Kamis, 19 Januari 2012

65 Tahun Tulang

Tulang gue yang bungsu ini namanya , Venny Agus Siregar, kalau dikantornya dipanggil Pak Venny, tapi kalau keluarga manggilnya Agus, maksudnya keluarga disini yaitu , abang2nya, kakak2nya dan yang selevel didalam umur dan tingkat kekerabatannya, karena beliau ini sekarang menjadi kepala suku dikeluarga Siregar gue, maka panggilannya pun jadi bervariasi, ada yang manggil tulang, ada yang manggil bapauda, ada yang manggil abang, ada yang manggil amangboru dan yang banyak sekarang ini manggilnya opung, karena risih nyebut nama, jadilah dipanggil Tulang / opung Rempoa.
Tanggal 12 Agustus 2011 ini, tulang berulang tahun ke 65, tulang lahir di Kerasaan Kabupaten Simeulungun Sumatera Utara, gak jauh dengan asal muasalnya M. Nazarudin yang baru ditangkap di Columbia. Sedangkan pada saat kejuaraan dunia sepakbola tahun 2006 di Jerman, anak gue andre dan ardith manggilnya Opung Lombardo ( tapi bilangnya diam2, takut ketauan ), kata mereka., karena Opung mirip dengan Lombardo pemain sayap kiri tim nasional Italia.
Tulang menikah dengan Nurma Ria Anna Manik ( gue manggilnya nantulang ), dikaruniai 4 anak yaitu :
1. Meylinar (Nani) Siregarmenikah dengan A. Gatot SE dikaruniai 2 anak namanya Nadine dan Gerry ,
2. Evie Siregar menikah dengan Joko Ian Sihombing (Plt) dikaruniai 2 anak Kiel dan Gracello
3. David Siregar SH menikah dengan Astried Purba
4. Yessy Siregar SH menikah dengan Jonh Pasaribu ST dikaruniai 2 anak Angie dan Anggita.
Karena nama cucu tertuanya Nadine, maka tulang sekarang dipanggil dengan nama Opung ni Nadine.
Bangga banget kalau melihat perjalanan karier dan kehidupan tulang ini, bener bener seperti kita melihat anak tangga, mulai dari yang paling bawah dan terus naik sampai yang paling atas, mulai dari jadi guru di sekolah Berkat di Jatinegara yang merangkap juga sebagai pegawai di Garuda, mulai dari naik sepeda motor Honda Cb sampai bisa gonta ganti mobil, mulai berangkat kerja pagi pagi buta, sampai gak berangkat berangkat lagi (maksudnya sudah pensiun), mulai dari rumah gubuk di rawa rawa kampung ambon, sampai rumah tembok di Rempoa, mulai dari nanya “ besok kita makan apa.? ” , sampai nanya “ besok kita makan dimana.? ”.
Tulang ini ginjalnya tinggal 1, waktu tahun 80 an ginjal satunya didonorkan kepada abang tertuanya Tulang Marsan Siregar, tapi karena tulang punya tingkat disiplin yang tinggi, baik pola makan maupun gaya hidupnya, sampai sekarang sehat sehat aja tuh..! nah., itulah ganjaran dari orang yang mau berbuat untuk saudaranya, kalau Jesus mau berkorban hidupnya untuk keselamatan manusia, kalau tulang mau berkorban ginjal untuk keselamatan saudaranya, yah.., beda beda tipislah. He..he..he…!
Tulang ini bagi semua ponakkan2nya ( khususnya bere ) sering dianggap sebagai teman, sebagai sahabat, sebagai abang, karena kita bere berenya bisa bebas berbicara ngalor ngidul, bebas untuk ngambek, dan bebas dengan basa basi, ini bisa terjadi, karena umur kita kita tidak terlalu berbeda jauh, itupun karena sifat dari tulang juga yang tidak memasang garis pembatas yang tegas, tidak memasang konsep, tulang adalah orang yang harus disembah dan dihormati, dan tulang tidak berfikir kembali ke jaman purba, kalau tulang adalah debata na tarida ( tuhan yang kelihatan ), kalau ditempat lain, bere yang manganju tulang, kalau ini, tulang yang lebih sering manganju berenya. kalau ditempat lain, bere yang sering dateng kerumah tulang, kalau ini malah tulang yang sering dateng kerumah berenya.
Kalau ditempat lain, mengundang tulang harus dateng langsung dan bawa oleh oleh, kalau dengan tulang ini, cukup telpon, kalau perlu sms pun tidak menjadi masalah ( nah., kalau yang begini nantulang yang sering ngedumel ). kalau ditempat lain, bere menjadi pendengar yang baik, kalau ini, malah tulang yg menjadi pendengar yg baik,
Mungkin inilah rahasia hidup sukses tulang, orang bijak mengatakan “ jauh lebih bagus menjadi pendengar yang baik, daripada menjadi pembicara yang baik “ , jadi tidak usah kaget dengan sifat tulang yang satu ini, karena tulang mempunyai pemahaman budaya batak yang sangat kental, karena ungkapan “anak do rere, anak do babere “ sudah menjadi darah daging tulang dalam hubungan dengan berenya.
Ada sebuah cerita yang bagus dan ini bukan ilustrasi ; “ disatu sekolah negeri, ada seorang guru yang sangat terkenal dengan ketekunan dan kesabarannya dalam mengajar murid2nya, suatu saat., anak dari guru tersebut ditanyakan oleh teman2nya, “ indah dan penuh kebahagiaan pastinya rumah tangga kamu itu ya..? sang anak menjawab ; kalau boleh memilih, saya lebih ingin menjadi muridnya dibandingkan dengan menjadi anaknya “.
Kagetkan…? nah., yang gue tau, tulang ini sangat keras dengan anak laki lakinya David, tapi sangat mengalah dengan ketiga anak perempuannya, dengan David, keras, tegas dan tanpa kompromi, tapi dengan ketiga borunya, lembut, mengalah dan melayani, dengan nantulang…? He..he..he.., kadang keras, kadang lembut. kadang cekcok, kadang diam diaman, tapi kalau sedang kompak dan berbaikkan, kita yang ada disebelahnyapun kadang terabaikan, apalagi kalau sedang mengucapkan salam perpisahan di telpon, nada dan kata kata ‘ daaag mama ‘ nya mesra banget, sampai jadi iri deh tulang.
Banyak hal indah dan yang berkesan antara gue dan keluarga dengan tulang ini, mulai dari kecil diajak tulang jalan jalan ke danau toba dan ditenggelemin, naik sepeda dari kerasaan ke Laras, godain cewe di di kerasaan dan pertama kali diajak minum tuak di lapo, jalan bareng tulang dari Jakarta ke Lamongan dan tulang ikut buat obat Kilian disana, ngajak tulang ikut penyuluhan di Laren (pesisir Bengawan Solo ), jalan bareng tulang, david dan astried nyusurin danau toba lewat Brastagi, jalan bareng tulang, david, astried dan mida ke Bungabondar, dan last but not least, pada saat tulang turut serta mengantarkan jenazah mertua ke Bungabondar, hebat memang tulangku ini, saat suka maupun duka kami terus didampingi, kalau orang bilang “ kijang gak ada dua nya”, kalau gue bilang “ tulangku gak dua nya “
gue diajar’in juga, bahwa; memberi lebih indah daripada menerima, hubungan vertical harus juga seimbang dengan hubungan horizontal, jangan mudah untuk konfrontasi, lebih baik netral walau harus mengikuti kemana angin berhembus, gak tau juga., darimana tulang mendapatkan falsafah ini “ kalau iya berarti mungkin, kalau mungkin berarti tidak, kalau tidak berarti bukan tulang “, karena susah sekali tulang mengatakan tidak, apalagi kalau kepada berenya.
Duma pun banyak hal indah yang tentunya dapat dikenang dengan tulang ini, saat tulang dan nantulang memberikan perhiasan mami yang sudah berpindah tangan, saat duma mau pesta dapet seragam dan harus dijait, tinggal nantulanglah yang menjadi tumpuan harapan, minta jadinya cepet, tapi bayarnya minta lambat, he..he..he…!
Andre mengenangnya pada saat awal kuliahnya di STAN, saat itu andre tinggal di rempoa dan kalau telat bangun dan harus buru buru supaya gak telat, opungnya lah yang nganter naik motor, kalau sore hari, main pingpong dengan opungnya di gereja dekat rumah, kalau gak main pingpong, dibawanya motor opungnya untuk jalan2 ke Bintaro, sampai sekarang., tinggal opungnya itulah tempat andre curhat.
Ardith..? nah kalau yang ini lain lagi, kalau opungnya dateng ke bogor pasti gak lupa ngasih uang parkir, dan selalu ardith yang menjadi alasan kalau tulang mau ngasih uang ke gue, biasanya tulang bilang begini ; ‘bang domu., tolong titip untuk ardith ya..?.

“ Satu hal telah kuminta kepada Tuhan,
itulah yang kuingini ; diam dirumah Tuhan, seumur hidupku
menyaksikan kemurahan Tuhan dan menikmati baitNya “ ( Mazmur 27 : 4 ).
Sebuah lilin yang menyala berkata “ Engkau telah menyalahkan aku dan engkau dapat menikmati kehangatan dan terang yang kupancarkan, aku tau., disaat aku dinyalakan semakin pendek batangku dan semakin dekat pula kisahku, namun aku lebih berbahagia saat sekarang ini, daripada saat aku masih tersimpan rapi didalam sebuah kotak.
Aku tahu., aku mempunyai pilihan untuk tetap tinggal didalam kotak, tetapi itu tidak berguna sama sekali, atau aku membakar diriku sendiri dengan memberikan cahaya, kehangatan dan keindahan, tetapi dengan demikian mempercepat kematianku, walaupun aku tau, bahwa memberi itu sangat indah dan memberi makna dalam hidup “.
Sebagai manusia, khususnya bagi orang Kristen, kita dapat dapat hidup seperti lilin itu, apakah kita akan terus menggenggam erat hidup kita sendiri atau kita mau membagikan kasih, kehangatan dan cinta kepada orang lain.
Disekeliling kita terdapat banyak orang yang membutuhkan uluran tangan , ada banyak disekitar kita yang sakit dan mereka membutuhkan penghiburan, ada banyak disekitar kita yang putus asa dan kehilangan pengharapan, mereka membutuhkan motivasi dari kita, ada banyak disekitar kita yang sedang dalam kekurangan dan mereka membutuhkan bantuan kita.
Tuhan memberikan banyak kesempatan kepada kita untuk dapat berbuat dan berguna kepada orang lain, dengan itu kita akan merasakan, bahwa memang lebih indah memberi, daripada menerima, sebagaimana dikatakan oleh ungkapan ini ;
Lonceng bukanlah lonceng, hingga engkau membunyikannya
Lagu bukanlah lagu, hingga engkau menyanyikannya
Cinta dihatimu tidak dianugerahkan untuk disimpan..,
Cinta bukanlah cinta, hingga engkau menyalurkkannya.
Kita tidak akan pernah menjadi seorang Kristen sejati, hingga kita mau menjadi lilin yang menyala, yang terbakar habis, namun memberikan terang, kehangatan dan makna hidup dalam kehidupan ini. Amin…!
Selamat ulang tahun ke 65 pada tanggal 12 Agustus 2011 ini Tulang, kiranya pelayanan Tulang semakin berkenan dan semakin menyenangkan hati Tuhan, sehat sehat dan agar panjang umur.
Tuhan Jesus memberkati Tulang, Nantulang dan keluarga besar kita semua.

Bogor, 12 Agustus 2011.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar