Kamis, 16 Juni 2011

MOTHER IN-LAW IN MEMORY. Part 2

Tgl 21 Maret 2011 jam 7 pagi, mumpung belum ada saudara saudara yang datang dan suasana dirumah juga masih sepi, kita yang laki laki kumpul untuk membuat rencana ini hari dan rencana keberangkatan jenazah ke Bungabondar, karena gue yang memulai, yah., gue lah yang harus mencatat, karena gue yang tukang catat, maka gue lah yang harus banyak bertanya, dan karena gue terlalu banyak bertanya, konsekuensinya gue yang harus bertanggung jawab untuk pelaksanaannya, ditempat lain gue bisa, kenapa dikandang sendiri gue gak bisa, kira kira gitulah pikiran gue saat itu.
‘Bang Udin bilang, “ kita banyak tantangan, tapi itu bukan menjadi halangan kita ”, terbukti., pada saat kita mengurus tiket pesawat ke Medan untuk 22 orang, kita langsung dapat penerbangan dengan Lion Air pada hari Selasa tgl 22 Maret 2011 jam 11, dan itu tanpa terpisah dalam jadwal penerbangannya, malah dapat dengan harga setengah promosi, waduuuh.. thanks you banget Lion Air..! ada juga tantangan yang lain, rupanya agent Lion Air di Bogor tidak bisa membantu mengurus cargo peti jenazah, harus langsung ke bandara dan harus mengurus sendiri, lho…, kalau pesawat yang jam 11 cargonya sudah penuh, masa peti jenazah tidak ada yang dampingin sih…? kutak sana kutik sini, pikir sana pikir sini, gue langsung inget, kalau Lion Air punya jadwal penerbangan keluar negeri, kalau punya yang keluar negeri, pastinya ada juga ketergantungannya dengan bea dan cukai, nah.., untuk apa gue banyak temen bea cukai disana kalau gue gak bisa minta tolong ke mereka, kira kira gitulah pikiran gue saat itu, hari ini, siang ini urusan tiket dan cargo beres, tinggal lapor dan umumkan kepada khalayak ramai, bahwa “ Orangtua kami, akan diberangkatkan dari rumah ini besok pada tanggal 22 Maret jam 6 pagi menuju bandara Soekarno-Hatta dan dilanjutkan dengan pesawat Lion Air menuju Medan pada penerbangan jam 11 “.
“ ORANG DIKENANG, DIHORMATI & DIHARGAI BUKAN PADA SAAT DIA HIDUP, TAPI PADA SAAT DIA MATI ”, nah., disinilah mertua gue menunjukkan taringnya, gadingnya, belangnya dan nama besarnya, dari pagi sampai tengah malam, gak ada putus putusnya orang yang pada datang untuk turut mengucapkan dan turut merasakan duka citanya, berpuluh puluh episode penghiburan yang kita terima pada hari ini, dan berpuluh puluh orang juga diluar kami yang perlu mendapat penghiburan, karena mereka turut juga merasakan kehilangan panutannya, sokogurunya dan senyum yang menyejukkannya, jangankan hanya gedung 7, jalanan skip aja penuh dengan mobil yang pada parkir, malah lapangan futsal mendadak ditutup untuk lapangan parkir, memang ikutan bangga juga kalau punya mertua yang berkelas .
Untuk kehadiran dan penghiburan, gue angkat topi yang setinggi tingginya untuk keluarga ipar gue Sayon Lubis dan Henry Siahaan, mereka tidak hanya sekedar hadir, tapi mereka ikut didalamnya, mereka bukan hanya sekedar mengucapkan turut berdukacita, tapi memang mereka merasakan dukacita itu sendiri. Terima kasih saudaraku., kalian selalu hadir dan mendampingi kami, baik dalam suasana sukacita kami, terlebih lagi dalam suasana hati kami sedang berduka. Amin…!
Terima kasih untuk Bang Pollie, walau sakit tapi tetap datang, malah datangnya 2 kali siang dan malam, terima kasih untuk keluarga Tulang Rempoa, Kelg ‘Bang Arthur, Mida, Kak Esther, kelg Joe Simanjuntak yang datangnya ngebela belain tengah malam, Ade, coco dan sasa yang ikutan begadang dirumah, terima kasih juga untuk Toga, Tiur, Kelg Posma Pospos, Diana Siahaan, Laut Simanjuntak, Sarpin Gultom Saut Napitupulu, dan Keluarga besar Pomparan Opung Kenan Harahap yang turut memberikan penghiburan tengah malam dan yang terakhir, terima kasih juga untuk sahabat sahabat gue waktu kecil di Grogol , Caca, Entis dan keluarga Herry Supriadi. Thanks for all y .
Hari Selasa tgl 22 Maret, jam setengah 5 pagi, gue udah dibangunin ama duma, sedangkan duma sendiri gak bangun bangun, karena memang dia gak tidur tidur, saat itu., kita semua sudah mulai bersiap siap untuk berangkat, sedangkan andre bersiap siap untuk berangkat kerja, jam setengah 6 kita buat acara kebaktian singkat untuk keberangkatan, yang dipimpin oleh Bapak Pdt Thomas .
Jam 6 berangkatlah jenazah dari rumah, diikuti dengan isak tangis keluarga yang tinggal dan tetangga yang turut merasakan kehilangan, gue ama Manus naik dengan ambulance, sedangkan rombongan lainnya berangkat ke bandara dengan bis Damri.
Jam 08.30 kita sampai di bagian cargo bandara Soekarno-Hatta, dan ada 2 hal yang yang membuat gue surprise pada saat itu,
Yang pertama : sebenarnya dari awal gue gak kepikiran, apalagi berencana untuk kontak sahabat gue Cerah Bangun di Medan, gak disangka dan gak dinyana, gue dikasih mobil berikut supir, yang bebas gue gunakan selama disana, malah dia menawarkan juga ambulance dan bis untuk rombongan, wah…., ras bujur mejuah juah kawan..! Yang kedua : saat awal kita ngurus peti jenazah di bagian cargo Lion Air, gue iseng iseng ngelongo ke ruangan supervisor cargo, eh., disitu ada tulisan yang nempel dibagian pelayanan yang isinya “ Domu Harahap agar dilayani dengan baik “ he..he..he..! jadi deh kita disana duduk duduk dengan manis .
Urusan dengan cargo sudah beres, sekarang gue ama Manus mau ngegabung dengan rombongan lain dibagian keberangkatan pesawat, disinipun gue kembali dapet surprise ++, dapet kabar, kalau koper yang paling gede dan yang paling bagus hilang pada saat turun dari bis Damri, isinya ada baju gue, ada baju ardith dan ada baju duma, yang hebatnya pula., semuanya ada disitu, cuman cd dan kaos dalam gue aja yang ada di tas tentengan gue, dan yang lebih hebatnya lagi., saat itu duma santai santai aja tuh., mungkin dia lagi error karena 2 hari gak tidur, atau error karena yang lebih berat dan lebih berharga malah baru kehilangan, tapi saat itu masih ada 2 keuntungan menurut versinya orang jawa, yang pertama : Untung yang hilang kopernya kita, coba kalau yang hilang koper yang berisi pakaian second nya mamak, mau cari kemana lagi dan pada saat acara paulakkon mora, apa lagi yang mau dibagikan.? Yang kedua : untung saja hilangnya bukan pada saat menjadi tanggung jawab gue, kalau enggak, wow..! jangankan sehari, atau seminggu, sebulanpun mungkin aja masih ada pertanyaan dan sentilan sentilan yang rada nyelekit , jangan jangan pada saat ajal menjelang , masih ada pertanyaan “sebenarnya, kenapa sih ‘pa., koper kita pada saat itu bisa hilang..? “.
Tepat atau memang pas ketepatan pesawat berangkat jam 11, yang sudah pada naik ada yang langsung tidur, ada yang masih ngobrol ngobrol dulu dan ada juga yang makan dulu, kalau gue karena gak bisa tidur tidur, akhirnya kerja’an gue makan melulu selama di pesawat, karena di Lion Air gak dapat apa apa dan yang dijual juga gak ada apa apanya, jadi deh., kita bawa perlengkapan makan dan minum selama di pesawat, terima kasih untuk Ucok Hasibuan, yang telah sangu’in nasi uduk yang enak dan mantap untuk kita selama diperjalanan, selama didalam pesawat, di wilayah bangku bangku yang kita dudukkin tidak pernah sepi, bayangkan aja., kita ini 22 orang, kalau lagi pada bangun, pada ngomong semua, kalau lagi pada tidur, pada ngorok semua, sampai sampai pramugari pada bolak balik ke wilayah kita, mungkin mereka pikir., ada mesin pesawat yang lagi ngadat.
Jam 14.30 kita mendarat di bandara Polonia, disana sudah ada Tulang Rempoa dan Eddy Nasution yang rupanya berangkat duluan, sudah ada keluarga Matondang, sudah ada keluarganya Hutagalung yang di Sibolga, sudah ada keluarga besar Simatupang, Ny.Hasibuan dengan borunya , sudah ada juga Ny,Pdt Pasaribu dari GKPA jln.Cangkir, sudah ada mobil pinjaman gue plus supirnya, sudah ada ambulance dan bis besar yang akan membawa rombongan kita tu bona pasogit.
Asal muasal cerita tentang keberadaan ambulance dan bis itu begini ; Awal maret pada saat gue di Medan gue ketemu dengan Ipar Sanggam Simatupang, sambil cerita cerita di lobby hotel semarak, gue bilang ke dia, “ menurut gue, mertua gue ini jika terjadi apa apa dengannya, pasti sifatnya mendadak dan yang pasti juga, akan diberangkatkan ke Bungabondar dgn pesawat melalui Medan, ‘Bang Apul (Mangapul Nasution ) pernah ngomong ke gue, ‘ Dom.., namboru gue itu udah tua dan udah berumur 86 tahun, jika dia pergi, elo semua pasti otaknya pada blank saat itu, jadi gak ada salahnya buat perencanaan dari awal, gapapa koq., supaya jangan pada saat kejadian, elo pada kelabakkan semua ‘ nah., itulah awal cerita yang gue kembangkan, jadi deh., pada saat itu gue deal dan saling berjabat tangan dengan Sanggam, yang isinya , ”Sanggam akan mempersiapkan ambulance, bis besar dan 2 buah kijang Innova di Medan jika terjadi apa apa dengan Inangtuanya ( mertua gue )“.
“ Karena bagiku hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan “ ( Filipi 1 : 21 ).
Inilah firman Tuhan yang disampaikan oleh Ny.Pdt Pasaribu pada saat kita mengadakan kebaktian singkat di area Parkir bandara Polonia, beliau juga berdoa dan mengucap syukur pada Tuhan, karena kita telah sampai dengan selamat di Medan, dan berdoa juga kepada Tuhan, mohon pertolongan dan penyertaan Tuhan Jesus , agar kita sampai dengan penuh DAMAI SEJAHTERA di Bungabondar. Amin..! bahat tarimokasih Inang da..?
Jam 3 sore rombongan kita 1 ambulance, 1 bis dan 3 mobil suv dengan 30 an penumpang berangkat ke Bungabondar, cumannya ada 1 mobil dgn 4 penumpang ( gue, duma , ardith,Tulang rempoa & supir) terpaksa harus memisahkan diri dulu , kita kita ini mau cari pinjaman jas dulu, pinjaman kebaya dulu, pinjaman kaos dan baju dulu, pokoknya kalau bisa pinjam, kenapa sih., harus beli, malah kalau bisa cari lagi yang mau ngasih, jadi berangkatlah kita kerumah Tulang Silalahi untuk memulai misi tsb, Puji Tuhan…! disana gue dapet stelan jas yang bagus, dapet celana jeans yang baru, duma dapet stelan kebaya yang bagus dan kita semua dapet gado gado yang maknyuuus, mauliate godang Tulang da..? dari rumah tulang Silalahi di Medan, kita langsung tancap ke Kerasaan, disini bukannya pinjam atau minta, tapi sifatnya sudah menjarah pakaian pakaian Tulang dan Nantulang, kita semua dapat, apalagi ardith, sekoper penuh kita bawa dari sana, he..he..he..! Tulangku memang gak ada 2 nya ya..?
BUNGABONDAR AKU KAN KEMBALI………..!
Bogor, Maret 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar