Happy family tour
Awalnya andre mau cuti dan ngajakkin kita kita jalan jalan ke Dieng dan Baturraden, yang kedua ada undangan dari si Bung jogja,bahwa dia mau ngada’in resepsi pernikahannya di Ciamis pada tgl 29 Mei 2010.
Dengan andre ambil cuti tgl 26, 27 dan 31 mey, dia dapet libur selama 6 hari, karena hari jum’atnya tgl 28, hari libur waisak, itu lho awalnya.,
Nah., akhirnya kita susun konsep deh., mengenai rencana perjalanannya, termasuk sarananya dan hepengnya, disepakati sarana mobil dari gue termasuk nyetirnya, hepeng keseluruhan dari andre, ardith bertugas sebagai co pilot, sedangkan mama sebagai general manager,yang mengatur urusan keuangan, urusan logistic perut, urusan jajan dan oleh oleh, urusan laundry dan sebagai assisten co pilot.
Mobilnya gue pinjem dari Laut Simanjuntak, tapi dengan catatan betulin alarm dan klakson dulu, sedangkan andre nyerahin kartu ATM ke mamanya, klop sudah., mari kita come on …!
Berhubung sudah pada kebelet untuk ber hepi hepiria bersama, rencana yang berangkat tgl 26 mei pagi, dipercepat menjadi tgl 25 sore, dengan catatan jemput andre dulu di Jakarta, nah.., ini cerita awal dalam perjalanannya, saat kita mau jemput andre di Cililitan, mobil yang kita pake pada saat keluar jalan tol, berbunyi ,pletak pletok, pletak pletok, dikirain sih., bannya kempes, cuekin aja ah., tanggung banget, bentar lagi juga ada tukang tambal, sesampai di tukang tambal ban, periksa semua ban, lho.., koq gak ada yang kempes, yah udah., jalanin lagi mobilnya, eh.., bunyi lagi pletak pletok, gak taunya Tuhan bikin surprise, ngasih tau ke gue supaya be careful dan jangan ceroboh selama dalam perjalanan, dengan cara yang tak terduga, yaitu ; ban depan sebelah kiri baut bautnya udah mau pada copot, ih.., kebayang gak sih..?
Tukang tambalnya orang batak dan merangkap membuka lapo, nah inilah andre yang mendua dalam aliran keimanannya, kalau sehari hari dia bergereja di Charismatic, tapi kalau urusan saksang B1, dia berpindah menjadi Lutheran. Wow…andre !
Kita mulai start dari tukang tambal jam 21.30, dengan formasi, gue nyetir dan terus2an nyetir, ardith didepan sebagai co pilot, mama duduk ditengah dan andre tidur dibelakang, yang bangkunya udah dicopotin dan diratain, semua barang dibelakang dan dialaskan kasur, wah., nikmat banget ya dre..?
Sampai di restoran Pringsewu ( perbatasan jawa barat dengan jawa tengah ) jam 02.30, tempatnya enak dan nyaman, sayang makanannya tidak memenuhi selera, andre mah., santai santai aja, karena dia buka bekal dari tukang tambal ban, ardith makan sop buntut, gue ama mama makan mendoan, yang banyakkan tepungnya daripada tempenya,tapi untuk istirahat memang sangat pas dan sangat strategis.
Jam 03.30 kita mulai start lagi dengan pergantian formasi antara andre dan ardith, jam 7 pagi tgl 26 mey kita nyampe di baturraden, mereka pada masuk ke lokasi wisata dan ber foto foto, gue masuk hotel dan tiduuur, pulangnya gue dibawain pecel, dan gak lupa bedarling dulu, wuih.., enak banget, rasanya gue udah seger lagi dan cukuplah gue istirahat 3 jam, jam 11 kita kita lanjut menuju dieng, tapi gak lupa mampir di Sokaraja untuk menikmati soto dan getuk gorengnya. Untuk hal hal yang khas dan istimewa disuatu daerah, pasti kita mencoba, mumpung gitu..!
Selama perjalanan menuju Dieng, penuh pesona, kiri kanan kulihat saja, banyak tanaman sayuran, banyak tikungan, banyak tanjakkan dan yang membuat jantung berdenyut lebih keras, banyak kabut, gelap gulita dan pandangan kedepan sangat terbatas, yang semakin membuat jantung berdenyut, ban mobil sudah tipis, jalan licin dan kalau nanjak, mobilnya empot empotan, help Tuhan., help dong ..!
Jam 14 kita sampai di Dieng, dengan pemandangan yang sangat tidak ada sama sekali, semua kawasan diselimuti kabut, yang rencana awalnya kita gak nginep disana, yah, jadi nginep deh., what ever will be, will be lah.
Ini bukan hotel, tapi losmen, karena disana memang tidak ada hotel, kita ambil kamar yang muat 4 orang, yang fasilitasnya hanya air panas, tapi harganya 200 ribu semalam, kita tidurnya untel untelan, kalau malam, saling berebut selimut, dinginnya itu lho., yang mana tahan, makan malam kita di warung ‘bu tati, katanya cuman itu yang enak di Dieng, ternyata memang enak banget, opor ayam kampungnya enak dan potongannya gede gede, dan ada minuman khas dieng, namanya purwaceng, kalau dicampur dengan susu, wow.. nikmat dan tentu sangat menghangatkan, katanya, itu ginsengnya orang dieng.
Tengah malam gue kebangun, gue ketakutan dengan perjalanan besok, gue ngebayangin turunannya, gue ngebayangin jalanannya licin, ban mobilnya licin, akhirnya saat midnight gue berdoa aja, mohon ama Tuhan, agar besok dalam perjalanan tidak ada hujan, supaya jalan gak licin dan dilindungin dalam perjalanan, yah.,paling2 gue kan hanya bisa minta, gak ada hujan, supaya jalan gak licin, masa sih gue minta , supaya jalanan gak ada turunannya, berdoa sih., berdoa, tapi jangan minta yang aneh anehlah,
Bangun pagi, andre dan ardith sudah keliling keliling melihat dan foto foto di candi , yang banyak bertebaran disekeliling lokasi yang sudah tertata rapi, resik dan bersih, yang jelas gak bayar tiket masuk, karena petugasnya belum datang, mereka sudah keluyuran disana. Sebelum pulang kita ber putar2 dulu ngeliat candi candi pandawa, ngeliat kawah, ngeliat telaga warna, yang banyak berisi gua gua untuk bersemedi, daerahnya mistis banget dan unsur kejawennya sangat kental.
Jam 11 kita keluar dari kawasan Dieng, balik lagi kearah Wonosobo, tapi mampir dulu kepusat oleh2 disana, gak lupa ciri khas makanan darisana kita beli, namanya lidah sapi asap, harganya cukup lumayan, 1 lidah 140 ribu, kalau mau kita masak harusnya direndam dulu rada lamaan, kalau gak, asinnya kebangetan.
Keluar dari Wonosobo, kita ngelewatin Kretek menuju arah Purworejo, tapi ditengahnya kita menyimpang dan ngambil ke arah Salamah,jalannya kecil dan berliku liku, tapi keluar dari jalur itu,kita sudah gak jauh dari candi Borobudur.
Sampai di Borobudur jam 1 siang, mereka pada naik turun disana dan foto foto di stupa, gue duduk duduk manis di sekitarnya, kebetulan pula saat itu sangat ramai, karena persiapan untuk menyambut hari raya Waisak pada esok harinya, semua perlengkapan untuk ibadah secara Budha dikeluarkan, termasuk patung Budha emasnya, dan seluruh pelataran candi dikelilingi dengan obor, terbayang indahnya pada saat malam hari, sayang jam 4 sore sudah harus ditutup untuk umum,
Ada pengalaman menarik waktu disana, Panitia memberikan air suci yang penuh berkat kepada semua pengunjung, katanya gratis, tapi disebelahnya ada kotak sumbangan, air suci ini diberi label Walubi, juga dijelaskan proses pengambilan dari mata airnya dan proses filterisasinya, nah., gue bawa deh., 1 botol dan gue simpen dirumah, maunya sih., untuk kenang kenangan, eh.. gak lama kemudian air jadi butek dan semakin lama warnanya jadi hijau dan penuh lumut, lho..koq gitu sih..? khawatirnya kalau sekarang ini diminum, bukannya jadi berkat, malah jadi mencret x.
Jam setengah 3 kita keluar dari Borobudur, dan langsung tancap kearah Manisrenggo di Klaten , disini kita mampir kerumah mertuanya Henry, disini gue saluuut banget deh, gue ngerasa Tuhan sayang banget ama gue, Tuhan begitu perhatian ama gue dan Tuhan selalu berfihak kepada gue, ngebayang gak sih., sepanjang perjalanan, gue berharap bisa makan sate kambing atau gule kambing, tapi gak ada yang ngebolehin, semua kompak pada ngelarang gue, tapi pada saat kita makan sore dirumah mertuanya Henry, menu utamanya sate kambing dan gule kambing. He…he..he.. anak Tuhan koq dilawan..!
Jam 6 sore kita pulang dibawain 2 karung beras, 2 sisir pisang kepok dan 1 tandan pisang monyet ( katanya gitu, karena pisangnya mirip titit monyet ).
Kita pulang dan nginep dirumah ‘Bang Apul, di Jln.Klaseman 2 Minomertani Kab.Sleman Jogjakarta.
Sampai rumahnya, kita masuk kamarnya Ori, kita benah2, leyeh2 dan mandi, biar rapi dan gak bau, karena jam 9 malam kita mau jemput ‘Bang Apul dan Kakak di travel cipaganti yang baru datang dari Semarang, darisana kita langsung ke lesehan di Malioboro untuk makan tengah malam, nah., inipun ada ciri khas tersendiri, kita makan menu lapo, tapi makannya lesehan dengan ditemani pengamen, asyiiikkan…?
Tgl 28 mey, sekitar jam 9 pagi, andre, ardith dan Ori pada keluar, mereka pada ke kraton, shoping buku second dan pada makan seafood, yang hebatnya andre saat itu, dia beli buku second sampai 1 dus aqua dan saat makan, andre yang biasanya baca buku menu dari kanan kekiri, ini mungkin lupa atau memang gayanya ardith yang wah., terpaksalah selesai makan mereka bertiga, andre harus bayar 400 ribuan, ha..ha..ha.., kepitingnya mahal banget ya dre..?
Jam 12 siang kita keluar untuk makan siang, kesiangan berangkat, karena menunggu nona besar Nina yang bangun kesiangan dan mandinya kelamaan, kita janjian sama andre grup untuk makan siang di Morolejar ke arah kaliurang, dan ini tempat favoritnya ‘Bang Apul kalau ngajak makan saudara2nya yang datang ke Jogja.
Selesai makan, yang anak2 pada langsung pulang, yang tua tua pada ke batik Mirota dulu dan beli pupuk pakis disebelahnya.
Sampai rumah jam 5, kita langsung benah2 dan mandi untuk persiapan berangkat ke Ciamis, jam 6 sore kita cabut dari rumah ‘Bang Apul. Terima kasih ya..’Bang, Abang baik deh., sehat2 dan supaya panjang umur ya ‘Bang.?
Sepanjang perjalanan dari Jogja ke Ciamis benar benar melelahkan dan menjemukan, udah ban mobilnya tipis, sepanjang jalan ujan melulu, mana malam lagi, memang dasarnya gue penakut juga, yah., sepanjang jalan gue hanya berani pake persneling 3, boros banget tuh bensin dom..?
Sampai di Ciamis jam 1 pagi, semua hotel pada penuh, puter2 dulu dan baru jam 2 pagi kita dapat kamar,bener bener sangsaro badan deh, tapi kita mengucap syukur dan terus memuji Tuhan,karena selama perjalanan, walau para penumpang banyakkan tidur dari pada meleknya dan gue juga nguaantuk banget, tapi tetap aman2 aja dan gak ada masalah.
Jam 11 nya Tulang Agus dan rombongan datang dari Bandung ke hotel, untuk berhias rias, dari hotel baru kita berangkat bersama ke tempat resepsi pernikahannya si Bung, sampai sana sudah ada Grace dengan Sammy, gak lama kemudian datang Mian with her gangs,
Ada rasa haru dan simpati juga dengan kebersamaan keluarga besar dari pomparan Opung Kerasaan, walau jauh, tapi kita tetap hadir, yang gak haru dan simpatinya, kita belum pulang, tapi nantulang Jogja udeh kabur dan tanpa pamit , itu namanya come with the dust, gone with the wind, what happened rupanya nant..?
Habis nyalam pengantin kita makan, dah gitu foto, dah gitu berpisahlah kita 1 sama lainnya, mau lama lama disitu juga bingung, yang punya rumah kita gak tau, yang mau kita hargai dan hormati sudah pulang, sang pengatenpun sibuk dengan acaranya sendiri, akhirnya jam 2 an Mian dan Grace beserta rombongan pulang ke Jakarta, Tulang balik ke Bandung, gue dan pasukan langsung lanjutkan acara HAPPY FAMILY TOUR ke Pangandaran.
Sekarang , apa yang kita dapat dari kunjungan ini..? gak ada, kecuali SEBEL…!
Tapi apapun itu ‘Bung, kami dari keluarga besar pomparan Opung Kerasaan, mengucapkan selamat atas pernikahan kalian, kiranya keluarga yang baru ini, menjadi keluarga yang sakinah, mawwadah dan warrohmah. Amin..!
Sampai di Pangandaran kita jam 5 sore, puter puter dikit nyari hotel, akhirnya kita dapet hotel Graha Indah, lokasinya tepat dipintu masuk Pangandaran dan dengan view langsung menghadap pantai, tempatnya strategis, hotelnya bersih dan kamarnya cukup lega untuk 4 orang, dengan harga 350 ribu, pantaslah..!
Jam 8 malam, kita keluar untuk cari makan, sekitar 1 Km dari hotel ada pusat orang kumpul kumpul untuk makan malam, kalau di Bali, mungkin namanya Jimbaran, makan deh kita disana, dengan menu udang goreng mentega, ikan kerapu bakar dan cah kangkung, kalau ardith ., dengan kebiasaannya, plus minum es kelapa muda, mungkin karena tempatnya dan udara lautnya, rasanya enak banget tuh yang makan, ada pedesnya, ada udara panasnya, ada keringetnya, dan domu belum makan namanya, kalau belum keringetan.
Berhubung semalam kita tidurnya rada cepet, maka di hari minggu tgl 30 mei ini, kita bangunnya rada pagi, kita langsung jalan2 di pantai, main pasir, main ombak dikit2, walau gak berani ketengah, katanya, arus balik pantai Pangandaran ini sangat berbahaya, sudah sering orang yang belagu dan sok bergaya gaya ketarik ketengah laut, tapi gue belum denger, kalau dipantai gak boleh pake baju hijau, seperti di parangtritis dan pelabuhan ratu.
Selesai sarapan pagi kita ke objek wisatanya, disana ada peninggalan megalithikum, disana ada gua gua peninggalan Jepang, disana banyak monyet dan ada pantai yang berpasir putih yang dijaga kelestariannya, kalau kepantai itu gak mau cape, bisa naik perahu dengan biaya 10 rb PP, disana gak ada pedagang makanan dan minuman, yang ada hanya tempat penyewaan alat alat untuk snorkeling.
Nah., ardith dengan segala keingin tahuannya, langsung aja minta disewain dan dia ber snorkeling lah sendirian ketengah laut, sedangkan andre dengan segala ke eksklusip annya, mengatakan ; terlalu ramai dan terlalu sempit untuk snorkeling, next time aja kita kembali kesini, nanti kita ajak bou Linda.
Sama sama berambut hitam dan sama sama berdarah Harahap, tapi berbeda dalam sudut pandang, tapi itu gak masalah yang penting 1 iman, 1 bahasa, 1 bangsa dan 1 orangtua, yaitu domu dan duma.
Dari pasir putih kita balik ke hotel, untuk makan siang dan benah2 untuk checkout, dan perjalanan dilanjutkan menuju Green Cannyon, kurang lebih 30 Km dari Pangandaran.
Tempat wisata ini menawarkan wisata perahu dengan biaya 75 ribu PP, kita akan diajak menyusuri sungai menuju laut, dengan panorama cadas batu dan hutan belantara disekitarnya, dengan tujuan akhir, air terjun yang jatuh dari bebatuan dengan ketinggian sekitar 40 meter, berenang mengikuti arus sungai dan melihat masuknya air laut melalui celah2 bebatuan, tapi sayang disayang, pada saat itu air sangat deras, jadi deh kita gak bisa ngeliat sampai kedalamnya, tapi andre dan ardith masih bisa ikut berenang dan naik ke batu batu yang diguyur air terjun, dan seperti biasanya, ardith selalu modal nekad.
indah dan sangat memukau dan gue masih ingin kesana lagi. Amin..!
Balik darisana, kita gak lewat Pangandaran lagi, katanya ada jalan alternative yang langsung tembus di Tasikmalaya, memang ada sih., cuman jalannya kecil, naik turun gunung, sebagian jalannya ada yang rusak, jadi rasanya bukan semakin dekat, tapi semakin lama dan semakin jauh, tapi bonusnya kita banyak menikmati indahnya laut selatan sepanjang jalan, terobati jugalah.
Sesampai Tasikmalaya menuju Bandung, mulailah kita bertemu dengan segala kemacetan, mulai dari Limbangan sampai Nagrek bener bener terjebak macet total, rupanya buka tutup jalan mulai ditrapkan disana, hati yang sabar dan kepala yang dingin, sangat diperlukan, karena mobil dan motor saling berpacu untuk saling menyalip dalam kemacetan.
Jam 11 malam kita sampai di Bandung dan nginep dirumahnya Joe, di Taman Setiabudi, sebelum nyampe kita beli sate ayam dulu, maklum perut udah laper banget.
Besoknya tgl 31 mei, kita pulang dengan acara mampir dulu di Lembang untuk beli oleh2nya andre dan makan ketan bakar, makan siangnya di Sambel Hejo nya Kustoro dan gak lupa minta bungkusin ayam untuk mertua. Dari situ kita langsung pulang lewat Puncak dan mampir di Hotel Citeko, untuk ambil kunci rumah, kebetulan pula, mertua, kak idar, ita dan anak2nya lagi nginep disana.
Awal berangkat kita penuh dengan sukacita, akhir perjalanan pulang, andre penuh duka dan dengan muka segi 4, gara gara Taliban bicara rada melecehkan, dengan mengatakan ; kalian selama perjalanan tidur di mobil ya..?
He..he..he.., dia gak tau rupanya sekarang, kalau andre mau pasti bisa.
Desember 2003, inilah pertama kali kita jalan bersama ber 4, saat itu kita ke Bali,
Mey – Juni 2010, inilah kedua kalinya kita jalan bersama ber 4, saat ini kita muterin setengahnya Jawa Tengah. Next……..?
Inilah saat saat indah yang papa dan mama rasakan, saat indah kita dapat berjalan bersama, saat inilah papa dan mama merasa menjadi orang kaya, kaya dengan kebahagiaan, kaya dengan sukacita dan kaya dengan kebanggaan, karena melihat anak2 kami penuh dengan damai sejahtera dan keakraban.
Kamis, 26 Agustus 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar