Jumat, 12 November 2010

ANGGITA

ANGGI ta


Dia ini anak adek gue Linda Harahap, nama bapaknya Sayon Lubis. Dia lahir di RS Bakti Yudha Depok tgl 27 Mey 1995.
Cirinya khasnya, dan barangkali yang gak perlu diikutin adalah, kalau ketawa hua ha ha ha dengan ayunan nada 3 oktaf. Kulitnya putih, wajahnya mirip bapaknya, hobbinya main basket dan nyanyi.
SD Sampe SMP sekolahnya di Strada, dan sekarang ini sekolahnya di SMA BHK Jakarta Barat.
Liburan sekolah tahun ini dia tour ke Bali, dan tour lagi ama gue, memang rencana perjalanan ini untuk Anggi, dia lagi sumpek dirumahnya, yang gak ada pembantulah dirumahnya, yang mamanya ke timur, papanya ke baratlah, sampai kita berangkat aja, gak dianterin papanya sampe mobil, hebaaat ya., sampai segitunya yang lagi ngambek. nah., gue yang belum sebulan ini happy family tour ama anak anak, jadi jalan deh lagi nemenin mereka. Tapi gue nimat nikmat aja tuh., memang dasarnya gue tukang keluyuran x yah.?
nah., inilah cerita perjalanannya :
Kita berangkat tgl 28 Juni 2010 jam 9 pagi dari rumah linda, kita naik mobil xenia yang sewanya 200 rb/hr. yang ngikut gue, duma, linda, ardith, anggi dan novi, lumayanlah tidak terlalu berat penumpangnya, soalnya tuh mobi ccnya cuman 980. Tarikkannya bagus dan memang mobilnya masih baru banget. Perjalanan ini yg membuat gue terkagetkaget, jalanannya semua 4 jalur, mulus dan tidak padat, masuk arjawinangun kita sudah masuk tol yang langsung masuk jawa tengah, gak ngelewatin lagi perbatasan jabar dan jateng, yang biasanya suka macet. Jam setengah 2 kita sudah masuk Tegal, wow.., cepet amat ya..? disini kita istirahat dan makan di restoran Priangan, pas dipinggir jalan menuju Pemalang, makanannya enak, tempatnya enak dan makannya prasmanan, cumannya di Tegal ini lho. gak diluar kotanya, gak didalam kotanya, semuanya sedang dalam perbaikkan, macet dan debu berbaur dalam 1 kata “SUMPEK”.
Lepas Tegal, masuk Pemalang, lepas Pemalang masuk Pekalongan, disini kita banyak meliat masyarakatnya yang mengunakan sepeda sebagai sarana transportasi, dah gitu rata rata sepedanya ada keranjang didepannya, seragam banget, yang empunya cerita, mengatakan, bahwa itu sepeda second dari jepang, sangat bagus untuk mencegah terjadinya polusi, tapi barangkali gak bagus untuk polusi jarak pendek, gue gak ngebayang burket pasti ada dimana mana, ayo rexona.! katanya setia setiap saat, disana pasti pangsa pasarnya sangat menjanjikan.
Lepas Pekalongan, kita masuk daerah alas roban, rupanya kota Batang sudah tidak dilewatin kendaraan pelintas lagi, bagus juga untuk percepatan, tapi tentunya gak bagus untuk kota Batang, ini kota perlintasan jalur pantura, kalau udah gak dilewatin kendaraan lagi, sepi sunyi dong., kotanya. Harusnya sih kota Tegal dan Pekalongan aja yg dibuat jalur alternatif, masa bis, truk dan semua kendaraan lewat tengah kota, yang udah udah dan yang gue tau, ditengah kota itulah yg sering terjadi kemacetan. Lepas alas roban, yang jalannya sudah tidak melewatin tanjakan, hutan dan kelok kelokkannya, masuklah kearah gringsing, disini biasanya dipake untuk tempat peristirahatan bis dan truk, makanya disana banyak betebaran restoran dan warung, mau masuk Kendal sudah tidak melewatin lagi kota Weleri, ada jalur alternatifnya, dan 1 lagi kota menjadi sepi sunyi dengan perubahan tsb. Lepas Kendal kearah Semarang, jalur mulai macet, dan semakin macet saat masuk kota Semarang, pas pula kita masuk Semarang saat bubar kantor, yang rencananya masuk kota Semarang jam 6 malam,jadilah sampai dirumah dinas ‘Bang Apul jam setengah 8 malam.
Maaf seribu maaf ‘Bang dan Kakak, karena mereka berharap kita tidur dirumahnya, kamar udah disiapkan ,TV untuk nonton kejuaraan bola dunia tinggal dipindahkan, tapi linda dan dan anggi gak mau, yah., gimana lagi, padahal ini malam yang main Spanyol lawan , tapi maklum jugalah, karena mereka tidak terbiasa, akhirnya malam itu kita hanya makan malam aja dirumah Abang, tapi suguhannya itu lho., nasi campur dan capcay yang enak, nikmat dan porsinya banyak, Maaf lagi dan banyak terima kasih ya ‘Bang, nanti di Jogja kami pasti nginep dan ngerepotin lagi deh.,
Jam setengah 11 malam, kita keluar dari Semarang dengan tambahan logistik, ada kripik tempe, ada kripik paru , ditambah dengan 4 kaleng pocari sweat dan perut kenyang. nah ini memang kebiasaan kalau kerumah Abang, pasti ada yang dibawa kalau pulang dari rumahnya.
Kita sengaja keluar malam, untuk menghindarkan jalur macet keluar Semarang kearah Gombel, kearah Ungaran menuju Bawen dan arah Bawen menuju Salatiga, untuk perkiraan macet ini kita memang betul, tapi rupanya sepanjang jalan banyak razia oleh polisi yang berpakaian lengkap dan persenjataannya juga lengkap, ada apa ya..? mungkin karena yang duduk didepan sebagai co pilotnya ardith, sepanjang ada razia, kita gak pernah diberhenti’in, kasian deh lo dith., masih dianggap anak kecil ama polisi.
Kita sampe dirumahnya Benny Harahap didaerah Mojosongo Solo jam 1 pagi, kita udah ditunggu disana, kamar sudah disiapkan, tempat tidur sudah digelar, yang gak disiapkan makan,minum dan keceriaan, karena kamarnya cuman 2, gue ama duma tidurnya diruang tamu, komplain aja kerjanya elo dom.!
Nah., apa kerjanya Anggi selama dalam perjalanan ini, yang pertama sms an sambil ngemil, yang kedua tidur, sambil ngedengerin sms masuk. Jadi intinya selama dalam perjalanan ini , anggi sibuk dengan sms, iyakan nggi..? padahal dia bilang hobbinya nyanyi, gak ada tuh., sepanjang jalan kedengeran suara dia yang nyanyi, repot memang kalau jadi penyanyi kamar mandi, jadi gak PD yah nggi..?
Tanggal 29 Juni, Pagi ini gue nganterin para wanita belanja di pasar gede dan makan bakso enak diseberangnya pasar, tapi yang lebih enak menurut gue, pangsit gorengnya, sesudah dari pasar gede pulangkah kita..? oh enggaklah., kaya gak tau linda aja, hobbi belanjanya seimbang dengan hobbi bedandannya, dan anggipun bilang gini “ anggikan udah gadis, jadi harus ikut belanja juga dong.,” jadi berangkat lagi deh., kita kepasar Klewer, gue ama ardith nungguin aja di parkiran sambil nyari buku bekas diseberang pasar,
Setengah jam berjalan, duma nelpon, ngasih tau kalau anggi ama novi mau balik ke mobil,katanya anggi perutnya mual, he..he..he.., katanya udah gadis nggi, koq baru gitu aja langsung mual..? rupanya standard wanita sudah gadis atau belum, kalau dia bisa belanja dengan desak2an, bisa nawar dengan ulet dan bisa jalan ber jam2 tanpa betisnya keram. gitu ya..?
Malamnya gue ama duma main kerumahnya Ardi, rupanya dia sekarang sudah jadi pimpinan cabang BNI khusus kredit di Solo, wah., seru banget yang ngobrolnya, dia itu temen perjalanan koboy gue waktu ke Bali tahun 1974, kita cerita saat nyolong telor dari atas jendela bis, kita cerita saat berbugil ria dipantai Kuta, kita cerita saat perjalanan tanpa uang yang memadai, yang akhirnya jual celana jeans di pasar loak Denpasar, sarapan pagi dengan belimbing wuluh, nyantronin saudara2 supaya dapet sangu, dan pulangnya naik truk dari Denpasar ke gilimanuk,
Bener ‘Di, ini cerita yang tidak akan pernah habis dan selesai dibicarakan, indah dan manis untuk dikenang dan mungkin akan terus dibincangkan sampe ke anak cucu kita.
Jam 11 malam, gue,linda ama anak2 nongkrong dan makan di angkringan, disitu gue cerita mengenai candi ceto yang ada di segoro gunung, awal ceritanya sih., pake ungkapan2 yang halus, gak enak juga, masa cerita ama ponakkan pake bahasa yang vulgar, tapi rupanya anggi lugu banget, berapa kali dijelaskan gak ngerti2 juga, kalau ardith, yah., jangan ditanyalah, langsung aja dia nyeletuk “ seperti kamasutra ‘nggi gambar2 dicandi itu “ wow.., ardith..!
Besok paginya tgl 30 Juni, kita berangkat ke Sarangan, penumpang bertambah 2 orang Dea dan Karl dan mobil bertambah bebannya sekitar 180 Kg, makan siangnya kita di warung ‘Bu Ugi di Tawangmangu, ini kebiasaan kita2 juga, gak afdol rasanya, kalau ke tawangmangu, gak makan sop buntut ‘Bu Ugi.
Pas ditanjakkan gondosuli dari arah tawangmangu menuju cemoro sewu, mobilnya ndut endutan dan langsung berhenti, ini gara gara gak bisa nanjak, yah.,panteslah, mobil ccnya 980, yang naik beratnya sekitar 600 Kg, belum lagi berat mesinnya, yah matilah dia..!

Akhirnya linda cs pada naik angkot ke sarangan, yang di mobil tinggal gue, ardith dan novi.
Sampai sana cari Pak Yatno dulu, dia temen gue, yang selama ini ngejalani obat gue di sarangan, gak salah memang deh, gara gara pake referensi nya, kita dapet potongan biaya hotel sampai 30%.
Selama disana pada naik speedboatnya pak yatno, ardith malah dibolehin nyetir sendiri, wah., pada happy banget, kalau linda ketakutan banget, namanya juga ardith, mumpung dikasih bawa sendiri, dia kebut tuh speedboat suka sukanya. Gue seneng ngeliat mereka pada kompak, pada tidur bareng, pada becanda bareng, pada foto bareng, paginya sesudah kita ngelilingin danau, pada makan bareng, nikmat memang., makan pecel madiun sambil nongkrong dipinggir danau.
Sayang sekali musim stroberi belum datang, biasanya kalau gue disana, sambil jalan pagi, gue keliling sama pak yatno, naik turun bukit, sambil jalan ngambilin stroberi, metik sendiri, makan sendiri, walau masih bercampur dengan tanah, nikmatnya itu lho., yang tak tertandingi.
Tgl 1 Juli Jam 10 pagi kita balik ke solo, dan linda cs kembali lagi naik angkot, kita ketemunya didepan warung ‘bu Ugi di tawang mangu.
Sampai solo jam 12, kita benah benah bentaran, cabut lagi deh menuju Jogja, tapi mampir dulu kekantornya Sri, untuk pamitan dan menerima ungkapan maafnya, karena tidak bisa menemani selama kita di solo. yah.., mboten nopo nopo dik sri..!
Sampai di Jogja, para wanita langsung pada shoping di malioboro, gue ama ardith nyari hotel, kebetulan pula saat itu libur panjang dan bersamaan pula dengan kongres akbar Muhammadiyah, yah., jadi gitu deh., nyari hotelnya susah, keluar hotelnya pun susah, maklum dimana mana jalan pada macet, akhirnya dapet juga hotel yang ala kadarnya, yang penting ada AC nya dan gak begitu jauh dari malioboro.
Yang pada hebat perempuan itu deh, gue gak tau betisnya pada dibuat dari apaan, kuat banget yang pada shoping, kalau sampai gak gue batasin dan gak gue cerewetin, mungkin pada gak inget pulang,
Malamnya gue, duma dan ardith tidur dirumah ‘Bang Apul, sisanya pada di hotel.
Tgl 2 Juli paginya, gue jemput mereka lagi, sekarang duma yang gak ikut, kita pada jalan ke Keteb, katanya dari satu titik disana, kita bisa sekaligus melihat 5 puncak gunung, memang memukau dan indah dipandang mata, dari bukit keteb, mata kita langsung melihat lembah dan secara perlahan naik mencapai puncak gunung, disini juga ada pertunjukkan bioskop, yang berisi mengenai volcano, sayang kita gak pada ada yang nonton, mereka sibuk dengan sms an, nyebelin juga sih., jauh jauh gue bawa mereka kesana, eh., merekanya disana pada sms an aja, mana camera habis baterenya, mana si karel disuruh beli batere salah pula, mana si karel disuruh foto pake hpnya gak mau,, katanya sayang foto foto yang ada di hp nya harus dihapus. Habislah moment untuk mengabadikan pemandangan disana, kata yang empunya cerita, dulu Bung Karno suka kesini, mungkin bertapa, mungkin juga cari wangsit, yang jelas pada saat Megawati yang jadi Presiden, tempat ini dibuat menjadi bagus dengan segala fasilitasnya,
Pulang dari keteb, kita lewat jalur lain, ditengah jalan kita ketemu dengan perkebunan stroberi, kebetulan lagi pada panen, waktu diajak pada turun, mereka mereka pada males malesan, sesudahnya, pada ngelahap stroberi, sekali sekali nikmatilah stroberi dengan memetik sendiri, memang repot kalau bawa anak anak ini, sepanjang jalan pada pada main HP melulu, dah gitu kita mampir dulu ke kopeng, disini gue nyari lagi temen, namanya Sugeng, dia temen gue juga pada saat gue ngejalanin obat disana, dan rupanya nyari dia gak rugi juga, karena pada saat masuk ke tempat wisata kopeng, pada gak bayar, lumayan juga tuh.,
Pulang dari kopeng, nyempetin dulu ke candi Borobudur, sayang pintu masuknya udah pada tutup, jadi deh., mereka hanya ngeliat tempat parkiran dan tempat shopingnya aja, kalau borobudurnya sendiri sih., gak keliatan dari luar. Untuk sekedar melihat candi, kita sempetin liat candi Mendut, memang posisinya berada dipinggir jalan antara Borobudur kearah Jogja.
Pulangnya kita mampir dulu kerumah ‘Bang Apul, kita makan malam disana,
Gak enak jugalah, linda cs udah mampir di semarang, ditawarin nginep gak mau, masa pas di Jogja juga gak mampir lagi. malemnya nganterin mereka lagi ke hotelnya, wah., remuk redam di tulang belulang.
Tgl 3 Juli pagi, gue ama duma pamitan dengan keluarga ‘Bang Apul, ardith gak ikutan pulang, seperti biasanya, oleh oleh selalu tidak pernah ketinggalan, waktu kita jemput linda cs di hotel, mereka tidak ada, katanya lagi sarapan sop ceker di malioboro, linda linda.., gak pernah puas yah., kalau shoping..? padahal janjian jam 8 pagi kita sudah harus berangkat, eh., dia balik ke hotel jam 10.
Tadinya rencana perjalanan menuju pantai Pangandaran akan menyusuri pantai selatan Jawa Tengah. Kita sudah masuk dari Wates dan menyusuri pantai tsb, sayangnya gue gak berani terus lanjut, maklum cowonya cuman gue sendiri dan daerahnya belum gue kenal, jadi deh., sesudah melewati gombong, kita masuk lagi ke jalur biasanya, gak lupa makan bebek didaerah perbebekkan di luar kota gombong, enak, empuk,pedas dan gak mahal juga harganya.
Waktu kita masih dijalan, kita booking hotel di Pangadaran, yang punya ngasih tau, “ ada jalur potong yang lebih dekat, lebih sepi dan lebih bagus jalannya, nanti sebelum masuk daerah Sidareja, ada jalan yang belok kanan, dari situ nanti langsung bisa tembus di daerah Kalipucang,” kita lewat situ deh., bener lebih dekat sih., tapi juga gak lebih cepet, bener lebih sepi, tapi bukan berarti kita bisa jalan kenceng, jalanannya itu lho., kadang bagus, kadang jelek, kadang mulus kadang berantakkan, kalau dibilang jalannya lebih bagus, yah., enggak jugalah, lebih jelek malah, tapi gapapalah, namanya jalan jalan, yah nikmatin aja, cuman rada ngeri juga sih, mana jalan mulai gelap, perut mulai lapar, mau cari makan juga gak ada, mau cari indomart atau alfamart, yah., boro boro deh..!
Jam 7 malam kita nyampe Pangandaran dan nginepnya di Hotel Grand Mutiara, lokasinya strategis banget, dipinggir pantai dan di pusat keramaian. Saat itu bertepatan dengan acara Harley Davidson, yang biasanya dibuat setiap 5 tahun sekali, jadi sangat rame acaranya, sangat penuh manusianya, sangat banyak motornya dan sangat ribut suaranya, ngebayang gak sih., saat mereka pulang jam 5 pagi, mereka bersamaan manasin motornya, kita yang lagi tidur langsung pada kebangunan, bayangin., semua kaca dikamar pada bergetar, seperti ada gempa, nyebelin banget deh.,
Tanggal 4 Juli pagi, belum sarapan di hotel kita berangkat dulu kepasir putih, disana duma , linda dan anggi mau diving di laut, waktu dipake alatnya, lucu lucu deh., tampangnya mereka, apalagi linda, syok banget yah lin..? akhirnya hanya anggi aja bermain main dengan ikan ditengah laut, darisana kita balik sebentar ke hotel, baru lanjut ke Green Canyon yang jaraknya sekitar 30 KM dari Pangandaran, waktu berangkat kesana sama andre dan ardith, gue takut untuk nyemplung nyusurin sungai dan foto foto di cadas, tapi kalau sekarang gue takut, yah., kapan lagi dan pastinya anggi pun gak berani juga, akhirnya gue, duma dan anggi ikut nyemplung dan foto foto di cadas, tapinya itu lho., gak ada satupun gambar yang kita punya, sayang banget ya..?
Balik darisana ke Pangandaran, kita masih sempetin untuk mampir di Batu Hiu.
Sempetin berendem di laut dan foto, cuman fotonya pake tukang foto keliling, yah., daripada gak ada, lumayanlah.
Sampai di hotel, bersih bersih, benah benah, makan, berangkatlah dari sana jam 4 sore menuju Bandung, sekarang kita lewat jalur biasa.
kita makan malam dulu di Limbangan Garut dan untung aja kita makan dulu, karena pas keluar dari restoran, jalanan macet total sampai daerah Nagrek, rupanya disana sudah juga diterapkan jalur buka tutup jalan.
Baru kali ini gue nyetir sambil melayang layang, masuk Bandungpun sudah sepi, yang numpang udah pada tidur, yang nyetirpun udah keliyengan gak karuan, kita nyampe dirumahnya Joe di Taman Setiabudi sudah jam 12 malam, wow.., Pangandaran menuju Bandung 8 jam euy..!
Tanggal 5 Juli, jam 10 pagi kita keluar dari rumah Joe, kita jalan dulu kearah Lembang, mampir bentar di kebun stroberi yang lagi gak panen, dah gitu makan siang di Lembang.
Pulangnya nganterin linda kerumahnya, gak pake mampir lagi gue langsung pulang ke Bogor, malemnya ngembaliin mobil ke Pak Wawan, dan bayar uang sewa mobi Rp. 1.600.000,- ( inilah total sewa mobil selama 8 hari ).
Apa yang terkesan dan menjadi catatan untuk gue selama perjalanan ini..?
1. Persiapkan diri kalau berjalan jalan dengan para wanita, siapkan sabar, siapkan waktu, siapkan badan dan kaki yang tegap, karena selama perjalanan kita akan menghadapi segala cobaan, baik saat mereka shoping maupun saat mereka selalu tidak tepat waktu.

2. Kalau berjalan dengan wanita yang masih muda lain lagi ceritanya, kita akan merasakan dan melihat, bahwa., indahnya laut, sejuknya udara pegunungan, segarnya buah buah yang dipetik langsung dan nikmatnya perjalanan, masih kalah dengan nikmatnya internetan dan sms an disepanjang perjalanan.
Suatu saat kita akan mendengar “ akukan sudah gadis, jadi sudah bisa dong shoping berlama lama “ eh., belum lama shoping dikelas ekonomi, langsung mual mau muntah, he..he..he.., jam terbangnya belum bisa nyaingin mama dan nantulang ya ‘nggi..?

3. Kalau berjalan dengan wanita, ada 2 hal yang PASTI, yang PERTAMA. kalau mereka melek, mereka akan ngobrol dan ngemil, keDUA , sesudahnya mereka akan tidur, itu untuk wanita yang dewasa, kalau yang masih puber lain lagi, kalau dia melek, dia akan sms an, internetan, ngemil dan cekakak cekikik, sesudahnya, yah.,sama juga dengan kedua diatas, tiduuuur.

4. Cape deh..!

5. Tapi gue seneng seneng aja koq, karena memang gue seneng jalan dengan saudara saudara gue.




Juli 2010

Gue pernah part 1

Gue pernah………, part 1


1. Desember 1985, gue dapet tugas untuk melaksanakan AUDIT di hotel PUTRI BALI di Nusa Dua selama 3 minggu, tahun segitu, hotel masih sedikit disana, yang gue inget baru ada hotel Nusa Dua Beach dan Balisol, fasilitaspun belum selengkap seperti sekarang ini, jadi kalau setiap hari sabtu dan minggu gue nginepnye di hotel Bali Beach di Sanur, kebetulan tim audit yang lain tugasnya disana.
Nah., di hari2 senin sampai jum’at, tiap sore kerjaan gue berenang dan kalau malam nongkrong di restaurannya di pinggir pantai, karena kerjaan gue hari hari rutin seperti itu, rupanya menjadi perhatian dari orang bule, yang tinggi besar dan badannya berbulu, setiap gue berenang, dia ikut berenang, setiap gue ngelahap lobster, dia juga makan, dan itu dilakukan selalu tidak jauh dari gue, lama lama gue sadar juga kalau ada bayang2 yang selalu ngikutin gue, kalau gue ngeliatin dia, pasti dia berikan senyum terbaiknya, sebel, risih dan sedikit takut juga, akhirnya gue laporin aja ama security hotel, ooh.. rupanya dia hombre yang memang biasa cari mangsa di hotel2, maklumlah pada saat itu, mereka sedang Berjaya, karena saat itu Dirjen Pariwisatanya Joop Ave.
Bisa aja, dia ngejar ngejar gue, karena mungkin waktu gue berenang sempet kentut keras dan dia nya denger. maklum juga sih., semakin keras kentut kita, semakin tingi pasaran kita. He..he..he..!

2. Desember 1985, kita dapet tugas untuk AUDIT hotel Bali Beach dan Putri Bali, hari pertama, kita diundang makan malam bersama General Manager dan Internal Auditnya Bali Beach, walau gak pake janjian, gue, Syufril dan Delyuzar pesannya sama sama ayam bekakak, pada saat ayam bekakaknya datang, kita pada bingung cara makannya, ayamnya setengah ekor dan dalam posisi bekakak ( terbuka ), ayamnya enak banget,tapi karena tidak terbiasa makan pake pisau, kita jadi serba salah, potong sini dapetnya sedikit, potong sana dapetnya juga sedikit, belum lagi bumbunya belepetan kemana mana, yah., sudahkan dululah perjuangan ini, walau masih pengen, tapi malu sudah menyergap, selesai makan malam, kita masuk kamar dan langsung pesan lagi ayam bekakak ke room service dan minta segera dikirim kekamar, belum juga habis setengah, eh.. internal auditnya datang kekamar gue, mau ngasih tau, kalau jam 8 pagi gue akan diantar ke Putri Bali, IDIIIH.. MALUNYA, soalnya dia ngeliat sisa2 ayam bekakak gue yang belum habis.

3. April 1983, gue ama tim dapet tugas untuk melaksanakan Stock opname dan tabulasi untuk aktiva PLN Distribusi dan proyek proyek PLN se Jawa Tengah, kita diinapkan di cottage hotel Gombel Indah di Semarang. Cottage cotaggenya bagus dan tersebar di bukit2 dengan pemandangan kota Semarang,
Setiap pulang kerja gue berenang atau main layangan, nah.., disinilah gue nyobain yang namanya loncat dari papan dengan ketinggian 3 kadang malah yang 5 meter,
Suatu saat burung gue luka, perih dan selalu basah, lama gak sembuh sembuh, malah semakin lama semakin parah, akhirnya gue bawa ke dokter spesialis kulit dan kelamin, tuh., dokter malah gelarnya sudah professor, gak dikasih tau masalahnya kenapa dan penyakit apa, pokoknya yang gue inget, bayarnya 75 rb dan obatnya sekitar 200 rb an, tapi sampai gue pulang ke Jakarta, penyakit itu gak sembuh sembuh juga, akhirnya gue coba bawa ke dokter tetangga yang baru tamat kuliah, dia bilang begini “ Dom., burung elo ini terkena penyakit syphilis, ini sdh mencapai stadium 3, kalau lambat dikit aja gak diobatin, burung elo putus dengan sendirinya, tapi elo coba dulu deh pake salep 24, harganya cuman 800 perak koq., “ buru buru gue beli dan gue pake, eh., belum 2 hari sudah sembuh, waktu gue lapor, dokter Sumitro, sambil ngakak bilang gini “penyakit elo itu dom, penyakit kampung, gak perlu professor, dokter Puskesmas pun bisa nyembuhin “
He..he..he..! rupanya karena tiap hari berenang dan nyucinya gak bersih, burung gue kena KUTU AIR.


4.Tahun 1970 an, gue ama Bonny tidur dikamar belakang, itu kamar kelas kambing, sedangkan Bang Polli tidur di Paviliun, itu kamar VVIP,
Dari kecil memang kita gak pernah bareng, jalan sendiri sendiri, main bola sendiri sendiri, naik gunung juga sendiri sendiri, sama sama kuliah di akuntansi, tapi belajarnya sendiri sendiri, ada 2 cerita yang GUE PERNAH..,
Waktu Bang Polii cerita naik gunung Pangrango dan jalan kaki dari puncak pass ke ciawi, beliau bilang gini “ elo gak bakalan sanggup dom.”
Namanya juga domu, lebih baik mati berkalang tanah, daripada hidup berkalangkabut, gue ajak deh., Budi katro dan Aryanto pendek untuk naik gunung, supaya gak kalah ama Bang Polli, karena dia naik gunung Pangrango doang, maka gue naik gunung Pangrango dan gunung Gede sekaligus, walaupun gak naik turun banget, karena ditengah tengah kedua gunung itu ada simpang yang namanya kandang badak,
Karena sangking semangatnya untuk memecahkan rekor, gue lupa yang namanya makan, pas saat turun mau pulang dari kandang badak, perut gue mules karena lapar, badan lemes sampai susah untuk dipake jalan, mau makan, yang ada cuman lontong yang sudah basi, budi ama yanto sanggup makan itu, nah., gue, pas makan langsung muntah2, akhirnya gue dipapah selama perjalanan turun, pokoknya udah kaya orang pesakitan aja deh., waktu sampai di cibodas, ada yang jualan kacang ijo, wah seperti pucuk dicinta, ulam tiba, badan langsung segar, sehat dan penuh vitalitas.
Waktu sampai rumah, langsung lapor ama Bang Polli, kalau gue naik gunung salak dan pangrango, tapi gak cerita, kalau gue termehek mehek dijalan.
Gengsi atuh ‘kang..!
Waktu ‘Bang Polli bilang “ domu itu penakut, jalan malam gak berani, tidur sendirian dikamarnya aja gak berani “
Namanya juga domu, lebih baik malu belakangan, daripada malu maluin, akhirnya buatlah kesepakatan dengan ‘Bang Polli,
Beliau sore2 berangkat kevillanya tulang Eden di cibulan, nanti malamnya gue harus nyusul kesana, kalau mau nyampe ke villa itu, caranya gini, kita turun di citeko, dah gitu jalan kaki sekitar 1 Km, ngelewatin kuburan, kebon2 dan villa2 tua yang kosong, karena pemiliknya gak pada datang, ( bukan hari sabtu soalnya ), jadi deh., gue berangkat memenuhi kesepakatan itu, sampai sana sekitar jam 11 malam, gue turun di restoran ibu di citeko, dah gitu gue jalan kaki ngelewatin kuburan sambil nyanyi lagu “ Ise do ale ale ta “ sesudah ngelewatin kuburan dilanjutkan dengan lagu “ Holan Jesus do hubaen donganku “ itu itu aja yang gue nyanyi’in sepanjang jalan, pas masuk pintu gerbang villa, gue langsung kabur dan masuk kevilla tulang dengan napas termehek mehek, he..he..he..! yang penting gue nyampe dan terpenuhi kesepakatan dengan ‘Bang Polli.

5.Tahun 1975, waktu itu gue kelas 3 SMA, ada temen gue namanya Iswansyah, anaknya cakep, pinter belajar, tapi gak pinter nabung, jago main gitar, rajin sholat dan jago bersilat lidah, suatu saat dia bilang begini ke gue “dom., ada film perang, judulnya “Green Barets” pemainnya Jonh Wayne, filmnya bagus dan sekarang lagi diputar dibioskop Roxi, sayang banget kalau kita gak nonton, coba elo pikir deh., dom, suatu saat kita banyak uang dan kita mau nonton film itu, tapi film tsb sudah tidak beredar lagi, mau kita cari kemana tuh film..?, kalau sekarang kita jual celana untuk nonton film itu, gak masalahkan, kalau elo punya duit, seratus celanapun bisa elo beli “ dalam hati gue ngomong , “bener juga ya.,” dan itulah hebatnya dia dan gobloknya gue, jadi tuh., kita nonton dengan jual celana jeans.


6. Tahun 1968 gue tamat dari SD Sumbangsih, sebagai bentuk hadiahnya, gue boleh pulang kekampung halamannya mami di Kerasaan Pematang Siantar, saat itu gue naik kapal Bengawan dan dititipin sama Uda Todung Marpaung (perwira kesehatan kapal).
Waktu sampai di Belawan Medan gue dijemput sama Tulang Agus, dan selama disana gue bisa kenal dengan opungnya mami yang boru Pulungan, kalau ngomong sama beliau harus pake penterjemah, karena beliau itu gak bisa bahasa Indonesia, sedangkan gue gak bisa bahasa batak, kalau pas ketemu beduan pake bahasa tarzan.
Selama liburan disana, gue sempat diajak tulang naik sepeda ke Laras, naik bis ke Kisaran, nongkrong di lapo minum tuak, mangaligi ligi boru di Kerasan dan diajak jalan ke Danau Toba, nah., inilah ceritanya.
Waktu di danau toba, kita sewa perahu dan marsolu solulah kita disana, pas ditengah danau tulang bilang begini “ dom., kamu bisa berenang tidak.? “ dengan gaya diplomatis dan barangkali juga karena gengsi anak Jakarta, gue jawabnya “ kalau di Jakarta sih, domu biasa berenang tulang “ belum juga selesai omong, perahu langsung dibalikkin sama tulang, yah.., gue termegap megaplah, mungkin saat itu udah seliter air yang gue minum.
Nah., inilah kejadian dengan paradigma yang berbeda, tulang beranggapan, kalau biasa berenang pasti bisa berenang, sedangkan gue jawab gitu karena malu, kalau bilang gak bisa berenang, cumannya gak nyangka aja, seketika itu juga perahu ditenggelamkan.
He..he..he..! domu ..domu.., makan tuh gengsi.

7. September 2009, gue ama purnomo naik sepeda motor dari Lamongan mau ke Laren, ditengah jalan tepatnya didaerah persawahan Pucuk, gue ngeliat ada pak petani sedang bersih2in rumput ditengah sawah, gue bilang ke pur untuk berhenti sebentar lalu kita panggillah petani tsb, gak nyangka petani tsb langsung datang dan supaya cepet memenuhi panggillan kita, dia nyebrangin kali kecil dengan berjalan, sedangkan dalamnya air mencapai pinggang dari petani tsb, gue ama pur langsung mengenalkan diri sebagai pedagang pestisida, dia mengenalkan diri sebagai petani dengan nama Tasrun dan tinggal di desa Bulu Tengger kec. Sekaran, kita bincang2nya dipinggir kali, dan dengan gaya seorang marketing handal, kita mengenalkan , bahwa produk kita kwalitasnya baik, harganya murah dan fungsinya sangat beragam, pokoknya kita bilang, bahwa produk kita harganya sangat terjangkau oleh petani, pak petani dengan khusuk mendengarkan dan sambil mengangguk2an kepala tanda mengerti, sekali sekali mengatakan “enggeh pak, enggeh pak” dan menawarkan diri, agar gue ama pur mau mampir kerumahnya nanti sore.
Pulang dari Laren, kita carilah rumahnya, kita nanya ke penduduk sana, “dimana rumah pak Tasrun..? ”, jawabnya “ bapak kenceng saja, disana ada rumah yang paling pojok dan menghadap barat “ pada saat kita kesana, yang ditemui 2 bangunan rumah yang sangat mewah dalam 1 halaman, dengan mobil CRV baru yang terparkir didalamnya, ah.., gak mungkinlah..! kita balik lagi dan nanya lagi ke penduduk lainnya, jawabannya sama “ bapak kenceng saja, nanti ada rumah yang paling pojok dan menghadap kearah barat, itulah rumah pak Haji Tasrun “ wah., udah mulai goyah nih., iman, waktu kita nyampe disana, pas pak Haji Tasrun keluar, langsung dengan sedikit membungkukkan diri dan ujung jempol dibawah, kita dipersilahkan masuk rumahnya, dasar orang jawa deh., walau dia tau kita terpesona liat keberadaannya, tetap aja dia duduk tanpa menyenderkan tubuhnya kekursi dan dengan posisi duduk kaki rapat dan kedua tangan diatas dengkulnya, bener2 dasar orang jawa kampung, gue ama pur bener2 dikerjain ama dia, sampai gue ama pur, tendang2an kaki, karena gak tau lagi mau ngomong apaan, udeh gitu die cerita, kalau die punya warung kaki 5 di bogor, namanya seafood 69, die juga cerita, sebagai salah satu perintis orang Lamongan yang berdagang kaki 5 di wilayah Jabodetabek, akhirnya gue juga tau, kalau warung kaki 5 nya di bogor, adalah warung yang paling laku dan rame dan gue juga tau, tidak hanya warung kaki 5 yang dia punya, tapi die juga punya ruko didaerah elite bogor.
Pulang dari rumahnya gue ama pur jadi lebih banyak cengengesan, yah., lucu, yah., malu, yah., pokoknya gitu deh.
Banyak pelajaran yang gue dapet dari cerita konyol ini,
Semakin tinggi keberadaan kita, harusnya semakin rendahlah hati kita, bekerja untuk maju, adalah perjuangan, dan perjuangan adalah suatu proses, dimana istirahat untuk bekerja tidak ada dalam kamus perjuangannya.



8. Tahun 2005, Domu Pasaribu kena penyakit kanker sinusitis, dia tinggal di Sanggau Kalimantan Barat dan dateng ke Jakarta untuk berobat di RSCM sama adiknya Parlin, dan gue sendiri dapet tugas dari bujing rawamangun untuk selalu mengantar dan mendampingi mereka selama berobat, tugas tetap tugas, harus tetap dilaksanakan , walau perut sakit sekalipun.
Sampai di RSCM, perut gue mules, mau masuk ke toilet semuanya penuh, dan masih banyak juga yang ngantri mau masuk, muter muter kelilingin bangsal tetap aja gak dapet, mau cari tempat sepi dan rada mojok, juga gak dapet, sedangkan posisi sudah berada diujung tanduk, keringet dingin sudah keluar, mau nahan sudah gak mampu lagi, lalu ambil posisilah yang rada sepi sidikit dan sambil pegangan ditiang, mbrodollah beliau itu., kalau ada orang lewat, gue belaga sibuk telpon2an, udah gitu gue beli minyak kayu putih, maksudnya sih., untuk menyamarkan antara bau tokay dengan harumnya kayu putih, pada saat dari jauh gue liat ada toilet yg kosong, gue buru2 datengin dan masuk, didalam toilet itulah gue bukannya trow big water, tapi ngebersihin big water yang pada nempel di celana jeans, sebersih bersihnya yang nyuci pake tangan, yah., tetap ajalah ada yang nyangkut, dan baunya gak secepat itukan hilangnya, kembali untuk menyamarkan baunya, gue siramin lagi pake minyak kayu putih, sedikit acuh dan sedikit masa bodoh, keluarlah gue dari toilet dan mencari Domu Pasaribu di bagian THT, setiap berpaspasan, pasti orang pada ngeliatin gue, dan gue kembali acuh dan masa bodoh lagi, yang serunya pada saat kita mau pulang kerumah bujing di rawamangun, yang biasanya kita naik bis, saat itu gue ngotot naik taxi, gue duduk depan, supir taxi mengendus bau yang tak sedap, domu dan parlin, juga mengendus bau yang tak sedap, kembali gue acuh dan belagak bodoh, sepanjang jalan semua pada diam seribu bahasa, sambil mengendus endus aroma aneh, selama mereka diam, yah., gue juga diam aja, sampe dirumah bujing, gue masuk kamar mandi, gue mandi yang bersih, sambil nyuci celana yang benar, keluar dari kamar mandi, sudah ada senyum dibibir gue dan merasa surga sudah ada ditangan gue.
LEGAAAH nya itu lho..!

9. Tahun1984 , berdirinya PDI.P ( Perjuangan Domu Ingin. Pacaran )
Awalnya, kita para naposobulung GKPA Diponegoro lagi kumpul kumpul di sekolah music Marcia di Tebet, saat duma mau pulang dan ngajakin abangnya Iya, untuk nganterin ke Kalibata kerumah ‘Bang Ananda, eh.., Iya nya malah ngomong “wah., itu bukan urusan gue, tapi urusannya domu“, seperti pucuk dicinta domu tiba, gak pake dua kali komando, gue langsung iya’in katanya Iya, kesempatan katanya gak datang 2 kali, ditengah jalan saat nganter, gue langsung bilang “kita nonton dulu yuuk dum..?“ rupanya duma juga berprinsip, kesempatan datangnya gak 2 kali, duma langsung setuju, tapi ijin dulu sama abangnya itu, ijin keluar, kita nonton deh., dibioskop Monas, itulah AWAL…! Dan sesudahnya banyak aral yang melintang sejak ketua dewan Syuro menentang hubungan gue ini, awalnya di Kalibata, sesudahnya di Menteng Lama, awalnya ada pendukung, sesudahnya gak ada, awalnya gak ada saingan, sesudahnya banyak saingan, awalnya terang, sesudahnya gelap.
Tapi yang gue mau cerita, perjuangan selama pacaran di Kalibata.
Kebiasaan gue, kalau pacaran selalu pulang tengah malam, dan kalau mau pulang, biar cepet harus motong jalan, didepan rumah abangnya memang ada kebon kosong yang luas, tapi katanya disitu suka ada kuntilanak yang nongkrong dibawah pohon, kalau gue lewat jalan yg gak motong, diujung rumahnya ada anjing galak yang suka ngejar2 orang yang lewat, sekarang tinggal 2 pilihan, lewat kebon kosong, tapi katanya ada kuntilanak, atau lewat jalan yang gak motong, tapi di kejar2 anjing, pikir punya pikir, akhirnya gue ambil keputusan, lewat kebon kosong, dengan alasan gue punya penangkalnya, makanya setiap lewat jalan itu, gue selalu nyanyi “Holan Jesus do hubaen donganku” , sedangkan kalau urusan dengan dikejar kejar anjing, saat itu gue belum tau lagu penangkalnya. gila kali elo itu ya..dom…!
Nanti kalau sudah sampai jalan raya Pasarminggu, baru naik angkutan lagi kearah Pancoran, disinipun sering perlu perjuangan lagi, karena bisa dalam 1 angkutan, hanya gue yang laki2, yang lainnya BENCHONG SLEBOR semua. Kalau menghadapi seperti ini, hanya 1 syaratnya, YAKIN dan JANGAN TAKUT.
10. Tahun 1994, mungkin inilah krisis awal dari likwiditas perbankan di Indonesia, jadi banyak Bank yang menawarkan komisi kalau kita menaruh uang di bank tsb, bunga dikasih lebih tinggi dan yang naruh juga dapet komisi, salah 1 nya Bank Modern di sekitar blok M yang menawarkan iming2 tsb ke gue, branch managernya gue lupa namanya, yang gue inget die orang cina menado. Saat itu memang gue lagi dipercaya pegang uang perusahaan dan kebetulan juga perusahaan gue lagi punya uang nganggur, jadilah pada saat itu uang sebesar 400 juta gue masukkan ke bank modern sebagai sertifikat deposito. Gue pikir2., lumayan jugalah, gue dapet bunga didepan dan dapet komisi pula, tunggu punya tunggu, rupanya gue seperti pungguk merindukan bulan, komisi yang gue harapkan gak nongol2, mau nagih terus, koq..kayanya gue yang jadi konyol, Akhirnya gue putuskan untuk memuat cerita itu disurat kabar.
Gue ketik dengan rapi, benar dan dengan bahasa yang sederhana, masalah tsb gue kirim ke redaksi harian Media Indonesia ( saat itu punya julukkan sang innovator ), pas besoknya gue liat di surat pembaca, isinya jauh berbeda dengan apa yang gue tulis, ya.. ampun ada permainan apa pula ini, karena isinya salah, tentunya bank modern dengan mudah menyangkalnya, malah gue yang jadi terpojokkan, sampai sampai abang gue Pollie nanya “ ada masalah apa gue dengan bank modern ..? “ tuh kan malah jadi gue yang kena.!
Yang gue bayangin itu gini, apa masih seperti itu kelakuan wartawan saat ini, atau apa semakin parah..?

H A B I T A T

HABITAT



Opung boru saya boru regar dari bagaslombang, mama saya boru regar dari bagaslombang, istri sayapun boru regar dari bagaslombang, bagaslombang itu sendiri suatu desa kecil yang terletak di Sipirok Tapanuli Selatan, inilah perkenalan awal dari Pendeta P H Harahap STh ( Sekjen GKPA ) dalam khotbahnya pada tgl 3 Oktober ’10 di GKPA Diponegoro.
Tadinya gue pikir pendeta ini mau curhat di mimbar, karena asumsi kita bisa jadi berbeda beda mendengar perkenalan ini, “ jadi beginilah aku..! ” karena 3 generasi mendapat boru regar bagaslombang ( dgn muka sedih ) atau “ Jadi beginilah aku..! “ karena 3 generasi mendapat boru regar bagaslombang ( dengan muka bangga ).
Tapi rupanya asumsi gue itu tidak nyambung sama sekali, dan rupanya juga firman Tuhan yang diambil adalah Effesus 5 : 9-10, dimana konteksnya terfokus pada hubungan kasih antar suami istri , dimana dikatakan, bahwa suami adalah kepala bagi istri, istri harus tunduk kepada suami, dan suami harus mengasihi istri, seperti mengasihi dirinya sendiri, suami harus mengasihi istri, istri cukup menghormati suami, sebab itulah laki laki akan meninggalkan kedua orangtuanya dan bersatu dengan istrinya, tidak dikatakan wanita akan meninggalkan kedua orangtuanya dan bersatu dengan suaminya, intinya kira kira begitu, tambahannya, laki laki terbuat dari debu, wanita dari tulang rusuk, wanita diciptakan Tuhan sebagai penolong, laki laki yang ditolong,
pertanyaannya..? debu dengan tulang kuatan mana..? yang ditolong dengan yang menolong kuatan yang mana..?

Penelahan firman Tuhan yang dari Effesus rupanya cukup sampai segitu aja, dilanjutkan reteferensinya dari Amsal 31: 1 – 31, nah., disini Amang Pendeta rupanya tau persis, kalau GKPA diponegoro bukan hanya dikenal sebagai Resort II, tapi juga sebagai Resort Ina, maka dibahas habislah peranan wanita dalam kehidupan didunia dan di gereja, peranan istri dalam rumah tangga, peranan ibu dalam hubungan dengan anak anak,
Mendengar semua itu, para jemaat wanita pada tersenyum bangga, hati berbunga, mata berbinar binar, kalau ada yang pake topi, mungkin langsung kesempitan, dan mungkin juga ada yang merasa sedih dan terpukul, seolah olah diingatkan kembali, apakah selama ini saya telah menjadi wanita seperti yang ditulis oleh alkitab..?
Mendengar semua itu, para jemaat laki laki ada yang trenyuh, ada yang sinis dan ada pula yang ikutan bangga, banyak pula celetukan celetukan yang simpang siur disekitar kuping, ada yang bilang “ ah.. itukan tipe wanita jaman dulu, sudah out of date “ ada juga yang bilang “ah..masa sih..? “ dengan nada sinis tentunya,
Tapi apa hendak dikata, alkitab sudah menulisnya seperti itu, mau gak mau, bisa gak bisa, yah.. kita harus menerimanya dan menjalankannya, setidaknya para suami harus bisa mengatakan kepada istrinya “ Banyak wanita yg telah berbuat baik, tetapi engkau melebihi mereka semua “ dan harus pula bisa menerima kata kata “ kamu bapak bapak, janganlah bangkitkan amarah didalam hati anak anakmu, tetapi didiklah mereka………, ( Eff 6 : 4 )
Yah., beginilah nasib laki laki, katanya hanya bekerja 8 jam sehari, sedangkan istri, katanya 24 jam, laki laki harus mengasihi istri, istri cukup menghormati suami, urusan dengan anak anak, malah bapak bapak yang diingatkan, padahal urusan dengan ketaatan anak anak, harusnya kepada bapak dan ibu juga.
Tapi apapun itu Amang Pendeta..! kami semua pulang dengan hati yang gembira, ada sukacita di hari minggu ini, mungkin para wanita memang sedang berbahagia dan bangga dengan kodratnya, atau bisa juga, mereka sadar telah dingatkan agar kembali kembali ke kodratnya.
Dengan mengingatkan, bahwa peran wanita, peran istri dan peran ibu sangat penting dalam siklus kehidupan didunia ini, tentunya kita semua berharap tidakada lagi ungkapan ungkapan sinis yang mengatakan “ Suami adalah kepala, sedangkan istri adalah leher, yang mengatur kemana kepala berputar “.

Amin..!




Bogor, 05 Okt’r 2010

Ellie Wahyunie Harahap S.I Kom

Ellie Wahyunie Harahap S.I Kom



Suatu siang dibulan Juli 2010, Uda Hizkia Harahap dan Inanguda datang kerumah, mereka bilang “ Dom..! boru gue yang namanya Ellie akan menikah dengan marga Siagian pada tanggal 06 November 2010 di gedung Grand Mangaraja, acaranya memakai adat batak utara secara lengkap, dan gue minta elo bantuin Uda ya..?
Reaksi gue saat itu, hanya bisa bilang “ uda NEKAD “
Kenapa gue bisa bilang gitu..?
1. Uda itu, lahir dan besar di betawi, logat bicaranya lebih dominan betawi, dibandingkan dengan logat bataknya
2. Uda itu, gak ngerti bahasa, budaya dan adat istiadat batak, inanguda pun bukan orang batak, yang lebih parah lagi, mereka gak pernah ngikutin acara acara adat batak
3. Uda itu, Harahap yang langka dan sudah tinggal sendiri, gak ada lagi penerus marga Harahap dikeluarga besarnya, abang abangnya sudah meninggal, anak abangnyapun sudah pada meninggal, ada cucu abangnya, tapi belum menikah.
4. Gue sendiri, belum pernah ikutan membuat dan mengikuti adat utara secara awal, apalagi keturunan dari opung gue yang 3 kakak beradik, hanya ada 7 harahapnya, itupun yang 1 gak mau terlibat adat, yang satunya malah belum kawin dan sisanya sudah pada game over. bener bener repotkan..?
Dengan 4 kriteria seperti itu, pantes dong., kalau gue bilang “Uda NEKAD “
Tapi harahap tetap harahaplah, yang penting jalanin dulu, yang penting nekad dulu, urusan belakangan..? yah., belakanganlah.
Karena uda bilang “ the show must go on ”, yah udah., gue ikutan aja.

Tanggal 04 September 2010, Di rumah Hizkia Harahap di Sarua Permai.
Dilaksanakan acara MARHORI HORI DINDING, inilah acara lobby atau bisik bisik keluarga terdekat antara Harahap dengan Siagian, yang dibicarakan biasanya mengenai konsep acara dipesta, siapa yang membuat pesta, berapa masing masing undangan di pesta dan berapa jumlah mas kawin ( sinamot ) yang akan diserahkan fihak paranak ke parboru.
Yang hadir saat itu hanya keluarga uda Hizkia, keluarga gue, keluarga Damanik dan Limbong, dari fihak Siagian, yang biasanya diwakilkan oleh borunya, yang datang malah orangtuanya langsung, tapi jadi bagus juga, karena setiap yang dibicarakan dan dikonsep, langsung menjadi keputusan.
Yang menjadi catatan gue pada saat itu adalah, Uda dan inanguda memakai baju yang biasa biasa aja dan memakai sandal jepit, Tn & Ny Damanik dan Tn.Limbong sama juga, sedangkan gue masih pake batik dan sepatu, duma masih pake baju panjang dan sepatu, sedangkan mereka yang datang keren keren semua, minimal pada pake batik lengan pendek dan sepatu, mungkin gue ama duma merasa acara ini cukup penting, atau mungkin juga gue ama duma yang terlalu banyak gaya.
Tanggal 11 September 2010, Di rumah Hizkia Harahap di Sarua Permai.
Dilaksanakan acara MARHUSIP, atau umumnya dibilang acara lamaran fihak laki laki ( paranak ) kepada fihak keluarga perempuan ( parboru ).
Yang hadir pada saat ini sudah semakin luas, ada harahapnya, ada boru harahapnya dan ada bere harahapnya, ada Limbong yang telah dinobatkan sebagai raja parhata di pesta ulaonnya nanti, Tuan & Nyonya Damanik yang diangkat sebagai General Manager pesta, dan beberapa anggota punguan Naimarata di wilayah Sarua dan Pamulang.
Dari fihak Siagian cukup banyak juga rombongannya yang hadir, pastinya Siagian, boru, bere dan parhatanya mereka.
Mereka datang dengan membawa dan menyerahkan tudu tudu si panganon (anak babi yang masih utuh yang sudah dimasak), 1 krat bir bintang dan makanan lainnya, sebagai gantinya, harahap menyerahkan dekke ( ikan ).
Sesudah acara proses serah serahan anak babi dan ikan secara adat batak, maka dilanjutkan dengan acara makan siang bersama.
Ada suatu ungkapan untuk orang batak didalam acara adat batak, “ lebih baik tidak dapat hak makan, daripada tidak dapat hak bicara ”, tapi anehnya., setiap acara apapun, harus dimulai dulu dengan makan, baru bisa dimulai acara perbincangan.
Sesudah kita selesai makan, barulah dimulai dengan acara bincang bincangnya, yang dibicarakan sih., sama aja dengan apa yang dibacarakan saat hori hori dinding, cuman disini lebih resmi, lebih detail dan lebih kepada aplikasinya, tapi tetap aja seperti sinetron yang tayang ulang.
Yang menjadi catatan gue pada saat acara marhusip ini adalah ;
Kita yang hadir pada saat itu, pakaiannya lebih sedikit formil, walau masih aja ada yang pake sandal dan masih juga ada yang pake kaos dan celana panjang, padahal udah ibu ibu lho..! walau udara panas dan pengap, masih aja ada yang pada ngerokok didalam ruangan, belum lagi yang pada minum bir, wow.., batak banget ya..?
Saat itu Limbong yang sudah ditunjuk sebagai parhata, nyuruh gue untuk membuat seluruh konsep buku panduan yang akan kita lakukan pada saat pesta adat, termasuk menentukan nama nama yang akan berperan dalam acara, konsep ini harus sudah selesai pada saat kita mengadakan mariaraja dan sudah di fotocopy ( oke siap overste..! )
Sesudah rombongan Siagian pulang, mulailah simpang siur pembicaraan yang aneh aneh, ada yang bilang uda dan inanguda belum diadatin, jadi gak boleh mengadakan pesta adat, ada yang bilang gue lebih solkot ( dekat ) jadi gue yang lebih berhak, ada yang bilang, gue lebih tau tentang adat batak, jadi kenapa gak nanya dulu ke gue, tapi memang biasanya begitu sih., tidak ada pesta adat batak yang tidak dimulai dengan perseteruan dibelakang layar, daripada hanya jadi gossip, tapi tanpa ada penjelasan, makanya gue minta ama uda, sebelum kita semua pulang, gue mau ngomong dulu sama keluarga terdekatnya, karena trouble makernya, ya., mereka mereka juga.
Gue bilang “ pernikahan uda dan inanguda sudah diadatin secara adat Angkola, saat itu dilakukan dengan cara pangkupangi ( potong kambing ), sekecil apapun adat, tetap namanya adat, baik adat toba, adat karo, adat simelungun maupun adat angkola, tetap namanya adat batak, karena didalam adatnya masing masing unsur dalihan na tolu masih dijalankan, jadi karena unsur dalihan na tolu inilah yang membuat kita semua masih dibilang menjalankan adat batak, walaupun dengan cara berbeda beda “.
Gak ada yang comment tuh..!
Kalau, kenapa gue ngikut semua acara ini dari awal, yah., karena yang punya acara yang minta gue ngikut dari awal.
Tanggal 22 Oktober 2010, di Gereja HKBP Cempaka Putih.
Dilaksanakan acara MARTUPOL, inilah acara ikat janji calon pengantin berdua, semua ikat janji tsb dicatat didalam agenda gereja, siapa nama lengkap mereka masing masing, siapa nama orangtuanya masing masing, siapa yang menjadi saksi masing masing, udah gitu baru diadakan check & recheck, pernah dibaptis gak, kapan dan dimana, pernah disidi gak, kapan dan dimana, yang sedikit keras, waktu ditanya “ masih punya ikatan janji tidak dengan laki laki atau perempuan lain.? “
Yang menjadi catatan gue pada saat martupol ini adalah,
Yang memimpin acara kebaktian pada saat partupolan adalah Pendeta L Limbong, beliau antara lain mengatakan, “ bahwa Ellie dengan Leo ini cocok banget, mari kita lihat kecocokkan dan kesamaan mereka, kalau mendengar nama ELLIE, pasti akan mengingatkan kita dengan ucapan Jesus saat dikayu salib, “ellie ellie lamak sabak tanie” ( Bapak, Bapak kenapa kau meninggalkan saya ), sedangkan kalau kita menyebut nama LEO, pasti kita akan tau, bahwa kata Leo itu akronim dari singa ”, nah., disini yang bikin gue jadi bingung, apa kecocokkan dan persamaannya bapak dengan singa, apa maksudnya, kalau Ellie dan Leo bergabung mereka menjadi bapaknya singa, singa sendiri aja sudah yang paling ditakutin, gimana kalau bapaknya singa ya..?
Selesai acara kebaktian, majelis gereja meminta dari perwakilan orangtua kedua calon pengantin, untuk memberi kata sambutan di mimbar gereja,
Nah., inilah acara yang selalu membuat gue keringet dingin, gue udah bilang agar ‘Bang Pollie aja, tapi dia nya gak mau, karena harus ada kata kata mengajak harahap, boru dan bere untuk mariaraja besok ditempat uda Kia, jadilah dengan terpaksa, dengan keringet dingin dan dengan dada deg degkan, gue maju keatas mimbar, inilah pertama kali dan kayanya masih ada yang kedua kali pada saat nanti dipemberkatan nikahnya, yang ketiga kalinya ..? what ever will be, will be lah.
Mama bilang “ papa seperti penyanyi deh., pada saat memberi kata sambutan, mike dipegang terus, tapi lumayan juga koq, wajah papa gak pucat pucat banget “. Ngeledek atau menghina tuh ma..?
Saat akhir akhir acara dan selesai acara, hujan turun deres deres banget, mau pulang gak bisa, mau dibisain takut banjir dan macet dijalan, akhirnya kita kongkow2 aja dulu di gereja, sambil liat Siagian yang lagi martonggoraja, he..he..he.., mereka dengan lahapnya makan makan, sedangkan kita kita laper dan kedinginan.
Tanggal 23 Oktober 2010, Di rumah Hizkia Harahap di Sarua Permai.
Hari sabtu ini jam 10.00 kita akan mengadakan acara MARIARAJA, itu yang gue bilang saat mengundang semua harahap,boru,bere dan punguan naimarata, tapi ada yang bilang, diundangan mariaraja tertulis jam 15.00, tapi sesudahnya jam 15 pun tidak ada bertambah pesertanya,
Akhirnya acara kita mulai jam 13.00, dimulai dengan mengeluarkan tudu2 sipanganon, karena boru harahap yang ada hanya kak esther, maka dialah yang kebagian muter muterin anak babi sampai 3 kali, itu tandanya anak babi sudah melihat kita semua yang hadir dan dia siap menjadi saksi dalam perhelatan ini,
Kalau martonggoraja yang ngadain fihak paranak, kalau itu pesta ditempat paranak, tapi kalau mariaraja, yang ngadain acaranya fihak parboru, inilah forum bagi bagi tugas dan penanggung jawab pada saat pesta adat dan yang paling utama adalah, menyerahkan secara simbolis semua acara paradaton dari Harahap ( hasuhuton ) kepada K M Limbong ( sbg Raja Parhata Harahap ).
Disana ditentukan siapa siapa yang mendampingin pengantin duduk diatas pelaminan, siapa yang dapet panandaion, siapa yang mangulosi, siapa yang mendapat tugas ini dan siapa yang mendapat tugas itu, siapa yang nanti pada saat masuk gedung membawa tandok yang paling gede ( biasanya ini pada main tunjuk2an, krn hubungannya dengan sanggul yang takut pada kempes ), siapa yang nanti membawa deke suhut (nah., ini harus yang menarik dan menawan hati, karena mereka adalah rombongan yang paling depan), diacara inilah semua pekerjaan, penanggung jawab dan personel yang berperan sudah harus final pada saat hari H.
Yang menjadi catatan gue saat mariaraja ini adalah,
Makanannya banyak, tapi yang hadir sedikit dan yang paling sedikit hadir adalah undangan dari parsahutaon dan naimarata, tapi jangan lupa., walaupun sedikit, mereka sangat berperan didalam acara ini, jadi pantes pantes saja, kalau mereka bawa pulang makanan yang paling banyak.
Dikatakan oleh mereka “ bahwa acara mariaraja ini bisa cepat dan praktis, karena konsep buku panduan yang gue bawa dan yang gue sudah fotocopy untuk disebarkan kepada semua yang hadir, sudah sangat lengkap dan pas untuk dapat dilaksanakan, tinggal diperbanyak saja “ mauliate katanya, duma pun dengan bangganya langsung berdiri dan mengatakan “ itu mantan pacarku lho..! “
Para trouble maker pun saat itu sudah tidak ada komentar dan kasak kusuk lagi, karena mereka tau dan maklum siapa tulang dan nantulangnya, dan gue juga tau dan maklum siapa uda dan inanguda gue itu.
Tanggal 06 November 2010, inilah hari H dan puncak acaranya.
Malemnya, gue sekeluarga udah tidur bareng dengan rombongan keluarga Uda di mess perwira Angkatan Darat di jln Granat sumur batu Jakarta,
Jam setengah 5 paginya, gue udah nganterin duma untuk nyalon di tempatnya kak Ambar di Klender, memang gaya banget deh bojoku ini, jangankan ibu pengantin, bisa bisa sang pengantinpun kalah gaya dengan dumaku ini.
Jam 08.00 dari mess perwira, kita menuju jalan Bren no.6, ini rumah besannya Uda, rencananya disinilah kita akan menerima rombongan kecil Siagian yang akan menjemput pengantin wanita, karena sifatnya hanya menjemput, jadi kita hanya menyambut dan menerima mereka saja, karena bukan batak namanya, kalau setiap langkah tidak ada kata katanya, jadi saat mereka datang dengan berkata kata, gue pun menyambut mereka dengan berkata kata, ini lebih baik, daripada gue disuruh berdoa untuk keberangkatannya, nah., tugas berdoa inilah yang yang diemban oleh duma saat kita mau berangkat.
Waktu kita jalan dari rumah penjemputan menuju gereja, rombongan mobil kita masuk kampung keluar kampung, masuk gang kecil keluar gang sempit, seolah olah farewell party nya Ellie kepada masyarakat sekitarnya, atau Ellie mau ngasih tau, kalau Leo Frans Siagian sudah ada yang punya, jadi jangan ada yang pada ngarepin lagi.
Pada saat sampai di aula gereja, kita langsung melaksanakan acara MARSIBUHA BUHAI, acaranya dibuat di pelataran aula gereja, karena didalam aula sudah dipersiapkan untuk acara pesta yang lain.
Kembali lagi tudu tudu sipanganon dibawa oleh rombongan keluarga Siagian, dan Harahap pun kembali menyerahkan dekke , yang gue bingung, kenapa sih yang menerima bawaan mereka itu harus si warna UNGU, padahal penampilan kita pertama, menentukan penampilan kita selanjutnya lho..!
Karena fungsi protokol acara tidak berjalan, jadilah pada saat rombongan Siagian masuk lewat kanan gedung, yang disalamin mereka cuman gue aja yang kebetulan ada disitu, sedangkan rombongan Uda ada disebelah kiri gedung, jangan jangan mereka lewat kanan gedung, karena gak mau salaman ama si UNGU ya..?
Selesai urusan dengan acara marsibuha buhai, masuklah rombongan kecil dari kedua belah fihak keruangan konsisteri gereja untuk melaksanakan catatan sipil, disini kedua pengantin dikuliahin mengenai undang undang perkawinan oleh petugas catatan sipil, sesudahnya mereka bertanda tangan diakte perkawinan, dilanjutkan oleh tanda tangan kedua orangtua pengantin dan para saksi. Nah., ELLIE WAHYUNIE dan LEO FRANS sekarang anda berdua telah sah sebagai suami istri menurut undang undang Negara.
Urusan dengan Negara sudah selesai, sekarang kita berurusan dengan Tuhan, maka berangkatlah rombongan dari kedua pengantin untuk masuk kedalam gereja, disanalah mereka akan menerima pemberkatan perkawinannya.
Yang melaksanakan pemberkatan dan yang membawa firman Tuhan saat itu adalah Pendeta Simamora, yang intinya mengataka, “ APA YANG TELAH DISATUKAN OLEH TUHAN,TIDAK BOLEH DIPISAHKAN OLEH MANUSIA, KECUALI KARENA MAUT “, sedangkan kata sambutan yang mewakili keluarga fihak perempuan, kembali ke gue lagi, karena ini yang kali kedua, makanya tidak banyak lagi keringat dingin yang keluar, walaupun tetap aja gue harus ganti baju sesudahnya.
Sesudah semua acara di gereja selesai, kita langsung berangkat ke gedung GRAND MANGARAJA, dalam perjalanan sambil nyetir gue ganti baju, padahal di mobil ada ‘Bang Pollie, ada Mir dan ada istrinya Bachrum, ah..cuek ajalah, yang penting gue gak masuk angin, gara gara kaos dalam dan baju basah.
Nah., inilah puncak acara dari segala acaranya orang batak, kenapa gue bilang begitu..? karena persiapan dipesta inilah yang paling rumit dan paling lama, karena dipesta ini yang akan hadir lebih banyak dan lebih beragam, karena dipesta inilah orang batak mencari penghormatan, disinilah penentuannya, apakah mereka SANGAP, apakah mereka GABE dan apakah mereka MORA..? ataukah gedung akan kosong, karena mereka bukan siapa siapa.
Acara diawali dengan masuknya kedua pengantin dengan rombongannya masing2, dilanjutkan dengan penyambutan rombongan Harahap yang membawa beras dalam tandok dan dekke oleh rombongan Siagian, lalu penyambutan rombongan hula hula, tulang, bona tulang dan tulang rorobotnya Siagian oleh rombongan Siagian, yg terakhir rombongannya mora, dan tulangnya Harahap yang disambut oleh Harahap,
Pada saat menyambut dan disambut itu, ada aturannya, katanya posisi telapak tangan gak boleh sembarangan, ada yang porsi telapak tangannya menghadap keatas dan ada juga yang telapak tangannya menghadap kebawah, yang 1 memberi berkat, yang lainnya menerima berkat ( katanya..! ).
Sesudah selesai acara sambut menyambut, kita semua dan tamu yang hadir mulai duduk manis, gue cs, pollie cs, toga cs dan ny bachrum cs duduk diatas mendampingi uda cs, sedangkan uda cs mendampingi ellie cs di pelaminan.
Seperti biasanya para orang batak, doa makan belum dimulai, mereka sudah pada makan duluan, jadi saat doa dimulai, ada yang sudah mulai makan dan ada yang menunggu doa makan , yang kasihan yang ikut berdoa, pada saat bilang AMIN dan mata dibuka, eh., makanan dimeja sudah banyak yang hilang.
Saat tamu mulai makan, kita rombongan dari atas turun kebawah, untuk menyapa semua yang hadir, seolah olah kita lagi ngabsen, mana yang dateng dan mana yang gak dateng. Puji Tuhan..! sebagian besar yang gue undang pada dateng, ada punguan HARBONA sejabodetabek,ada Laut dgn cs csnya, malah yang gak gue bayangin, Amangtua Benny Harahap pun dateng, khusus khusus dia dateng dari Bandung untuk memenuhi undangan gue, waduh., tks banget banget Amangtua ya..?
Ada juga yang saat bersamaan yang belum ikut makan, tugas mereka sibuk motong motongin sapi, katanya sapi itu dibelah 2, dibagi yang haknya Harahap dan dibagi yang haknya Siagian, dan itu dibagi bagikan lagi sebagai jambar.
Kita yang duduk diatas memang rada repot juga, udah kaya jet coaster, sebentar turun untuk menghadap tulangnya Siagian, udah gitu naik lagi, bentar lagi turun lagi menghadap tulangnya Harahap, nanti kita berdiri lagi menerima panandaioan dari Siagian, dan gitu turun lagi memberikan ulos kepada Siagian, dan lagi lagi turun utk memberikan ulos kepada kedua pengantin, cape deh..!
Dan ada yang lebih cape dan membuat betis gemeteran, pada saat semua undangan Harahap memberikan ulos kepada kedua pengantin, kita semua turun dan berdiri dibelakang kedua pengantin, menyalami mereka semua dan mengucapkan terima kasih.
Inilah catatan gue untuk acara acara tgl 06 November 2010,
Hebat memang Siagian ini, setiap acara mulai dari martupol, pamasu masuon sampai pesta adatnya pun selalu penuh, waktu mereka martonggoraja pun, gue liat juga penuh, kita dihargai atau tidak, kita dihormati atau tidak, terlihat pada saat kita pesta atau pada saat ngolu ni ujung na.
Waktu martupol dan pamasu masuon yang hadir banyak, paduan suara yang menyumbangpun tidak hanya 1, majelis dan jemaat gereja yang hadir pun cukup banyak, itu tandanya Amang Siagian mempunyai kwalitas di gereja tsb, malah Uda Hizkia dan keluarga yang tinggal dan bergereja di daerah Sarua, tiba tiba saja bisa menjadi anggota gereja HKBP Cempaka Putih. Hebatkan…!
Saat acara adat di gedung, saat kita semua menghadap dan menyerahkan titi marangkup kepada fihak tulang paranak, kita rombongan Harahap, pada saat itu seperti anak ayam yang kehilangan induknya, overste Limbong dan JS Harahap pada duduk manis dikursinya, padahal harusnya mereka yang sebagai protokolnya, gue yang disuruh ngomong, gue yang ngerti apa apa dan gak tau apa yang mau diomongin, yah., bengong bengong aja, malah mereka gue salamin semuanya, padahal mereka udah bilang “ngomong dulu, baru bisa nyalam “ idiiih malu maluin deh.,
Akhir dari semua acara, Uda Hizkia dengan PD nya memberikan kata sambutan kepada semua yang hadir, tapi rupanya catatan yang diberikan ke Uda dan yang dihapalkan oleh Uda, bukan untuk Uda, mungkin catatan untuk Ellie, makanya pada saat Uda bicara kepada besannya, bukannya dipanggil dengan sebutan Lae dan Ito, tapi kepada Amangboru dan Namboru, ungkapan yang disampaikannya pun, seolah olah ungkapan dari boru kepada hula hulanya, waduh.., si Uda, PD boleh boleh aja, tapi jangan ke PD an gitu dong..!
Last but not least,

ELLIE WAHYUNIE HARAHAP dan LEO FRANS SIAGIAN,
kami mengucapkan selamat menempuh hidup baru dan selamat berbahagia, doa dan pengharapan kami, kiranya rumah tangga kalian, menjadi rumah tangga yang penuh dengan damai sejahtera Tuhan, rumah tangga yang takut akan Tuhan dan rumah tangga yang selalu menyinarkan sinar kasih Tuhan.
AMIN…!

Bogor, November 2010

Yuanita Hasibuan

YUANITA HASIBUAN
======================.

Tanggal 7 November 2010, YUANITA ( Ita ) HASIBUAN, akan melangsungkan pernikahannya dengan BAYU SETIAWAN POLUAN SE , resepsi akan diadakan di Restauran Cazasuki di Jln.Kebon Sirih Raya no. 38 Jakarta Pusat.
Ita ini putri bungsu dari Alm.Drs.Saner Hasibuan dengan Esther Harahap, sedangkan Bayu adalah putra dari Johnny Poluan dengan Tiena Poluan.

Walau kami Harahap yang turun temurun sudah lahir di Jakarta, gak ngerti bahasa batak, gak ngerti budaya batak, tapi kami selalu berusaha agar budaya batak yang kami tau, tetap kami laksanakan, inilah budaya yang selalu diajarkan oleh orangtua kami.
Makanya, pada hari minggu kemarin tgl 31 Oktober ’01 malam, kita yang berkakak beradik ditambah dengan Keluarga Tulang Rempoa dan Nantulang Ais, berkumpul untuk melaksanakan “ MANGALEHEN MANGAN BORU “.
Budaya ini adalah ciri khas dari Tapanuli Selatan, dimana pada saat kita akan melepas boru ( anak perempuan ), semua keluarga terdekat, terutama orangtuanya akan memberikan makan dengan menyulangi kepada calon pengantin perempuan, sesudahnya, semua yang hadir diharapkan memberikan petatah petitih, nasehat, wejangan dan kalau perlu kritikkan, yang pedes boleh, yang setengah pedes juga boleh, ini sebagai bekal nantinya sesudah mereka berumah tangga,
Karena di budaya batak yang boleh bicara di forum hanya yang sudah menikah, maka biasanya petatah petitihnya mengenai permasalahan dalam rumah tangga, malah tanpa disadari sebenarnya dia lagi curhat mengenai pengalaman dalam rumah tangganya, kalau orang pinter, biasanya dia minum tolak angin atau dia akan berbicara dan mengupas yang alkitabiah saja, bisa aja dia mengambil dari Effesus 5 : 22-dst mengenai “KASIH KRISTUS ADALAH DASAR HIDUP DARI SUAMI ISTRI” atau dia mengambil dari Amsal 31 : 19-dst mengenai “PUJI PUJIAN UNTUK ISTRI YANG CAKAP”, itu kalau yang pinter, kalau yang gak pinter..? yah., gitu deh, tanpa disadarinya, sebenarnya dia lagi menceritakan rumah tangganya sendiri.
Kemarin itu gue jadi malu sendiri, karena gue dateng jam 8 lewat, sedangkan perjanjiannya paling lambat jam 7 sudah harus dimulai, bertambah besar kemaluan gue, karena acara belum bisa dimulai kalau gue belum dateng, dan bertambah besar lagi kemaluan gue, karena diacara itu gue ditunjuk sebagai protokol pembuka acara.
Sebelum kita menyampaikan petatah petitih, kita menyerahkan dulu makanan tumpeng cari khas batak, yang memberikan makan dengan disuapin adalah kak esther sebagai mamanya dan linda sebagai bujingnya, tapi sebelumnya kita berdoa dulu yang dipimpin oleh tulang rempoa,
Sebagai pembicara tamu adalah Adek, Stevie dan ardith, yang mengatakan ; “karena kami belum punya pengalaman menikah, maka kami hanya bisa mengucapkan selamat dan kiranya rumah tangga Ita dan Bayu selalu dalam damai sejahtera Tuhan”, lalu Stevie memberikan cendera mata dari kita semua.
Pembicara tamu kedua adalah Anggi, yang mengatakan ; “Kak Ita adalah tempat mengadu dan tempat curhat, yang selalu mengerti dan memberi pengertian, yang selalu dapat memberikan jalan terang dan solusi yang tepat, terima kasih untuk kebaikkan kak Ita selama ini kepada Anggi, semoga selalu berbahagia “
Pembicara selanjut adalah Linda sebagai bujingnya, yang intinya mengatakan ; “dengan pengalaman berpacaran dengan Bayu selama 5 tahun dan ribut ributnya lebih dari 10.000 kali, diharapkan ini menjadi bekal dan pengalaman untuk lebih bisa saling mengerti sesudah menikah, jangan hanya melihat hal yang kecil kecilnya saja, walaupun si Bayu kecil, tapi lihatlah., segala sesuatu dalam scope yang lebih besar “
Edwin Siregar dan Nantulang Ais kira kira mengatakan begini ; “ Ita dan Bayu kita yakin, adalah pasangan yang memang telah disatukan oleh Tuhan, karena mereka saling mengenal digereja, saling berhubungan digereja dan sama sama melayani di gereja, mamanya Ita adalah pelayan digereja dan calon mertua Ita pun melayani digereja dan semua itu ada dalam 1 gereja yang sama, yaitu Gereja Kabar Mempelai di Tanah Abang Jakarta Pusat “
Karena nantulang rempoa katanya lagi tidak mood, maka semuanya diwakilkan kepada opung doli saja, maksudnya kepada tulang rempoa,
Tulang banyak mengupas nilai nilai pernikahan dari segi alkitabiahnya, walau dikemas dengan gaya yang lembut dan halus ( ini memang ciri khasnya tulang ) sebenarnya sih., kalau mau dimaknai dan mau dimengerti, yah.,pedes pedes juga, yah., itulah gaya tulang, makanya semua bere berenya, ponakkan dan cucu cucunya pada sayang dengan beliau ini.
Kalau Miranda mengatakan, jangan lupa untuk banyak berdoa, karena saya inget sekali, kalau amangboru ( maksudnya papi ) selalu mendoakan satu persatu anak anaknya, agar berguna untuk sesama, terlebih kepada Tuhan. (parumaen hasian memang beda lho..!).
Sesudah mir, baru gue deh., inilah gue yang suka ngomong suka suka, asal jeplak, gak mau mengerti yang diomongin sakit hati apa enggak, tapi yang udah udah sih., kalau gue masih mau ngomong, tandanya gue masih sayang, yang repot kalau gue udah gak mau ngomong lagi, itu tandanya elo kekanan, gue kekiri, elo dibarat, gue ditimur, istilahnya sundanya sabodo teuing waelah..!
Saat itu gue bilang gini “ nantul Ais bilang, mamanya bayu orangnya baik dan rohani, tapi menurut gue, mamanya bayu orangnya sangat dominan, tapi bukan berarti orang yang dominan tidak rohani, untuk Ita sebagai seorang wanita, agar kembali ke habitatnya sebagai tulang rusuk, penopang dan penolong bagi suami, jangan sampai overlapping dalam bertindak didalam keluarga, kalau selama masih pacaran, Ita lebih banyak ngaturnya daripada diatur, nah., nanti kalau sudah bekeluarga, ubah semua tabiat itu, karena katanya dan yang tulang tau, kalau ita itu lebih cenderung seperti namborunya, yah., judesnya, yah., galaknya, apalagi wajah ita, seperti pinang dibelah dua dengan wajah namborunya, pesen tulang, jangan terlalu mudah mengemas keluarga itu seperti jambu cingcalok, bagus bentuknya , manis rupanya, tapi didalamnya banyak yang ada ulatnya , tapi nantinya tulang yakin dan percaya, suatu saat Bayu akan mengatakan ,” BANYAK WANITA YANG BERBUAT BAIK, TAPI ITA LEBIH DARI SEMUANYA ITU,” tuhkan., domu ini lagi memberikan wejangan ke ita atau lagi curhat sih..?
Sesudah gue, barulah ‘Bang Pollie yang berbicara, singkat,padat dan harap maklum, ‘Bang Pollie bilang gini “ Ita kan singer di gerejanya, nah., lakukanlah itu dalam kehidupan sehari hari ita “ nah., ita. nanti kalau dirumah, dijalan, dikantor maupun dikamar mandi, ita tetap harus jadi singer yah., bukan maksudnya sing a song melulu, tapi apa yang kamu nyanyikan, PERBUATLAH..!
Sesudah semua kita keluarga yang berbicara, barulah mereka yang kakak beradik yang berbicara.
Teteh bilang “ waktu kita masih bekerja dan punya uang sendiri, kita suka menjadi suka suka berbuat kepada suami, kita mau sok jadi jagoan yang gak mau diatur suami, tapi sesudah teteh gak kerja dan ikut suami ke Balikpapan, teteh seperti macan ompong, yang gak punya taring lagi, apa kata suami sekarang ngikut aja, tapi dibalik itu semua, ada hikmat yang diberikan Tuhan kepada teteh, setidaknya sekarang ini teteh kembali kepada habitat nya sebagai seorang wanita yang berpedoman kepada alkitab.
Kalau Devi berbicara dengan sedikit sesunggukkan, bahwa devipun merasakan adanya kesombongan sebagai seorang wanita yang mempunyai penghasilan sendiri, dan mengharapkan agar ita menghilangkan sifat sifatnya tsb.
Nah., sekarang gilirannya coco yang berbicara, dengan gaya cengengesannya, dia bilang gini “ ‘Ta., kalau ada apa apa dengan ita dan bayu, jangan cerita kemana mana dulu, cerita dengan coco dulu ya..?
Wow…! Hebat sekali pernyataan itu ‘co, tapi tulang salut juga koq, setidaknya coco mengikrarkan diri sebagai pengganti papa bagi adik2 perempuanmu, itu sangat bagus dan sangat batak banget, asal jangan jadi lebay aja ya ‘co..?
Inilah kak esther, karena mungkin tidak mengerti makna dari acara “mangalehen mangan”, maka gaya bicaranya santai santai aja, malah masih sempet2nya mengkritik calon mantunya, yang ginilah, yang gitulah, yang pendeklah, bersyukur ajalah kak, dia pendek tapi rambutnya lebatkan..? ada yang tinggi, tapi rambutnya botak, sama sama ajakan..?

Yang terakhir, dan inilah puncak acaranya, Ita bercerita tentang masa kecilnya yang telah ditinggal oleh papanya, yang selalu takut keluar dari kamar, karena takut dimarahin orang lain, yang takut berbuat apa apa, karena takut berbuat salah, intinya kira kira begini, masa kecil ita selalu dalam ketakutan dan mempunyai rasa rendah diri,
Yang tadi acaranya kita masih santai santai dan masih ada senyum, sejak ita cerita itu, langsung deh., suasana menjadi hening, sepi , sedih dan trenyuh semuanya.
Yang ini terakhir, tapi diluar dari konteks acara , kita nyanyi, kita tiup lilin dan potong kue ultah, karena pada bulan oktober ini kedua ito gue tersayang, kak esther dan linda berulang tahun.
Sehat sehat agar pada panjang umur ya..?





Tanggal 07 November 2010 jam 15.00,
Ita dan Bayu melaksanakan catatan sipil untuk pernikahannya di salah satu ruangan di restaurant Cazasuki.
Gue sekeluarga gak hadir, karena mengikuti dulu acara ultahnya mertua yang ke 86 tahun dirumah Bogor. Tapi saat itu ‘Bang Pollie ama Mir hadir

Tanggal 07 November 2010 jam 16.00
Ita dan Bayu melaksanakan peneguhan pernikahannya disalah satu ruangan di restaurant Cazasuki.
Saat itu gue ama keluarga sudah hadir, dan yang hadir dari kita, hanya kita yang kakak beradik, lainnya keluarga Bayu dan anggota gereja.
Ibadah peneguhan pernikahannya Ita dan Bayu, nyanyi nyanyinya sekitar 10 menit, khotbahnya 55 menit, doanya 30 menit, yang hadir diacara peneguhannya sekitar 30 orang, simple banget acaranya, dan saat itu tidak ada acara tumpang tangan dikepala dikedua pengantin oleh gembala sidang, yang sempet gue denger dari doa gembala sidang, katanya Tuhan langsung yang memberkati kedua pengantin tsb, sayang khotbahnya kelamaan, dan kayanya khotbah itu untuk jemaat yang hadir deh., dan bukan untuk kedua pengantin, karena setau gue, sebelumnya mereka sudah mengikuti konseling pernikahan, apa yang dikatakan pada saat khotbah, gue yakin, itu juga yang dikatakan pada saat konseling.
Lain lubuk lain belalangnya dom, lain gereja, yah., lain juga tatacaranya.

Tanggal 07 November 2010 jam 19.00 s/d 21.00
Resepsi pernikahan Ita dan Bayu di ruangan utama restaurant Cazasuki.
Kita semua keluarga dari pasangan St.Loedin P Harahap dan Nellyonard Siregar hadir bersama, kecuali anaknya Benny, Yoan dan Karl ( Yoan lagi dinas di Jambi, kalau Karl katanya lagi ngikutin ujian di kampusnya ), mungkin juga saat itu papi dan mami turut hadir, pasti mereka bangga menyaksikan semua turunannya kelihatan begitu kompak dan rukun, penuh sukacita dan penuh dengan kebahagiaan, ada yang datang dari Pakanbaru, ada yang datang dari Solo, ada yang datang dari Bogor, ada yang datang dari Serang, dan ada yang datang dari Tanggerang, karena hanya linda sendiri yang tinggal di Jakarta.
Pada saat kedua pengantin masuk ruangan, kita semua harus berdiri menyambut, inilah tanda penghormatan yang hadir kepada kedua mempelai, didepan pengantin ada pasukan tuyul yang mengiringinya, disitu ada Ose, ada Alma dan ada si popol,
Acara pertama saat resepsi adalah, kata sambutan yang mewakili kedua keluarga oleh Bapak Venny Agus Siregar, dilanjutkan dengan pemotongan kue pengantin, dah gitu pelemparan bunga oleh pengantin, yang menurut ceritanya “ siapa yang dapet bunganya, dia akan segera mendapatkan jodoh “ (alkitabiah banget ya..? )
Selesai itu semua, hadirin dipersilahkan untuk menyalam pengantin dan dilanjutkan dengan santap malam bersama, tapi sebelumnya doa dulu , yang dipimpin oleh pendeta Lukas, setelah itu yang hadir sibuk ngantri untuk salam dan ngantri untuk makan, sedangkan kedua pengantin selanjutnya sibuk foto foto dengan tamu VIP dan mempersilahkan tamu VIP untuk masuk keruangan VIP dan makan makanan yang VIP, VIP itu sendiri kalau diartikan adalah orang orang yang sangat PENTING, bisa penting karena jabatannya, bisa penting karena materinya, bisa juga penting karena kerohaniaannya, saat itu standard VIP kira kira begitulah.
Yang hadir pada saat itu cukup beragam, dari fihak kita, saudara2nya papi banyak yang hadir, saudara2nya mami juga banyak yang hadir, mantan tetangga di grogol juga banyak yang hadir, jadi terimakasih banget untuk kehadirannya ya..?

Selamat berbahagia dan selamat menempuh hidup baru, kiranya rumah tangga ITA dan BAYU, menjadi rumah tangga yang penuh dengan damai sejahtera Tuhan, menjadi rumah tangga yang takut akan Tuhan dan rumah tangga yang selalu menyinarkan sinar kasih Tuhan. Amin.

TUHAN MEMBERKATI……!



Bogor, November 2010













====================================