Kedengarannya mustahil, apalagi kalau diceritain secara panjang lebar, tapi kenyataan dilapangan benar benar terbukti, ceritanya begini ; rombongan gue tertinggal hampir 3 jam dari rombongan besar, tapi pada saat masuk ke Bungabondar , kita semuanya masuk berbarengan, believe it or not, anda boleh percaya boleh tidak, tapi begitulah kenyataannya, kalau dibilang mobil gue jalan ngebut, enggak juga, kalau dibilang gue gak makan gak istirahat, enggak juga, gue sempet koq., makan nasi goreng arab waktu tengah malam di kota Balige, kalau rombongan besar, memang kalau istirahat makannya cukup lama, udah gitu sempet berhenti nungguin gue di simpang sipirok, malah bis nya sempet ditarik truk derek, gara gara gak kuat nanjak di Aek Latong, yah…, begitulah kenyataannya, banyak tantangan, tapi bukan menjadi halangan, kalau Pdt Jusuf Ronny bilang ; semakin dihambat, semakin merambat, gak nyambung kayanya ya..?
Penunjuk waktu di camera gue saat itu tanggal 23 Maret 2011, jam 03.48, saat itulah pertama kali gue mulai jeprat jepret mengabadikan kedatangan jenazah mertua, jadi kira kira jam segitulah kita nyampe di Bungabondarnya, sampai disana kita sudah disambut dengan meriah riah dibagas godang Opung Hasiholan Siregar, mungkin saja mereka memang sudah menunggu, atau mungkin juga kebangun dari tidur, gara garanya sirene ambulance mulai ngaung ngaung sejak dari Sibadoar, coba bayangin letak dari desa tsb., Bungabondar itu desa kecil dari suatu kecamatan yang kecil, untuk kesana ngelewatin beberapa desa yang kecil kecil juga yang terpisah pisah dengan sawah atau ladang, dia berada dikaki gunung yang berbukit bukit, udaranya tidak sejuk, tapi dingin , masyarakatnya hobby berkain sarung diwaktu siang dan malam, kalau pagi, mereka berangkat ke sawah atau ke ladang, kalau malam, mereka cepat masuk kedalam peraduan, karena diwaktu malam tidak ada tempat kumpul kumpul, paling ada warung kopi, intinya semua desa disana sunyi, sepi dan hanya sedikit saja ada kehidupan, jadi bisa dibayangkanlah., bila tiba tiba ada suara ngaung ngaung di tengah malam, tapi apapun itu., kita sangat bersyukur., karena dengan suasana ramai seperti itu, kita merasa terhibur, kecuali ‘Bang Tunggal dan Hanny tentunya, yang tadinya ambulance yang meraung raung, sekarang gantian mereka yang meraung raung, sesudah selesai acara raung raung dan peluk kanan peluk kiri, cium kanan cium kiri selesai, kita mulai berkumpul dan berdoa bersama, mengucapkan syukur dan terima kasih kepada Tuhan, karena telah sampai di Bungabondar untuk membawa jenazah orangtua yang kita cintai ini, dan kita semua sehat sehat tanpa kekurangan apapun, kecuali air mata tentunya, itupun masih diklasifikasi lagi, karena ada yang keluar sampai 1 gelas air minum, ada yang keluar sampai 1 sendok makan dan ada juga yang hanya 1 titik, itupun keluarnya dari mata yang sebelah kiri. Maksud elo…?
Mau tidur tanggung, mau gak tidur badan sudah serasa cape, tapi mata sudah gak mau merem lagi, jadi deh., di pagi pagi yang dingin ini, kita nyibukkin diri sambil ngopi, sambil ngobrol ngobrol dan bebenah bebenah yang gak jelas, tapi yang paling jelas disana adalah ; gue itu anak boru , jadi harus lebih kelihatan sibuk, disana ada juga yang statusnya mora, yang harus lebih kelihatan berwibawa, mora boleh duduk manis didepan rumah dan berdiri bertolak pinggang, anak boru juga boleh, tapi dibelakang sana dekat dapur, inilah play of the game masyarakat kita di kampung sana.
Jam 12 siang, kita semua yang laki laki berkumpul dirumah sebelah, istilahnya yang 1 pinggan panganan, untuk mengajukan permohonan kepada masyarakat , hatobangon dan raja adat di Bungabondar agar dapat melaksanakan adat godang untuk keberangkatan jenazah dari rumah ketempat peristirahatannya yang terakhir, sedangkan yang perempuannya, tidak terlibat didalam perhelatan adat, mereka hanya berkumpul, bernyanyi nyanyi disekitar peti jenazah, menerima tamu yang datang dan yang sebagian lagi sibuk sibuk mempersiapkan makanan untuk peserta rapat adat, itulah fungsi perempuan, gak punya hak suara, apalagi hak veto dalam membicarakan adat.
Selesai acara adat partahion dan permohonan kita disetujui oleh mereka, yang nantinya merekalah yang akan membawa permohonan kita ini kepada raja raja adat diseantero desa yang berada disekitar Sibual buali, barulah kita ngasih makan ke mereka, tinggal gue yang bertanya tanya, jika permohonan kita tidak disetujui, apakah kita tetap kasih makan ke mereka..? setau gue dan yang selama ini gue ikutin, belum pernah ada sih., yang tidak disetujui, karena adat adalah pemufakatan dari suatu pemusyawarahan.
Ngasih makanan ke mereka juga ada aturan mainnya, yang menghidangkan harus dari fihak anak boru, menghidangkannya gak boleh nungging apalagi jongkok, ngasihnya harus satu satu, harus pake tangan kanan, gak boleh pake tangan kiri dan yang ngasih dengkulnya harus nempel pada lantai, yang gak biasa kaya gue ini, pastinya gemeteran tuh dengkul, gue udah 4 kali menjalankan prosesi adat seperti ini di Bungabondar, jadi gue udeh tau cara ngakalinnya, gue cukup berdiri dipintu masuk dan hanya melanjutkan setiap kiriman dari dapur kepada petugas yang menghidangkan kedalam, jadi gue gak perlu harus bongkok bongkok didalam, konpensasinya., setiap acara tsb, gue pasti sudah mempersiapkan beberapa bungkus ji samsu untuk mereka, supaya mereka gak ngambek dan komplain ke gue, maklumlah tinggal gue satu satunya hela ( bere pendatang ) dirumah tsb .
Malamnya dilanjutkan kembali permohonan untuk dapat melaksanakan adat godang, yang sekarang ini dilakukan oleh hatobangon dan raja adat Bungabondar ( Suhut dan kahanggi hanya mendampingi ) kepada raja raja adat disekitar wilayah Sibualbuali ( mardomu bulung napa napa ni Sibual buali ), dan kembali lagi Ji sam su beredar. Yah., begitulah nasib yang takut dengkulnya gemetaran.
Acara hari ini dari pagi sampai malam cukup dan malah sangat melelahkan, yang hadir dirumah untuk melihat jenazah sangat beragam, tidak mengenal tingkatan, tidak mengenal kasta, malah membedakan mana yang muslim dan non muslim saja tidak ketauan, inilah hebatnya Bungabondar, makanya gue selalu bangga dan selalu rindu untuk kembali kesana, yang datang, ada yang langsung masuk kerumah, ada juga yang menyerahkan beras dulu kedepan rumah , pas didalamnya, ada yang langsung duduk manis, ada yang melihat jenazah dulu dan berdoa dan kalau datangnya rombongan, biasanya mereka buat acara kebaktian penghiburan dulu ( rombongan pomparan Sutan Doli dari Pd Sidempuan ) ada juga yang habis bikin acara langsung pada manortor mengelilingi peti jenazah ( rombongan Tambunan dari Pd Sidempuan ), akhirnya juga, parumaennya, borunya dan beberapa pahompunya dari mertua gue ikut juga manortor mengelilingi peti jenazah, tentunya dengan berbagai gaya dan ekspresi.
Alkitab ada menulis :
“ Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan, sekali lagi Ku katakan bersukacitalah.! “ ( Filipi 4 : 4 ).
Kalau orang Batak bilang :
“ Bersukacitalah., karena Orangtuamu, Opungmu telah berumur panjang, dia telah mempunyai
keturunan, anak maupun boru, dia telah mempunyai pahompu dari anak maupun dari boru, itu namanya saur martua, jadi sekali lagi orang Batak katakan bersukacitalah.!
Maka sore harinya, datanglah rombongan musik dari gereja GKPA resort Bungabondar lengkap dengan terompet besarnya, kita bernyanyi dengan nada nada sendu tapi yang berpengharapan, kita bernyanyi nada nada dengan riang yang penuh dengan sukacita dan mereka yang mengiringi, kadang timbul isak tangis yang pilu, kadang ada juga yang mangandung ( ratapan gaya orang batak ) yang mengiris hati (malattuk ate ate ki, kata orang Angkola), kadang pula ada yang marnortor dengan gaya yang atraktif pada saat menyanyikan lagu “ Marolop olop tondingki “, bener benerlah pada saat itu, hati kita diaduk aduk bercampu aduk dengan diiringi lagu lagu yang bercampur sari.
Menjelang jam 10 malam datanglah rombongan Pendeta, majelis dan naposobulung gereja GKPA, mereka membuat kebaktian penghiburan, dilanjutkan dengan nyanyian nyanyian penghiburan sampai tengah malam, berhubung saat itu gue sudah ngantuk banget dan naposobulung masih lanjut terus yang nyanyinya , yah., akhirnya gue menyerah juga, tanpa ragu dan sungkan, gue masuk kekolong tempat tidur dimana peti jenazah itu ditempatkan, nah., gue tidurlah disana sambil tutup kuping dengan bantal, dan tertidurlah gue sampai pagi,
Hari Kamis, tgl 24 Maret 2011 jam setengah 7 pagi, gue udah hadir dipelataran tanah kosong disebelah rumah, katanya., karena gue boru, makanya gue harus hadir untuk menyaksikan pemotongan kerbau, saat itu, disaksikan juga oleh raja adat berikut para staff ahlinya, nantinya gue harus lapor kepada keluarga yang berduka bersama dengan yang berduka lainnya ( Siregar ), yang mengatakan, bahwa ; Kerbau telah dipotong dan semua perangkat untuk melaksanakan acara adat ( topi bercerobong, pedang, tombak, gong dan bendera bendera raja ) telah siap untuk digunakan, sesudah laporan selesai, maka dimulailah semua atribut itu dipasang didepan rumah, untuk yang berfungsi sebagai raja, topi bercerobong dipakaikan kepada Boy Siregar ( cucu tertua Siregar ), sedangkan yang berfungsi sebagai bodyguard, pakaiannya diserahkan kepada Ardith Harahap ( sebagai boru ), yang megang payung untuk melindungi raja diserahkan kepada Daniel Tanjung, pemegang tombak diserahkan kepada Tauji Sihombing , yang pegang pedang, gue lupa , yang pegang salib Iwan Batubara, yang pegang foto Yuni Siregar, kira kira gitulah pembagian tugasnya.
Sesudah makan siang selesai, dimulailah acara adat di halaman rumah, peti jenazah dibawa keluar, sudah gitu dimasukkan kedalam hombung ( penutup peti ), lalu dimulai acara mandok hata ( kata sambutan ) termasuk membacakan daftar riwayat hidup Almarhumah oleh Yunindra Siregar, tulang Agus kebagian mandok hata mewakili Siregar anak rantau, gue mewakili sebagai anak boru/hela, barulah yang lain lain menyusul, terakhir., sesudah raja panusunan bulung selesai bicara, barulah ditebar beras kuning dan uang logam receh 500 an di halaman rumah, disinilah anak anak kecil pada berebut mungutin recehan, pada saat acara mandok hata hujan turun dan cukup lebat, jadi yang ngomong maupun yang ngedengerin pada mepet kedeket tembok, termasuk Boy yang menjadi raja setengah hari bersama pasukannya, tapi pada saat nebarin uang, hujan langsung berhenti, kira kira apa artinya ya..? mungkin juga orang Bungabondar sudah terbiasa melihat orang menebarkan omongan, tapi jarang melihat orang menebarkan uang, jadi alampun ikut mendukung kenyataan itu, namanya juga berasumsi, boleh boleh aja dong.,
Setelah acara tebar menebar selesai, diangkatlah hombung tsb, aturannya juga ada, yang berduka ngangkatnya dari depan, yang lebih sedikit berduka ( boru ) ngangkatnya yang dibelakang, aturan lainnya., sebelum maju terus, harus maju mundur dulu sebanyak 7 kali sambil mengikuti aba aba dari raja panusunan bulung ( raja adat pada saat itu, yang ditunjuk mewakili dari raja raja adat yang lain ), selesai maju mundur, barulah diangkat menuju tempat pemakaman, karena yang meninggal Kristen, maka jenazah dibawa dulu ke gereja GKPA resort Bungabondar, karena didalam gereja tidak ada acara adat, maka semua atribut yang menyangkut dengan urusan adat harus dilepaskan, masuklah peti jenazah kedalam gereja untuk disemayamkan, dan disanalah kita membuat kebaktian pemberangkatan yang dipimpin oleh Pendeta J Siregar STh dan yang terakhir, prosesi melihat wajah terakhir dari mendiang sebelum peti ditutup untuk terakhir kalinya, kita semua termasuk jemaat gereja berjalan kedepan altar dan mengelilingi peti jenazah untuk memandang, menikmati, dan menghayati detik detik terakhir bersama orangtua tercinta didunia ini, isak tangis, gumamam yang tidak jelas dan ucapan selamat jalan terus didesahkan oleh kita kita semua,
“ Selamat jalan mamak, selamat jalan nantulang, selamat jalan namboru dan selamat jalan opung, kami sangat bersyukur dan sangat berterima kasih kepada Tuhan, karena mempunyai orangtua yang begitu mengasihi kami, menyayangi kami dan selalu berada di tengah tengah kami, pada saat kami terkendala dalam kehidupan ini, doa doamu tak pernah putus dihadapan Tuhan untuk kami, dan kami akan terus mengenang semua kebaikkanmu, keteladanmu dan berusaha untuk terus menjalankan dan belajar apa yang telah kau ajarkan kepada kami, kesejukkan senyummu, tentulah menjadi kenangan manis bagi kami semua. Amin…!
Tempat pemakamannya tepat disamping gereja, dari jendela gereja kita dapat liat langsung melihatnya, jadi gak terlalu jauh kita mengangkat peti jenazah, posisi liang makam ditaruh disamping dari makam namborunya dan bukan sejajar dengan posisi makam dari Tulang ( mertua laki laki ), kenapa seperti itu..? yah., itulah salah satu permintaan dari nantulang ( mertua perempuan ) pada saat hidupnya, jadi kita semua turunannya hanya menjalankan permintaan itu, kalau ada yang mau protes, proteslah., tapi nanti saja kalau sudah bertemu diatas ( banua ginjang ) dengan semua orangtua kita yang dimakamkan disana, itupun kalau kita bisa ketemu mereka diatas, jangan jangan kita semua hanya kebagian jatah dibawah, gue ngomong begini, karena ada aja yang nanya, koq.. ditaruh disitu sih, kenapa tidak disitu sih..? yah., kita repot dong ngejelasinnya, wasiat yah., wasiat, gak usahlah diperdebatkan terus, apalagi gara gara hal kecil seperti itu, sampai ada yang harusnya ikut, jadi gak ikut, sampai ada yang mau mendukung, jadi gak ikut mendukung, apa ini yang dimaksud dengan sihutur na mata..? no comment..!
Malamnya kita semua kumpul lagi, sekarang acara paulakkon mora ( acara adat untuk mengucapkan tks kepada mora Nasution, karena telah hadir dan telah mendukung dalam acara adat pemakaman ), disini kita memberikan kenang kenangan ( parmanoan ) kepada mereka, biasanya dalam bentuk pakaian , kain atau apapun itu yang biasa dipakai oleh almarhum, nah., pada saat memberikan makan kepada mereka, yang mehidangkan bukan oleh grup gue lagi, tapi oleh anak borunya Nasution, jadilah para Siregar yang sibuk, pokoknya dalam setiap acara orang Batak, gak ada acara yang gak pake makan, tinggallah gue yang enak enak nontonin Siregar sibuk, tapi inget., jangan deket deket, pamali.., kata orang Sunda.
Urusan dengan mora selesai, sekarang hari Jum’at tanggal 25 Maret, tinggal urusannya Suhut beserta kahangginya Siregar berhadapan dengan anakboru plus parhobas lainnya, kita semua anakboru duduk manis, mereka yang melayani, kita semua anak boru mesem mesem,mereka tersipu sipu, kita santai santai mereka pada pegel linu yang menghidangkan,
diacara ini mereka mengucapkan tks juga kepada kita, dengan sedikit basa basi, katanya ; tanpa kalian kami tidak bisa berbuat apa2, karena kalianlah, makanya acara kita dapat berjalan dengan baik, Amin..! udah gitu diserahkanlah oleh mereka jambar ( potongan daging kerbau ) kepada anakboru, jambar jatah anakboru adalah leher, yang menandakan bahwa anakboru adalah penopang, pendukung bagi moranya, padahal menurut gue, sebenarnya leher itu adalah pengatur kemana kepala berputar,
wow.. mudah mudahan mora gue gak baca nih.,
Selesai dibagikan jambar, kita gak dapet kenang kenangan seperti mora mereka, tapi kita dapetnya jatah amplop, tapi cukuplah untuk beli yang bekas bekas juga , yang ini mudah mudahan gak dibaca juga.
Puji Tuhan..! Selesai sudah semua acara pemakaman, baik adat maupun gerejanya, tinggallah kita semua tercenung dan merenung,
“ Masih adakah matahariku yang selalu memberikan sinarnya kepadaku, di hari hari esok kehidupanku,
Dan, masih adakah bulanku, yang selalu meredam teriknya panas matahari dihari hari esok kehidupanku “.
Bogor, Maret 2011
DmH
Kamis, 16 Juni 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar