HABITAT
Opung boru saya boru regar dari bagaslombang, mama saya boru regar dari bagaslombang, istri sayapun boru regar dari bagaslombang, bagaslombang itu sendiri suatu desa kecil yang terletak di Sipirok Tapanuli Selatan, inilah perkenalan awal dari Pendeta P H Harahap STh ( Sekjen GKPA ) dalam khotbahnya pada tgl 3 Oktober ’10 di GKPA Diponegoro.
Tadinya gue pikir pendeta ini mau curhat di mimbar, karena asumsi kita bisa jadi berbeda beda mendengar perkenalan ini, “ jadi beginilah aku..! ” karena 3 generasi mendapat boru regar bagaslombang ( dgn muka sedih ) atau “ Jadi beginilah aku..! “ karena 3 generasi mendapat boru regar bagaslombang ( dengan muka bangga ).
Tapi rupanya asumsi gue itu tidak nyambung sama sekali, dan rupanya juga firman Tuhan yang diambil adalah Effesus 5 : 9-10, dimana konteksnya terfokus pada hubungan kasih antar suami istri , dimana dikatakan, bahwa suami adalah kepala bagi istri, istri harus tunduk kepada suami, dan suami harus mengasihi istri, seperti mengasihi dirinya sendiri, suami harus mengasihi istri, istri cukup menghormati suami, sebab itulah laki laki akan meninggalkan kedua orangtuanya dan bersatu dengan istrinya, tidak dikatakan wanita akan meninggalkan kedua orangtuanya dan bersatu dengan suaminya, intinya kira kira begitu, tambahannya, laki laki terbuat dari debu, wanita dari tulang rusuk, wanita diciptakan Tuhan sebagai penolong, laki laki yang ditolong,
pertanyaannya..? debu dengan tulang kuatan mana..? yang ditolong dengan yang menolong kuatan yang mana..?
Penelahan firman Tuhan yang dari Effesus rupanya cukup sampai segitu aja, dilanjutkan reteferensinya dari Amsal 31: 1 – 31, nah., disini Amang Pendeta rupanya tau persis, kalau GKPA diponegoro bukan hanya dikenal sebagai Resort II, tapi juga sebagai Resort Ina, maka dibahas habislah peranan wanita dalam kehidupan didunia dan di gereja, peranan istri dalam rumah tangga, peranan ibu dalam hubungan dengan anak anak,
Mendengar semua itu, para jemaat wanita pada tersenyum bangga, hati berbunga, mata berbinar binar, kalau ada yang pake topi, mungkin langsung kesempitan, dan mungkin juga ada yang merasa sedih dan terpukul, seolah olah diingatkan kembali, apakah selama ini saya telah menjadi wanita seperti yang ditulis oleh alkitab..?
Mendengar semua itu, para jemaat laki laki ada yang trenyuh, ada yang sinis dan ada pula yang ikutan bangga, banyak pula celetukan celetukan yang simpang siur disekitar kuping, ada yang bilang “ ah.. itukan tipe wanita jaman dulu, sudah out of date “ ada juga yang bilang “ah..masa sih..? “ dengan nada sinis tentunya,
Tapi apa hendak dikata, alkitab sudah menulisnya seperti itu, mau gak mau, bisa gak bisa, yah.. kita harus menerimanya dan menjalankannya, setidaknya para suami harus bisa mengatakan kepada istrinya “ Banyak wanita yg telah berbuat baik, tetapi engkau melebihi mereka semua “ dan harus pula bisa menerima kata kata “ kamu bapak bapak, janganlah bangkitkan amarah didalam hati anak anakmu, tetapi didiklah mereka………, ( Eff 6 : 4 )
Yah., beginilah nasib laki laki, katanya hanya bekerja 8 jam sehari, sedangkan istri, katanya 24 jam, laki laki harus mengasihi istri, istri cukup menghormati suami, urusan dengan anak anak, malah bapak bapak yang diingatkan, padahal urusan dengan ketaatan anak anak, harusnya kepada bapak dan ibu juga.
Tapi apapun itu Amang Pendeta..! kami semua pulang dengan hati yang gembira, ada sukacita di hari minggu ini, mungkin para wanita memang sedang berbahagia dan bangga dengan kodratnya, atau bisa juga, mereka sadar telah dingatkan agar kembali kembali ke kodratnya.
Dengan mengingatkan, bahwa peran wanita, peran istri dan peran ibu sangat penting dalam siklus kehidupan didunia ini, tentunya kita semua berharap tidakada lagi ungkapan ungkapan sinis yang mengatakan “ Suami adalah kepala, sedangkan istri adalah leher, yang mengatur kemana kepala berputar “.
Amin..!
Bogor, 05 Okt’r 2010
Jumat, 12 November 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar