pengantin oleh gembala sidang, yang sempet gue denger dari doa gembala sidang, katanya Tuhan langsung yang memberkati kedua pengantin tsb, sayang khotbahnya kelamaan, dan kayanya khotbah itu untuk jemaat yang hadir deh., dan bukan untuk kedua pengantin, karena setau gue, sebelumnya mereka sudah mengikuti konseling pernikahan, apa yang dikatakan pada saat khotbah, gue yakin, itu juga yang dikatakan pada saat konseling.
Lain lubuk lain belalangnya dom, lain gereja, yah., lain juga tatacaranya.
Tanggal 07 November 2010 jam 19.00 s/d 21.00
Resepsi pernikahan Ita dan Bayu di ruangan utama restaurant Cazasuki.
Kita semua keluarga dari pasangan St.Loedin P Harahap dan Nellyonard Siregar hadir bersama, kecuali anaknya Benny, Yoan dan Karl ( Yoan lagi dinas di Jambi, kalau Karl katanya lagi ngikutin ujian di kampusnya ), mungkin juga saat itu papi dan mami turut hadir, pasti mereka bangga menyaksikan semua turunannya kelihatan begitu kompak dan rukun, penuh sukacita dan penuh dengan kebahagiaan, ada yang datang dari Pakanbaru, ada yang datang dari Solo, ada yang datang dari Bogor, ada yang datang dari Serang, dan ada yang datang dari Tanggerang, karena hanya linda sendiri yang tinggal di Jakarta.
Pada saat kedua pengantin masuk ruangan, kita semua harus berdiri menyambut, inilah tanda penghormatan yang hadir kepada kedua mempelai, didepan pengantin ada pasukan tuyul yang mengiringinya, disitu ada Ose, ada Alma dan ada si popol,
Acara pertama saat resepsi adalah, kata sambutan yang mewakili kedua keluarga oleh Bapak Venny Agus Siregar, dilanjutkan dengan pemotongan kue pengantin, dah gitu pelemparan bunga oleh pengantin, yang menurut ceritanya “ siapa yang dapet bunganya, dia akan segera mendapatkan jodoh “ (alkitabiah banget ya..? )
Selesai itu semua, hadirin dipersilahkan untuk menyalam pengantin dan dilanjutkan dengan santap malam bersama, tapi sebelumnya doa dulu , yang dipimpin oleh pendeta Lukas, setelah itu yang hadir sibuk ngantri untuk salam dan ngantri untuk makan, sedangkan kedua pengantin selanjutnya sibuk foto foto dengan tamu VIP dan mempersilahkan tamu VIP untuk masuk keruangan VIP dan makan makanan yang VIP, VIP itu sendiri kalau diartikan adalah orang orang yang sangat PENTING, bisa penting karena jabatannya, bisa penting karena materinya, bisa juga penting karena kerohaniaannya, saat itu standard VIP kira kira begitulah.
Yang hadir pada saat itu cukup beragam, dari fihak kita, saudara2nya papi banyak yang hadir, saudara2nya mami juga banyak yang hadir, mantan tetangga di grogol juga banyak yang hadir, jadi terimakasih banget untuk kehadirannya ya..?
Selamat berbahagia dan selamat menempuh hidup baru, kiranya rumah tangga ITA dan BAYU, menjadi rumah tangga yang penuh dengan damai sejahtera Tuhan, menjadi rumah tangga yang takut akan Tuhan dan rumah tangga yang selalu menyinarkan sinar kasih Tuhan. Amin.
TUHAN MEMBERKATI……!
Bogor, November 2010
====================================
======================.
Tanggal 7 November 2010, YUANITA ( Ita ) HASIBUAN, akan melangsungkan pernikahannya dengan BAYU SETIAWAN POLUAN SE , resepsi akan diadakan di Restauran Cazasuki di Jln.Kebon Sirih Raya no. 38 Jakarta Pusat.
Ita ini putri bungsu dari Alm.Drs.Saner Hasibuan dengan Esther Harahap, sedangkan Bayu adalah putra dari Johnny Poluan dengan Tiena Poluan.
Walau kami Harahap yang turun temurun sudah lahir di Jakarta, gak ngerti bahasa batak, gak ngerti budaya batak, tapi kami selalu berusaha agar budaya batak yang kami tau, tetap kami laksanakan, inilah budaya yang selalu diajarkan oleh orangtua kami.
Makanya, pada hari minggu kemarin tgl 31 Oktober ’01 malam, kita yang berkakak beradik ditambah dengan Keluarga Tulang Rempoa dan Nantulang Ais, berkumpul untuk melaksanakan “ MANGALEHEN MANGAN BORU “.
Budaya ini adalah ciri khas dari Tapanuli Selatan, dimana pada saat kita akan melepas boru ( anak perempuan ), semua keluarga terdekat, terutama orangtuanya akan memberikan makan dengan menyulangi kepada calon pengantin perempuan, sesudahnya, semua yang hadir diharapkan memberikan petatah petitih, nasehat, wejangan dan kalau perlu kritikkan, yang pedes boleh, yang setengah pedes juga boleh, ini sebagai bekal nantinya sesudah mereka berumah tangga,
Karena di budaya batak yang boleh bicara di forum hanya yang sudah menikah, maka biasanya petatah petitihnya mengenai permasalahan dalam rumah tangga, malah tanpa disadari sebenarnya dia lagi curhat mengenai pengalaman dalam rumah tangganya, kalau orang pinter, biasanya dia minum tolak angin atau dia akan berbicara dan mengupas yang alkitabiah saja, bisa aja dia mengambil dari Effesus 5 : 22-dst mengenai “KASIH KRISTUS ADALAH DASAR HIDUP DARI SUAMI ISTRI” atau dia mengambil dari Amsal 31 : 19-dst mengenai “PUJI PUJIAN UNTUK ISTRI YANG CAKAP”, itu kalau yang pinter, kalau yang gak pinter..? yah., gitu deh, tanpa disadarinya, sebenarnya dia lagi menceritakan rumah tangganya sendiri.
Kemarin itu gue jadi malu sendiri, karena gue dateng jam 8 lewat, sedangkan perjanjiannya paling lambat jam 7 sudah harus dimulai, bertambah besar kemaluan gue, karena acara belum bisa dimulai kalau gue belum dateng, dan bertambah besar lagi kemaluan gue, karena diacara itu gue ditunjuk sebagai protokol pembuka acara.
Sebelum kita menyampaikan petatah petitih, kita menyerahkan dulu makanan tumpeng cari khas batak, yang memberikan makan dengan disuapin adalah kak esther sebagai mamanya dan linda sebagai bujingnya, tapi sebelumnya kita berdoa dulu yang dipimpin oleh tulang rempoa,
Sebagai pembicara tamu adalah Adek, Stevie dan ardith, yang mengatakan ; “karena kami belum punya pengalaman menikah, maka kami hanya bisa mengucapkan selamat dan kiranya rumah tangga Ita dan Bayu selalu dalam damai sejahtera Tuhan”, lalu Stevie memberikan cendera mata dari kita semua.
Pembicara tamu kedua adalah Anggi, yang mengatakan ; “Kak Ita adalah tempat mengadu dan tempat curhat, yang selalu mengerti dan memberi pengertian, yang selalu dapat memberikan jalan terang dan solusi yang tepat, terima kasih untuk kebaikkan kak Ita selama ini kepada Anggi, semoga selalu berbahagia “
Pembicara selanjut adalah Linda sebagai bujingnya, yang intinya mengatakan ; “dengan pengalaman berpacaran dengan Bayu selama 5 tahun dan ribut ributnya lebih dari 10.000 kali, diharapkan ini menjadi bekal dan pengalaman untuk lebih bisa saling mengerti sesudah menikah, jangan hanya melihat hal yang kecil kecilnya saja, walaupun si Bayu kecil, tapi lihatlah., segala sesuatu dalam scope yang lebih besar “
Edwin Siregar dan Nantulang Ais kira kira mengatakan begini ; “ Ita dan Bayu kita yakin, adalah pasangan yang memang telah disatukan oleh Tuhan, karena mereka saling mengenal digereja, saling berhubungan digereja dan sama sama melayani di gereja, mamanya Ita adalah pelayan digereja dan calon mertua Ita pun melayani digereja dan semua itu ada dalam 1 gereja yang sama, yaitu Gereja Kabar Mempelai di Tanah Abang Jakarta Pusat “
Karena nantulang rempoa katanya lagi tidak mood, maka semuanya diwakilkan kepada opung doli saja, maksudnya kepada tulang rempoa,
Tulang banyak mengupas nilai nilai pernikahan dari segi alkitabiahnya, walau dikemas dengan gaya yang lembut dan halus ( ini memang ciri khasnya tulang ) sebenarnya sih., kalau mau dimaknai dan mau dimengerti, yah.,pedes pedes juga, yah., itulah gaya tulang, makanya semua bere berenya, ponakkan dan cucu cucunya pada sayang dengan beliau ini.
Kalau Miranda mengatakan, jangan lupa untuk banyak berdoa, karena saya inget sekali, kalau amangboru ( maksudnya papi ) selalu mendoakan satu persatu anak anaknya, agar berguna untuk sesama, terlebih kepada Tuhan. (parumaen hasian memang beda lho..!).
Sesudah mir, baru gue deh., inilah gue yang suka ngomong suka suka, asal jeplak, gak mau mengerti yang diomongin sakit hati apa enggak, tapi yang udah udah sih., kalau gue masih mau ngomong, tandanya gue masih sayang, yang repot kalau gue udah gak mau ngomong lagi, itu tandanya elo kekanan, gue kekiri, elo dibarat, gue ditimur, istilahnya sundanya sabodo teuing waelah..!
Saat itu gue bilang gini “ nantul Ais bilang, mamanya bayu orangnya baik dan rohani, tapi menurut gue, mamanya bayu orangnya sangat dominan, tapi bukan berarti orang yang dominan tidak rohani, untuk Ita sebagai seorang wanita, agar kembali ke habitatnya sebagai tulang rusuk, penopang dan penolong bagi suami, jangan sampai overlapping dalam bertindak didalam keluarga, kalau selama masih pacaran, Ita lebih banyak ngaturnya daripada diatur, nah., nanti kalau sudah bekeluarga, ubah semua tabiat itu, karena katanya dan yang tulang tau, kalau ita itu lebih cenderung seperti namborunya, yah., judesnya, yah., galaknya, apalagi wajah ita, seperti pinang dibelah dua dengan wajah namborunya, pesen tulang, jangan terlalu mudah mengemas keluarga itu seperti jambu cingcalok, bagus bentuknya , manis rupanya, tapi didalamnya banyak yang ada ulatnya , tapi nantinya tulang yakin dan percaya, suatu saat Bayu akan mengatakan ,” BANYAK WANITA YANG BERBUAT BAIK, TAPI ITA LEBIH DARI SEMUANYA ITU,” tuhkan., domu ini lagi memberikan wejangan ke ita atau lagi curhat sih..?
Sesudah gue, barulah ‘Bang Pollie yang berbicara, singkat,padat dan harap maklum, ‘Bang Pollie bilang gini “ Ita kan singer di gerejanya, nah., lakukanlah itu dalam kehidupan sehari hari ita “ nah., ita. nanti kalau dirumah, dijalan, dikantor maupun dikamar mandi, ita tetap harus jadi singer yah., bukan maksudnya sing a song melulu, tapi apa yang kamu nyanyikan, PERBUATLAH..!
Sesudah semua kita keluarga yang berbicara, barulah mereka yang kakak beradik yang berbicara.
Teteh bilang “ waktu kita masih bekerja dan punya uang sendiri, kita suka menjadi suka suka berbuat kepada suami, kita mau sok jadi jagoan yang gak mau diatur suami, tapi sesudah teteh gak kerja dan ikut suami ke Balikpapan, teteh seperti macan ompong, yang gak punya taring lagi, apa kata suami sekarang ngikut aja, tapi dibalik itu semua, ada hikmat yang diberikan Tuhan kepada teteh, setidaknya sekarang ini teteh kembali kepada habitat nya sebagai seorang wanita yang berpedoman kepada alkitab.
Kalau Devi berbicara dengan sedikit sesunggukkan, bahwa devipun merasakan adanya kesombongan sebagai seorang wanita yang mempunyai penghasilan sendiri, dan mengharapkan agar ita menghilangkan sifat sifatnya tsb.
Nah., sekarang gilirannya coco yang berbicara, dengan gaya cengengesannya, dia bilang gini “ ‘Ta., kalau ada apa apa dengan ita dan bayu, jangan cerita kemana mana dulu, cerita dengan coco dulu ya..?
Wow…! Hebat sekali pernyataan itu ‘co, tapi tulang salut juga koq, setidaknya coco mengikrarkan diri sebagai pengganti papa bagi adik2 perempuanmu, itu sangat bagus dan sangat batak banget, asal jangan jadi lebay aja ya ‘co..?
Inilah kak esther, karena mungkin tidak mengerti makna dari acara “mangalehen mangan”, maka gaya bicaranya santai santai aja, malah masih sempet2nya mengkritik calon mantunya, yang ginilah, yang gitulah, yang pendeklah, bersyukur ajalah kak, dia pendek tapi rambutnya lebatkan..? ada yang tinggi, tapi rambutnya botak, sama sama ajakan..?
Yang terakhir, dan inilah puncak acaranya, Ita bercerita tentang masa kecilnya yang telah ditinggal oleh papanya, yang selalu takut keluar dari kamar, karena takut dimarahin orang lain, yang takut berbuat apa apa, karena takut berbuat salah, intinya kira kira begini, masa kecil ita selalu dalam ketakutan dan mempunyai rasa rendah diri,
Yang tadi acaranya kita masih santai santai dan masih ada senyum, sejak ita cerita itu, langsung deh., suasana menjadi hening, sepi , sedih dan trenyuh semuanya.
Yang ini terakhir, tapi diluar dari konteks acara , kita nyanyi, kita tiup lilin dan potong kue ultah, karena pada bulan oktober ini kedua ito gue tersayang, kak esther dan linda berulang tahun.
Sehat sehat agar pada panjang umur ya..?
Tanggal 07 November 2010 jam 15.00,
Ita dan Bayu melaksanakan catatan sipil untuk pernikahannya di salah satu ruangan di restaurant Cazasuki.
Gue sekeluarga gak hadir, karena mengikuti dulu acara ultahnya mertua yang ke 86 tahun dirumah Bogor. Tapi saat itu ‘Bang Pollie ama Mir hadir
Tanggal 07 November 2010 jam 16.00
Ita dan Bayu melaksanakan peneguhan pernikahannya disalah satu ruangan di restaurant Cazasuki.
Saat itu gue ama keluarga sudah hadir, dan yang hadir dari kita, hanya kita yang kakak beradik, lainnya keluarga Bayu dan anggota gereja.
Ibadah peneguhan pernikahannya Ita dan Bayu, nyanyi nyanyinya sekitar 10 menit, khotbahnya 55 menit, doanya 30 menit, yang hadir diacara peneguhannya sekitar 30 orang, simple banget acaranya, dan saat itu tidak ada acara tumpang tangan dikepala dikedua pengantin oleh gembala sidang, yang sempet gue denger dari doa gembala sidang, katanya Tuhan langsung yang memberkati kedua pengantin tsb, sayang khotbahnya kelamaan, dan kayanya khotbah itu untuk jemaat yang hadir deh., dan bukan untuk kedua pengantin, karena setau gue, sebelumnya mereka sudah mengikuti konseling pernikahan, apa yang dikatakan pada saat khotbah, gue yakin, itu juga yang dikatakan pada saat konseling.
Lain lubuk lain belalangnya dom, lain gereja, yah., lain juga tatacaranya.
Tanggal 07 November 2010 jam 19.00 s/d 21.00
Resepsi pernikahan Ita dan Bayu di ruangan utama restaurant Cazasuki.
Kita semua keluarga dari pasangan St.Loedin P Harahap dan Nellyonard Siregar hadir bersama, kecuali anaknya Benny, Yoan dan Karl ( Yoan lagi dinas di Jambi, kalau Karl katanya lagi ngikutin ujian di kampusnya ), mungkin juga saat itu papi dan mami turut hadir, pasti mereka bangga menyaksikan semua turunannya kelihatan begitu kompak dan rukun, penuh sukacita dan penuh dengan kebahagiaan, ada yang datang dari Pakanbaru, ada yang datang dari Solo, ada yang datang dari Bogor, ada yang datang dari Serang, dan ada yang datang dari Tanggerang, karena hanya linda sendiri yang tinggal di Jakarta.
Pada saat kedua pengantin masuk ruangan, kita semua harus berdiri menyambut, inilah tanda penghormatan yang hadir kepada kedua mempelai, didepan pengantin ada pasukan tuyul yang mengiringinya, disitu ada Ose, ada Alma dan ada si popol,
Acara pertama saat resepsi adalah, kata sambutan yang mewakili kedua keluarga oleh Bapak Venny Agus Siregar, dilanjutkan dengan pemotongan kue pengantin, dah gitu pelemparan bunga oleh pengantin, yang menurut ceritanya “ siapa yang dapet bunganya, dia akan segera mendapatkan jodoh “ (alkitabiah banget ya..? )
Selesai itu semua, hadirin dipersilahkan untuk menyalam pengantin dan dilanjutkan dengan santap malam bersama, tapi sebelumnya doa dulu , yang dipimpin oleh pendeta Lukas, setelah itu yang hadir sibuk ngantri untuk salam dan ngantri untuk makan, sedangkan kedua pengantin selanjutnya sibuk foto foto dengan tamu VIP dan mempersilahkan tamu VIP untuk masuk keruangan VIP dan makan makanan yang VIP, VIP itu sendiri kalau diartikan adalah orang orang yang sangat PENTING, bisa penting karena jabatannya, bisa penting karena materinya, bisa juga penting karena kerohaniaannya, saat itu standard VIP kira kira begitulah.
Yang hadir pada saat itu cukup beragam, dari fihak kita, saudara2nya papi banyak yang hadir, saudara2nya mami juga banyak yang hadir, mantan tetangga di grogol juga banyak yang hadir, jadi terimakasih banget untuk kehadirannya ya..?
Selamat berbahagia dan selamat menempuh hidup baru, kiranya rumah tangga ITA dan BAYU, menjadi rumah tangga yang penuh dengan damai sejahtera Tuhan, menjadi rumah tangga yang takut akan Tuhan dan rumah tangga yang selalu menyinarkan sinar kasih Tuhan. Amin.
TUHAN MEMBERKATI……!
Bogor, November 2010
====================================
Kamis, 26 Agustus 2010
Let our candle lights in every heart of man
Sebuah lilin yang menyala berkata “ Engkau telah menyalakan aku dan engkau dapat menikmati kehangatan dan terang yang ku pancarkan, aku tahu disaat aku dinyalakan, semakin pendek batangku dan semakin dekat pula kisahku, namun aku lebih berbahagia saat sekarang ini, daripada saat aku masih tersimpan rapi disebuah kotak lilin, sebab aku tahu., bahwa aku sungguh menjadi sesuatu yang berarti saat aku dinyalakan.
Sebagai manusia, khususnya bagi orang Kristen, kita dapat seperti lilin itu, apakah kita akan terus menggenggam erat hidup kita sendiri, atau kita mau membagikan kasih, kehangatan dan cinta kepada orang lain.
Di sekeliling kita terdapat banyak orang yang membutuhkan uluran tangan, ada banyak disekitar kita yang sakit dan mereka membutuhkan penghiburan, ada banyak disekitar kita yang putus asa dan kehilangan pengharapan, mereka membutuhkan motivasi dan dorongan,
ada banyak disekitar kita yang sedang dalam kekurangan, dan mereka membutuhkan pertolongan.
Saat ini apa yang dapat kita berikan kepada mereka..?
Tuhan banyak memberikan kesempatan kepada kita, untuk kita dapat berbuat sesuatu yang paling indah untuk mereka………, dan itu akan berarti, bahwa kita akan benar benar mengerti makna dari kehidupan orang Kristen, sebagaimana dikatakan oleh ungkapan ini :
“ Lonceng bukanlah lonceng, hingga engkau membunyikannya……… “
Lagu bukanlah lagu, hingga engkau menyanyikannya ………..,
Cinta dihatimu., tidak dianugrahkan untuk disimpan…..,
Cinta bukanlah cinta, hingga engkau menyalurkannya…… “
Kita tidak akan pernah menjadi orang Kristen sejati, hingga kita mau menjadi lilin yang menyala, yang terbakar habis, namun memberikan terang, kehangatan dan makna kehidupan, setidaknya ibadah kita kepada Tuhan, tidak mengurangi hubungan kita kepada sesama.
Kepada Ipar saya Henry Saut Harapan Siahaan SH, pada tanggal 26 Desember 2007 ini genap berumur 50 thn, kami sekeluarga mengucapkan selamat ulang tahun, kiranya kasih dan berkat Tuhan selalu menyertai Ipar dan keluarga. Amin…!
Villa “Rumah Kita”, 29 Desember 2007
Sebagai manusia, khususnya bagi orang Kristen, kita dapat seperti lilin itu, apakah kita akan terus menggenggam erat hidup kita sendiri, atau kita mau membagikan kasih, kehangatan dan cinta kepada orang lain.
Di sekeliling kita terdapat banyak orang yang membutuhkan uluran tangan, ada banyak disekitar kita yang sakit dan mereka membutuhkan penghiburan, ada banyak disekitar kita yang putus asa dan kehilangan pengharapan, mereka membutuhkan motivasi dan dorongan,
ada banyak disekitar kita yang sedang dalam kekurangan, dan mereka membutuhkan pertolongan.
Saat ini apa yang dapat kita berikan kepada mereka..?
Tuhan banyak memberikan kesempatan kepada kita, untuk kita dapat berbuat sesuatu yang paling indah untuk mereka………, dan itu akan berarti, bahwa kita akan benar benar mengerti makna dari kehidupan orang Kristen, sebagaimana dikatakan oleh ungkapan ini :
“ Lonceng bukanlah lonceng, hingga engkau membunyikannya……… “
Lagu bukanlah lagu, hingga engkau menyanyikannya ………..,
Cinta dihatimu., tidak dianugrahkan untuk disimpan…..,
Cinta bukanlah cinta, hingga engkau menyalurkannya…… “
Kita tidak akan pernah menjadi orang Kristen sejati, hingga kita mau menjadi lilin yang menyala, yang terbakar habis, namun memberikan terang, kehangatan dan makna kehidupan, setidaknya ibadah kita kepada Tuhan, tidak mengurangi hubungan kita kepada sesama.
Kepada Ipar saya Henry Saut Harapan Siahaan SH, pada tanggal 26 Desember 2007 ini genap berumur 50 thn, kami sekeluarga mengucapkan selamat ulang tahun, kiranya kasih dan berkat Tuhan selalu menyertai Ipar dan keluarga. Amin…!
Villa “Rumah Kita”, 29 Desember 2007
Bungabondar
BUNGABONDAR, akukan kembali ..!
‘Juni - Juli 2009, saat liburan sekolah anak anak, gue dengan rombongan, yang terdiri
dari :
Gue : Domu Harahap
Istri gue : Duma R.SIregar
Anak bungsu gue : Ardith Yohanes Pardamean Harahap
Kakaknya istri : Nura IDA Siregar
Borunya kakak : Lanny ( Didin ) Batubara
Mantunya kakak : Christanto
2 cucunya kakak : Thomas dan Ica
Kita berangkat ber 8, naik mobil APV tahun 2008 , mobilnya sewa 200 ribu/hari, cukup sempit juga sih., orangnya banyak, bawaannya pun banyak, orang per Kg nya pun banyak, kalau gue yang penting mobilnya bagus dan masih baru, karena gue gak ngerti sedikitpun masalah mesin, kalau untuk ganti ban aja, gue bisalah.,
Kita berangkat tgl 26 Juni Jam 9 malam dari Bogor, yang nyetir sampai merak dan sampai masuk kekapal Christanto, sampai Bakauhuni jam setengah 2 pagi, dan sampai situ aja Christanto bawa mobil, untuk lanjutnya gue yang bawa, bukan apa apa sih., rasanya bawa mobil malam dengan perjalanan panjang, kondisi medan jalan, serta gaya nyetir sangat beda jauh dengan yang di Jawa, perlulah orang yang expert seperti gue, ih.., sok tau banget elo tuh.
Selama perjalanan kita lebih banyak makan di jalan, dan istirahatnya hanya pada saat isi bensin, istirahat benerannya kita di Muaraenim sekitar jam setengah 3 sore, disana kita mampir dan makan ikan patin di pindang, wah., enak banget, ada pedesnya, ada asemnya dan ada yang nambah melulu, istirahat 1 jam, kita lanjut lagi perjalanan, berhubung kita mau mengejar waktu dan jangan sampai jalan malam, sedangkan sampai di Lubuklinggau hari masih terang, mau tidur juga masih kecepatan, maka kejarlah waktu dengan menaikkan kecepatan mobil, untungnya juga, jalannya mulus dan lurus lurus aja, dipaculah mobil dengan kecepatan 120 Km/jam, mungkin karena takut, atau karena nikmatnya di mobil, ada yang berusaha tidur, ada yang makan antimo supaya tidur, ada juga yang pegang handel kuat kuat, yang gak ada, atau mungkin lupa, adalah bersenandung dengan lagu lagu rohani.
Jam setengah 8 kita nyampe di Bangko, cari pasar malamnya dan makan malamlah kita disana, selesai makan, carilah hotel dan tidurlah kita disana, hotelnya biasa biasa aja, yang penting ada AC nya, dan gak ada kecoa nya, karena Bangko ini adalah kabupaten baru, kabupaten pemekaran dari Propinsi Jambi, belum banyak hotelnya, tapi sudah banyak tamunya, yah., diterima ajalah, hotel yang biasa biasa ini, tapi dengan harga yang tidak biasa, mau lanjut ke Muarobungo udah malam, dah gitu badan inipun udah remuk redam dan matapun udah 5 watt, apa hendak mau dikata, terima sajalah..!
Bangun pagi, kita dapet sarapan roti dan kopi, jam 7 nya kita berangkat lagi dan sarapan yang benernya di Murabungo jam setengah 10, gue ama Chris ganti oli dulu, yang lainnya langsung masuk restoran, makannya bebek sambel hijau, nikmat dan enak, gak terasa padahal kita udah sarapan roti, gara gara nikmat itulah, makanya kita makan pada nambah, gara gara udah tradisi, kalau lewat danau singkarak kita mampir dan makan ikan cere, mampir dan makanlah kita disana, padahal sih.,perut belum pada lapar, nyeseknya.,tempat biasa kita mampir udah lupa, jadi yang penting dipinggir danau aja kita berhenti, tempatnya memang enak, makanannya itu yang gak enak, urusan mahal, itu memang gayanya orang sana, dan disanalah ardith pertama kali nyobain yang namanya teh telur, namanya juga ardith, yang aneh aneh pasti dia coba’in.
Sampai Bukittinggi jam 3 sore, puter puter cari hotel pada penuh, mau masuk ke Hotel Dymen mahal banget sekarang, untung aja udah penuh, jadi sedikit tidak bermalu mukalah, mau masuk hotel Bagindo juga penuh, akhirnya dapet hotel Ombun Sari, tempatnya sangat strategis, persis didepan jalan raya dan menghadap langsung dengan jam gadang, permalamnya 350 ribu, lumayan jugalah hotelnya, kamarnya bersih dan cukup lebar untuk tidur rame2, pembagian kamarnya menurut jenis kelamin masing masing, jadi cukup 2 kamar dengan masing masing kamar 4 orang.
Sore ini di Bukittinggi kita jalan jalan di sekitar jam gadang, anak anak pada naik delman ngiterin jam gadang, gue ke pasar beli cassette Edy Silitonga dan denger lagu anakku na burju, tapi pake bahasa padang, dah gitu liat liat dagangan kaki 5, dan harap maklum., di Jawa aja mereka berani bermain, gimana juga kalau dikandangnya.
Makan malamnya kita makan nasi kapau, dan semua makanan di Bukittinggi memang kapau, karena disini daerahnya kapau, yah., wajar wajar ajalah. Malam ini gue dapet telpon dari Natal, ngasih tau kalau SPBU nya akan launching pada tgl 1 Juli 2009, ok deh ‘Tal., selamat selamat aja ya, semoga sukses, sorry gue gak bisa hadir, gue lagi overland ke Bungabondar nih.,
Besoknya pagi pagi banget kita udah pada ke gua jepang,ke ngarai sianok, kebon binatang dan benteng Fort de kock, gak tau ada setan beliung dari mana, selama disana gue berantem melulu ama duma, yang urusan nyetir deh, yang urusan kopi deh, pokoknya sekecil apapun masalah, pasti jadi debat mulut, kenapa ya ‘ma..?
Berhubung kita mengejar target ini malam sudah harus masuk Bungabondar, terpaksa gue harus cerewet untuk segera selesai yang berfoto foto dengan pemandangan dan monyet2 disana, jam 11 siang kita lepas landas dari Bukittinggi dan perjalanan dilanjutkan.
Selama perjalanan dari Bukittinggi ke Lubuksikaping, bener 2 mengesankan, jalannya naik turun dan berkelok kelok 1000, setir baru diputar kekiri, sudah harus dibalikkin lagi kekanan, kanannya tebing, kirinya jurang, dijalanan itu gue jalan antara 60 sampai 80 Km/jam, Christanto yang duduk didepan, tadinya gue pikir nikmatin jalan tsb, eh.., gak taunya dia lagi pucat pucat sambil komat kamit berdoa, wah., gue gak tau Chris, bilang bilang dong kalau gue larinya kecepetan.
Di Lubuksikaping kita istirahat dan makan siang, menu favorit restoran tsb ayam pop, memang enak dan nikmat dilahap, ardithpun yang menu favoritnya banyak, yang salah 1 nya ayam pop, tidak men sia sia kan kesempatan ini, nambah dan nambah lagi, rasanya selama perjalanan ini, urusan dengan makanan jadi nomer 1 deh., biaya makan tinggi banget euy..! tapi yang sangat berkesan dan selalu terkenang dengan restoran ini adalah, gue ama duma baikkan, setidaknya disini kita cease fire dulu. Ah masa sih..?
Dari Lubuksikaping ini, kita tancap langsung ke Bungabondar, hanya berhenti sebentar di kota Padangsidempuan untuk beli roti, inipun juga tradisi keluarga, belum ke Sidempuan rasanya, kalau belum beli roti disana.
Sampai di Bungabondar kita jam 9 malam, disana sudah ada ‘Bang Tunggal dan kak Pita yang datang dari Sidempuan, ada Hanni dan anaknya jacki, yang datang dari Taluk Kuantan Riau, gak menunggu lama, langsung pecahlah keheningan malam itu, mereka saling baku peluk, mereka saling cipika cipiki, mereka saling berceloteh dengan riangnya, kitapun yang mendengar hanya bisa melongo dongo aja.
Setelah selesai seremoni yang bersaudara itu, dan tanpa menunggu matahari kan bersinar lagi, berangkatlah kita ke kuburan Amang simatua gue, dan terjadi kembali hal hal yang seremonial, ada isak tangis dengan berbagai nada, ada olah tubuh dengan berbagai gaya, tinggal kita para penonton terpesona melihat tingkah sukacita mereka.
Di Bungabondar kita tinggal selama 5 hari, dan ada aja yang bilang : Ngapain sih., elo sering sering dan lama lama disana, apa gak bĂȘte..? kalau gue sih., enggak tuh, malah kalau cuman 5 hari, kayanya kecepetannya deh.,
Dan inilah sebagian kegiatan gue selama disana :
1. ikut ikutan ngebantuin bersih bersih dan ngapur kuburan mertua
2. mampir kerumah parsadaan opung dan mengunjungi saudara2 Harahap
3. mampir kerumahnya opung ni Marsan, nah., ini opung gue dari mama
3. Liat liat dan bersih2in kuburan opungnya bapak gue ( Kilian Harahap )
4. Liat liat dan bersih2in kuburan opungnya mama gue ( Sutan Malayu Srg )
Nah., inilah yg wajib, dan wajib dikunjungi pada hari pertama di Bungabondar.
Kalau di Bungabondar gue belum pernah tidur dirumah parsadaannya Harahap, biasanya gue tidur di rumah parsadaannya opung dari istri gue (Opung Hasiholan Siregar ), bukannya apa apa sih., masalahnya ada keluarga yang tinggal yang di tempat itu dan gue belum paham hubungannya dengan opung gue, kalau ditempat istri gue, rumahnya kosong, bersih, besar dan terus dirawat dengan baik, itu aja alasannya sih.,
Saat di Bungabondar, gue diajak ngeliat ama Dollah Harahap ke ladangnya opung didekat danau marsabut, letaknya persis berdampingan dengan parsulukkannya Raja Inal Siregar, tanahnya cukup luas sekitar 5000 mtr, tapi gak ada pohon pohon besar, yang ada hanya tanaman2 kecil aja, pohon besar ada hanya sebagai pembatas tanah dengan kepemilikkan orang lain, saat gue masuk ke ladang itu, rupanya ada sebagian lahan yang sudah dirambah oleh masyarakat sana dan ditanami kopi, tapi konsekwen juga mereka itu, saat gue datang , mereka minta maaf dan langsung menawarkan diri, untuk minta tanah itu disewa atau mereka beli sebagian tanah yang sudah mereka tanami, saat itu gue gak komentar, gue berfikir, yang penting mereka tau dan sadar aja,kalau tanah yang mereka tanam itu adalah tanah Harahap Jakarta. oh iya.., gue kesana naik mobil double garden barengan sama Ja Gomuk Siregar, katanya dia temen sekolah mami dan die kenal persis dengan mami, jadi bukan hanya sekedar tau dengan mami, dia juga cerita, kalau die itu punya punya peliharaan ular putih di bukit danau marsabut, katanya ular tsb gak pernah cari makan, kalau dia mau makan, mangsanya pada datang sendiri, dan ularnya baru keluar dari gua, kalau dia yang datang , bener gak sih..?
Dari sana, gue diajak lagi kesawahnya Harahap, letaknya dipinggir jalan sebelah kanan dari arah Hasang menuju pintu masuk Bungabondar, sawah itu membentang dari pinggir jalan sampai kearah bukit yang ditanami havea, areal itu dikenal dengan nama pancur pinagar, karena memang ditengahnya ada air pancuran, nah., kepemilikkan dari sawah ini yang sampai sekarang gue masih bingung, ada berbagai macam cerita tentang ini, ada versi katanya. Sudah dijual sama papi, tapi sebagian belum dibayar, ada versi lainnya, sudah dibeli oleh Harahap lain, tapi belum dibayar, ada juga versi yang sedikit kocak, pada saat terakhir papi datang ke Bungabondar, sawah tsb dibagikan papi kepada saudara2nya Harahap disana sebagai ingot ingot, bener gak sih..?
Tapi yang jelas, setiap gue kesana, pasti dikasih 1 karung beras, inipun gue ikut bingung juga, apa pemberian ini sebagai pengakuan, bahwa sawah yang mereka tanami adalah sawah opung gue, dan rumah yang mereka tinggalin di kampung arab itu, juga rumah opung gue, atau pemberian tsb sebagai tanda kita bersaudara dan inilah cendera mata dari mereka..?
Kalau cerita tentang ardith lain lagi, saat diajak ke tempat2 itu,dia bangganya bukan main, dia foto sini,foto sana, belusuk2 dia mengelilingi ladang dan sawah, di mobil maunya duduk di bak belakang, persis kaya cowboy yang kehilangan kudanya, waktu mau pulang sempet2nya dia ngantongin segumpal tanah ladang, katanya untuk kenang kenangan, waktu sampai rumah, dengan bangganya dia cerita ke andre, “ hebat lho ‘Bang., kita di Bungabondar punya tanah yang luas dan indah, dan sangat cocok untuk bikin Mall, he..he..he.., ardith memang selalu punya gaya deh..!
Kepalang tanggung, gue cerita apa adanya disini deh.,
Cerita papi dan dari cerita keluarga Harahap yang lain mengenai rumah, ladang dan sawah di Bungabondar itu begini ;
Sesudah semua opung tinggal dan menetap di Jakarta, hanya namborunya papi ( gue manggilnya Angkang Joti ) yang tinggal di Bungabondar, Angkang ini katanya tidak mempunyai anak laki, hanya punya anak perempuan, sehingga semua pengurusan, penguasaan dan keberadaan hartanya opung dibawah kendali Angkang, borunya dan mantunya, sesudah Angkang ini meninggal, tercerai berailah keberadaan hartanya opung tsb, belum lagi 1 sama lainnya saling sikut menyikut termasuk untuk tinggal dirumah tsb, akhirnya papi menunjuk uda Manan Harahap yang tadinya tinggal didekat pancuran, untuk menempati rumah tsb, itupun bukannya tidak ada tantangan dari yang lain, tapi papi bersikeras harus Harahap yang tinggal dirumah itu, dan sampai saat ini masih uda Manan Harahap beserta turunannya yang tinggal disana, yang penting untuk kami, mereka mengakui itu rumah kami, gak luculah., kalau gue ngaku orang Bungabondar, tapi gak punya rumah disana.
Waktu disana, gue ama ardith diajak Tulang Effendi Siregar ( mantri dan pemilik apotik di Sipirok ) ke Bungabondar pada masa jaman batu, lokasinya didepan SD negeri Bungabondar, disana ada patung batu gambar kodok, ada gambar gajah dan banyak pula batu batu yang sudah terbelah belah berantakkan, sebenarnya lokasi tsb sudah diberi pagar pembatas pada saat Raja Inal Jadi Gubernur Sumut, sesudah gubernurnya gak menjabat, apalagi juga sudah gak ada, sudah selesai juga lokasi tsb, sekarang ini tinggal bebatuan yang hancur dan padang rumput mini di sekitarnya. Sangat disayangkan,tapi begitulah kita., bisa membangun, tapi gak bisa merawat.
Waktu disana, gue dapet telpon dari bere gue yang namanya Coco, dia minta , supaya gue nyari kahangginya di Sipogu ( mungkin ini udah masuk kecamatan Arse ) namanya Washinton Hasibuan, nah., kesanalah gue ama duma, jalannya cukup jauh dan yang melelahkan, jalannya jelek banget, Hasibuan itu, adalah kahanggi dari Ipar gue Saner Hasibuan, dia suami dari kak Esther Harahap.
Waktu disana, gue nyari sobat lama gue di Jakarta, namanya Dolok Siregar . dulu dia pedagang piano, pemimpin paduan suara dan pengurus sekolah musik di Cinere, sekarang dia menjadi petani sayuran, drastis sekali perubahan ini, tapi barangkali inilah namanya kehidupan, kadang kita tidak dapat memilih, seperti kebiasaan gue sebagai pedagang, gak pernah gue pergi tanpa membawa produk pestisida gue, uji cobalah disana untuk tanaman sayuran dan coklat, hasilnya sangat memuaskan dan harusnya menjanjikan, tapi jangan lupa ‘bung ini Bungabondar, mereka punya cerita dan gayanya sendiri.
Waktu disana, gue ke pasar sipirok, rencananya mau nyari disc lagu lagu dan kesenian angkola mandailing, sayangnya yang gue dapet lagu lagu dangdut dengan bahasa mandailing, waktu disana, kita ke aek milas di padangbujur dan sekalian tengok tengok ke SMA plusnya Sipirok, tempatnya bagus, dengan ketinggiannya kita bisa melihat pemandangan kota Sipirok, waktu disana, nikmat kalau kita kongkow di warung kopi simpang 4 Bungabondar, bisa pagi, bisa sore, mau malempun masih ada aja yang nongkrong disana, mau main joker atau capsa..? jangan tanyalah, banyak biang biangnya disana, 24 jam terbuka untuk umum.
Waktu disana, kita ketemu dengan ipar Lintong Siregar, dulu dia preman di grogol Jakarta, sekarang berubah jadi raja adat Bungabondar, kayanya yang pada pulang ke Bungabondar jadi pada berubah drastis deh.,
Waktu disana, kita menjenguk ipar Basauli Siregar, tinggalnya persis didepan mesjid raya Padangsidempuan, saat ini penyakit asmanya sudah cukup kronis, makanya ipar ini sudah sering keluar masik rumah sakit, saat bertemu dengan anaknya Gani Siregar ( karena dia manggil gue amangboru, jadi deh., gue manggil die tulang ), die nanyain titipannya , yah., gue kasih deh., pestisida gue 1 botol besar, “ lho..koq cuman 1 amangboru, yah gue tambahin 1 botol lagi, lalu bersabdalah beliau “ obatnya amangboru bagus, tanaman coklat saya sekarang tidak ada hama dan tanamannya subur “ yah., gitulah dan hanya sebatas itu aja kelanjutannya, cumannya masih ada pesannya terakhir ; kalau kesini lagi, jangan lupa bawain obatnya lagi ya amangboru..?
Waktu disana, ardith ,thomas dan jacki mancing ikan dikolamnya tulang Effendi, kolamnya pas disebelah belakang rumah, wah., semangat banget mereka yang pada mancing, malah ditawarkan ama tulang, kalau gak puas dapet dari hasil mancing, kuras aja kolamnya, saat selesai mancing, dari hasilnya, ketahuan dari tingkat jauh tidak mereka tinggal dari kota, yang pertama dan yang dapet gede gede adalah jacki, yang kedua adalah Thomas dan ardith juru kunci. Kalau gue saat itu, hanya ngawasin aja, takutnya ada yang kecemplung ke kolam.
Waktu disana, gak lupa hari minggunya kita bergereja di GKPA Bungabondar, liat musiknya yang masih pake terompet yang gede, denger opung opung yang bernyanyi dengan cengkok pedesaan, terasa sekali yang masih tradionalnya, dan inilah komentarnya ardith ; orangsini kaya kaya ya pa.? oh.., rupanya dia melihat orang sana yang perempuan pada pake kebaya dan yang lakinya pada pake jas, inilah nikmatnya bergereja di hitaan, yang terbaik, yang mereka pake untuk menghadap Tuhan. contoh yang baik dan tentunya pantas untuk ditiru.
Tidak terasa sudah 5 hari kita ngendon di Bungabondar, kita sibuk dengan segala aktifitas disana, dan sibuk melihat aktifitas mereka disana.
Tgl 4 Juli 2009pagi, kita semua sudah bersiap untuk berangkat, gue udah mandi, udah ngopi dan udah seger rasanya nih badan, angetin mobil bentar, dah gitu parker yang pas untuk naikin perbekalan, tiba tiba Braaaak…! Mobil gue nabrak truk yang lagi parkir, gue bingung banget pada saat itu, kenape bisa begini ya..? akirnya gue berpikir positif aja saat itu, gue merasa pada saat perjalanan berangkat, gue terlalu percaya diri, nah., sekarang pada saat akan pulang, gue diingetin untuk lebih berhati hati dan lebih mawas diri. terima kasih Tuhan, terima kasih Tulang ., untuk pesannya, agar gue lebih careful.
Dari Bungabondar kita berangkat jam 8 pagi, berhenti sebentar untuk foto foto di lintas khatulistiwa di desa Bonjol, dah gitu berhenti lagi dipinggir jalan arah Rao, untuk makan duren, dah gitu berhenti yang rada lama di Bukittinggi, ceritanya begini ; waktu kemarin kita di Bukittinggi, kita semua udah pada pasang gaya yang wah., cari tempat dan pasangan yang pas untuk foto, eh., gak tau ceritanya gimana, semua foto foto itu pada terhapus di camera, jadi deh., kita balik lagi ke Bukittinggi hanya untuk foto dan hanya untuk foto, gak kurang kerjaan apa tuh..? kalau nginep lagi disana, udah beneran deh.,memang gak ada kerjaan, jadi selesai foto2, kita langsung tancap gas lagi dan nginepnya di Solok.
Di Solok, kita cuman numpang tidur aja, paginya langsung berangkat lagi, sampai di Muarabungo, bukannya langsung menuju Lubuklinggau, tapi kita belok kanan menuju arah Jambi, ini bener bener melintasi Sumatra, yang awalnya lewat jalur tengah, langsung pindah kearah jalur timur, rasanya cape banget lewat sini, sepanjang jalan,kiri kanannya hanya tanaman kelapa sawit , yah., jenuh, bosen, bĂȘte semua sama aja, sama sama artinya membosankan, sekitar 60 Km sebelum masuk Jambi, kita belok kanan dan menuju arah Palembang, disinipun sama aja, jalannya lurus, sepanjang jalan hujan, jalannya pun padat, di jalur inilah adik gue Bonny mengalami kecelakaan mobil pada tahun 1998, Bonny nya meninggal, teman seperjalanannya Sarpin gak apa apa, kecuali tulang ekornya yang rada bengkok. Mau masuk kota Palembang, gue gak tahan lagi, disinilah baru gantian bawa mobil sama Christ, dan barangkali ini juga pertama kalinya Christ bawa mobil ditanah Sumatra.
Di Palembang, kita nginep di hotel yang gue lupa namanya dan lupa juga nama jalannya, yang gue tau, ditengah kota, hotelnya juga masih baru, ini hotel cina, karena dibawahnya ada restoran cinanya,
Di Palembang kita ketemu dengan Samuel Sihombing, malah dia bawa pacarnya yang boru regar ke hotel, kita juga ketemu dengan Rudi Pangaribuan, dia cerita, kalau pacarnya sekarang orang batak juga, putri seorang praeses dari gereja methodis, dah gitu dia traktir kita makan sate ayam plus nasi goreng didepan hotel, nah., mereka ini adalah sahabat2 andre waktu kuliah di STAN, saat itu mereka kembali ketempat asal, sambil menunggu penempatan yang permanen.
Di Palembang kita nginep 2 hari, kita nikmati tempat2 wisata yang ada di Palembang, ada wisata perahu, kita diajak menyusuri sungai Musi dan mendarat di pulau kemarau, disana ada klenteng Cina yang sangat tua, banyak patung2 dewanya mereka, malah gue sempet berfoto dengan patung sun go kong, foto itulah yang gue pake sebagai profile picture di FB dan klenteng itu mempunyai sejarah panjang dan cerita panjang mengenai awal keberadaan dari masyarakat cina di Palembang, ada wisata sejarah, kita diajak masuk ke museum dan kuto benteng sepanjang sungai Musi, ada juga wisata kuliner, kita makan pindang ikan patin di perahu terapung, dan apapun wisata yang ada disana, semuanya selalu berhubungan dengan sungai Musi,
Waktu disana, kak Ida grup plus ardith diajak jalan dan ditraktir duren sama temen2nya dari Pelindo, kalau gue ama duma gak ikut dan nungguin di hotel aja sambil berdarling I love you, apaan sih tuh..?
Pulangnya kita lewat timur, dan nyobain jalan baru yang bisa langsung tembus di Bakahuni, rada jauh memang, tapi jalannya mulus dan sepi, kiri kanan jalan banyak tanaman tebu dan nanas, tengah malam kta sampai di Merak dan langsung gue tancap gas sendirian, karena para peserta sudah pada kecapean dan buntutnya pada tidur, kita sampai Bogor jam 2 pagi tgl 5 Juli 2009.
Inilah sejarah awal gue dengan Bungabondar :
Pertama kali kenal dan dengar nama Bungabondar sejak balita, sedangkan pertama kali menginjakkan kaki di Bungabondar pada bulan September thn 1988, pada saat itu mengantar jenazah mertua gue dari Jakarta,
Lama off tidak kesana, baru mulai lagi tahun 1993, tahun 1994 sebanyak 2 kali dan tahun 1995 kita horja, saat itu ipar gue Yunindra Siregar menikah dengan Br Matondang.
Lama lagi off tidak kesana, mulai lagi Februari 2004, pada saat pernikahan parumaen gue Debby di Sibolga dengan marga Hutabarat, Oktober 2004 gue balik lagi ke Bungabondar ama duma, andre, ardith dan ozzy, sehabis menghadiri pernikahan bere gue Astrid Hasibuan dengan Jans Siregar di Pekanbaru.
Agustus 2005 gue ke Bungabondar lagi sama Tulang Agus Siregar, habis menghadiri acara pemakaman nantulang gue di Ser Belawan Siantar.
September 2007 gue, duma,andre dan sahat ke Bungabondar, untuk menghadiri horja pernikahan anaknya Ipar gue, Gani Siregar dengan br, Harahap. Yang terakhir dan yang belum berakhir yah., Juli 2009 ini.
Ada juga sih yang bilang., “ elo kan bukan Harahap dari Bungabondar dom, tapi dari Payanggar, tapi ngapain sih sering sering datang kesana..? emangnya gue pikirin.
Bungabondar, akukan kembali…!
Bogor, Juli 2009
‘Juni - Juli 2009, saat liburan sekolah anak anak, gue dengan rombongan, yang terdiri
dari :
Gue : Domu Harahap
Istri gue : Duma R.SIregar
Anak bungsu gue : Ardith Yohanes Pardamean Harahap
Kakaknya istri : Nura IDA Siregar
Borunya kakak : Lanny ( Didin ) Batubara
Mantunya kakak : Christanto
2 cucunya kakak : Thomas dan Ica
Kita berangkat ber 8, naik mobil APV tahun 2008 , mobilnya sewa 200 ribu/hari, cukup sempit juga sih., orangnya banyak, bawaannya pun banyak, orang per Kg nya pun banyak, kalau gue yang penting mobilnya bagus dan masih baru, karena gue gak ngerti sedikitpun masalah mesin, kalau untuk ganti ban aja, gue bisalah.,
Kita berangkat tgl 26 Juni Jam 9 malam dari Bogor, yang nyetir sampai merak dan sampai masuk kekapal Christanto, sampai Bakauhuni jam setengah 2 pagi, dan sampai situ aja Christanto bawa mobil, untuk lanjutnya gue yang bawa, bukan apa apa sih., rasanya bawa mobil malam dengan perjalanan panjang, kondisi medan jalan, serta gaya nyetir sangat beda jauh dengan yang di Jawa, perlulah orang yang expert seperti gue, ih.., sok tau banget elo tuh.
Selama perjalanan kita lebih banyak makan di jalan, dan istirahatnya hanya pada saat isi bensin, istirahat benerannya kita di Muaraenim sekitar jam setengah 3 sore, disana kita mampir dan makan ikan patin di pindang, wah., enak banget, ada pedesnya, ada asemnya dan ada yang nambah melulu, istirahat 1 jam, kita lanjut lagi perjalanan, berhubung kita mau mengejar waktu dan jangan sampai jalan malam, sedangkan sampai di Lubuklinggau hari masih terang, mau tidur juga masih kecepatan, maka kejarlah waktu dengan menaikkan kecepatan mobil, untungnya juga, jalannya mulus dan lurus lurus aja, dipaculah mobil dengan kecepatan 120 Km/jam, mungkin karena takut, atau karena nikmatnya di mobil, ada yang berusaha tidur, ada yang makan antimo supaya tidur, ada juga yang pegang handel kuat kuat, yang gak ada, atau mungkin lupa, adalah bersenandung dengan lagu lagu rohani.
Jam setengah 8 kita nyampe di Bangko, cari pasar malamnya dan makan malamlah kita disana, selesai makan, carilah hotel dan tidurlah kita disana, hotelnya biasa biasa aja, yang penting ada AC nya, dan gak ada kecoa nya, karena Bangko ini adalah kabupaten baru, kabupaten pemekaran dari Propinsi Jambi, belum banyak hotelnya, tapi sudah banyak tamunya, yah., diterima ajalah, hotel yang biasa biasa ini, tapi dengan harga yang tidak biasa, mau lanjut ke Muarobungo udah malam, dah gitu badan inipun udah remuk redam dan matapun udah 5 watt, apa hendak mau dikata, terima sajalah..!
Bangun pagi, kita dapet sarapan roti dan kopi, jam 7 nya kita berangkat lagi dan sarapan yang benernya di Murabungo jam setengah 10, gue ama Chris ganti oli dulu, yang lainnya langsung masuk restoran, makannya bebek sambel hijau, nikmat dan enak, gak terasa padahal kita udah sarapan roti, gara gara nikmat itulah, makanya kita makan pada nambah, gara gara udah tradisi, kalau lewat danau singkarak kita mampir dan makan ikan cere, mampir dan makanlah kita disana, padahal sih.,perut belum pada lapar, nyeseknya.,tempat biasa kita mampir udah lupa, jadi yang penting dipinggir danau aja kita berhenti, tempatnya memang enak, makanannya itu yang gak enak, urusan mahal, itu memang gayanya orang sana, dan disanalah ardith pertama kali nyobain yang namanya teh telur, namanya juga ardith, yang aneh aneh pasti dia coba’in.
Sampai Bukittinggi jam 3 sore, puter puter cari hotel pada penuh, mau masuk ke Hotel Dymen mahal banget sekarang, untung aja udah penuh, jadi sedikit tidak bermalu mukalah, mau masuk hotel Bagindo juga penuh, akhirnya dapet hotel Ombun Sari, tempatnya sangat strategis, persis didepan jalan raya dan menghadap langsung dengan jam gadang, permalamnya 350 ribu, lumayan jugalah hotelnya, kamarnya bersih dan cukup lebar untuk tidur rame2, pembagian kamarnya menurut jenis kelamin masing masing, jadi cukup 2 kamar dengan masing masing kamar 4 orang.
Sore ini di Bukittinggi kita jalan jalan di sekitar jam gadang, anak anak pada naik delman ngiterin jam gadang, gue ke pasar beli cassette Edy Silitonga dan denger lagu anakku na burju, tapi pake bahasa padang, dah gitu liat liat dagangan kaki 5, dan harap maklum., di Jawa aja mereka berani bermain, gimana juga kalau dikandangnya.
Makan malamnya kita makan nasi kapau, dan semua makanan di Bukittinggi memang kapau, karena disini daerahnya kapau, yah., wajar wajar ajalah. Malam ini gue dapet telpon dari Natal, ngasih tau kalau SPBU nya akan launching pada tgl 1 Juli 2009, ok deh ‘Tal., selamat selamat aja ya, semoga sukses, sorry gue gak bisa hadir, gue lagi overland ke Bungabondar nih.,
Besoknya pagi pagi banget kita udah pada ke gua jepang,ke ngarai sianok, kebon binatang dan benteng Fort de kock, gak tau ada setan beliung dari mana, selama disana gue berantem melulu ama duma, yang urusan nyetir deh, yang urusan kopi deh, pokoknya sekecil apapun masalah, pasti jadi debat mulut, kenapa ya ‘ma..?
Berhubung kita mengejar target ini malam sudah harus masuk Bungabondar, terpaksa gue harus cerewet untuk segera selesai yang berfoto foto dengan pemandangan dan monyet2 disana, jam 11 siang kita lepas landas dari Bukittinggi dan perjalanan dilanjutkan.
Selama perjalanan dari Bukittinggi ke Lubuksikaping, bener 2 mengesankan, jalannya naik turun dan berkelok kelok 1000, setir baru diputar kekiri, sudah harus dibalikkin lagi kekanan, kanannya tebing, kirinya jurang, dijalanan itu gue jalan antara 60 sampai 80 Km/jam, Christanto yang duduk didepan, tadinya gue pikir nikmatin jalan tsb, eh.., gak taunya dia lagi pucat pucat sambil komat kamit berdoa, wah., gue gak tau Chris, bilang bilang dong kalau gue larinya kecepetan.
Di Lubuksikaping kita istirahat dan makan siang, menu favorit restoran tsb ayam pop, memang enak dan nikmat dilahap, ardithpun yang menu favoritnya banyak, yang salah 1 nya ayam pop, tidak men sia sia kan kesempatan ini, nambah dan nambah lagi, rasanya selama perjalanan ini, urusan dengan makanan jadi nomer 1 deh., biaya makan tinggi banget euy..! tapi yang sangat berkesan dan selalu terkenang dengan restoran ini adalah, gue ama duma baikkan, setidaknya disini kita cease fire dulu. Ah masa sih..?
Dari Lubuksikaping ini, kita tancap langsung ke Bungabondar, hanya berhenti sebentar di kota Padangsidempuan untuk beli roti, inipun juga tradisi keluarga, belum ke Sidempuan rasanya, kalau belum beli roti disana.
Sampai di Bungabondar kita jam 9 malam, disana sudah ada ‘Bang Tunggal dan kak Pita yang datang dari Sidempuan, ada Hanni dan anaknya jacki, yang datang dari Taluk Kuantan Riau, gak menunggu lama, langsung pecahlah keheningan malam itu, mereka saling baku peluk, mereka saling cipika cipiki, mereka saling berceloteh dengan riangnya, kitapun yang mendengar hanya bisa melongo dongo aja.
Setelah selesai seremoni yang bersaudara itu, dan tanpa menunggu matahari kan bersinar lagi, berangkatlah kita ke kuburan Amang simatua gue, dan terjadi kembali hal hal yang seremonial, ada isak tangis dengan berbagai nada, ada olah tubuh dengan berbagai gaya, tinggal kita para penonton terpesona melihat tingkah sukacita mereka.
Di Bungabondar kita tinggal selama 5 hari, dan ada aja yang bilang : Ngapain sih., elo sering sering dan lama lama disana, apa gak bĂȘte..? kalau gue sih., enggak tuh, malah kalau cuman 5 hari, kayanya kecepetannya deh.,
Dan inilah sebagian kegiatan gue selama disana :
1. ikut ikutan ngebantuin bersih bersih dan ngapur kuburan mertua
2. mampir kerumah parsadaan opung dan mengunjungi saudara2 Harahap
3. mampir kerumahnya opung ni Marsan, nah., ini opung gue dari mama
3. Liat liat dan bersih2in kuburan opungnya bapak gue ( Kilian Harahap )
4. Liat liat dan bersih2in kuburan opungnya mama gue ( Sutan Malayu Srg )
Nah., inilah yg wajib, dan wajib dikunjungi pada hari pertama di Bungabondar.
Kalau di Bungabondar gue belum pernah tidur dirumah parsadaannya Harahap, biasanya gue tidur di rumah parsadaannya opung dari istri gue (Opung Hasiholan Siregar ), bukannya apa apa sih., masalahnya ada keluarga yang tinggal yang di tempat itu dan gue belum paham hubungannya dengan opung gue, kalau ditempat istri gue, rumahnya kosong, bersih, besar dan terus dirawat dengan baik, itu aja alasannya sih.,
Saat di Bungabondar, gue diajak ngeliat ama Dollah Harahap ke ladangnya opung didekat danau marsabut, letaknya persis berdampingan dengan parsulukkannya Raja Inal Siregar, tanahnya cukup luas sekitar 5000 mtr, tapi gak ada pohon pohon besar, yang ada hanya tanaman2 kecil aja, pohon besar ada hanya sebagai pembatas tanah dengan kepemilikkan orang lain, saat gue masuk ke ladang itu, rupanya ada sebagian lahan yang sudah dirambah oleh masyarakat sana dan ditanami kopi, tapi konsekwen juga mereka itu, saat gue datang , mereka minta maaf dan langsung menawarkan diri, untuk minta tanah itu disewa atau mereka beli sebagian tanah yang sudah mereka tanami, saat itu gue gak komentar, gue berfikir, yang penting mereka tau dan sadar aja,kalau tanah yang mereka tanam itu adalah tanah Harahap Jakarta. oh iya.., gue kesana naik mobil double garden barengan sama Ja Gomuk Siregar, katanya dia temen sekolah mami dan die kenal persis dengan mami, jadi bukan hanya sekedar tau dengan mami, dia juga cerita, kalau die itu punya punya peliharaan ular putih di bukit danau marsabut, katanya ular tsb gak pernah cari makan, kalau dia mau makan, mangsanya pada datang sendiri, dan ularnya baru keluar dari gua, kalau dia yang datang , bener gak sih..?
Dari sana, gue diajak lagi kesawahnya Harahap, letaknya dipinggir jalan sebelah kanan dari arah Hasang menuju pintu masuk Bungabondar, sawah itu membentang dari pinggir jalan sampai kearah bukit yang ditanami havea, areal itu dikenal dengan nama pancur pinagar, karena memang ditengahnya ada air pancuran, nah., kepemilikkan dari sawah ini yang sampai sekarang gue masih bingung, ada berbagai macam cerita tentang ini, ada versi katanya. Sudah dijual sama papi, tapi sebagian belum dibayar, ada versi lainnya, sudah dibeli oleh Harahap lain, tapi belum dibayar, ada juga versi yang sedikit kocak, pada saat terakhir papi datang ke Bungabondar, sawah tsb dibagikan papi kepada saudara2nya Harahap disana sebagai ingot ingot, bener gak sih..?
Tapi yang jelas, setiap gue kesana, pasti dikasih 1 karung beras, inipun gue ikut bingung juga, apa pemberian ini sebagai pengakuan, bahwa sawah yang mereka tanami adalah sawah opung gue, dan rumah yang mereka tinggalin di kampung arab itu, juga rumah opung gue, atau pemberian tsb sebagai tanda kita bersaudara dan inilah cendera mata dari mereka..?
Kalau cerita tentang ardith lain lagi, saat diajak ke tempat2 itu,dia bangganya bukan main, dia foto sini,foto sana, belusuk2 dia mengelilingi ladang dan sawah, di mobil maunya duduk di bak belakang, persis kaya cowboy yang kehilangan kudanya, waktu mau pulang sempet2nya dia ngantongin segumpal tanah ladang, katanya untuk kenang kenangan, waktu sampai rumah, dengan bangganya dia cerita ke andre, “ hebat lho ‘Bang., kita di Bungabondar punya tanah yang luas dan indah, dan sangat cocok untuk bikin Mall, he..he..he.., ardith memang selalu punya gaya deh..!
Kepalang tanggung, gue cerita apa adanya disini deh.,
Cerita papi dan dari cerita keluarga Harahap yang lain mengenai rumah, ladang dan sawah di Bungabondar itu begini ;
Sesudah semua opung tinggal dan menetap di Jakarta, hanya namborunya papi ( gue manggilnya Angkang Joti ) yang tinggal di Bungabondar, Angkang ini katanya tidak mempunyai anak laki, hanya punya anak perempuan, sehingga semua pengurusan, penguasaan dan keberadaan hartanya opung dibawah kendali Angkang, borunya dan mantunya, sesudah Angkang ini meninggal, tercerai berailah keberadaan hartanya opung tsb, belum lagi 1 sama lainnya saling sikut menyikut termasuk untuk tinggal dirumah tsb, akhirnya papi menunjuk uda Manan Harahap yang tadinya tinggal didekat pancuran, untuk menempati rumah tsb, itupun bukannya tidak ada tantangan dari yang lain, tapi papi bersikeras harus Harahap yang tinggal dirumah itu, dan sampai saat ini masih uda Manan Harahap beserta turunannya yang tinggal disana, yang penting untuk kami, mereka mengakui itu rumah kami, gak luculah., kalau gue ngaku orang Bungabondar, tapi gak punya rumah disana.
Waktu disana, gue ama ardith diajak Tulang Effendi Siregar ( mantri dan pemilik apotik di Sipirok ) ke Bungabondar pada masa jaman batu, lokasinya didepan SD negeri Bungabondar, disana ada patung batu gambar kodok, ada gambar gajah dan banyak pula batu batu yang sudah terbelah belah berantakkan, sebenarnya lokasi tsb sudah diberi pagar pembatas pada saat Raja Inal Jadi Gubernur Sumut, sesudah gubernurnya gak menjabat, apalagi juga sudah gak ada, sudah selesai juga lokasi tsb, sekarang ini tinggal bebatuan yang hancur dan padang rumput mini di sekitarnya. Sangat disayangkan,tapi begitulah kita., bisa membangun, tapi gak bisa merawat.
Waktu disana, gue dapet telpon dari bere gue yang namanya Coco, dia minta , supaya gue nyari kahangginya di Sipogu ( mungkin ini udah masuk kecamatan Arse ) namanya Washinton Hasibuan, nah., kesanalah gue ama duma, jalannya cukup jauh dan yang melelahkan, jalannya jelek banget, Hasibuan itu, adalah kahanggi dari Ipar gue Saner Hasibuan, dia suami dari kak Esther Harahap.
Waktu disana, gue nyari sobat lama gue di Jakarta, namanya Dolok Siregar . dulu dia pedagang piano, pemimpin paduan suara dan pengurus sekolah musik di Cinere, sekarang dia menjadi petani sayuran, drastis sekali perubahan ini, tapi barangkali inilah namanya kehidupan, kadang kita tidak dapat memilih, seperti kebiasaan gue sebagai pedagang, gak pernah gue pergi tanpa membawa produk pestisida gue, uji cobalah disana untuk tanaman sayuran dan coklat, hasilnya sangat memuaskan dan harusnya menjanjikan, tapi jangan lupa ‘bung ini Bungabondar, mereka punya cerita dan gayanya sendiri.
Waktu disana, gue ke pasar sipirok, rencananya mau nyari disc lagu lagu dan kesenian angkola mandailing, sayangnya yang gue dapet lagu lagu dangdut dengan bahasa mandailing, waktu disana, kita ke aek milas di padangbujur dan sekalian tengok tengok ke SMA plusnya Sipirok, tempatnya bagus, dengan ketinggiannya kita bisa melihat pemandangan kota Sipirok, waktu disana, nikmat kalau kita kongkow di warung kopi simpang 4 Bungabondar, bisa pagi, bisa sore, mau malempun masih ada aja yang nongkrong disana, mau main joker atau capsa..? jangan tanyalah, banyak biang biangnya disana, 24 jam terbuka untuk umum.
Waktu disana, kita ketemu dengan ipar Lintong Siregar, dulu dia preman di grogol Jakarta, sekarang berubah jadi raja adat Bungabondar, kayanya yang pada pulang ke Bungabondar jadi pada berubah drastis deh.,
Waktu disana, kita menjenguk ipar Basauli Siregar, tinggalnya persis didepan mesjid raya Padangsidempuan, saat ini penyakit asmanya sudah cukup kronis, makanya ipar ini sudah sering keluar masik rumah sakit, saat bertemu dengan anaknya Gani Siregar ( karena dia manggil gue amangboru, jadi deh., gue manggil die tulang ), die nanyain titipannya , yah., gue kasih deh., pestisida gue 1 botol besar, “ lho..koq cuman 1 amangboru, yah gue tambahin 1 botol lagi, lalu bersabdalah beliau “ obatnya amangboru bagus, tanaman coklat saya sekarang tidak ada hama dan tanamannya subur “ yah., gitulah dan hanya sebatas itu aja kelanjutannya, cumannya masih ada pesannya terakhir ; kalau kesini lagi, jangan lupa bawain obatnya lagi ya amangboru..?
Waktu disana, ardith ,thomas dan jacki mancing ikan dikolamnya tulang Effendi, kolamnya pas disebelah belakang rumah, wah., semangat banget mereka yang pada mancing, malah ditawarkan ama tulang, kalau gak puas dapet dari hasil mancing, kuras aja kolamnya, saat selesai mancing, dari hasilnya, ketahuan dari tingkat jauh tidak mereka tinggal dari kota, yang pertama dan yang dapet gede gede adalah jacki, yang kedua adalah Thomas dan ardith juru kunci. Kalau gue saat itu, hanya ngawasin aja, takutnya ada yang kecemplung ke kolam.
Waktu disana, gak lupa hari minggunya kita bergereja di GKPA Bungabondar, liat musiknya yang masih pake terompet yang gede, denger opung opung yang bernyanyi dengan cengkok pedesaan, terasa sekali yang masih tradionalnya, dan inilah komentarnya ardith ; orangsini kaya kaya ya pa.? oh.., rupanya dia melihat orang sana yang perempuan pada pake kebaya dan yang lakinya pada pake jas, inilah nikmatnya bergereja di hitaan, yang terbaik, yang mereka pake untuk menghadap Tuhan. contoh yang baik dan tentunya pantas untuk ditiru.
Tidak terasa sudah 5 hari kita ngendon di Bungabondar, kita sibuk dengan segala aktifitas disana, dan sibuk melihat aktifitas mereka disana.
Tgl 4 Juli 2009pagi, kita semua sudah bersiap untuk berangkat, gue udah mandi, udah ngopi dan udah seger rasanya nih badan, angetin mobil bentar, dah gitu parker yang pas untuk naikin perbekalan, tiba tiba Braaaak…! Mobil gue nabrak truk yang lagi parkir, gue bingung banget pada saat itu, kenape bisa begini ya..? akirnya gue berpikir positif aja saat itu, gue merasa pada saat perjalanan berangkat, gue terlalu percaya diri, nah., sekarang pada saat akan pulang, gue diingetin untuk lebih berhati hati dan lebih mawas diri. terima kasih Tuhan, terima kasih Tulang ., untuk pesannya, agar gue lebih careful.
Dari Bungabondar kita berangkat jam 8 pagi, berhenti sebentar untuk foto foto di lintas khatulistiwa di desa Bonjol, dah gitu berhenti lagi dipinggir jalan arah Rao, untuk makan duren, dah gitu berhenti yang rada lama di Bukittinggi, ceritanya begini ; waktu kemarin kita di Bukittinggi, kita semua udah pada pasang gaya yang wah., cari tempat dan pasangan yang pas untuk foto, eh., gak tau ceritanya gimana, semua foto foto itu pada terhapus di camera, jadi deh., kita balik lagi ke Bukittinggi hanya untuk foto dan hanya untuk foto, gak kurang kerjaan apa tuh..? kalau nginep lagi disana, udah beneran deh.,memang gak ada kerjaan, jadi selesai foto2, kita langsung tancap gas lagi dan nginepnya di Solok.
Di Solok, kita cuman numpang tidur aja, paginya langsung berangkat lagi, sampai di Muarabungo, bukannya langsung menuju Lubuklinggau, tapi kita belok kanan menuju arah Jambi, ini bener bener melintasi Sumatra, yang awalnya lewat jalur tengah, langsung pindah kearah jalur timur, rasanya cape banget lewat sini, sepanjang jalan,kiri kanannya hanya tanaman kelapa sawit , yah., jenuh, bosen, bĂȘte semua sama aja, sama sama artinya membosankan, sekitar 60 Km sebelum masuk Jambi, kita belok kanan dan menuju arah Palembang, disinipun sama aja, jalannya lurus, sepanjang jalan hujan, jalannya pun padat, di jalur inilah adik gue Bonny mengalami kecelakaan mobil pada tahun 1998, Bonny nya meninggal, teman seperjalanannya Sarpin gak apa apa, kecuali tulang ekornya yang rada bengkok. Mau masuk kota Palembang, gue gak tahan lagi, disinilah baru gantian bawa mobil sama Christ, dan barangkali ini juga pertama kalinya Christ bawa mobil ditanah Sumatra.
Di Palembang, kita nginep di hotel yang gue lupa namanya dan lupa juga nama jalannya, yang gue tau, ditengah kota, hotelnya juga masih baru, ini hotel cina, karena dibawahnya ada restoran cinanya,
Di Palembang kita ketemu dengan Samuel Sihombing, malah dia bawa pacarnya yang boru regar ke hotel, kita juga ketemu dengan Rudi Pangaribuan, dia cerita, kalau pacarnya sekarang orang batak juga, putri seorang praeses dari gereja methodis, dah gitu dia traktir kita makan sate ayam plus nasi goreng didepan hotel, nah., mereka ini adalah sahabat2 andre waktu kuliah di STAN, saat itu mereka kembali ketempat asal, sambil menunggu penempatan yang permanen.
Di Palembang kita nginep 2 hari, kita nikmati tempat2 wisata yang ada di Palembang, ada wisata perahu, kita diajak menyusuri sungai Musi dan mendarat di pulau kemarau, disana ada klenteng Cina yang sangat tua, banyak patung2 dewanya mereka, malah gue sempet berfoto dengan patung sun go kong, foto itulah yang gue pake sebagai profile picture di FB dan klenteng itu mempunyai sejarah panjang dan cerita panjang mengenai awal keberadaan dari masyarakat cina di Palembang, ada wisata sejarah, kita diajak masuk ke museum dan kuto benteng sepanjang sungai Musi, ada juga wisata kuliner, kita makan pindang ikan patin di perahu terapung, dan apapun wisata yang ada disana, semuanya selalu berhubungan dengan sungai Musi,
Waktu disana, kak Ida grup plus ardith diajak jalan dan ditraktir duren sama temen2nya dari Pelindo, kalau gue ama duma gak ikut dan nungguin di hotel aja sambil berdarling I love you, apaan sih tuh..?
Pulangnya kita lewat timur, dan nyobain jalan baru yang bisa langsung tembus di Bakahuni, rada jauh memang, tapi jalannya mulus dan sepi, kiri kanan jalan banyak tanaman tebu dan nanas, tengah malam kta sampai di Merak dan langsung gue tancap gas sendirian, karena para peserta sudah pada kecapean dan buntutnya pada tidur, kita sampai Bogor jam 2 pagi tgl 5 Juli 2009.
Inilah sejarah awal gue dengan Bungabondar :
Pertama kali kenal dan dengar nama Bungabondar sejak balita, sedangkan pertama kali menginjakkan kaki di Bungabondar pada bulan September thn 1988, pada saat itu mengantar jenazah mertua gue dari Jakarta,
Lama off tidak kesana, baru mulai lagi tahun 1993, tahun 1994 sebanyak 2 kali dan tahun 1995 kita horja, saat itu ipar gue Yunindra Siregar menikah dengan Br Matondang.
Lama lagi off tidak kesana, mulai lagi Februari 2004, pada saat pernikahan parumaen gue Debby di Sibolga dengan marga Hutabarat, Oktober 2004 gue balik lagi ke Bungabondar ama duma, andre, ardith dan ozzy, sehabis menghadiri pernikahan bere gue Astrid Hasibuan dengan Jans Siregar di Pekanbaru.
Agustus 2005 gue ke Bungabondar lagi sama Tulang Agus Siregar, habis menghadiri acara pemakaman nantulang gue di Ser Belawan Siantar.
September 2007 gue, duma,andre dan sahat ke Bungabondar, untuk menghadiri horja pernikahan anaknya Ipar gue, Gani Siregar dengan br, Harahap. Yang terakhir dan yang belum berakhir yah., Juli 2009 ini.
Ada juga sih yang bilang., “ elo kan bukan Harahap dari Bungabondar dom, tapi dari Payanggar, tapi ngapain sih sering sering datang kesana..? emangnya gue pikirin.
Bungabondar, akukan kembali…!
Bogor, Juli 2009
Langganan:
Postingan (Atom)
