BUNGABONDAR, akukan kembali ..!
‘Juni - Juli 2009, saat liburan sekolah anak anak, gue dengan rombongan, yang terdiri
dari :
Gue : Domu Harahap
Istri gue : Duma R.SIregar
Anak bungsu gue : Ardith Yohanes Pardamean Harahap
Kakaknya istri : Nura IDA Siregar
Borunya kakak : Lanny ( Didin ) Batubara
Mantunya kakak : Christanto
2 cucunya kakak : Thomas dan Ica
Kita berangkat ber 8, naik mobil APV tahun 2008 , mobilnya sewa 200 ribu/hari, cukup sempit juga sih., orangnya banyak, bawaannya pun banyak, orang per Kg nya pun banyak, kalau gue yang penting mobilnya bagus dan masih baru, karena gue gak ngerti sedikitpun masalah mesin, kalau untuk ganti ban aja, gue bisalah.,
Kita berangkat tgl 26 Juni Jam 9 malam dari Bogor, yang nyetir sampai merak dan sampai masuk kekapal Christanto, sampai Bakauhuni jam setengah 2 pagi, dan sampai situ aja Christanto bawa mobil, untuk lanjutnya gue yang bawa, bukan apa apa sih., rasanya bawa mobil malam dengan perjalanan panjang, kondisi medan jalan, serta gaya nyetir sangat beda jauh dengan yang di Jawa, perlulah orang yang expert seperti gue, ih.., sok tau banget elo tuh.
Selama perjalanan kita lebih banyak makan di jalan, dan istirahatnya hanya pada saat isi bensin, istirahat benerannya kita di Muaraenim sekitar jam setengah 3 sore, disana kita mampir dan makan ikan patin di pindang, wah., enak banget, ada pedesnya, ada asemnya dan ada yang nambah melulu, istirahat 1 jam, kita lanjut lagi perjalanan, berhubung kita mau mengejar waktu dan jangan sampai jalan malam, sedangkan sampai di Lubuklinggau hari masih terang, mau tidur juga masih kecepatan, maka kejarlah waktu dengan menaikkan kecepatan mobil, untungnya juga, jalannya mulus dan lurus lurus aja, dipaculah mobil dengan kecepatan 120 Km/jam, mungkin karena takut, atau karena nikmatnya di mobil, ada yang berusaha tidur, ada yang makan antimo supaya tidur, ada juga yang pegang handel kuat kuat, yang gak ada, atau mungkin lupa, adalah bersenandung dengan lagu lagu rohani.
Jam setengah 8 kita nyampe di Bangko, cari pasar malamnya dan makan malamlah kita disana, selesai makan, carilah hotel dan tidurlah kita disana, hotelnya biasa biasa aja, yang penting ada AC nya, dan gak ada kecoa nya, karena Bangko ini adalah kabupaten baru, kabupaten pemekaran dari Propinsi Jambi, belum banyak hotelnya, tapi sudah banyak tamunya, yah., diterima ajalah, hotel yang biasa biasa ini, tapi dengan harga yang tidak biasa, mau lanjut ke Muarobungo udah malam, dah gitu badan inipun udah remuk redam dan matapun udah 5 watt, apa hendak mau dikata, terima sajalah..!
Bangun pagi, kita dapet sarapan roti dan kopi, jam 7 nya kita berangkat lagi dan sarapan yang benernya di Murabungo jam setengah 10, gue ama Chris ganti oli dulu, yang lainnya langsung masuk restoran, makannya bebek sambel hijau, nikmat dan enak, gak terasa padahal kita udah sarapan roti, gara gara nikmat itulah, makanya kita makan pada nambah, gara gara udah tradisi, kalau lewat danau singkarak kita mampir dan makan ikan cere, mampir dan makanlah kita disana, padahal sih.,perut belum pada lapar, nyeseknya.,tempat biasa kita mampir udah lupa, jadi yang penting dipinggir danau aja kita berhenti, tempatnya memang enak, makanannya itu yang gak enak, urusan mahal, itu memang gayanya orang sana, dan disanalah ardith pertama kali nyobain yang namanya teh telur, namanya juga ardith, yang aneh aneh pasti dia coba’in.
Sampai Bukittinggi jam 3 sore, puter puter cari hotel pada penuh, mau masuk ke Hotel Dymen mahal banget sekarang, untung aja udah penuh, jadi sedikit tidak bermalu mukalah, mau masuk hotel Bagindo juga penuh, akhirnya dapet hotel Ombun Sari, tempatnya sangat strategis, persis didepan jalan raya dan menghadap langsung dengan jam gadang, permalamnya 350 ribu, lumayan jugalah hotelnya, kamarnya bersih dan cukup lebar untuk tidur rame2, pembagian kamarnya menurut jenis kelamin masing masing, jadi cukup 2 kamar dengan masing masing kamar 4 orang.
Sore ini di Bukittinggi kita jalan jalan di sekitar jam gadang, anak anak pada naik delman ngiterin jam gadang, gue ke pasar beli cassette Edy Silitonga dan denger lagu anakku na burju, tapi pake bahasa padang, dah gitu liat liat dagangan kaki 5, dan harap maklum., di Jawa aja mereka berani bermain, gimana juga kalau dikandangnya.
Makan malamnya kita makan nasi kapau, dan semua makanan di Bukittinggi memang kapau, karena disini daerahnya kapau, yah., wajar wajar ajalah. Malam ini gue dapet telpon dari Natal, ngasih tau kalau SPBU nya akan launching pada tgl 1 Juli 2009, ok deh ‘Tal., selamat selamat aja ya, semoga sukses, sorry gue gak bisa hadir, gue lagi overland ke Bungabondar nih.,
Besoknya pagi pagi banget kita udah pada ke gua jepang,ke ngarai sianok, kebon binatang dan benteng Fort de kock, gak tau ada setan beliung dari mana, selama disana gue berantem melulu ama duma, yang urusan nyetir deh, yang urusan kopi deh, pokoknya sekecil apapun masalah, pasti jadi debat mulut, kenapa ya ‘ma..?
Berhubung kita mengejar target ini malam sudah harus masuk Bungabondar, terpaksa gue harus cerewet untuk segera selesai yang berfoto foto dengan pemandangan dan monyet2 disana, jam 11 siang kita lepas landas dari Bukittinggi dan perjalanan dilanjutkan.
Selama perjalanan dari Bukittinggi ke Lubuksikaping, bener 2 mengesankan, jalannya naik turun dan berkelok kelok 1000, setir baru diputar kekiri, sudah harus dibalikkin lagi kekanan, kanannya tebing, kirinya jurang, dijalanan itu gue jalan antara 60 sampai 80 Km/jam, Christanto yang duduk didepan, tadinya gue pikir nikmatin jalan tsb, eh.., gak taunya dia lagi pucat pucat sambil komat kamit berdoa, wah., gue gak tau Chris, bilang bilang dong kalau gue larinya kecepetan.
Di Lubuksikaping kita istirahat dan makan siang, menu favorit restoran tsb ayam pop, memang enak dan nikmat dilahap, ardithpun yang menu favoritnya banyak, yang salah 1 nya ayam pop, tidak men sia sia kan kesempatan ini, nambah dan nambah lagi, rasanya selama perjalanan ini, urusan dengan makanan jadi nomer 1 deh., biaya makan tinggi banget euy..! tapi yang sangat berkesan dan selalu terkenang dengan restoran ini adalah, gue ama duma baikkan, setidaknya disini kita cease fire dulu. Ah masa sih..?
Dari Lubuksikaping ini, kita tancap langsung ke Bungabondar, hanya berhenti sebentar di kota Padangsidempuan untuk beli roti, inipun juga tradisi keluarga, belum ke Sidempuan rasanya, kalau belum beli roti disana.
Sampai di Bungabondar kita jam 9 malam, disana sudah ada ‘Bang Tunggal dan kak Pita yang datang dari Sidempuan, ada Hanni dan anaknya jacki, yang datang dari Taluk Kuantan Riau, gak menunggu lama, langsung pecahlah keheningan malam itu, mereka saling baku peluk, mereka saling cipika cipiki, mereka saling berceloteh dengan riangnya, kitapun yang mendengar hanya bisa melongo dongo aja.
Setelah selesai seremoni yang bersaudara itu, dan tanpa menunggu matahari kan bersinar lagi, berangkatlah kita ke kuburan Amang simatua gue, dan terjadi kembali hal hal yang seremonial, ada isak tangis dengan berbagai nada, ada olah tubuh dengan berbagai gaya, tinggal kita para penonton terpesona melihat tingkah sukacita mereka.
Di Bungabondar kita tinggal selama 5 hari, dan ada aja yang bilang : Ngapain sih., elo sering sering dan lama lama disana, apa gak bête..? kalau gue sih., enggak tuh, malah kalau cuman 5 hari, kayanya kecepetannya deh.,
Dan inilah sebagian kegiatan gue selama disana :
1. ikut ikutan ngebantuin bersih bersih dan ngapur kuburan mertua
2. mampir kerumah parsadaan opung dan mengunjungi saudara2 Harahap
3. mampir kerumahnya opung ni Marsan, nah., ini opung gue dari mama
3. Liat liat dan bersih2in kuburan opungnya bapak gue ( Kilian Harahap )
4. Liat liat dan bersih2in kuburan opungnya mama gue ( Sutan Malayu Srg )
Nah., inilah yg wajib, dan wajib dikunjungi pada hari pertama di Bungabondar.
Kalau di Bungabondar gue belum pernah tidur dirumah parsadaannya Harahap, biasanya gue tidur di rumah parsadaannya opung dari istri gue (Opung Hasiholan Siregar ), bukannya apa apa sih., masalahnya ada keluarga yang tinggal yang di tempat itu dan gue belum paham hubungannya dengan opung gue, kalau ditempat istri gue, rumahnya kosong, bersih, besar dan terus dirawat dengan baik, itu aja alasannya sih.,
Saat di Bungabondar, gue diajak ngeliat ama Dollah Harahap ke ladangnya opung didekat danau marsabut, letaknya persis berdampingan dengan parsulukkannya Raja Inal Siregar, tanahnya cukup luas sekitar 5000 mtr, tapi gak ada pohon pohon besar, yang ada hanya tanaman2 kecil aja, pohon besar ada hanya sebagai pembatas tanah dengan kepemilikkan orang lain, saat gue masuk ke ladang itu, rupanya ada sebagian lahan yang sudah dirambah oleh masyarakat sana dan ditanami kopi, tapi konsekwen juga mereka itu, saat gue datang , mereka minta maaf dan langsung menawarkan diri, untuk minta tanah itu disewa atau mereka beli sebagian tanah yang sudah mereka tanami, saat itu gue gak komentar, gue berfikir, yang penting mereka tau dan sadar aja,kalau tanah yang mereka tanam itu adalah tanah Harahap Jakarta. oh iya.., gue kesana naik mobil double garden barengan sama Ja Gomuk Siregar, katanya dia temen sekolah mami dan die kenal persis dengan mami, jadi bukan hanya sekedar tau dengan mami, dia juga cerita, kalau die itu punya punya peliharaan ular putih di bukit danau marsabut, katanya ular tsb gak pernah cari makan, kalau dia mau makan, mangsanya pada datang sendiri, dan ularnya baru keluar dari gua, kalau dia yang datang , bener gak sih..?
Dari sana, gue diajak lagi kesawahnya Harahap, letaknya dipinggir jalan sebelah kanan dari arah Hasang menuju pintu masuk Bungabondar, sawah itu membentang dari pinggir jalan sampai kearah bukit yang ditanami havea, areal itu dikenal dengan nama pancur pinagar, karena memang ditengahnya ada air pancuran, nah., kepemilikkan dari sawah ini yang sampai sekarang gue masih bingung, ada berbagai macam cerita tentang ini, ada versi katanya. Sudah dijual sama papi, tapi sebagian belum dibayar, ada versi lainnya, sudah dibeli oleh Harahap lain, tapi belum dibayar, ada juga versi yang sedikit kocak, pada saat terakhir papi datang ke Bungabondar, sawah tsb dibagikan papi kepada saudara2nya Harahap disana sebagai ingot ingot, bener gak sih..?
Tapi yang jelas, setiap gue kesana, pasti dikasih 1 karung beras, inipun gue ikut bingung juga, apa pemberian ini sebagai pengakuan, bahwa sawah yang mereka tanami adalah sawah opung gue, dan rumah yang mereka tinggalin di kampung arab itu, juga rumah opung gue, atau pemberian tsb sebagai tanda kita bersaudara dan inilah cendera mata dari mereka..?
Kalau cerita tentang ardith lain lagi, saat diajak ke tempat2 itu,dia bangganya bukan main, dia foto sini,foto sana, belusuk2 dia mengelilingi ladang dan sawah, di mobil maunya duduk di bak belakang, persis kaya cowboy yang kehilangan kudanya, waktu mau pulang sempet2nya dia ngantongin segumpal tanah ladang, katanya untuk kenang kenangan, waktu sampai rumah, dengan bangganya dia cerita ke andre, “ hebat lho ‘Bang., kita di Bungabondar punya tanah yang luas dan indah, dan sangat cocok untuk bikin Mall, he..he..he.., ardith memang selalu punya gaya deh..!
Kepalang tanggung, gue cerita apa adanya disini deh.,
Cerita papi dan dari cerita keluarga Harahap yang lain mengenai rumah, ladang dan sawah di Bungabondar itu begini ;
Sesudah semua opung tinggal dan menetap di Jakarta, hanya namborunya papi ( gue manggilnya Angkang Joti ) yang tinggal di Bungabondar, Angkang ini katanya tidak mempunyai anak laki, hanya punya anak perempuan, sehingga semua pengurusan, penguasaan dan keberadaan hartanya opung dibawah kendali Angkang, borunya dan mantunya, sesudah Angkang ini meninggal, tercerai berailah keberadaan hartanya opung tsb, belum lagi 1 sama lainnya saling sikut menyikut termasuk untuk tinggal dirumah tsb, akhirnya papi menunjuk uda Manan Harahap yang tadinya tinggal didekat pancuran, untuk menempati rumah tsb, itupun bukannya tidak ada tantangan dari yang lain, tapi papi bersikeras harus Harahap yang tinggal dirumah itu, dan sampai saat ini masih uda Manan Harahap beserta turunannya yang tinggal disana, yang penting untuk kami, mereka mengakui itu rumah kami, gak luculah., kalau gue ngaku orang Bungabondar, tapi gak punya rumah disana.
Waktu disana, gue ama ardith diajak Tulang Effendi Siregar ( mantri dan pemilik apotik di Sipirok ) ke Bungabondar pada masa jaman batu, lokasinya didepan SD negeri Bungabondar, disana ada patung batu gambar kodok, ada gambar gajah dan banyak pula batu batu yang sudah terbelah belah berantakkan, sebenarnya lokasi tsb sudah diberi pagar pembatas pada saat Raja Inal Jadi Gubernur Sumut, sesudah gubernurnya gak menjabat, apalagi juga sudah gak ada, sudah selesai juga lokasi tsb, sekarang ini tinggal bebatuan yang hancur dan padang rumput mini di sekitarnya. Sangat disayangkan,tapi begitulah kita., bisa membangun, tapi gak bisa merawat.
Waktu disana, gue dapet telpon dari bere gue yang namanya Coco, dia minta , supaya gue nyari kahangginya di Sipogu ( mungkin ini udah masuk kecamatan Arse ) namanya Washinton Hasibuan, nah., kesanalah gue ama duma, jalannya cukup jauh dan yang melelahkan, jalannya jelek banget, Hasibuan itu, adalah kahanggi dari Ipar gue Saner Hasibuan, dia suami dari kak Esther Harahap.
Waktu disana, gue nyari sobat lama gue di Jakarta, namanya Dolok Siregar . dulu dia pedagang piano, pemimpin paduan suara dan pengurus sekolah musik di Cinere, sekarang dia menjadi petani sayuran, drastis sekali perubahan ini, tapi barangkali inilah namanya kehidupan, kadang kita tidak dapat memilih, seperti kebiasaan gue sebagai pedagang, gak pernah gue pergi tanpa membawa produk pestisida gue, uji cobalah disana untuk tanaman sayuran dan coklat, hasilnya sangat memuaskan dan harusnya menjanjikan, tapi jangan lupa ‘bung ini Bungabondar, mereka punya cerita dan gayanya sendiri.
Waktu disana, gue ke pasar sipirok, rencananya mau nyari disc lagu lagu dan kesenian angkola mandailing, sayangnya yang gue dapet lagu lagu dangdut dengan bahasa mandailing, waktu disana, kita ke aek milas di padangbujur dan sekalian tengok tengok ke SMA plusnya Sipirok, tempatnya bagus, dengan ketinggiannya kita bisa melihat pemandangan kota Sipirok, waktu disana, nikmat kalau kita kongkow di warung kopi simpang 4 Bungabondar, bisa pagi, bisa sore, mau malempun masih ada aja yang nongkrong disana, mau main joker atau capsa..? jangan tanyalah, banyak biang biangnya disana, 24 jam terbuka untuk umum.
Waktu disana, kita ketemu dengan ipar Lintong Siregar, dulu dia preman di grogol Jakarta, sekarang berubah jadi raja adat Bungabondar, kayanya yang pada pulang ke Bungabondar jadi pada berubah drastis deh.,
Waktu disana, kita menjenguk ipar Basauli Siregar, tinggalnya persis didepan mesjid raya Padangsidempuan, saat ini penyakit asmanya sudah cukup kronis, makanya ipar ini sudah sering keluar masik rumah sakit, saat bertemu dengan anaknya Gani Siregar ( karena dia manggil gue amangboru, jadi deh., gue manggil die tulang ), die nanyain titipannya , yah., gue kasih deh., pestisida gue 1 botol besar, “ lho..koq cuman 1 amangboru, yah gue tambahin 1 botol lagi, lalu bersabdalah beliau “ obatnya amangboru bagus, tanaman coklat saya sekarang tidak ada hama dan tanamannya subur “ yah., gitulah dan hanya sebatas itu aja kelanjutannya, cumannya masih ada pesannya terakhir ; kalau kesini lagi, jangan lupa bawain obatnya lagi ya amangboru..?
Waktu disana, ardith ,thomas dan jacki mancing ikan dikolamnya tulang Effendi, kolamnya pas disebelah belakang rumah, wah., semangat banget mereka yang pada mancing, malah ditawarkan ama tulang, kalau gak puas dapet dari hasil mancing, kuras aja kolamnya, saat selesai mancing, dari hasilnya, ketahuan dari tingkat jauh tidak mereka tinggal dari kota, yang pertama dan yang dapet gede gede adalah jacki, yang kedua adalah Thomas dan ardith juru kunci. Kalau gue saat itu, hanya ngawasin aja, takutnya ada yang kecemplung ke kolam.
Waktu disana, gak lupa hari minggunya kita bergereja di GKPA Bungabondar, liat musiknya yang masih pake terompet yang gede, denger opung opung yang bernyanyi dengan cengkok pedesaan, terasa sekali yang masih tradionalnya, dan inilah komentarnya ardith ; orangsini kaya kaya ya pa.? oh.., rupanya dia melihat orang sana yang perempuan pada pake kebaya dan yang lakinya pada pake jas, inilah nikmatnya bergereja di hitaan, yang terbaik, yang mereka pake untuk menghadap Tuhan. contoh yang baik dan tentunya pantas untuk ditiru.
Tidak terasa sudah 5 hari kita ngendon di Bungabondar, kita sibuk dengan segala aktifitas disana, dan sibuk melihat aktifitas mereka disana.
Tgl 4 Juli 2009pagi, kita semua sudah bersiap untuk berangkat, gue udah mandi, udah ngopi dan udah seger rasanya nih badan, angetin mobil bentar, dah gitu parker yang pas untuk naikin perbekalan, tiba tiba Braaaak…! Mobil gue nabrak truk yang lagi parkir, gue bingung banget pada saat itu, kenape bisa begini ya..? akirnya gue berpikir positif aja saat itu, gue merasa pada saat perjalanan berangkat, gue terlalu percaya diri, nah., sekarang pada saat akan pulang, gue diingetin untuk lebih berhati hati dan lebih mawas diri. terima kasih Tuhan, terima kasih Tulang ., untuk pesannya, agar gue lebih careful.
Dari Bungabondar kita berangkat jam 8 pagi, berhenti sebentar untuk foto foto di lintas khatulistiwa di desa Bonjol, dah gitu berhenti lagi dipinggir jalan arah Rao, untuk makan duren, dah gitu berhenti yang rada lama di Bukittinggi, ceritanya begini ; waktu kemarin kita di Bukittinggi, kita semua udah pada pasang gaya yang wah., cari tempat dan pasangan yang pas untuk foto, eh., gak tau ceritanya gimana, semua foto foto itu pada terhapus di camera, jadi deh., kita balik lagi ke Bukittinggi hanya untuk foto dan hanya untuk foto, gak kurang kerjaan apa tuh..? kalau nginep lagi disana, udah beneran deh.,memang gak ada kerjaan, jadi selesai foto2, kita langsung tancap gas lagi dan nginepnya di Solok.
Di Solok, kita cuman numpang tidur aja, paginya langsung berangkat lagi, sampai di Muarabungo, bukannya langsung menuju Lubuklinggau, tapi kita belok kanan menuju arah Jambi, ini bener bener melintasi Sumatra, yang awalnya lewat jalur tengah, langsung pindah kearah jalur timur, rasanya cape banget lewat sini, sepanjang jalan,kiri kanannya hanya tanaman kelapa sawit , yah., jenuh, bosen, bête semua sama aja, sama sama artinya membosankan, sekitar 60 Km sebelum masuk Jambi, kita belok kanan dan menuju arah Palembang, disinipun sama aja, jalannya lurus, sepanjang jalan hujan, jalannya pun padat, di jalur inilah adik gue Bonny mengalami kecelakaan mobil pada tahun 1998, Bonny nya meninggal, teman seperjalanannya Sarpin gak apa apa, kecuali tulang ekornya yang rada bengkok. Mau masuk kota Palembang, gue gak tahan lagi, disinilah baru gantian bawa mobil sama Christ, dan barangkali ini juga pertama kalinya Christ bawa mobil ditanah Sumatra.
Di Palembang, kita nginep di hotel yang gue lupa namanya dan lupa juga nama jalannya, yang gue tau, ditengah kota, hotelnya juga masih baru, ini hotel cina, karena dibawahnya ada restoran cinanya,
Di Palembang kita ketemu dengan Samuel Sihombing, malah dia bawa pacarnya yang boru regar ke hotel, kita juga ketemu dengan Rudi Pangaribuan, dia cerita, kalau pacarnya sekarang orang batak juga, putri seorang praeses dari gereja methodis, dah gitu dia traktir kita makan sate ayam plus nasi goreng didepan hotel, nah., mereka ini adalah sahabat2 andre waktu kuliah di STAN, saat itu mereka kembali ketempat asal, sambil menunggu penempatan yang permanen.
Di Palembang kita nginep 2 hari, kita nikmati tempat2 wisata yang ada di Palembang, ada wisata perahu, kita diajak menyusuri sungai Musi dan mendarat di pulau kemarau, disana ada klenteng Cina yang sangat tua, banyak patung2 dewanya mereka, malah gue sempet berfoto dengan patung sun go kong, foto itulah yang gue pake sebagai profile picture di FB dan klenteng itu mempunyai sejarah panjang dan cerita panjang mengenai awal keberadaan dari masyarakat cina di Palembang, ada wisata sejarah, kita diajak masuk ke museum dan kuto benteng sepanjang sungai Musi, ada juga wisata kuliner, kita makan pindang ikan patin di perahu terapung, dan apapun wisata yang ada disana, semuanya selalu berhubungan dengan sungai Musi,
Waktu disana, kak Ida grup plus ardith diajak jalan dan ditraktir duren sama temen2nya dari Pelindo, kalau gue ama duma gak ikut dan nungguin di hotel aja sambil berdarling I love you, apaan sih tuh..?
Pulangnya kita lewat timur, dan nyobain jalan baru yang bisa langsung tembus di Bakahuni, rada jauh memang, tapi jalannya mulus dan sepi, kiri kanan jalan banyak tanaman tebu dan nanas, tengah malam kta sampai di Merak dan langsung gue tancap gas sendirian, karena para peserta sudah pada kecapean dan buntutnya pada tidur, kita sampai Bogor jam 2 pagi tgl 5 Juli 2009.
Inilah sejarah awal gue dengan Bungabondar :
Pertama kali kenal dan dengar nama Bungabondar sejak balita, sedangkan pertama kali menginjakkan kaki di Bungabondar pada bulan September thn 1988, pada saat itu mengantar jenazah mertua gue dari Jakarta,
Lama off tidak kesana, baru mulai lagi tahun 1993, tahun 1994 sebanyak 2 kali dan tahun 1995 kita horja, saat itu ipar gue Yunindra Siregar menikah dengan Br Matondang.
Lama lagi off tidak kesana, mulai lagi Februari 2004, pada saat pernikahan parumaen gue Debby di Sibolga dengan marga Hutabarat, Oktober 2004 gue balik lagi ke Bungabondar ama duma, andre, ardith dan ozzy, sehabis menghadiri pernikahan bere gue Astrid Hasibuan dengan Jans Siregar di Pekanbaru.
Agustus 2005 gue ke Bungabondar lagi sama Tulang Agus Siregar, habis menghadiri acara pemakaman nantulang gue di Ser Belawan Siantar.
September 2007 gue, duma,andre dan sahat ke Bungabondar, untuk menghadiri horja pernikahan anaknya Ipar gue, Gani Siregar dengan br, Harahap. Yang terakhir dan yang belum berakhir yah., Juli 2009 ini.
Ada juga sih yang bilang., “ elo kan bukan Harahap dari Bungabondar dom, tapi dari Payanggar, tapi ngapain sih sering sering datang kesana..? emangnya gue pikirin.
Bungabondar, akukan kembali…!
Bogor, Juli 2009
Kamis, 26 Agustus 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar