Kamis, 19 Januari 2012

Esther Hasibuan dan Linda Lubis

TIAP KELUARGA ADA SALIBNYA

Tuhan Jesus menyuruh mereka yang hendak mengikut Dia untuk memikul salib. Salib siapa yang perlu kita pikul..?
Banyak orang mengira itu adalah salib Kristus, padahal bukan itu yang dimaksudkan, Tuhan Jesus berkata “ Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku “ ( Lukas 9 : 23 ).
Disini bukan tertulis “ Salib-Ku “ melainkan “ Salibnya “, karena salib yang perlu kita pikul bukanlah salib Kristus, melainkan salib kita sendiri.
Mengapa Tuhan Jesus menyuruh kita memikul salib kita masing masing..? karena salib adalah lambang penderitaan, atau lebih tepat lagi, lambang penderitaan sebagai pengorbanan.
Tidak ada orang yang menghendaki penderitaan, namun kenyataan dalam hidup ini tidak ada orang yang luput dari penderitaan,karena penderitaan ada sebagai bagian dari hidup kita dalam berbagai bentuk yang berbeda.
Ambillah contoh :
Dalam tiap pekerjaan ada tugas yang menyenangkan dan ada pula tugas yang kurang menyenangkan, bahkan sangat menjengkelkan. Kita mau menjalankan tugas yang menyenangkan, tetapi kita cenderung menggeser tugas yang menjengkelkan itu kepada orang lain, padahal tugas yang menjengkelkan itupun termasuk bagian dari pekerjaan yang harus kita jalankan, bagian dari tugas kita yang menjengkelkan itu adalah salib yang harus kita pikul.
Kehidupan berkeluarga pun terdiri dari bagian yang menyenangkan dan bagian yang kurang menyenangkan, bentuknya bisa dalam penyakit, musibah maupun dalam persoalan rumah tangga, kita tidak dapat menghindar dari bagian bagian yang kurang menyenangkan itu, kita tidak bisa dan tidak boleh hanya yang enak enaknya saja, juga bagian bagian yang yang tidak enak perlu kita pikul, Itulah salib kita.
Bayangkan, betapa beratnya beban perasaan orangtua melihat anaknya kecanduan narkoba, tiap hari hanya melihat anaknya terkulai lemas tidak berdaya, melihat anaknya menatap dengan mata yang kosong tanpa pengharapan, bertambah hari bertambah kurus, bertambah hari bertambah rentan dengan segala macam penyakit, sehingga tiap hari orangtua ini memikul beban dengan berbagai macam perasaan, bisa perasaan yang menyalahkan diri sendiri, karena merasa selama ini kurang memberikan perhatian kepada anaknya atau bisa juga menyalahkan diri sendiri, karena sebagai orangtua tidak bisa memberikan contoh yang baik kepada anaknya. Beban perasaan ini adalah salib yang mereka harus pikul, bisa saja ini akibat dampak dari kehidupan dunia yang mereka jalani selama ini.
Keluarga lain bisa saja menghadapi salib yang bentuknya lain lagi,
Bertahun tahun orangtua hidup dengan pelayanannya kepada Tuhan di gereja, mengikuti semua kegiatan gereja, memberikan pelayanan kepada Gembala dan semua umat di gereja, serta membawa semua keluarga untuk memberikan yang terbaik kepada gereja, tetapi orangtua tsb lupa, bahwa hidup tidak surut kebelakang, melainkan seperti anak panah yang melesat kedepan,
Benar., ada tertulis ; “ Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman Tuhan yang keluar dari mulut Allah “, tapi Tuhan pun meminta kepada kita untuk hidup dalam keseimbangan, didalam HUKUM KASIH dikatakan “ Kasihilah Tuhan Allah Mu dengan segenap hatimu….., dst dan Kasihilah sesamamu manusia seperti kau mengasihimu dirimu sendiri “. Inilah arti dari keseimbangan itu.
Mari kita tafsirkan lebih luas lagi kata kata mengasihi sesama manusia dengan ; bermasyarakat, bersosialisasi dan berinteraksi kepada semua umat manusia untuk menyinarkan sinar kasih Tuhan kepada semua umat manusia.
Karena itu konsep keseimbangan dalam hidup harus dikembangkan sedini mungkin, jangan menciptakan pelayanan yang hanya menjadikan hal yang rutinitas saja, yang akhirnya hanya menimbulkan kejenuhan dan tanpa makna sama sekali , karena kalau hal ini terjadi, akan menjadi salib baru kepada orangtua pada saat timbul perbuatan yang tidak sesuai dengan perkataan dari anaknya.
Dalam kehidupan ini memang ada 1001 macam salib, dan tiap keluarga mempunyai salibnya masing masing, ada keluarga yang begitu sedih karena mendambakan anak , sebaliknya ada keluarga yang mempunyai anak, namun perilaku anak sangat menyakitkan hati orangtuanya, namun bisa juga orangtua yang malah menyakitkan hati anaknya , ada istri yang tertekan batinnya karena suami tidak setia, sebaliknya ada suami yang selalu tertekan batinnya karena istri selalu memojokkannya.
Ada suatu ungkapan menarik yang mengatakan “ Jika didunia ini ada surga, itulah rumah tangga yang bahagia, tapi kalau didunia ini ada neraka, itulah rumah tangga yang berantakkan “.
Memang ada persoalan atau penderitaan yang terjadi karena kesalahan kita sendiri, demikian juga ada persoalan dan penderitaan yang kita dapat tanggulangi, namun adapula persoalan dan penderitaan yang betul betul tidak terelakkan, penderitaan yang tidak terelakkan inilah salib yang perlu kita pikul.
Dalam memanggil orang orang untuk menjadi pengikut Nya, Tuhan Jesus tidak menjanjikan jalan hidup yang penuh dengan keberhasilan atau jalan hidup yang tidak menghadapi penderitaan, tapi Tuhan mengingatkan, bahwa mereka harus mau memikul salib, bersedia memikul salib dan bisa memikul salib, sebab itu tiap orang dan tiap rumah tangga pasti mempunyai salibnya masing masing.

Amin….!

Kepada Yts : Kak Esther dan Linda ;
Selamat ulang tahun, selalu sehat dan panjang umur, kiranya kita semua anak, mantu dan cucu dari papi dan mami dapat selalu berbagi kasih sayang, dan dapat memikul salib kita masing masing dengan selalu mengucap syukur kepada Tuhan.


Bogor, 15 Oktober 2011

Yahudi Vs Samaria

Pdt.Dr.Indryati Pardewi membuka khotbahnya dengan ilustrasi mengenai mata jasmani dapat diperbaiki dan dilihat dengan menggunakan laser, sedangkan mata rohani dapat diperbaiki dan dilihat dengan menggunakan firman Tuhan.
jika dalam kehidupan ini kita hanya menggunakan mata jasmani, maka kita seperti tertutup dalam 1 kotak kehidupan, dimana setiap langkah kehidupan berpola pada kepentingan individu sesaat, kepentingan golongan , yang akhirnya malah menciptakan SARA ( suku, agama dan ras ).
Sedangkan , jika kita melihat kehidupan ini dengan mata rohani, maka kita harus bisa membuka kotak kehidupan tsb berdasarkan firman Tuhan, dimana pola yang tertulis didalam firman Tuhan adalah sama rata, sama rasa dan sama berkarya.
Ilustrasi tsb untuk mendukung dari thema khotbah yang diambil dari “ Johanes 4 : 1 – 10 dan Johanes 4: 27 – 36 “.
Disitu dikatakan, bahwa orang Jahudi merasa mempunyai derajat yang lebih tinggi daripada orang Samaria, derajat dalam hal keimanan, derajat dalam hal intelektual dan derajat dalam kehidupan sehari hari, karena itulah, murid murid Jesus merasa heran, kenapa Jesus mau bercakap cakap dengan seorang perempuan Samaria,
Sesudah Jesus mengkuliahi perempuan tsb mengenai air yang tidak membuat haus lagi yang namanya air kehidupan, lalu Jesus menyuruh perempuan tsb membawa suaminya, tapi perempuan tsb mengatakann, bahwa dia tidak mempunyai suami, Jesus mengatakan “tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai 5 suami dan yang sekarang padamu, bukanlah suamimu, dalam hal ini engkau berkata benar“,
memang menjadi suatu kenyataan, kadang untuk membuat orang yakin dan percaya, kita harus bisa menebak dan menafsir dengan benar, dan itu yang dilakukan oleh Jesus kepada perempuan Samaria tsb.
dampak yang dihasilkan dari perkataan dan perbuatan Jesus tsb sangat luar biasa, hanya oleh kesaksian perempuan yang pernah mempunyai suami 5 dan sekarang dalam status living together, orang orang Samaria dalam 1 kota tsb telah menjadi percaya, malah saat ditawarkan nginep disana, Jesuspun nginep selama 2 hari dan semakin menambah orang yang percaya kepadaNya.
Nah itulah firman Tuhan., dia sama rata, sama rasa dan sama berkarya, dari manapun datangnya tetap saja firman Tuhan, ada mujizat disana dan ada kuasa disana.
Sekarang bagaimana dengan kita..? apakah kita ingin tetap seperti perempuan Samaria yang pernah punya 5 suami dan living together sebelum kenal Jesus, atau ingin seperti perempuan Samaria yg pernah punya 5 suami & living together sesudah mengenal Jesus..?
Kalau kita ingin merubah hidup kita, kita harus keluar dari kotak kehidupan dengan pola pandang mata jasmani , mungkin sekarang kita sudah nyaman dengan gaya hidup kita, mungkin sudah nyaman dengan lingkungan kita dan mungkin juga sudah nyaman dengan strata sosial kita, tapi itu semua masih didalam kotak kehidupan mata jasmani, jangan kita hanya didalam gereja, mari kita kita keluar, mari ciptakan jemaat jemaat yang missioner, jemaat jemaaat yang mau melayani dan bukan dilayani, janganlah kita seperti katak dalam tempurung, yang hanya menjadi jago kandang, mari kita keluar, mari kita kelapangan dan mari kita bermain.
Johanes 4 : 35, Jesus mengatakan “ …………………., Lihatlah disekelilingmu dan pandanglah ladang ladang yang sudah menguning dan matang yang siap untuk dituai “.
Firman Tuhan tsb jelas meminta kepada kita untuk merubah pola pandang mata jasmani dengan pola pandang mata rohani, perubahan itu memang akan merubah keseluruhan hidup kita, tapi perubahan tsb bukan akan membuat kita mundur, perubahan tsb membuat kita semakin berakar dan semakin kita kuat dalam iman.
Tinggal kita meminta dan memohon kepada Tuhan :
“ Tuhan berikanlah kepada kami, mataMu, mata yang mampu dan mau melihat penderitaan dan kesusahan sesama disekeliling kami,
Tuhan berikanlah kepada kami, tanganMu, tangan tangan yang mampu dan mau merangkul orang orang yang berbeban berat disekeliling kami,
Tuhan berikanlah kepada kami, kakiMu, kaki kaki yang mampu dan mau menjangkau untuk dapat membantu orang orang disekeliling kami,
Tuhan berikanlah kepada kami hatiMu, hati yang mampu dan mau berbelas kasih kepada semua orang disekeliling kami, dan KASIH yang ada pada 1 Korintus 13 : 1 – 13 “.
Itulah inti dari ungkapan khotbah, lagu, doa dan pengharapan yang disampaikan sebagai penutup kebaktian pada hari minggu tgl 21 Agustus 2011 di GSJA Chalvary Bogor.
Amin…!


Bogor, Agustus 2011

DmH

Batak Barelang Pusing Pusing

Tanggal 27 Januari s/d 08 Februari gue keliling sebagian Tapanuli dan Samosir,
Tanggal 08 Februari s/d 10 Februari gue keliling Batam, Rampang dan Galang ( BARELANG ).
Inilah ceritanya :
Gue berangkat bareng Barita Laut Simanjuntak naik Lion Air, sampai di Polonia Medan, dijemput oleh Saut Napitupulu dan diajak nginap di Hotel Semarak Jln, Sisingamangaraja. Yang membuat nikmat nginep di hotel tsb, katanya lagi discount 50 %, sekamar boleh bertiga tanpa tambahan biaya dan pas disamping hotel, ada restoran melayu yang makanannya enak, murah dan selalu dalam kondisi panas, restoran itu buka 24 jam, selalu ramai malah kadang di jam jam tertentu terpaksa harus ngantri.
Siangnya adiknya Laut dateng ke hotel, namanya Baldwin Simanjuntak, dia ini pengusaha Lapo didaerah sekitar Amplas, laponya terbilang komplit, disana ada ayam namargota, ada bebek pinadar, ada saksak B1, ada B2, ada B3 ( ular ) dan ada B4 ( biawak ), ciri khas orangnya ; tinggi besar, kulit hitam, sepatunya boot, bajunya berbunga model Versace, 2 kancing atas bajunya dibuka, walaupun bulu dadanya cuman ada 17 lembar, banyak senyumnya dan sedikit ngambeknya.
Selama 4 hari di Medan, kerjanya keliling keliling aja, hari pertama nemuin nantulang Asni Simatupang br Nasution, dia ini adik dari mertua gue, ada titipan dari mertua, katanya inilah kain Parmanoan (kenang2an utk perpisahan) dari kakak untuk adiknya , berhubung Simatupangnya juga baru meninggal, dan sekarang ada istilah Parmanoan dari kakaknya, maka terjadilah isak tangis dan semakin terisak berkepanjangan pada saat gue sambungkan mereka untuk bertelponan.
malamnya ada marga Sinambela yang dateng ke hotel, dia itu Pemeriksa di BC Belawan dia dateng bersama Apoy, orang keling yang kerjanya kasak kusuk di BC Belawan, terimakasih Lae ya., sudah minjemin mobil untuk jemput di bandara..?
besoknya kita ke BC di Belawan, disana ketemu dengan Tulang Parmon Sinambela yg bertugas di PFPD dan tukaran mobil, sekarang kita dapet mobil pinjaman dari teman2 di P2 Wilayah ( Despan Sinaga ), pulang dari Belawan mampir dulu ketempat Rossy Hutagaol ditempat penggilingan berasnya di daerah Percut.
Hari Senen, tanggal 31 Januari 2011, gue bersama Laut Simanjuntak, Saut Napitupulu dan Baldwin Simanjuntak berangkat dari Medan menuju Tebingtinggi, disini gue nemuin temen gue waktu di SMA, namanya Jamal Agustar Harahap, disana kita sebentar aja dan langsung diajak makan seafood bersama dengan istri terbarunya Sonya, malamnya kita langsung lanjut menuju Balige dan tidur dirumah Abangnya Laut, yang kebetulan pula istrinya adalah Ito dari Eddy Jongga Tampiubolon, nah., Jongga ini ngambil boru dari Amangtua gue Domine FKN Harahap.
Nah., rumah di Balige inilah yang menjadi basecamp gue selama around to Tapanuli, mulai dari ngeliat tumbak ( kuburan ) dan rumah dari orangtua Amangboru gue, Jonh Hardy Samsudin Siahaan, jalan jalan dan ngeliat museum TB Silalahi, nongkrong sambil minum tuak di tepi Danau Toba di Lintong ni Huta, naik bukit turun bukit didaerah Sianipar Sihailhail, melakukan penyuluhan obat Kilian di daerah Lumban Sirait di Porsea dengan Sukun Sirait dan Simarmata, ke gereja GKPI di desa Tambunan di Narumonda, nyekar ketempat makamnya Nomensen di Sigumpar, nyekar sambil bersih bersih kuburannya Gustav Pilgrim, yang punya cerita bilang ; beliaulah tokoh misioneries Kristen pertama di luat Balige, pernah juga makan malam dengan nasi goreng di kedai boru Batak yang bermarga Al Idroes,
itulah kegiatan gue selama di Balige, sedangkan diluar Balige.? Gue cs bersama mobil nyebrang dari pelabuhan Ajibata dekat Prapat menuju Tomok di Pulau Samosir, darisana gue menuju Pangururan ketemu dengan AKBP Edward Sirait, dia adalah Kapolres Kabupaten Samosir, udah gitu kita disediakan 2 kamar di hotel Dainang dan malamnya diajak sama Kapolres makan malam plus karaokean di aek milas Saulina resort, tempatnya..? wow.., fantastic dan sangat indah, lokasinya tepat ditepi Danau Toba dengan pemandangan menuju tanah seberang.
Esok harinya gue main kerumah Lae Victor Simbolon (istrinya boru Harahap,inangtuanya Rossy Ht Gaol ) di daerah Simbolon Purba, Lae ini anggota DPRD Kabupaten Samosir, gitulah si domu ini, kenal gak kenal yang penting kenalan dulu, dan yang penting lagi, keluarganya yang lain gue kenal, karena gue yakin juga, walau dia gak kenal muka gue, tapi mereka pasti kenal nama gue. Tuh kan…bener…!
Siangnya kejadian seperti itu gue ulangin lagi, gue dateng kerumah orangtuanya Mode Silalahi di pusat kota Pangururan, Mode Silalahi ini adalah hela dari Esther Simanjuntak br Harahap.
ada suatu cerita yang menarik pada saat menunggu dirumah Mode ini, gak ada angin, gak ada badai, Kak Magda Sitompul nelpon gue, dia nanya kapan rencana pomparan opung Constan Harahap kumpul2 dirumahnya dan nanya dimana gue saat ini, waktu gue bilang lagi di Pangururan, dia pun cerita , kalau anaknya Ucok ( Danie Sitompul )sekarang ini tinggal dan bekerja di Doloksanggul, lho., kebetulan sekali, karena rencananya gue akan pulang siang ini ke Balige melewati Doloksanggul. Di Jakarta aja ketemu dengan bere gue ini susah banget, eh., ini malah ketemuannya didaerah pedalaman batak, kita main deh kerumahnya yang masih kosong melompong, dah gitu diajak makan bakpao kuda di pasar Doloksanggul,
yang gue sangat berkesan., pada saat perjalanan dari Pangururan ke Doloksanggul melewati Tele, kita lewati daerah yang jalannya berputar putar seperti spiral, semakin tinggi, semakin indah pemandangannya dan semakin ngeri memandangnya, katanya Kapolres ; lewat daerah itu, bukan hanya keterampilan yang diperlukan, tapi juga masalah mental, dan daerah tsb semakin terkenal mengerikan, pada saat mobil mantan Wakasad Rajaguguk terguling guling jatuh kecebur di danau.
Pulang dari Doloksanggul kita sempetin mampir di Bahalbatu siborongborong kerumah Tauji Sihombing, disinipun ada cerita yang menarik, mobil diparkir dihalaman rumahnya dibawah pohon, saat Laut tidur tiduran di mobil, tiba tiba ada yang nendang dia sampai terpental keluar mobil, setengah jam kemudian Baldwin yang masuk ke mobil, kembali dia ditendang dari mobil dan kembali terpental keluar mobil, waktu Baldwin cerita, si Laut ketawa ngakak, dia bilang ; “ gue tadi juga kena, tapi kalau tadi gue cerita, elo pasti gak tidur di mobil, kalau beginikan kita jadi sama sama ngerasa’in “.
Hari Sabtu keesokan harinya kita berangkat dari Balige menuju Bungabondar, sampai di Sipirok siang, kita masuk warung makan, kalau gue nyari gule ikan limbat dan daging bakar yang diasam, sedangkan yang lain pada makan sop kerbau sama sambal teri, ehm.. nikmatnya..!
Puas makan dan melepas pegel pegel, berangkatlah kita menuju Bungabondar, saat nyetir kesana gue pake kacamata kuda, gak nengok kanan gak nengok kiri, mata lurus aja kedepan dan langsung menuju kuburan mertua yang berada disamping gereja GKPA Bungabondar, disana gue cuman ngebersihin kuburan, lap lap dikit dan nyabut tanaman yang nempel ditembok makam, langsung keluar lagi dari Bungabondar dan rasanya tidak memakan waktu sampai 5 menit, dan inilah guiness book record gue selama ke Bungabondar.
Yang jalan bareng gue inikan orang orang Toba dan anggota HKBP, mereka suka dan pernah denger yang namanya nama Bungabondar, tapi baru kali inilah mereka tau yang namanya desa Bungabondar, wah., seneng banget mereka pada saat itu,
Mereka sempatkan untuk foto foto didepan gereja, malah mereka juga sempetin foto ditembok ucapan selamat datang BUNGABONDAR. Waduuh sampai segitunya kalian itu.,
Darisana kita menuju Parausorat, sambil lewat mampir dulu ngeliat makamnya Pdt Petrus Nasution, yang empunya cerita bilang ; beliau adalah salah satu Pendeta pertama orang batak, walau makamnya belum terawat dan belum rapi, tapi disitu baru dibuat spanduk nama yang masih baru dan masih rapi, perjalanan dilanjutkan menuju gereja GKPA di Parausorat, gerejanya kecil , berada dipojok jalan dengan warna kuning yang menyolok, inilah Gereja yang sepertinya menyiratkan sebagai sebuah prasasti, yang tertulis di agenda GKPA dan HKBP sebagai daerah penyebaran agama Kristen pertama di tanah Batak, tidak jauh ke arah belakang Gereja, ada monument atau tugu atau bangunan makam dari Jarumahut Nasution, bangunan ini baru dibangun dan diresmikan bulan November 2010 oleh para pomparannya, antara lain ada tanda tangan Viktor Nasution di prasasti makam dan ada nama Fernando Nasution yang menulis sejarah ringkasnya, katanya ; Jarumahut Nasution ini, adalah Bapak pemersatu agama di tanah Batak, khususnya di luat Angkola.
kembali kea rah belakang dari bangunan Jarumahut Nasution, ditengah tengah ilalang yang tinggi dan jalan setapak menuju tanah lapang, ada lagi monument atau tugu atau bangunan untuk mengenang Nomensen, tempatnya kotor, sekelilingnya tak terawat, tapi dikatakan beliau adalah Rasulnya orang Batak, diprasasti itu bertanda tangan a/l Rudolf Pardede ( Gubsu ), HR Agung Laksono ( Ket.DPR ), Effendy Sianipar (ket Panitia ) dan Basauli Siregar (Tokoh masyarakat Tapsel ),
Kalau menurut gue sih., jauh lebih berperan H(Heine), K(Klammer),B(Bezt),V atau P( Van Asselt) di tanah Angkola dibandingkan dengan peran Nomensen, jadi apa manfaatnya monument Nomensen dibangun di Parausorat..? apalagi jelas jelas dikatakan daerah Parausorat adalah awal dari pelayanannya Gerrit Van Asselt.
Darisana kita sempatkan mampir kerumah tulang di Padang Matinggi, disini kita disediakan tuak, dan pulangnya Baldwin di oleh olehin kulit pohon yang berfungsi sebagai salah satu bahan pembuat tuak.
Pulangnya kita puter dulu lewat Sibolga, targetnya, mau liat kota dan pelabuhan Sibolga dari daerah Bonandolok, yang kita dapet malah jalanan yang hancur lebur, hujan sepanjang jalan dan perut lapar yang dari siang belum diisi, masuk Sibolga dari arah Padang Sidempuan sampai keluar Sibolga menuju Tarutung, banyak spanduk Bonaran Situmeang yang sedang mencalonkan diri sebagai Bupati Sibolga, kita ingat Bonaran adalah pengacaranya Anggodo, sedangkan Anggodo adalah adiknya Anggoro, dan mereka berdua sama saja, sama sama pemain dan sama sama mengatur, bagaimana bermain kasar, tapi tetap dalam koridor hukum yang tentunya didukung oleh para ahli hukum.
Tgl 8 Februari dengan pesawat Batavia air gue dengan Laut berangkat ke Batam, saat itu kita berangkat dengan uang ngepas,karena janji dengan orang Arpeni gagal, gara2 mereka membatalkan janji dengan sefihak, sedangkan tiket ke Batam sudah dibeli, yah., dengan modal nekad berangkatlah kesana, apa yang terjadi disana kita akan selesaikan disana, di Batam kita dijemput oleh Soeleman Nababan (Laenya Jans Siregar ), dengan yakinnya dia ngajak kita tidur di hotel Nagoya, hotel tua dan cukup berkelas di Batam, siangnya diajak makan dengan keluarganya, malamnya diajak makan ikan bakar, tarimokasih bere da..? kompensasinya ..? gue ajak dia kenalan dan foto2 dengan Deputi Otorita Batam.
Oh iya., dengan bantuan dari Tulang Parmon Sinambela, kita dapet mobil dari Bea Cukai Batam melalui temannya Salomo Silitonga ( Kasie Intel BC Batam ), dengan mobil inilah kita keliling Barelang sampai tempat pengungsian orang2 Vietnam di Pulau Galang, makan mewah di Gold Fish Resort dan masuk Batam resort hotel, dari sana kita bisa liat langsung Singapur dan ada patung Dewi Kwan Im emas yg terletak di resort tsb, jadi kalau ditanya., apakah gue pernah ke Singapur..? yah., gue pernah liat.he..he..he..!
Disana gue ketemu dengan Taskar Membalik, pegawai P2 BC di kantor Pos Batam, gue ketemu dengan Syahroni Harahap, salah 1 Deputi di Otorita Batam dan ketemu dgn Baginda Nasution, adiknya Nimrod. Ada satu target sebenarnya yang akan dikejar di Batam, yang dikejar malah lari, yang tidak dikejar malah melengkapi target tsb, yah., begitulah kerjanya Tuhan itu, Tuhan melengkapi dan bekerja diluar nalar kita sebagai manusia.
Terima kasih Tuhan dan terima kasih teman2ku di Batam.
Tgl 10 Februari kami kembali dari Batam dengan Lion Air dan kembali kepada keluarga masing masing, hampir 2 minggu keluyuran dan berpisah dengan keluarga, ini hari bertemu hanya membawa sejuta kenangan, tanpa ada yang dibawa sama sekali ( kebangetan memang..! ).

Bogor, Februari 2011






===========================================================
=========================================================================

65 Tahun Tulang

Tulang gue yang bungsu ini namanya , Venny Agus Siregar, kalau dikantornya dipanggil Pak Venny, tapi kalau keluarga manggilnya Agus, maksudnya keluarga disini yaitu , abang2nya, kakak2nya dan yang selevel didalam umur dan tingkat kekerabatannya, karena beliau ini sekarang menjadi kepala suku dikeluarga Siregar gue, maka panggilannya pun jadi bervariasi, ada yang manggil tulang, ada yang manggil bapauda, ada yang manggil abang, ada yang manggil amangboru dan yang banyak sekarang ini manggilnya opung, karena risih nyebut nama, jadilah dipanggil Tulang / opung Rempoa.
Tanggal 12 Agustus 2011 ini, tulang berulang tahun ke 65, tulang lahir di Kerasaan Kabupaten Simeulungun Sumatera Utara, gak jauh dengan asal muasalnya M. Nazarudin yang baru ditangkap di Columbia. Sedangkan pada saat kejuaraan dunia sepakbola tahun 2006 di Jerman, anak gue andre dan ardith manggilnya Opung Lombardo ( tapi bilangnya diam2, takut ketauan ), kata mereka., karena Opung mirip dengan Lombardo pemain sayap kiri tim nasional Italia.
Tulang menikah dengan Nurma Ria Anna Manik ( gue manggilnya nantulang ), dikaruniai 4 anak yaitu :
1. Meylinar (Nani) Siregarmenikah dengan A. Gatot SE dikaruniai 2 anak namanya Nadine dan Gerry ,
2. Evie Siregar menikah dengan Joko Ian Sihombing (Plt) dikaruniai 2 anak Kiel dan Gracello
3. David Siregar SH menikah dengan Astried Purba
4. Yessy Siregar SH menikah dengan Jonh Pasaribu ST dikaruniai 2 anak Angie dan Anggita.
Karena nama cucu tertuanya Nadine, maka tulang sekarang dipanggil dengan nama Opung ni Nadine.
Bangga banget kalau melihat perjalanan karier dan kehidupan tulang ini, bener bener seperti kita melihat anak tangga, mulai dari yang paling bawah dan terus naik sampai yang paling atas, mulai dari jadi guru di sekolah Berkat di Jatinegara yang merangkap juga sebagai pegawai di Garuda, mulai dari naik sepeda motor Honda Cb sampai bisa gonta ganti mobil, mulai berangkat kerja pagi pagi buta, sampai gak berangkat berangkat lagi (maksudnya sudah pensiun), mulai dari rumah gubuk di rawa rawa kampung ambon, sampai rumah tembok di Rempoa, mulai dari nanya “ besok kita makan apa.? ” , sampai nanya “ besok kita makan dimana.? ”.
Tulang ini ginjalnya tinggal 1, waktu tahun 80 an ginjal satunya didonorkan kepada abang tertuanya Tulang Marsan Siregar, tapi karena tulang punya tingkat disiplin yang tinggi, baik pola makan maupun gaya hidupnya, sampai sekarang sehat sehat aja tuh..! nah., itulah ganjaran dari orang yang mau berbuat untuk saudaranya, kalau Jesus mau berkorban hidupnya untuk keselamatan manusia, kalau tulang mau berkorban ginjal untuk keselamatan saudaranya, yah.., beda beda tipislah. He..he..he…!
Tulang ini bagi semua ponakkan2nya ( khususnya bere ) sering dianggap sebagai teman, sebagai sahabat, sebagai abang, karena kita bere berenya bisa bebas berbicara ngalor ngidul, bebas untuk ngambek, dan bebas dengan basa basi, ini bisa terjadi, karena umur kita kita tidak terlalu berbeda jauh, itupun karena sifat dari tulang juga yang tidak memasang garis pembatas yang tegas, tidak memasang konsep, tulang adalah orang yang harus disembah dan dihormati, dan tulang tidak berfikir kembali ke jaman purba, kalau tulang adalah debata na tarida ( tuhan yang kelihatan ), kalau ditempat lain, bere yang manganju tulang, kalau ini, tulang yang lebih sering manganju berenya. kalau ditempat lain, bere yang sering dateng kerumah tulang, kalau ini malah tulang yang sering dateng kerumah berenya.
Kalau ditempat lain, mengundang tulang harus dateng langsung dan bawa oleh oleh, kalau dengan tulang ini, cukup telpon, kalau perlu sms pun tidak menjadi masalah ( nah., kalau yang begini nantulang yang sering ngedumel ). kalau ditempat lain, bere menjadi pendengar yang baik, kalau ini, malah tulang yg menjadi pendengar yg baik,
Mungkin inilah rahasia hidup sukses tulang, orang bijak mengatakan “ jauh lebih bagus menjadi pendengar yang baik, daripada menjadi pembicara yang baik “ , jadi tidak usah kaget dengan sifat tulang yang satu ini, karena tulang mempunyai pemahaman budaya batak yang sangat kental, karena ungkapan “anak do rere, anak do babere “ sudah menjadi darah daging tulang dalam hubungan dengan berenya.
Ada sebuah cerita yang bagus dan ini bukan ilustrasi ; “ disatu sekolah negeri, ada seorang guru yang sangat terkenal dengan ketekunan dan kesabarannya dalam mengajar murid2nya, suatu saat., anak dari guru tersebut ditanyakan oleh teman2nya, “ indah dan penuh kebahagiaan pastinya rumah tangga kamu itu ya..? sang anak menjawab ; kalau boleh memilih, saya lebih ingin menjadi muridnya dibandingkan dengan menjadi anaknya “.
Kagetkan…? nah., yang gue tau, tulang ini sangat keras dengan anak laki lakinya David, tapi sangat mengalah dengan ketiga anak perempuannya, dengan David, keras, tegas dan tanpa kompromi, tapi dengan ketiga borunya, lembut, mengalah dan melayani, dengan nantulang…? He..he..he.., kadang keras, kadang lembut. kadang cekcok, kadang diam diaman, tapi kalau sedang kompak dan berbaikkan, kita yang ada disebelahnyapun kadang terabaikan, apalagi kalau sedang mengucapkan salam perpisahan di telpon, nada dan kata kata ‘ daaag mama ‘ nya mesra banget, sampai jadi iri deh tulang.
Banyak hal indah dan yang berkesan antara gue dan keluarga dengan tulang ini, mulai dari kecil diajak tulang jalan jalan ke danau toba dan ditenggelemin, naik sepeda dari kerasaan ke Laras, godain cewe di di kerasaan dan pertama kali diajak minum tuak di lapo, jalan bareng tulang dari Jakarta ke Lamongan dan tulang ikut buat obat Kilian disana, ngajak tulang ikut penyuluhan di Laren (pesisir Bengawan Solo ), jalan bareng tulang, david dan astried nyusurin danau toba lewat Brastagi, jalan bareng tulang, david, astried dan mida ke Bungabondar, dan last but not least, pada saat tulang turut serta mengantarkan jenazah mertua ke Bungabondar, hebat memang tulangku ini, saat suka maupun duka kami terus didampingi, kalau orang bilang “ kijang gak ada dua nya”, kalau gue bilang “ tulangku gak dua nya “
gue diajar’in juga, bahwa; memberi lebih indah daripada menerima, hubungan vertical harus juga seimbang dengan hubungan horizontal, jangan mudah untuk konfrontasi, lebih baik netral walau harus mengikuti kemana angin berhembus, gak tau juga., darimana tulang mendapatkan falsafah ini “ kalau iya berarti mungkin, kalau mungkin berarti tidak, kalau tidak berarti bukan tulang “, karena susah sekali tulang mengatakan tidak, apalagi kalau kepada berenya.
Duma pun banyak hal indah yang tentunya dapat dikenang dengan tulang ini, saat tulang dan nantulang memberikan perhiasan mami yang sudah berpindah tangan, saat duma mau pesta dapet seragam dan harus dijait, tinggal nantulanglah yang menjadi tumpuan harapan, minta jadinya cepet, tapi bayarnya minta lambat, he..he..he…!
Andre mengenangnya pada saat awal kuliahnya di STAN, saat itu andre tinggal di rempoa dan kalau telat bangun dan harus buru buru supaya gak telat, opungnya lah yang nganter naik motor, kalau sore hari, main pingpong dengan opungnya di gereja dekat rumah, kalau gak main pingpong, dibawanya motor opungnya untuk jalan2 ke Bintaro, sampai sekarang., tinggal opungnya itulah tempat andre curhat.
Ardith..? nah kalau yang ini lain lagi, kalau opungnya dateng ke bogor pasti gak lupa ngasih uang parkir, dan selalu ardith yang menjadi alasan kalau tulang mau ngasih uang ke gue, biasanya tulang bilang begini ; ‘bang domu., tolong titip untuk ardith ya..?.

“ Satu hal telah kuminta kepada Tuhan,
itulah yang kuingini ; diam dirumah Tuhan, seumur hidupku
menyaksikan kemurahan Tuhan dan menikmati baitNya “ ( Mazmur 27 : 4 ).
Sebuah lilin yang menyala berkata “ Engkau telah menyalahkan aku dan engkau dapat menikmati kehangatan dan terang yang kupancarkan, aku tau., disaat aku dinyalakan semakin pendek batangku dan semakin dekat pula kisahku, namun aku lebih berbahagia saat sekarang ini, daripada saat aku masih tersimpan rapi didalam sebuah kotak.
Aku tahu., aku mempunyai pilihan untuk tetap tinggal didalam kotak, tetapi itu tidak berguna sama sekali, atau aku membakar diriku sendiri dengan memberikan cahaya, kehangatan dan keindahan, tetapi dengan demikian mempercepat kematianku, walaupun aku tau, bahwa memberi itu sangat indah dan memberi makna dalam hidup “.
Sebagai manusia, khususnya bagi orang Kristen, kita dapat dapat hidup seperti lilin itu, apakah kita akan terus menggenggam erat hidup kita sendiri atau kita mau membagikan kasih, kehangatan dan cinta kepada orang lain.
Disekeliling kita terdapat banyak orang yang membutuhkan uluran tangan , ada banyak disekitar kita yang sakit dan mereka membutuhkan penghiburan, ada banyak disekitar kita yang putus asa dan kehilangan pengharapan, mereka membutuhkan motivasi dari kita, ada banyak disekitar kita yang sedang dalam kekurangan dan mereka membutuhkan bantuan kita.
Tuhan memberikan banyak kesempatan kepada kita untuk dapat berbuat dan berguna kepada orang lain, dengan itu kita akan merasakan, bahwa memang lebih indah memberi, daripada menerima, sebagaimana dikatakan oleh ungkapan ini ;
Lonceng bukanlah lonceng, hingga engkau membunyikannya
Lagu bukanlah lagu, hingga engkau menyanyikannya
Cinta dihatimu tidak dianugerahkan untuk disimpan..,
Cinta bukanlah cinta, hingga engkau menyalurkkannya.
Kita tidak akan pernah menjadi seorang Kristen sejati, hingga kita mau menjadi lilin yang menyala, yang terbakar habis, namun memberikan terang, kehangatan dan makna hidup dalam kehidupan ini. Amin…!
Selamat ulang tahun ke 65 pada tanggal 12 Agustus 2011 ini Tulang, kiranya pelayanan Tulang semakin berkenan dan semakin menyenangkan hati Tuhan, sehat sehat dan agar panjang umur.
Tuhan Jesus memberkati Tulang, Nantulang dan keluarga besar kita semua.

Bogor, 12 Agustus 2011.