Kamis, 16 Juni 2011

PASKAH 2011

Via dolorosa yang sekarang bukan berarti jalan kaki naik turun bukit, belok kiri belok kanan, nikung kiri nikung kanan, masuk gang kecil keluar jalan besar, atau nyusurin pematang sawah orang, tapi bisa juga seperti gue ini ;
Dari pagi sudah membersihkan area pemakaman, sudah gitu sebagian area pemakaman kita pasangin tenda, menjelang acara, lilin lilin kecil kita pasang disekitar pemakaman, nah., ini namanya juga via dolorosa, karena ada cape, ada keringat, ada kelelahan dan ada ngantuk, di Bungabondar sendiri acara kebaktian Paskah selalu masih dilaksanakan di pemakaman pada waktu subuh, dan pada Paskah 2011 ini, GKPA Bungabondar membuat acaranya di area pemakaman mertua gue, kitalah saat itu yang menjadi tuan makam di kebaktian tsb, kita pasangin tenda, karena takut pusing kena embun pagi dan takut hujan pada saat acara, kita pasangin lilin, supaya keliatan lebih indah, lebih semarak dan liturginya bisa terbaca, sedangkan ibu ibu mempersiapkan kue kue dalam kotak dan minuman hangat untuk melawan dinginnya pagi, seperti biasanya dalam setiap kebaktian, kehadiran perempuan jauh lebih banyak dari laki laki, yang gue gak tau saat itu adalah, apakah perempuan yang bernama Maria boleh hadir atau tidak, atau yang bernama Maria malah diwajibkan hadir
“ Andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia sialah pemberitaan kami dan sia sialah
Juga kepercayaan kamu “ ( 1 Korintus 15 : 14 ) .
Inilah thema yang diambil pada saat kebaktian Paskah tsb, dan thema ini umum diambil pada setiap perayaan Paskah dimana mana , dikatakan ; jika Kristus tidak bangkit, Dia sama dengan pahlawan pahlawan lainnya, hanya dikenang, tapi tidak dapat menyelesaikan pekerjaannya, jika Kristus tidak bangkit, Dia akan ditertawakan oleh orang orang Farisi, karena mereka tau, Yesus pernah berkata “ Sesudah tiga hari Aku akan bangkit “, Jika Kristus tidak bangkit, Dia hanya salah satu raja israel yang berstatus honoris causa yang diberikan oleh Pilatus, tetapi dengan adanya kebangkitan Kristus , hari ini, besok maupun sepanjang masa, akan terus terjadi pelepasan, pertobatan, pembebasan, keadilan, kebenaran dan akan terpancarlah damai sejahtera Allah dimuka bumi ini. Amin…!
Rabu tanggal 20 April 2011, jam 9 malam, gue, Andre dan Laut Simanjuntak terbang dengan Lion Air menuju Medan, sampai di bandara kita sudah ditunggu oleh Baldwin Simanjuntak ( adiknya Laut ) dan mobil Avanza pinjaman dari Cerah Bangun ( BC Belawan ) yang ngantar anak buahnya Surya Permana, dari bandara kita langsung berangkat dan makan tengah malam di Tebingtinggi, rencananya mau nginep di Prapat Danau Toba di mess Pemda Jawa Timur, atau disana biasa disebut dengan Istananya Bung Karno , sebenarnya kita udah janjian dengan penjaganya Pak Darmadi, kalau ini malam kita mau nginep, mungkin karena kita nyampe disana jam 3 pagi, sedangkan mereka sudah pada pules yang tidur, yah., gak dibukain pintu deh., yah,gak jadi deh., padahal waktu kita puter puterin mobil disekitar mess, pemandangan dari sana kelas 1 banget, kita duduk bentaran disana sambil lurusin badan, udah gitu isi bensin dulu sambil buang hajat di toilet SPBU, udah gitu kita rembuk, mau tidur dimana kita pagi ini.?
Akhirnya diputuskan langsung lanjut ke Balige dan tidur dirumah abangnya Laut, berhubung matanya Baldwin gak bagus kalau dipakai nyetir malam hari, terpaksalah gue yang bawa mobil mulai dari Tebingtinggi dan bawa lagi dari Prapat ke Balige ( ini via dolorosa juga ).
Kamis, tanggal 21 April 2011, jam 5 pagi kita sampai di Balige , gak pake basa basi dengan yang punya rumah, gue ama andre langsung masuk kamar dan langsung tidur, jam setengah 10 kita bangun, langsung mandi dan langsung makan, makanpun walau mendadak datangnya, tetap aja masih terhidang ikan arsik pake asam mobe , ( bahat mauliate ito da..? ).
Jam 11 kita berangkat, sekarang tinggal gue berdua andre di mobil, kita jalan jalan dulu ke TB Silalahi Centre, ngeliatin perjalanan hidup dan kariernya, kita ngeliatin prototype huta batak dan budayanya dan membayangkan., betapa megah dan artistiknya bangunan ini, udah gitu kita nongkrong nongkrong dulu ditepi pantai danau toba di Lintong nihuta, kita ngemil dan ngopi disana sambil ngeliatin andre yang bermain air ditapian nauli, darisana baru kita lanjut kearah Tarutung, saat mau masuk siborong borong andre telpon tauji, untungnya gak diangkat, kalau diangkat dan disuruh mampir repot juga nantinya, bisa bisa masuk Bungabondar kemaleman, namanya juga andre., kalau udah masuk tanah Batak, yang diinget selalu nikmatnya babi panggang, jadi muter muter dululah kita di kota Tarutung untuk makan babi, walau gak dapet babi panggang, tapi dia cukup senang juga makan babi direstoran cina.
Jam setengah 4 kita berangkat lagi dari Tarutung menuju Bungabondar, walau jaraknya hanya 70 Km, tapi jarak tempuh bisa 3 Jam, jalanannya rusak, berliku liku, masuk hutan keluar hutan, banyak truk besar yang lewat, banyak jalan yang hancur hancuran dan yang paling parah pada saat masuk Aek Latong, dijalan itu gue lebih banyak pake persneling 1, tanjakkannya sih., gak parah parah banget, tapi karena jalannya rusak, bisa bisa mobil gak mau nanjak, jam setengah 7 masuklah kita ke Bungabondar, Happy banget gue saat itu, bisa jalan berduaan dengan anak panggoaran andre, dan hebat banget deh gue., belum juga habis setengah tahun, tapi gue udah 3 kali ke Bungabondar, yang pertama awal maret 2011, gue kesana dan hanya ke makam Tulang ( mertua laki laki ) dan itu cuma 5 menit, yang kedua akhir Maret 2011, mengantarkan jenazah Nantulang ( mertua perempuan ) dan itu cuma 5 hari, dan yang sekarang ini untuk Paskah disana , disinipun rencananya hanya 4 hari.
Charles Marpaung, adalah hela dari boru namboru gue, ( kalau orang yang paham bahasa Batak pasti langsung mengerti ), nah., mari kita coba translate kedalam bahasa Indonesia,
Charles Marpaung, adalah mantu laki laki dari anak perempuan saudara perempuannya papi, wah., repot banget ya..? jadi berbanggalah kalau kita bisa dan mau menggunakan bahasa Batak, walau gue sendiri gak paham paham banget,
Saat gue berangkat dari Tarutung ke Bungabondar, dia lagi mengantar tamunya pulang ke bandara Silangit di Siborong borong, dari situ dia mau kearah Pangaribuan menuju daerah Sioma oma untuk meninjau usahanya yang bergerak dibidang perkebunan tanaman nira, nantinya air nira tsb akan diproses menjadi Etanol, bagus bangetkan..? daripada hanya dijadikan tuak dan hanya bikin mabok orang kampung, lebih baik dibuat sesuatu yang dapat menambah nilai jual dari air nira tsb, inilah sebenarnya konsep awal dari marsipature huta na be ( mari membangun desa kita masing masing ), kalau dia mau pulang ke Padangsidempuan, maka jalur yang lebih cepat lewat Simangambat dan pastinya ngelewatin Bungabondar, jadilah malam itu dia mampir kerumah dan makan malam dirumah, di Jakarta aja ketemu dia susah banget, eh., ini kita malah ketemunya didaerah antah berantah, daerah yang letaknya diujung langit dan tidak tercantum didalam peta, walau peta Sumatra sekalipun.
Jam 11 malam, rombongan duma,manus, ardith dan kak ida sampai di Bungabondar, mereka berangkat tadi pagi dengan Lioan Air via Padang, lengkap sudah kita disini, ada kak idar yang dateng dari Sibolga, ada Hanny yang dateng dari Pekanbaru, ada rully yang dateng dari Rantauprapat dan ada ‘Bang Tunggal yang memang tinggal di Sidempuan.
Seperti biasanya, kita semua tidur diruang tengah, seperti ruangan bangsal di rumah sakit dan seperti sesisir pisang yang lagi dijejerin, itulah nikmatnya disana, banyak hal yang berbeda yang kita dapatkan, bisa tidur malang melintang, bisa tidur setiap saat, hanya kalau buang angin, yah., diatur sedikitlah,
Jum’at, tgl 22 April 2011, kita bergereja bersama mengikuti kebaktian kematian Tuhan Jesus, karena itu hari kematian, jadi yang ke gereja banyak yang memakai pakaian warna gelap, katanya tanda turut berduka cita, rupanya ciri khas dikampung ada lagi yang unik, jam 2 siang ada kebaktian lagi, kebaktian untuk mengenang dan turut merasakan saat saat terakhir Yesus menemui ajalnya, dan pas jam 3 nya lonceng gereja berbunyi, katanya sintua., itulah saatnya Yesus berkata “ Elia Elia lama Sabach tani “ , di hari kematian ini, banyak juga beredar SMS yang berisi “ Telah kembali kepangkuan Bapak di Surga, pada hari ini, Yesus Kristus dari Nazareth, bagi yang mengenal dan yang turut merasakan duka cita, diharapkan tidak mengirim karangan bunga dan tidak hadir ditempat disemayamkan, karena 3 hari lagi janjinya akan bangkit. Tks & Jbu “.
Sabtu, tanggal 23 April 2011, sambil nganterin kak ida dan kak pita yang mau belanja ke Sidempuan, kami ( gue,duma, andre dan ardith ) jalan jalan mengelilingi Sidempuan, seperti kebiasaan mereka, kita cari lagi tempat makan babi yang enak disana, udah gitu jalan ke mall nya Sidempuan yg cuma 2 lantai, dari situ barulah kita nyari daerah yang namanya Payanggar, sekalian ngasih tau keanak anak gue, kalau inilah sebenarnya kampung halaman kita, tapi waktu gue liat di silsilah keluarga, rupanya sudah 8 generasi nenek moyang gue urban ke Bungabondar, saat itu gue juga baru tau, kalau dekat pasar Sidempuan ada mesjid yang namanya Tuanku Lelo, dengan baru terbitnya buku “ Greget Tuanku Rao “ karangan Basyral Harahap, apakah nama mesjid ini tidak menjadi kontroversial..?
Minggu, 24 April 2011, subuh kita acara kebaktian Paskah di Pemakaman, paginya kita kebaktian di gereja, siangnya sesudah makan, kita berdoa bersama karena hari ini kita akan pulang dengan cara dan waktu yang berbeda beda, gue sama ardith pulang siang ini melalui Medan, duma ,andre, kak idar dan manus pulang malam ini melalui Padang,
Happy lagi deh gue hari ini, kemarin berangkat ke Bungabondar dengan anak panggoaran ( anak sulung ) sekarang balik dari Bungabondar dengan anak Siampudan ( anak bungsu ), sayangnya., sepanjang perjalanan ujan melulu, malah waktu mau masuk ke Tarutung jalanannya banjir melulu, yang nyebelin juga, sepanjang jalan ardith chating melulu, yang melulu melulu ini lho yang bikin gue cape.
Sepanjang jalan karena ujan melulu, kita gak berhenti berhenti, tapi waktu mau masuk Balige, gue sempetin juga ngajak ardith santai santai dulu di lintong nihuta, takutnya nanti dia ngambek, karena abangnya sempet kesana dan sempet juga ke TB Silalahi Centre, ( next tima aja ya dit..? ).
Jam 7 malam, kita masuklah kerumah Abang Simanjuntak br Tampubolon, keseringan nginep disana dan selalu service yang terbaik yang gue dapet, gak enak hati jugalah, makanya waktu kita kesana, kita bawa oleh oleh khas Sipirok, bawa kue angka 8, bawa alame ( dodol batak ) dan bawa gule ikan limbat.
Senen, tanggal 25 April 2011, selesai breakfast dan pamit pamit sambil mengucapkan terima kasih yang sebanyak banyaknya, berangkat lagi kita menuju Medan sekarang Laut Simanjuntak ikut lagi, lewat Porsea, kita sempatkan mampir dulu di rumah Lae Sukun Sirait, sekalian nanya perkembangan obat Kilian disana, dan dapat kabar yang sedikit tak mengenakkan dengan komitment gue dengan Lae Sirait, dia cerita ; “ bahwa ada beredar dan dijual bebas obat Kilian di kios Pertanian di pasar Porsea “, pulangnya gue mampir disana , dan memang ada yang menjual, namanya “ toko Pudianta ” pemiliknya Lae Sitorus, dan dia mendapatkan obat Kilian tsb dari Lae Sihotang, sedangkan Lae Sihotang dapetnya dari Lae Tongam Simanjuntak dari Laras Pematang Siantar, Lae Simanjuntak ini adalah Lae nya Karlem Ambarita, nah., Lae Simanjuntak inilah yang gue kirimin kilian sejak November 2010 & tidak pernah bayar ( namanya busuk, tetap busuk, pasti suatu saat akan ketahuan, itu kata pepatah lama ), walau cape, tapi yang namanya usaha, tetap usaha, terpaksalah gue ngurusin ini dulu sampai tuntas, sampai terjadi deal dagang antara Lae Sirait dengan Lae Sitorus, untungnya ardith gak ngedumel, supaya makin gak ngedumel, saat pulang kita mampir dulu di Ajibata ( tempat penyeberangan ferry ke Samosir ), gue ajak ardith makan babi panggang dan ikan tombur disana, lumayan., sudah ada sedikit senyum diwajahnya, dan supaya semakin banyak senyum di wajahnya, gue ajak lagi mampir di Prapat diwarung kopi yang terletak diketinggian Danau Toba, rupanya karena sudah kebanyakkan senyum & kebanyakkan makan, mules muleslah perutnya ardith, mau cari tempat makan, sudah jarang ketemu, mau cari SPBU sudah tidak ada lagi sesudah keluar dari Prapat, terpaksalah dia menahan diri cukup lama untuk menunggu sampai masuk kota Siantar, tunggu punya tunggu, perut semakin mules, akhirnya terjadilah brebet brebet menjelang masuk SPBU di Siantar, tinggallah gue ama Laut Simanjuntak kebagian baunya.
Selesai ardith brebet brebet, kita masih ke Bandar Khalipah dulu ambil sisa obat Kilian disana, dapet sisa stok Kilian sebanyak 91 botol dari Erwin, langsung kita bawa ke Medan dan dititipkan ditempat Baldwin Simanjuntak, baru jam 11 malamlah kita masuk hotel dan tidur.
Selasa, 26 April 2011, ardith bangun jam 11 siang sedangkan jam 13 nya dia harus berangkat ke Jakarta, jadi gak bisa di ajak kemana mana lagi, makannya aja gue ajak di KFC depan bandara Polonia, urusan check in sampai boarding gue urus dulu, ardith tinggal masuk ruang tunggu dan tunggu panggilan naik pesawat, dan berangkatlah dia ke Jakarta, mudah mudahan dia tidak brebet brebet didalam pesawat, itulah doa dan pengharapan kami.
Selesai urusan ardith, gue nyari alamatnya ‘Bang Hamzah Harahap, sesudah 2 jam barulah kita dapet rumahnya, itupun sudah nanya kesana kemari dan nyasar kemana kemana, respon yang respect yang gue terima saat itu, dia panggil adiknya untuk dateng ketemu gue, diajak juga gue kerumah adiknya Monang Harahap , disana ketemu juga dengan itonya dan borunya yang tinggal di Bungabondar, disitulah gue janji akan membuat surat kuasa untuk berenya Lina br Rambe, untuk mengurus, mengelola tapi bukan menguasai atau memiliki semua peninggalan dari Opung Kilian Harahap di Bungabondar.
malamnya gue sama Laut diundang makan malam sama Cerah Bangun dan Kawan kawan P2 di restoran seafood Jimbaran, malam itu juga saat kita lagi makan dapat kabar dari Ito Diana ( Istrinya Natal ) kalau mamanya meninggal di RS.RKZ Malang, pulangnya gue sendiri dan tidurnya ditempat Tulang Parmon, sedangkan Laut pulang bareng Budi Lubis dan tidurnya dirumah Abangnya.
Rabu, 27 April 2011, gue mampir kerumah Ny.Waldemar Harahap (mamanya ito Esther Harahap ) di Taman Setiabudi, memang gak jauh juga dengan rumahnya Tulang Parmon, disana cuman ngobrol ngobrol ringan sambil ngenalin diri, pulang darisana kerumah Baldwin Simanjuntak dan memang udah janjian dengan Laut disana, sorenya ketemu dgn William pengusaha mesin photocopy di Medan, janjian ketemunya di KFC depan bandara, supaya gak repot repot kalau mau check in dulu dan gak repot repot juga kalau mau ngembali’in mobil ( ras bujur mejuah juah lagi Cerah Bangun untuk kendaraannya, maaf ngambil dan ngembali’innya di bandara ).
Karena pesawat Lion Air yang jam 21 terlambat berangkat, terlambat juga kita sampainya di Bandara Cengkareng , effeknya terlambat juga kita mendapatkan bis Damri dari Bandara ke Bogor.
Saat Ito Diana nelpon gue ngasih tau mamanya meninggal, gue telpon Natal untuk turut mengucapkan berduka cita dan mohon maaf tidak dapat hadir, makanya pagi itu duma yang berangkat ke Surabaya untuk menghadiri acara pemakaman, tiket dibeli pulang pergi, dengan janjian, malamnya kita ketemu di bandara cengkareng , jadi bertemulah kita malam itu di bandara dan pulang barengan, berhubung bis Damri sudah gak ada, terpaksalah kita pulang dengan mobil sewaan Pelita Air Service yang lagi nyolong waktu, maunya ambil tiket murah dengan penerbangan malam, buntutnya yah., sama ajakan.


Bogor, April 2011
DmH

Tidak ada komentar:

Posting Komentar