Kamis, 16 Juni 2011

MOTHER INLAW IN MEMORY. Part 4

18 tahun dikurangi 3,5 tahun kami tinggal di PMI ( Perumahan Mertua Indah ) bersama dengan mertua di Bogor, maksudnya begini, tahun 1993 sampai dengan tahun 2002 kami tinggal bersama, 2002 sampai dengan tahun 2005 kami tinggal diluar ,tapi masih tetap di Bogor dan masih deket deket dengan rumah mertua, udah gitu dari tahun 2005 sampai dengan sekarang tahun 2011 kembali lagi ke PMI, maklumlah anak bungsu ( boru siampudan ) gak bisa jauh jauh dengan orangtuanya, atau juga orangtua gak bisa jauh jauh dengan si bungsu, jauh dimata dekat dihati, tapi kalau dekat dimata, banyak makan hati, masa sih..? kayaknya gak sampai segitu gitunya deh.,
Ada suatu ungkapan Batak yang sangat populer, “ boru hangoluan, anak hamatean “, kira kira maksudnya begini, pada masa hidup, orangtua tinggal bersama dengan anak perempuannya, pada saat mati, yang tinggal., bersama dengan anak laki lakinya.
Akhir tahun 1992, inilah cerita awalnya., mertua dan opung bayo ( kak Enim, istri dari abang Ananda ) datang ke Gresik, saat itu gue masih bekerja di IKPT mengerjakan Project Ammonia & Urea di Petrokimia Gresik sebagai Site Finance Project, saat itulah ada satu permintaan dan menurut gue bukan suatu permohonan ke kami ( maksudnya gue & duma ), agar tinggal dan kembali bekerja di Jakarta, karena pada saat itu mertua dirumah hanya tinggal berdua saja dengan Iya, itupun sehari harinya Iya berangkat kerja pagi, pulangnya sudah malam, kalau gak salah, Iya pulang kerja langsung kuliah lagi di Akademi Bahasa Asing.
Ada beberapa pertimbangan pada waktu itu yang harus gue ambil, pertimbangan pertama, awal tahun depan gue putus kontrak kerja dengan IKPT, dan belum tau lagi kemana gue ditempatkan sesudah itu, yang kedua, ngebayangin., betapa sepinya kehidupan mertua gue sehari hari dirumah dari pagi sampai malam, yang ketiga., HOLONG ( ini bisa berarti KASIH, bisa juga berarti kasihan deh..! ), mungkin inilah yang menjadi prioritas, bukan apa apa sih., waktu gue kena PHK akhir bulan Februari 1991 dari PT.Perkebunan XI, bulan Aprilnya gue sudah bekerja lagi di IKPT, kalau memang gue gak ada niat pindah ke Jakarta, bisa aja gue nyari lagi disana, karena memang habitat pekerjaan gue sudah mengakar di Jawa Timur, kalau di Jakarta..? wow…!
Maret 1993, itulah awal gue pindah ke Jakarta dan tinggal bersama mertua didaerah Cilandak Dalam, lalu lanjut bulan Novembernya pindah ke Bogor dan tetap tinggal bersama mertua.
Dan inilah “ MOTHER INLAW IN MEMORY “.
Orang bijak mengatakan “ cerita cerita yang pahit, yang getir, yang pedes, yang ngenesin dan yang nyebelin, lebih baik dipendam dalam dalam kedalam sumur, tapi cerita tentang terang, tentang garam, tentang matahari, tentang bulan dan tentang anggur, kereklah setinggi mungkin, kalau perlu bintangpun dapat merasakannya “ .
Disini gue mau cerita tentang hal hal yang manis, yang berkesan, yang indah dan yang abadi saat kebersamaan kami ( gue, Duma, Andre dan Ardith ) bersama orangtua / opung tercinta.
Siang hari di pertengahan tahun 1993, ‘Bang Nanda telpon gue dan nanyain “ Dom, kamu bisa gak mengantar mamak ke Jambi, ada saudara kita Poltak Nasution meninggal disana dan akan dimakamkan besok “,
sore harinya gue kerumah ‘Bang Nanda ambil mobil Taft GT , uang untuk bahan bakar dan biaya selama disana , berangkatlah kita sekitar jam 6 sore, yang berangkat, gue sebagai driver, Eddy Nasution sebagai penggembira, David Nasution, Ny.Haman Nasution, Duma dan Mertua gue, saat itu Andre gak ikut dan langsung diboyong untuk nginep dirumah ‘Bang Nanda, inilah pertama kalinya gue bawa mobil ke Sumatra, karena gak tau jalan, gak tau daerah yang rawan, yah., singkat aja terus, malah tengah malam kita sempet berhenti dulu untuk istirahat di warung di tengah hutan disekitar daerah Beringin, mungkin yang pada nongkrong di warung pada bingung dan berpikir, nih., orang pada nekad nekad amat berhenti disini, kalau gak orang gila pastilah koppasus mereka itu, kita disana santai santai tuh., gue gerak badan sambil ngelurusin badan, sedangkan ibu ibunya pada masuk ke toilet, memang dasarnya gak tau yah., mau diapain lagi, awalnya rencana pemakaman jam 4 sore, katanya menunggu kedatangan kita dari Jakarta, eh.., gak taunya jam 1 siang kita udah nyampe , malah udah bersih dan rapi, memang sebelum masuk Jambi kita ke SPBU dulu dan ibu ibunya pada bedandan dulu, sampai di rumah Jambi, ‘Bang Apul langsung nanya “ elo lewat mana Dom, koq nyampenya cepet banget..? ”.
November 1993 kita pindah ke Bogor, Andre yang masih kelas 1 SD, tadinya sekolah di PSKD Melawai , jadi ikutan pindah dan bersekolah di Regina Pacis, wah.. Puji Tuhan sekali masih bisa dapet sekolah disana, padahal itu baru tengah tahun pelajaran, dan Puji Tuhan juga, uang masuk dan semua semuanya mertua yang bayarin ( remember tuh., dre ), saat pindah ke Bogor, dirumah itu kita masih tinggal bersama keluarganya ‘Bang Uli dan Iya, sesudah awal tahun 1994, barulah ‘Bang Uli dan keluarga pindah kedaerah Babakan madang sekitar 5 Km dari rumah, sedangkan Iya pindah ke Pamulang, sesudah menikah pada pertengahan tahun 1996.

Tahun 1994, gue sempet 2 kali ngawal mertua pulang ke Bungabondar, yang pertama kita main main sampai Danau Toba, yang kedua nganterin rapat di kantor pusat GKPA di Padang sidempuan, yang pertamanya, Iya ikut, Hanni,istrinya dan Yuni ikut juga, mereka naik dan turunnya di Teluk Kuantan, saat di Danau Toba inilah , andre nyemplung di air langsung nyanyi “Halaeluya, Haleluya” versi Batak, mertua langsung komentar ; “ Wah., andre kerasukkan sisingamangaraja “, bukan apa apa sih.,inilah pertama kalinya andre nyanyi lagu batak, sebenarnya dia tau, karena sejak dia bayi selalu gue timang timang dengan lagu batak, oh iya., ada satu kenangan manis manis jelek pada saat perjalanan ke danau toba, ceritanya gini., waktu di Pekanbaru kita nginepnya di hotel Badarusamsi, gue tidur sekamar sama Iya dan dan ratusan kecoa, masuk kamar mandi ada kecoa, mau tidur banyak kecoa, di pesawat telponpun banyak kecoanya, akhirnya gue gak tidur, hanya semedi aja semalaman, kalau Iya mah., MGP, besoknya kita jalan lagi, waktu kita mau masuk Balige, gue bilang bilang ke Iya, gantian yang nyetir, belum juga 1 Km Iya nyetir, ada polisi iseng yang berhentiin kita, minta SIM dan STNK dan periksa semua perlengkapan kendaraan, He..he..he..! tepat banget deh, padahal selama perjalanan itu gue gak punya SIM lho., sebenarnya polisi itu hanya mau cari duit aja, kita diancam tilang.,karena di mobil kotak P3 nya sudah tidak lengkap lagi, kita minta tilang., karena Mertua marah liat polisi seperti itu, alasan mertua saat itu, “sekarang inikan lagi dicanangkan konsep Marsipature huta nabe, kenapa masih ada aja polisi yang begitu, gimana mau maju bona pasogit kita ini “ Amin..!
Yang kedua, ini hanya acaranya ibu ibu di kantor pusat GKPA, karena gue bukan ibu ibu, makanya gue ama andre dan rulli berangkat ke Pematang Siantar naik bis Sampagul, kebetulan Uda Leo Simanjuntak jadi Kajari disana, dan kebetulan pula bujing juga lagi disana, jadilah kita nginep disana, pulangnya bareng bujing yang juga mau ke Bungabondar dan nginepnya di hotel Tor Sibohi.
Tahun Februari 1995, gue, duma, andre dan coco berangkat lagi ke Sumatra, tapi kita jemput U’eng dan nginep dulu di Palembang, besoknya kita langsung berangkat menuju Pekanbaru lewat Jambi, besok paginya rombongan Mertua, tulang dan nantulang Cempaka Putih dan Kak Rasmi nyampe di Pekanbaru dari Jakarta dan langsunglah dari bandara kita berangkat menuju Sipirok, saat itu isinya mobil 9 penumpang plus barang barang bawaan yang ditaruh diatas kap mobil, penumpangnya rata rata berukuran jumbo, penumpang didepan tulang Arifin baru pulang dari Rumah Sakit karena serangan jantung, jadi ngebayangkan..? waktu nyampe di Padang Matinggi kita langsung ke makam, dan tul Arifin langsung sesunggukkan kaya anak kecil yang gak dapet permen, rupanya dia sudah puluhan tahun gak pulang pulang, jadi panteslah kalau meweknya sampai segitunya, yang parah waktu kita pulangnya, barang bawaan makin bertambah, penumpang gak berkurang, jadilah beberapa kali ban kempes bukan karena bocor, tapi karena keberatan isi, kita nganter lagi rombongan ke Bandara Pekanbaru, barulah dari Pekanbaru kita pulang ngelewatin kelok 9 menuju Bukittinggi, dari Bukittinggi menuju Lubuklinggau gue mulai gantian bawa mobil sama U’eng, dan dia begitu bangganya, saat gue kasih bawa mobil dari Lubuklinggau sampai Jakarta.
16 Desember 1995, Ardith Yohanes Pardamean Harahap lahir di RS Melania Bogor, inilah cucu yang sejak dari merah, yang buka udelnya sampai yang bersihkan dari awal dilakukan oleh opungnya, cucu yang sangat manja, yang berani membangkang, berani taruh kepalanya ke pangkuan opungnya sambil minta pijitin, yang minta gak dapet dari mamanya, langsung minta ke opungnya, yang gampang minta jajan, yang pinter ngelesin opungnya, tapi kalau disuruh opungnya, gak pernah ngedumel apalagi gak mau. Didompetnya yang ada bukan foto papa mamanya, abangnya atau idolanya, tapi yang dipajang foto opungnya , ardith bilang “ ini foto pacar “, cucu yang ini, temen opungnya nonton TV, temen berantem, temen curhat dan temen berkasih kasihan, yang 1 ngasih senyum dan perhatian,yang 1 nya, ngasih uang dan perhatian, yang 1 seneng disuapin, yang 1 nya senang nyuapin, yang 1 senang di nina bobo’in, yang 1 nya senang menina bobo’in, yah., sudah kloplah mereka berdua.
Pertengahan 1996, Yunindra ( Iya ) Siregar menikah dengan Verra Br Matondang, pelaksanaan pemberkatan nikah dilaksanakan di GKPA Bungabondar, sedangkan pelaksanaan adatnya dirumah parsadaan Ompung Hasiholan di Bungabondar juga, berangkatlah kita semua kesana dengan mobil, sedangkan mertua dan ‘Bang Nanda berangkat duluan ke Medan untuk acara mangalap boru, pada saat itu , gue semobil dengan ‘Bang Dame dan ardith yang masih berumur sekitar 4 bulan, yang teringat banget waktu perjalanan itu adalah, saat keluar dari Lubuklinggau menuju Bangko, saat gue lagi ngantuk ngantuknya mau tertidur, ‘Bang Dame ngajakkin gantian nyetir, ngebayangkan., jalan menuju Bangko hanya lurus dan naik turun aja, gue disuruh gantian dan yang lain pada tidur, yah., udah selama jalan untuk ngilangin ngantuk gue makanin aja kripik paru, waktu kak Ambar bangun, dia kaget ngeliat kripik parunya yang setengah kilo sudah tandas gue makan, yah., mau gimana lagi,what ever will be will be lah,
Apa yang gue dapet dari cerita cerita diatas ini ;
Mertua gue ini, begitu mencintai semua keturunannya, dia ingin semua maju, baik dalam pendidikkan maupun dalam kerohanian, rajin berdoa untuk semua keturunannya dan rajin bertanya tentang semua keturunannya, yang hebatnya lagi, begitu banyak cucu dan cicitnya, tapi dia hapal semua nama namanya, dia begitu cinta dengan tanah leluhurnya Padangmatinggi dan Bungabondar, beliau seakan mengajarkan anak2nya, boru2nya, mantu2nya dan cucu cucunya agar ikut mencintai tanah leluhur (bona Pasogit), habis uang gak masalah, yang penting hatinya senang dan keturunannya ikut senang dan bangga serta ada kerinduan untuk terus kembali dan kembali, dan puncak dari kebanggaannya adalah., pada saat menikahkan Iya , katanya., “ inilah pesta pernikahan keluarga kita yang terakhir, dan saya mau dilaksanakan HORJA di Bungabondar “, itulah metua gue ini, untuk meraih HASANGAPON, HAGABEON dan HAMORAON semua sudah dijalankan dan semua itu dijalankan dengan HABISUKKON, sampai adiknyapun yang sudah lama tidak pulang, dibujuknya dan ikut diantarnya pulang ke Padangmatinggi, jika akhirnya beliau dimakamkan di Bungabondar, saat itu kami sudah mencintai dan rindu untuk kembali, imbasnya., harusnya beliau tidak akan sepi disana minimal sampai di level cucu, karena kami tetap akan kembali kesana untuk melihat makam, sekaligus duduk dan memijak kembali tanah yang kami cintai dan yang selalu kami rindukan. Amin…!
Loncat jauh kedepan ditahun 1998, gue mulai merintis usaha dibidang Pestisida, yang sebelumnya gue gagal bermain di bidang speedy courier, saat saat awal usaha, gue pinjem uang mertua sebesar 26,5 juta, sayangnya gue gak bagus ngelola uang hasil usaha, dan terlalu enak punya mertua gak nuntut macem macem, kebangetannya gue juga, karena mertua gak nuntut macem macem, jadinya gue suka suka aja cara ngembalikannya, menurut catatan gue yang terakhir, gue ngebalikkinnya cuma sampai 23,5 juta, yah., gitulah mertua gue ini, untuk maju dan suksesnya anak,mantu atau siapapun itu, pasti akan dibantu dan didukung, baik moril maupun materil, mantapkan., punya mertua seperti ini..?
Tahun 1999, usaha gue dibidang pestisida lagi moncer moncernya, berangkatlah gue, duma, ardith dan mertua jalan jalan ke Jawa Timur, sekalian ngirim barang ke Lamongan, dari Bogor kita berangkat pagi dan sampai di Tuban sore, nginep sehari di Tuban besoknya langsung berangkat lagi ke Lamongan, sampai di Lamongan siang, gue ditinggalin disana untuk ngurus kerjaan, mereka berangkat ke Tanggulangin untuk shoping dan langsung nginep di Jombang, mereka jalannya bersama temen gue Eddy pegawai PTP.N XI, sorenya urusan gue di Lamongan selesai dan dapet duit lumayan, gue langsung nyusul malemnya ke Jombang, besok paginya gue ngurus ngurus dulu ke PTP.N XI di Jombang, barulah selesai itu kita piknik beneran, gak ada lagi yang gue urusin disana, dari Jombang kita nginep di Kopeng Salatiga, daerahnya dingin dan pemandangannya bagus, hotelnya bagus dan bersih, kamarnya diatas kolam ikan, makanannya juga enak, macem macem ikan bakar kita cobain, besoknya kita lanjut lagi, dari Kopeng kita lewat Temanggung, Parakan, masuk Wonosobo beli lidah asap dulu, naik ke Dieng dan turunnya di Banjarnegara, masuklah kita kedaerah Purwokerto, disinilah mertua mulai banyak cerita nostalgia pada saat penjajahan Belanda, dan wanti wanti, “ jangan lupa beli getuk goreng dulu nanti ya dum., karena dulu Amang paling suka makan getuk dan selalu beli getuk goreng ini kalau pas mampir di Purwokerto “, sorenya kita nginep di hotel di Baturaden, kita ambil yang kamarnya ada connecting door, dan sepanjang sore sampai malam , mertua terus bernostalgia dengan cerita ceritanya bersama Amang pada jaman pengungsian, dia juga cerita dan ngajakkin melihat tugu monument perjuangan di area taman Baturaden, disana ada prasasti nama nama pejuang rakyat yang melawan Belanda dan ada nama adiknya disana ( Oloan Nasution ).
Tahun 2001 mertuaku bersabda “ bahwa., untuk maju dan berhasil dimasa mendatang, setiap anak harus bisa menguasai bahasa Inggris, karena dengan semakin mendunianya kehidupan ini, komunikasi lisan harus bisa dikuasai, untuk itu Andre harus kursus bahasa Inggris , nanti mamak yang akan bayar biaya kursusnya “ sabda dari panglima besar memang sedikit dogma, jadi tidak bisa diacuhkan begitu saja, dan kalau ditimbang timbang memang benar, dan saat itu kami memang tidak terpikirkan, maka kami daftarkanlah Andre di LIA dan bayarkan biaya kursusnya untuk 1 periode kursus, sejak itulah andre mengikuti kursus di LIA sampai tamat ditingkat Advance, dorongan dan dukungan dari mertua sangat memacu, jadi janganlah ditambah lagi dengan dukungan financial untuk seterusnya, jadi cukuplah diawal kursus, selanjutnya biarlah kami yang berusaha. ( remember lagi tuh dre., ).
Ada juga yang hanya awal dan selanjutnya diteruskan sendiri,mertua senang sekali kalau kami mengikuti undangan adat batak dan ikut hadir, dia juga senang kalau kami akrab akrab yang bersaudara, dukungan pasti ada, minimal mobilnya bebas digunakan, suatu saat duma cerita ; kalau ada kumpulan arisan Siregar Dongoran, wah., kita dibujuk untuk ikutan, malah ditawarkan, biar nanti mamak yang bayar, akhirnya kita ikutan juga dan memang awal arisan mertua yang bayar, malah waktu Tulang Agus minta kepada anggota arisan agar diadakan di Bogor, wow., mertua seneng banget, “ oh happy day “ katanya.
Kenangan kenangan bersama, yang indah dan yang abadi banyak kami alami bersama, ardith tentu gak bakalan lupa, pada saat dia bujukkin opungnya untuk naik pesawat pertama kali, apa sih., yang dia minta yang gak diikutin oleh opungnya, jadilah dia naik pesawat bersama opungnya dari Surabaya ke Jakarta, itulah ardith, cucu kesayangan dan kecintaan dari opungnya.
indah pada saat kita bersama sama ke Bromo, kita bareng dengan keluarga ‘Bang Apul, bersama dengan Tulang dan nantulang Padangmatinggi, keabadian pada saat ardith, duma dan mertua foto bareng dengan busana musim dinginnya, sukacita pada saat mereka jalan jalan ke Taman Safari di Pandaan, trenyuh pada saat kita berangkat ke Jogja dan gue cekukan melulu di mobil, dan duma diomelin gara gara gak peduli saat itu, yg lucunya., gue mendadak sembuh saat naik ketempat tidur diruang UGD RS Panti Rapih Jogja, terharu dan sedikit bingung, terjadi juga pada saat tutup tahun 2010 dirumah Bogor, pertama kali dan itulah yang terakhir, mertua bilang ke gue “ untuk bere domu, nantulang minta maaf kalau ada kesalahan selama ini, dan kepada boruku, mamak mengucapkan terima kasih karena telah menjaga dan merawat mamak selama ini “ puncak dari semua itu, saat kita salam salaman, gue mendapat cipika cipiki dari mertua, sampai sampai ardith langsung lapor ke mamanya, wah., tadi ada kejutan dari opung ‘ma “ tadi saat kita salam salaman papa dicium opung lho..! ”.
Mertuaku memang tidak ada duanya, gue bangga jadi mantu dan bangga menjadi ayah dari kedua cucunya, selamat jalan Nantulang, selamat bertemu dengan Tuhan Yesus dan selamat bersama kembali dengan orang orang yang Nantulang cintai dan mencintai Nantulang.
“ Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan,
di hadapan Mu ada sukacita berlimpah limpah,
dan ditangan kanan Mu, ada nikmat senantiasa “ Amin..!
( Mazmur 16 : 11 )

Bogor, April 2011
DmH

1 komentar:

  1. wah artikel om bisa terbanyang nih di khayalan aku.
    GOD BLESS, salam sada roha.
    HORASSS!!!

    BalasHapus