Jumat, 12 November 2010

Ellie Wahyunie Harahap S.I Kom

Ellie Wahyunie Harahap S.I Kom



Suatu siang dibulan Juli 2010, Uda Hizkia Harahap dan Inanguda datang kerumah, mereka bilang “ Dom..! boru gue yang namanya Ellie akan menikah dengan marga Siagian pada tanggal 06 November 2010 di gedung Grand Mangaraja, acaranya memakai adat batak utara secara lengkap, dan gue minta elo bantuin Uda ya..?
Reaksi gue saat itu, hanya bisa bilang “ uda NEKAD “
Kenapa gue bisa bilang gitu..?
1. Uda itu, lahir dan besar di betawi, logat bicaranya lebih dominan betawi, dibandingkan dengan logat bataknya
2. Uda itu, gak ngerti bahasa, budaya dan adat istiadat batak, inanguda pun bukan orang batak, yang lebih parah lagi, mereka gak pernah ngikutin acara acara adat batak
3. Uda itu, Harahap yang langka dan sudah tinggal sendiri, gak ada lagi penerus marga Harahap dikeluarga besarnya, abang abangnya sudah meninggal, anak abangnyapun sudah pada meninggal, ada cucu abangnya, tapi belum menikah.
4. Gue sendiri, belum pernah ikutan membuat dan mengikuti adat utara secara awal, apalagi keturunan dari opung gue yang 3 kakak beradik, hanya ada 7 harahapnya, itupun yang 1 gak mau terlibat adat, yang satunya malah belum kawin dan sisanya sudah pada game over. bener bener repotkan..?
Dengan 4 kriteria seperti itu, pantes dong., kalau gue bilang “Uda NEKAD “
Tapi harahap tetap harahaplah, yang penting jalanin dulu, yang penting nekad dulu, urusan belakangan..? yah., belakanganlah.
Karena uda bilang “ the show must go on ”, yah udah., gue ikutan aja.

Tanggal 04 September 2010, Di rumah Hizkia Harahap di Sarua Permai.
Dilaksanakan acara MARHORI HORI DINDING, inilah acara lobby atau bisik bisik keluarga terdekat antara Harahap dengan Siagian, yang dibicarakan biasanya mengenai konsep acara dipesta, siapa yang membuat pesta, berapa masing masing undangan di pesta dan berapa jumlah mas kawin ( sinamot ) yang akan diserahkan fihak paranak ke parboru.
Yang hadir saat itu hanya keluarga uda Hizkia, keluarga gue, keluarga Damanik dan Limbong, dari fihak Siagian, yang biasanya diwakilkan oleh borunya, yang datang malah orangtuanya langsung, tapi jadi bagus juga, karena setiap yang dibicarakan dan dikonsep, langsung menjadi keputusan.
Yang menjadi catatan gue pada saat itu adalah, Uda dan inanguda memakai baju yang biasa biasa aja dan memakai sandal jepit, Tn & Ny Damanik dan Tn.Limbong sama juga, sedangkan gue masih pake batik dan sepatu, duma masih pake baju panjang dan sepatu, sedangkan mereka yang datang keren keren semua, minimal pada pake batik lengan pendek dan sepatu, mungkin gue ama duma merasa acara ini cukup penting, atau mungkin juga gue ama duma yang terlalu banyak gaya.
Tanggal 11 September 2010, Di rumah Hizkia Harahap di Sarua Permai.
Dilaksanakan acara MARHUSIP, atau umumnya dibilang acara lamaran fihak laki laki ( paranak ) kepada fihak keluarga perempuan ( parboru ).
Yang hadir pada saat ini sudah semakin luas, ada harahapnya, ada boru harahapnya dan ada bere harahapnya, ada Limbong yang telah dinobatkan sebagai raja parhata di pesta ulaonnya nanti, Tuan & Nyonya Damanik yang diangkat sebagai General Manager pesta, dan beberapa anggota punguan Naimarata di wilayah Sarua dan Pamulang.
Dari fihak Siagian cukup banyak juga rombongannya yang hadir, pastinya Siagian, boru, bere dan parhatanya mereka.
Mereka datang dengan membawa dan menyerahkan tudu tudu si panganon (anak babi yang masih utuh yang sudah dimasak), 1 krat bir bintang dan makanan lainnya, sebagai gantinya, harahap menyerahkan dekke ( ikan ).
Sesudah acara proses serah serahan anak babi dan ikan secara adat batak, maka dilanjutkan dengan acara makan siang bersama.
Ada suatu ungkapan untuk orang batak didalam acara adat batak, “ lebih baik tidak dapat hak makan, daripada tidak dapat hak bicara ”, tapi anehnya., setiap acara apapun, harus dimulai dulu dengan makan, baru bisa dimulai acara perbincangan.
Sesudah kita selesai makan, barulah dimulai dengan acara bincang bincangnya, yang dibicarakan sih., sama aja dengan apa yang dibacarakan saat hori hori dinding, cuman disini lebih resmi, lebih detail dan lebih kepada aplikasinya, tapi tetap aja seperti sinetron yang tayang ulang.
Yang menjadi catatan gue pada saat acara marhusip ini adalah ;
Kita yang hadir pada saat itu, pakaiannya lebih sedikit formil, walau masih aja ada yang pake sandal dan masih juga ada yang pake kaos dan celana panjang, padahal udah ibu ibu lho..! walau udara panas dan pengap, masih aja ada yang pada ngerokok didalam ruangan, belum lagi yang pada minum bir, wow.., batak banget ya..?
Saat itu Limbong yang sudah ditunjuk sebagai parhata, nyuruh gue untuk membuat seluruh konsep buku panduan yang akan kita lakukan pada saat pesta adat, termasuk menentukan nama nama yang akan berperan dalam acara, konsep ini harus sudah selesai pada saat kita mengadakan mariaraja dan sudah di fotocopy ( oke siap overste..! )
Sesudah rombongan Siagian pulang, mulailah simpang siur pembicaraan yang aneh aneh, ada yang bilang uda dan inanguda belum diadatin, jadi gak boleh mengadakan pesta adat, ada yang bilang gue lebih solkot ( dekat ) jadi gue yang lebih berhak, ada yang bilang, gue lebih tau tentang adat batak, jadi kenapa gak nanya dulu ke gue, tapi memang biasanya begitu sih., tidak ada pesta adat batak yang tidak dimulai dengan perseteruan dibelakang layar, daripada hanya jadi gossip, tapi tanpa ada penjelasan, makanya gue minta ama uda, sebelum kita semua pulang, gue mau ngomong dulu sama keluarga terdekatnya, karena trouble makernya, ya., mereka mereka juga.
Gue bilang “ pernikahan uda dan inanguda sudah diadatin secara adat Angkola, saat itu dilakukan dengan cara pangkupangi ( potong kambing ), sekecil apapun adat, tetap namanya adat, baik adat toba, adat karo, adat simelungun maupun adat angkola, tetap namanya adat batak, karena didalam adatnya masing masing unsur dalihan na tolu masih dijalankan, jadi karena unsur dalihan na tolu inilah yang membuat kita semua masih dibilang menjalankan adat batak, walaupun dengan cara berbeda beda “.
Gak ada yang comment tuh..!
Kalau, kenapa gue ngikut semua acara ini dari awal, yah., karena yang punya acara yang minta gue ngikut dari awal.
Tanggal 22 Oktober 2010, di Gereja HKBP Cempaka Putih.
Dilaksanakan acara MARTUPOL, inilah acara ikat janji calon pengantin berdua, semua ikat janji tsb dicatat didalam agenda gereja, siapa nama lengkap mereka masing masing, siapa nama orangtuanya masing masing, siapa yang menjadi saksi masing masing, udah gitu baru diadakan check & recheck, pernah dibaptis gak, kapan dan dimana, pernah disidi gak, kapan dan dimana, yang sedikit keras, waktu ditanya “ masih punya ikatan janji tidak dengan laki laki atau perempuan lain.? “
Yang menjadi catatan gue pada saat martupol ini adalah,
Yang memimpin acara kebaktian pada saat partupolan adalah Pendeta L Limbong, beliau antara lain mengatakan, “ bahwa Ellie dengan Leo ini cocok banget, mari kita lihat kecocokkan dan kesamaan mereka, kalau mendengar nama ELLIE, pasti akan mengingatkan kita dengan ucapan Jesus saat dikayu salib, “ellie ellie lamak sabak tanie” ( Bapak, Bapak kenapa kau meninggalkan saya ), sedangkan kalau kita menyebut nama LEO, pasti kita akan tau, bahwa kata Leo itu akronim dari singa ”, nah., disini yang bikin gue jadi bingung, apa kecocokkan dan persamaannya bapak dengan singa, apa maksudnya, kalau Ellie dan Leo bergabung mereka menjadi bapaknya singa, singa sendiri aja sudah yang paling ditakutin, gimana kalau bapaknya singa ya..?
Selesai acara kebaktian, majelis gereja meminta dari perwakilan orangtua kedua calon pengantin, untuk memberi kata sambutan di mimbar gereja,
Nah., inilah acara yang selalu membuat gue keringet dingin, gue udah bilang agar ‘Bang Pollie aja, tapi dia nya gak mau, karena harus ada kata kata mengajak harahap, boru dan bere untuk mariaraja besok ditempat uda Kia, jadilah dengan terpaksa, dengan keringet dingin dan dengan dada deg degkan, gue maju keatas mimbar, inilah pertama kali dan kayanya masih ada yang kedua kali pada saat nanti dipemberkatan nikahnya, yang ketiga kalinya ..? what ever will be, will be lah.
Mama bilang “ papa seperti penyanyi deh., pada saat memberi kata sambutan, mike dipegang terus, tapi lumayan juga koq, wajah papa gak pucat pucat banget “. Ngeledek atau menghina tuh ma..?
Saat akhir akhir acara dan selesai acara, hujan turun deres deres banget, mau pulang gak bisa, mau dibisain takut banjir dan macet dijalan, akhirnya kita kongkow2 aja dulu di gereja, sambil liat Siagian yang lagi martonggoraja, he..he..he.., mereka dengan lahapnya makan makan, sedangkan kita kita laper dan kedinginan.
Tanggal 23 Oktober 2010, Di rumah Hizkia Harahap di Sarua Permai.
Hari sabtu ini jam 10.00 kita akan mengadakan acara MARIARAJA, itu yang gue bilang saat mengundang semua harahap,boru,bere dan punguan naimarata, tapi ada yang bilang, diundangan mariaraja tertulis jam 15.00, tapi sesudahnya jam 15 pun tidak ada bertambah pesertanya,
Akhirnya acara kita mulai jam 13.00, dimulai dengan mengeluarkan tudu2 sipanganon, karena boru harahap yang ada hanya kak esther, maka dialah yang kebagian muter muterin anak babi sampai 3 kali, itu tandanya anak babi sudah melihat kita semua yang hadir dan dia siap menjadi saksi dalam perhelatan ini,
Kalau martonggoraja yang ngadain fihak paranak, kalau itu pesta ditempat paranak, tapi kalau mariaraja, yang ngadain acaranya fihak parboru, inilah forum bagi bagi tugas dan penanggung jawab pada saat pesta adat dan yang paling utama adalah, menyerahkan secara simbolis semua acara paradaton dari Harahap ( hasuhuton ) kepada K M Limbong ( sbg Raja Parhata Harahap ).
Disana ditentukan siapa siapa yang mendampingin pengantin duduk diatas pelaminan, siapa yang dapet panandaion, siapa yang mangulosi, siapa yang mendapat tugas ini dan siapa yang mendapat tugas itu, siapa yang nanti pada saat masuk gedung membawa tandok yang paling gede ( biasanya ini pada main tunjuk2an, krn hubungannya dengan sanggul yang takut pada kempes ), siapa yang nanti membawa deke suhut (nah., ini harus yang menarik dan menawan hati, karena mereka adalah rombongan yang paling depan), diacara inilah semua pekerjaan, penanggung jawab dan personel yang berperan sudah harus final pada saat hari H.
Yang menjadi catatan gue saat mariaraja ini adalah,
Makanannya banyak, tapi yang hadir sedikit dan yang paling sedikit hadir adalah undangan dari parsahutaon dan naimarata, tapi jangan lupa., walaupun sedikit, mereka sangat berperan didalam acara ini, jadi pantes pantes saja, kalau mereka bawa pulang makanan yang paling banyak.
Dikatakan oleh mereka “ bahwa acara mariaraja ini bisa cepat dan praktis, karena konsep buku panduan yang gue bawa dan yang gue sudah fotocopy untuk disebarkan kepada semua yang hadir, sudah sangat lengkap dan pas untuk dapat dilaksanakan, tinggal diperbanyak saja “ mauliate katanya, duma pun dengan bangganya langsung berdiri dan mengatakan “ itu mantan pacarku lho..! “
Para trouble maker pun saat itu sudah tidak ada komentar dan kasak kusuk lagi, karena mereka tau dan maklum siapa tulang dan nantulangnya, dan gue juga tau dan maklum siapa uda dan inanguda gue itu.
Tanggal 06 November 2010, inilah hari H dan puncak acaranya.
Malemnya, gue sekeluarga udah tidur bareng dengan rombongan keluarga Uda di mess perwira Angkatan Darat di jln Granat sumur batu Jakarta,
Jam setengah 5 paginya, gue udah nganterin duma untuk nyalon di tempatnya kak Ambar di Klender, memang gaya banget deh bojoku ini, jangankan ibu pengantin, bisa bisa sang pengantinpun kalah gaya dengan dumaku ini.
Jam 08.00 dari mess perwira, kita menuju jalan Bren no.6, ini rumah besannya Uda, rencananya disinilah kita akan menerima rombongan kecil Siagian yang akan menjemput pengantin wanita, karena sifatnya hanya menjemput, jadi kita hanya menyambut dan menerima mereka saja, karena bukan batak namanya, kalau setiap langkah tidak ada kata katanya, jadi saat mereka datang dengan berkata kata, gue pun menyambut mereka dengan berkata kata, ini lebih baik, daripada gue disuruh berdoa untuk keberangkatannya, nah., tugas berdoa inilah yang yang diemban oleh duma saat kita mau berangkat.
Waktu kita jalan dari rumah penjemputan menuju gereja, rombongan mobil kita masuk kampung keluar kampung, masuk gang kecil keluar gang sempit, seolah olah farewell party nya Ellie kepada masyarakat sekitarnya, atau Ellie mau ngasih tau, kalau Leo Frans Siagian sudah ada yang punya, jadi jangan ada yang pada ngarepin lagi.
Pada saat sampai di aula gereja, kita langsung melaksanakan acara MARSIBUHA BUHAI, acaranya dibuat di pelataran aula gereja, karena didalam aula sudah dipersiapkan untuk acara pesta yang lain.
Kembali lagi tudu tudu sipanganon dibawa oleh rombongan keluarga Siagian, dan Harahap pun kembali menyerahkan dekke , yang gue bingung, kenapa sih yang menerima bawaan mereka itu harus si warna UNGU, padahal penampilan kita pertama, menentukan penampilan kita selanjutnya lho..!
Karena fungsi protokol acara tidak berjalan, jadilah pada saat rombongan Siagian masuk lewat kanan gedung, yang disalamin mereka cuman gue aja yang kebetulan ada disitu, sedangkan rombongan Uda ada disebelah kiri gedung, jangan jangan mereka lewat kanan gedung, karena gak mau salaman ama si UNGU ya..?
Selesai urusan dengan acara marsibuha buhai, masuklah rombongan kecil dari kedua belah fihak keruangan konsisteri gereja untuk melaksanakan catatan sipil, disini kedua pengantin dikuliahin mengenai undang undang perkawinan oleh petugas catatan sipil, sesudahnya mereka bertanda tangan diakte perkawinan, dilanjutkan oleh tanda tangan kedua orangtua pengantin dan para saksi. Nah., ELLIE WAHYUNIE dan LEO FRANS sekarang anda berdua telah sah sebagai suami istri menurut undang undang Negara.
Urusan dengan Negara sudah selesai, sekarang kita berurusan dengan Tuhan, maka berangkatlah rombongan dari kedua pengantin untuk masuk kedalam gereja, disanalah mereka akan menerima pemberkatan perkawinannya.
Yang melaksanakan pemberkatan dan yang membawa firman Tuhan saat itu adalah Pendeta Simamora, yang intinya mengataka, “ APA YANG TELAH DISATUKAN OLEH TUHAN,TIDAK BOLEH DIPISAHKAN OLEH MANUSIA, KECUALI KARENA MAUT “, sedangkan kata sambutan yang mewakili keluarga fihak perempuan, kembali ke gue lagi, karena ini yang kali kedua, makanya tidak banyak lagi keringat dingin yang keluar, walaupun tetap aja gue harus ganti baju sesudahnya.
Sesudah semua acara di gereja selesai, kita langsung berangkat ke gedung GRAND MANGARAJA, dalam perjalanan sambil nyetir gue ganti baju, padahal di mobil ada ‘Bang Pollie, ada Mir dan ada istrinya Bachrum, ah..cuek ajalah, yang penting gue gak masuk angin, gara gara kaos dalam dan baju basah.
Nah., inilah puncak acara dari segala acaranya orang batak, kenapa gue bilang begitu..? karena persiapan dipesta inilah yang paling rumit dan paling lama, karena dipesta ini yang akan hadir lebih banyak dan lebih beragam, karena dipesta inilah orang batak mencari penghormatan, disinilah penentuannya, apakah mereka SANGAP, apakah mereka GABE dan apakah mereka MORA..? ataukah gedung akan kosong, karena mereka bukan siapa siapa.
Acara diawali dengan masuknya kedua pengantin dengan rombongannya masing2, dilanjutkan dengan penyambutan rombongan Harahap yang membawa beras dalam tandok dan dekke oleh rombongan Siagian, lalu penyambutan rombongan hula hula, tulang, bona tulang dan tulang rorobotnya Siagian oleh rombongan Siagian, yg terakhir rombongannya mora, dan tulangnya Harahap yang disambut oleh Harahap,
Pada saat menyambut dan disambut itu, ada aturannya, katanya posisi telapak tangan gak boleh sembarangan, ada yang porsi telapak tangannya menghadap keatas dan ada juga yang telapak tangannya menghadap kebawah, yang 1 memberi berkat, yang lainnya menerima berkat ( katanya..! ).
Sesudah selesai acara sambut menyambut, kita semua dan tamu yang hadir mulai duduk manis, gue cs, pollie cs, toga cs dan ny bachrum cs duduk diatas mendampingi uda cs, sedangkan uda cs mendampingi ellie cs di pelaminan.
Seperti biasanya para orang batak, doa makan belum dimulai, mereka sudah pada makan duluan, jadi saat doa dimulai, ada yang sudah mulai makan dan ada yang menunggu doa makan , yang kasihan yang ikut berdoa, pada saat bilang AMIN dan mata dibuka, eh., makanan dimeja sudah banyak yang hilang.
Saat tamu mulai makan, kita rombongan dari atas turun kebawah, untuk menyapa semua yang hadir, seolah olah kita lagi ngabsen, mana yang dateng dan mana yang gak dateng. Puji Tuhan..! sebagian besar yang gue undang pada dateng, ada punguan HARBONA sejabodetabek,ada Laut dgn cs csnya, malah yang gak gue bayangin, Amangtua Benny Harahap pun dateng, khusus khusus dia dateng dari Bandung untuk memenuhi undangan gue, waduh., tks banget banget Amangtua ya..?
Ada juga yang saat bersamaan yang belum ikut makan, tugas mereka sibuk motong motongin sapi, katanya sapi itu dibelah 2, dibagi yang haknya Harahap dan dibagi yang haknya Siagian, dan itu dibagi bagikan lagi sebagai jambar.
Kita yang duduk diatas memang rada repot juga, udah kaya jet coaster, sebentar turun untuk menghadap tulangnya Siagian, udah gitu naik lagi, bentar lagi turun lagi menghadap tulangnya Harahap, nanti kita berdiri lagi menerima panandaioan dari Siagian, dan gitu turun lagi memberikan ulos kepada Siagian, dan lagi lagi turun utk memberikan ulos kepada kedua pengantin, cape deh..!
Dan ada yang lebih cape dan membuat betis gemeteran, pada saat semua undangan Harahap memberikan ulos kepada kedua pengantin, kita semua turun dan berdiri dibelakang kedua pengantin, menyalami mereka semua dan mengucapkan terima kasih.
Inilah catatan gue untuk acara acara tgl 06 November 2010,
Hebat memang Siagian ini, setiap acara mulai dari martupol, pamasu masuon sampai pesta adatnya pun selalu penuh, waktu mereka martonggoraja pun, gue liat juga penuh, kita dihargai atau tidak, kita dihormati atau tidak, terlihat pada saat kita pesta atau pada saat ngolu ni ujung na.
Waktu martupol dan pamasu masuon yang hadir banyak, paduan suara yang menyumbangpun tidak hanya 1, majelis dan jemaat gereja yang hadir pun cukup banyak, itu tandanya Amang Siagian mempunyai kwalitas di gereja tsb, malah Uda Hizkia dan keluarga yang tinggal dan bergereja di daerah Sarua, tiba tiba saja bisa menjadi anggota gereja HKBP Cempaka Putih. Hebatkan…!
Saat acara adat di gedung, saat kita semua menghadap dan menyerahkan titi marangkup kepada fihak tulang paranak, kita rombongan Harahap, pada saat itu seperti anak ayam yang kehilangan induknya, overste Limbong dan JS Harahap pada duduk manis dikursinya, padahal harusnya mereka yang sebagai protokolnya, gue yang disuruh ngomong, gue yang ngerti apa apa dan gak tau apa yang mau diomongin, yah., bengong bengong aja, malah mereka gue salamin semuanya, padahal mereka udah bilang “ngomong dulu, baru bisa nyalam “ idiiih malu maluin deh.,
Akhir dari semua acara, Uda Hizkia dengan PD nya memberikan kata sambutan kepada semua yang hadir, tapi rupanya catatan yang diberikan ke Uda dan yang dihapalkan oleh Uda, bukan untuk Uda, mungkin catatan untuk Ellie, makanya pada saat Uda bicara kepada besannya, bukannya dipanggil dengan sebutan Lae dan Ito, tapi kepada Amangboru dan Namboru, ungkapan yang disampaikannya pun, seolah olah ungkapan dari boru kepada hula hulanya, waduh.., si Uda, PD boleh boleh aja, tapi jangan ke PD an gitu dong..!
Last but not least,

ELLIE WAHYUNIE HARAHAP dan LEO FRANS SIAGIAN,
kami mengucapkan selamat menempuh hidup baru dan selamat berbahagia, doa dan pengharapan kami, kiranya rumah tangga kalian, menjadi rumah tangga yang penuh dengan damai sejahtera Tuhan, rumah tangga yang takut akan Tuhan dan rumah tangga yang selalu menyinarkan sinar kasih Tuhan.
AMIN…!

Bogor, November 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar