Kamis, 19 Januari 2012

Esther Hasibuan dan Linda Lubis

TIAP KELUARGA ADA SALIBNYA

Tuhan Jesus menyuruh mereka yang hendak mengikut Dia untuk memikul salib. Salib siapa yang perlu kita pikul..?
Banyak orang mengira itu adalah salib Kristus, padahal bukan itu yang dimaksudkan, Tuhan Jesus berkata “ Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku “ ( Lukas 9 : 23 ).
Disini bukan tertulis “ Salib-Ku “ melainkan “ Salibnya “, karena salib yang perlu kita pikul bukanlah salib Kristus, melainkan salib kita sendiri.
Mengapa Tuhan Jesus menyuruh kita memikul salib kita masing masing..? karena salib adalah lambang penderitaan, atau lebih tepat lagi, lambang penderitaan sebagai pengorbanan.
Tidak ada orang yang menghendaki penderitaan, namun kenyataan dalam hidup ini tidak ada orang yang luput dari penderitaan,karena penderitaan ada sebagai bagian dari hidup kita dalam berbagai bentuk yang berbeda.
Ambillah contoh :
Dalam tiap pekerjaan ada tugas yang menyenangkan dan ada pula tugas yang kurang menyenangkan, bahkan sangat menjengkelkan. Kita mau menjalankan tugas yang menyenangkan, tetapi kita cenderung menggeser tugas yang menjengkelkan itu kepada orang lain, padahal tugas yang menjengkelkan itupun termasuk bagian dari pekerjaan yang harus kita jalankan, bagian dari tugas kita yang menjengkelkan itu adalah salib yang harus kita pikul.
Kehidupan berkeluarga pun terdiri dari bagian yang menyenangkan dan bagian yang kurang menyenangkan, bentuknya bisa dalam penyakit, musibah maupun dalam persoalan rumah tangga, kita tidak dapat menghindar dari bagian bagian yang kurang menyenangkan itu, kita tidak bisa dan tidak boleh hanya yang enak enaknya saja, juga bagian bagian yang yang tidak enak perlu kita pikul, Itulah salib kita.
Bayangkan, betapa beratnya beban perasaan orangtua melihat anaknya kecanduan narkoba, tiap hari hanya melihat anaknya terkulai lemas tidak berdaya, melihat anaknya menatap dengan mata yang kosong tanpa pengharapan, bertambah hari bertambah kurus, bertambah hari bertambah rentan dengan segala macam penyakit, sehingga tiap hari orangtua ini memikul beban dengan berbagai macam perasaan, bisa perasaan yang menyalahkan diri sendiri, karena merasa selama ini kurang memberikan perhatian kepada anaknya atau bisa juga menyalahkan diri sendiri, karena sebagai orangtua tidak bisa memberikan contoh yang baik kepada anaknya. Beban perasaan ini adalah salib yang mereka harus pikul, bisa saja ini akibat dampak dari kehidupan dunia yang mereka jalani selama ini.
Keluarga lain bisa saja menghadapi salib yang bentuknya lain lagi,
Bertahun tahun orangtua hidup dengan pelayanannya kepada Tuhan di gereja, mengikuti semua kegiatan gereja, memberikan pelayanan kepada Gembala dan semua umat di gereja, serta membawa semua keluarga untuk memberikan yang terbaik kepada gereja, tetapi orangtua tsb lupa, bahwa hidup tidak surut kebelakang, melainkan seperti anak panah yang melesat kedepan,
Benar., ada tertulis ; “ Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman Tuhan yang keluar dari mulut Allah “, tapi Tuhan pun meminta kepada kita untuk hidup dalam keseimbangan, didalam HUKUM KASIH dikatakan “ Kasihilah Tuhan Allah Mu dengan segenap hatimu….., dst dan Kasihilah sesamamu manusia seperti kau mengasihimu dirimu sendiri “. Inilah arti dari keseimbangan itu.
Mari kita tafsirkan lebih luas lagi kata kata mengasihi sesama manusia dengan ; bermasyarakat, bersosialisasi dan berinteraksi kepada semua umat manusia untuk menyinarkan sinar kasih Tuhan kepada semua umat manusia.
Karena itu konsep keseimbangan dalam hidup harus dikembangkan sedini mungkin, jangan menciptakan pelayanan yang hanya menjadikan hal yang rutinitas saja, yang akhirnya hanya menimbulkan kejenuhan dan tanpa makna sama sekali , karena kalau hal ini terjadi, akan menjadi salib baru kepada orangtua pada saat timbul perbuatan yang tidak sesuai dengan perkataan dari anaknya.
Dalam kehidupan ini memang ada 1001 macam salib, dan tiap keluarga mempunyai salibnya masing masing, ada keluarga yang begitu sedih karena mendambakan anak , sebaliknya ada keluarga yang mempunyai anak, namun perilaku anak sangat menyakitkan hati orangtuanya, namun bisa juga orangtua yang malah menyakitkan hati anaknya , ada istri yang tertekan batinnya karena suami tidak setia, sebaliknya ada suami yang selalu tertekan batinnya karena istri selalu memojokkannya.
Ada suatu ungkapan menarik yang mengatakan “ Jika didunia ini ada surga, itulah rumah tangga yang bahagia, tapi kalau didunia ini ada neraka, itulah rumah tangga yang berantakkan “.
Memang ada persoalan atau penderitaan yang terjadi karena kesalahan kita sendiri, demikian juga ada persoalan dan penderitaan yang kita dapat tanggulangi, namun adapula persoalan dan penderitaan yang betul betul tidak terelakkan, penderitaan yang tidak terelakkan inilah salib yang perlu kita pikul.
Dalam memanggil orang orang untuk menjadi pengikut Nya, Tuhan Jesus tidak menjanjikan jalan hidup yang penuh dengan keberhasilan atau jalan hidup yang tidak menghadapi penderitaan, tapi Tuhan mengingatkan, bahwa mereka harus mau memikul salib, bersedia memikul salib dan bisa memikul salib, sebab itu tiap orang dan tiap rumah tangga pasti mempunyai salibnya masing masing.

Amin….!

Kepada Yts : Kak Esther dan Linda ;
Selamat ulang tahun, selalu sehat dan panjang umur, kiranya kita semua anak, mantu dan cucu dari papi dan mami dapat selalu berbagi kasih sayang, dan dapat memikul salib kita masing masing dengan selalu mengucap syukur kepada Tuhan.


Bogor, 15 Oktober 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar