Via dolorosa yang sekarang bukan berarti jalan kaki naik turun bukit, belok kiri belok kanan, nikung kiri nikung kanan, masuk gang kecil keluar jalan besar, atau nyusurin pematang sawah orang, tapi bisa juga seperti gue ini ;
Dari pagi sudah membersihkan area pemakaman, sudah gitu sebagian area pemakaman kita pasangin tenda, menjelang acara, lilin lilin kecil kita pasang disekitar pemakaman, nah., ini namanya juga via dolorosa, karena ada cape, ada keringat, ada kelelahan dan ada ngantuk, di Bungabondar sendiri acara kebaktian Paskah selalu masih dilaksanakan di pemakaman pada waktu subuh, dan pada Paskah 2011 ini, GKPA Bungabondar membuat acaranya di area pemakaman mertua gue, kitalah saat itu yang menjadi tuan makam di kebaktian tsb, kita pasangin tenda, karena takut pusing kena embun pagi dan takut hujan pada saat acara, kita pasangin lilin, supaya keliatan lebih indah, lebih semarak dan liturginya bisa terbaca, sedangkan ibu ibu mempersiapkan kue kue dalam kotak dan minuman hangat untuk melawan dinginnya pagi, seperti biasanya dalam setiap kebaktian, kehadiran perempuan jauh lebih banyak dari laki laki, yang gue gak tau saat itu adalah, apakah perempuan yang bernama Maria boleh hadir atau tidak, atau yang bernama Maria malah diwajibkan hadir
“ Andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia sialah pemberitaan kami dan sia sialah
Juga kepercayaan kamu “ ( 1 Korintus 15 : 14 ) .
Inilah thema yang diambil pada saat kebaktian Paskah tsb, dan thema ini umum diambil pada setiap perayaan Paskah dimana mana , dikatakan ; jika Kristus tidak bangkit, Dia sama dengan pahlawan pahlawan lainnya, hanya dikenang, tapi tidak dapat menyelesaikan pekerjaannya, jika Kristus tidak bangkit, Dia akan ditertawakan oleh orang orang Farisi, karena mereka tau, Yesus pernah berkata “ Sesudah tiga hari Aku akan bangkit “, Jika Kristus tidak bangkit, Dia hanya salah satu raja israel yang berstatus honoris causa yang diberikan oleh Pilatus, tetapi dengan adanya kebangkitan Kristus , hari ini, besok maupun sepanjang masa, akan terus terjadi pelepasan, pertobatan, pembebasan, keadilan, kebenaran dan akan terpancarlah damai sejahtera Allah dimuka bumi ini. Amin…!
Rabu tanggal 20 April 2011, jam 9 malam, gue, Andre dan Laut Simanjuntak terbang dengan Lion Air menuju Medan, sampai di bandara kita sudah ditunggu oleh Baldwin Simanjuntak ( adiknya Laut ) dan mobil Avanza pinjaman dari Cerah Bangun ( BC Belawan ) yang ngantar anak buahnya Surya Permana, dari bandara kita langsung berangkat dan makan tengah malam di Tebingtinggi, rencananya mau nginep di Prapat Danau Toba di mess Pemda Jawa Timur, atau disana biasa disebut dengan Istananya Bung Karno , sebenarnya kita udah janjian dengan penjaganya Pak Darmadi, kalau ini malam kita mau nginep, mungkin karena kita nyampe disana jam 3 pagi, sedangkan mereka sudah pada pules yang tidur, yah., gak dibukain pintu deh., yah,gak jadi deh., padahal waktu kita puter puterin mobil disekitar mess, pemandangan dari sana kelas 1 banget, kita duduk bentaran disana sambil lurusin badan, udah gitu isi bensin dulu sambil buang hajat di toilet SPBU, udah gitu kita rembuk, mau tidur dimana kita pagi ini.?
Akhirnya diputuskan langsung lanjut ke Balige dan tidur dirumah abangnya Laut, berhubung matanya Baldwin gak bagus kalau dipakai nyetir malam hari, terpaksalah gue yang bawa mobil mulai dari Tebingtinggi dan bawa lagi dari Prapat ke Balige ( ini via dolorosa juga ).
Kamis, tanggal 21 April 2011, jam 5 pagi kita sampai di Balige , gak pake basa basi dengan yang punya rumah, gue ama andre langsung masuk kamar dan langsung tidur, jam setengah 10 kita bangun, langsung mandi dan langsung makan, makanpun walau mendadak datangnya, tetap aja masih terhidang ikan arsik pake asam mobe , ( bahat mauliate ito da..? ).
Jam 11 kita berangkat, sekarang tinggal gue berdua andre di mobil, kita jalan jalan dulu ke TB Silalahi Centre, ngeliatin perjalanan hidup dan kariernya, kita ngeliatin prototype huta batak dan budayanya dan membayangkan., betapa megah dan artistiknya bangunan ini, udah gitu kita nongkrong nongkrong dulu ditepi pantai danau toba di Lintong nihuta, kita ngemil dan ngopi disana sambil ngeliatin andre yang bermain air ditapian nauli, darisana baru kita lanjut kearah Tarutung, saat mau masuk siborong borong andre telpon tauji, untungnya gak diangkat, kalau diangkat dan disuruh mampir repot juga nantinya, bisa bisa masuk Bungabondar kemaleman, namanya juga andre., kalau udah masuk tanah Batak, yang diinget selalu nikmatnya babi panggang, jadi muter muter dululah kita di kota Tarutung untuk makan babi, walau gak dapet babi panggang, tapi dia cukup senang juga makan babi direstoran cina.
Jam setengah 4 kita berangkat lagi dari Tarutung menuju Bungabondar, walau jaraknya hanya 70 Km, tapi jarak tempuh bisa 3 Jam, jalanannya rusak, berliku liku, masuk hutan keluar hutan, banyak truk besar yang lewat, banyak jalan yang hancur hancuran dan yang paling parah pada saat masuk Aek Latong, dijalan itu gue lebih banyak pake persneling 1, tanjakkannya sih., gak parah parah banget, tapi karena jalannya rusak, bisa bisa mobil gak mau nanjak, jam setengah 7 masuklah kita ke Bungabondar, Happy banget gue saat itu, bisa jalan berduaan dengan anak panggoaran andre, dan hebat banget deh gue., belum juga habis setengah tahun, tapi gue udah 3 kali ke Bungabondar, yang pertama awal maret 2011, gue kesana dan hanya ke makam Tulang ( mertua laki laki ) dan itu cuma 5 menit, yang kedua akhir Maret 2011, mengantarkan jenazah Nantulang ( mertua perempuan ) dan itu cuma 5 hari, dan yang sekarang ini untuk Paskah disana , disinipun rencananya hanya 4 hari.
Charles Marpaung, adalah hela dari boru namboru gue, ( kalau orang yang paham bahasa Batak pasti langsung mengerti ), nah., mari kita coba translate kedalam bahasa Indonesia,
Charles Marpaung, adalah mantu laki laki dari anak perempuan saudara perempuannya papi, wah., repot banget ya..? jadi berbanggalah kalau kita bisa dan mau menggunakan bahasa Batak, walau gue sendiri gak paham paham banget,
Saat gue berangkat dari Tarutung ke Bungabondar, dia lagi mengantar tamunya pulang ke bandara Silangit di Siborong borong, dari situ dia mau kearah Pangaribuan menuju daerah Sioma oma untuk meninjau usahanya yang bergerak dibidang perkebunan tanaman nira, nantinya air nira tsb akan diproses menjadi Etanol, bagus bangetkan..? daripada hanya dijadikan tuak dan hanya bikin mabok orang kampung, lebih baik dibuat sesuatu yang dapat menambah nilai jual dari air nira tsb, inilah sebenarnya konsep awal dari marsipature huta na be ( mari membangun desa kita masing masing ), kalau dia mau pulang ke Padangsidempuan, maka jalur yang lebih cepat lewat Simangambat dan pastinya ngelewatin Bungabondar, jadilah malam itu dia mampir kerumah dan makan malam dirumah, di Jakarta aja ketemu dia susah banget, eh., ini kita malah ketemunya didaerah antah berantah, daerah yang letaknya diujung langit dan tidak tercantum didalam peta, walau peta Sumatra sekalipun.
Jam 11 malam, rombongan duma,manus, ardith dan kak ida sampai di Bungabondar, mereka berangkat tadi pagi dengan Lioan Air via Padang, lengkap sudah kita disini, ada kak idar yang dateng dari Sibolga, ada Hanny yang dateng dari Pekanbaru, ada rully yang dateng dari Rantauprapat dan ada ‘Bang Tunggal yang memang tinggal di Sidempuan.
Seperti biasanya, kita semua tidur diruang tengah, seperti ruangan bangsal di rumah sakit dan seperti sesisir pisang yang lagi dijejerin, itulah nikmatnya disana, banyak hal yang berbeda yang kita dapatkan, bisa tidur malang melintang, bisa tidur setiap saat, hanya kalau buang angin, yah., diatur sedikitlah,
Jum’at, tgl 22 April 2011, kita bergereja bersama mengikuti kebaktian kematian Tuhan Jesus, karena itu hari kematian, jadi yang ke gereja banyak yang memakai pakaian warna gelap, katanya tanda turut berduka cita, rupanya ciri khas dikampung ada lagi yang unik, jam 2 siang ada kebaktian lagi, kebaktian untuk mengenang dan turut merasakan saat saat terakhir Yesus menemui ajalnya, dan pas jam 3 nya lonceng gereja berbunyi, katanya sintua., itulah saatnya Yesus berkata “ Elia Elia lama Sabach tani “ , di hari kematian ini, banyak juga beredar SMS yang berisi “ Telah kembali kepangkuan Bapak di Surga, pada hari ini, Yesus Kristus dari Nazareth, bagi yang mengenal dan yang turut merasakan duka cita, diharapkan tidak mengirim karangan bunga dan tidak hadir ditempat disemayamkan, karena 3 hari lagi janjinya akan bangkit. Tks & Jbu “.
Sabtu, tanggal 23 April 2011, sambil nganterin kak ida dan kak pita yang mau belanja ke Sidempuan, kami ( gue,duma, andre dan ardith ) jalan jalan mengelilingi Sidempuan, seperti kebiasaan mereka, kita cari lagi tempat makan babi yang enak disana, udah gitu jalan ke mall nya Sidempuan yg cuma 2 lantai, dari situ barulah kita nyari daerah yang namanya Payanggar, sekalian ngasih tau keanak anak gue, kalau inilah sebenarnya kampung halaman kita, tapi waktu gue liat di silsilah keluarga, rupanya sudah 8 generasi nenek moyang gue urban ke Bungabondar, saat itu gue juga baru tau, kalau dekat pasar Sidempuan ada mesjid yang namanya Tuanku Lelo, dengan baru terbitnya buku “ Greget Tuanku Rao “ karangan Basyral Harahap, apakah nama mesjid ini tidak menjadi kontroversial..?
Minggu, 24 April 2011, subuh kita acara kebaktian Paskah di Pemakaman, paginya kita kebaktian di gereja, siangnya sesudah makan, kita berdoa bersama karena hari ini kita akan pulang dengan cara dan waktu yang berbeda beda, gue sama ardith pulang siang ini melalui Medan, duma ,andre, kak idar dan manus pulang malam ini melalui Padang,
Happy lagi deh gue hari ini, kemarin berangkat ke Bungabondar dengan anak panggoaran ( anak sulung ) sekarang balik dari Bungabondar dengan anak Siampudan ( anak bungsu ), sayangnya., sepanjang perjalanan ujan melulu, malah waktu mau masuk ke Tarutung jalanannya banjir melulu, yang nyebelin juga, sepanjang jalan ardith chating melulu, yang melulu melulu ini lho yang bikin gue cape.
Sepanjang jalan karena ujan melulu, kita gak berhenti berhenti, tapi waktu mau masuk Balige, gue sempetin juga ngajak ardith santai santai dulu di lintong nihuta, takutnya nanti dia ngambek, karena abangnya sempet kesana dan sempet juga ke TB Silalahi Centre, ( next tima aja ya dit..? ).
Jam 7 malam, kita masuklah kerumah Abang Simanjuntak br Tampubolon, keseringan nginep disana dan selalu service yang terbaik yang gue dapet, gak enak hati jugalah, makanya waktu kita kesana, kita bawa oleh oleh khas Sipirok, bawa kue angka 8, bawa alame ( dodol batak ) dan bawa gule ikan limbat.
Senen, tanggal 25 April 2011, selesai breakfast dan pamit pamit sambil mengucapkan terima kasih yang sebanyak banyaknya, berangkat lagi kita menuju Medan sekarang Laut Simanjuntak ikut lagi, lewat Porsea, kita sempatkan mampir dulu di rumah Lae Sukun Sirait, sekalian nanya perkembangan obat Kilian disana, dan dapat kabar yang sedikit tak mengenakkan dengan komitment gue dengan Lae Sirait, dia cerita ; “ bahwa ada beredar dan dijual bebas obat Kilian di kios Pertanian di pasar Porsea “, pulangnya gue mampir disana , dan memang ada yang menjual, namanya “ toko Pudianta ” pemiliknya Lae Sitorus, dan dia mendapatkan obat Kilian tsb dari Lae Sihotang, sedangkan Lae Sihotang dapetnya dari Lae Tongam Simanjuntak dari Laras Pematang Siantar, Lae Simanjuntak ini adalah Lae nya Karlem Ambarita, nah., Lae Simanjuntak inilah yang gue kirimin kilian sejak November 2010 & tidak pernah bayar ( namanya busuk, tetap busuk, pasti suatu saat akan ketahuan, itu kata pepatah lama ), walau cape, tapi yang namanya usaha, tetap usaha, terpaksalah gue ngurusin ini dulu sampai tuntas, sampai terjadi deal dagang antara Lae Sirait dengan Lae Sitorus, untungnya ardith gak ngedumel, supaya makin gak ngedumel, saat pulang kita mampir dulu di Ajibata ( tempat penyeberangan ferry ke Samosir ), gue ajak ardith makan babi panggang dan ikan tombur disana, lumayan., sudah ada sedikit senyum diwajahnya, dan supaya semakin banyak senyum di wajahnya, gue ajak lagi mampir di Prapat diwarung kopi yang terletak diketinggian Danau Toba, rupanya karena sudah kebanyakkan senyum & kebanyakkan makan, mules muleslah perutnya ardith, mau cari tempat makan, sudah jarang ketemu, mau cari SPBU sudah tidak ada lagi sesudah keluar dari Prapat, terpaksalah dia menahan diri cukup lama untuk menunggu sampai masuk kota Siantar, tunggu punya tunggu, perut semakin mules, akhirnya terjadilah brebet brebet menjelang masuk SPBU di Siantar, tinggallah gue ama Laut Simanjuntak kebagian baunya.
Selesai ardith brebet brebet, kita masih ke Bandar Khalipah dulu ambil sisa obat Kilian disana, dapet sisa stok Kilian sebanyak 91 botol dari Erwin, langsung kita bawa ke Medan dan dititipkan ditempat Baldwin Simanjuntak, baru jam 11 malamlah kita masuk hotel dan tidur.
Selasa, 26 April 2011, ardith bangun jam 11 siang sedangkan jam 13 nya dia harus berangkat ke Jakarta, jadi gak bisa di ajak kemana mana lagi, makannya aja gue ajak di KFC depan bandara Polonia, urusan check in sampai boarding gue urus dulu, ardith tinggal masuk ruang tunggu dan tunggu panggilan naik pesawat, dan berangkatlah dia ke Jakarta, mudah mudahan dia tidak brebet brebet didalam pesawat, itulah doa dan pengharapan kami.
Selesai urusan ardith, gue nyari alamatnya ‘Bang Hamzah Harahap, sesudah 2 jam barulah kita dapet rumahnya, itupun sudah nanya kesana kemari dan nyasar kemana kemana, respon yang respect yang gue terima saat itu, dia panggil adiknya untuk dateng ketemu gue, diajak juga gue kerumah adiknya Monang Harahap , disana ketemu juga dengan itonya dan borunya yang tinggal di Bungabondar, disitulah gue janji akan membuat surat kuasa untuk berenya Lina br Rambe, untuk mengurus, mengelola tapi bukan menguasai atau memiliki semua peninggalan dari Opung Kilian Harahap di Bungabondar.
malamnya gue sama Laut diundang makan malam sama Cerah Bangun dan Kawan kawan P2 di restoran seafood Jimbaran, malam itu juga saat kita lagi makan dapat kabar dari Ito Diana ( Istrinya Natal ) kalau mamanya meninggal di RS.RKZ Malang, pulangnya gue sendiri dan tidurnya ditempat Tulang Parmon, sedangkan Laut pulang bareng Budi Lubis dan tidurnya dirumah Abangnya.
Rabu, 27 April 2011, gue mampir kerumah Ny.Waldemar Harahap (mamanya ito Esther Harahap ) di Taman Setiabudi, memang gak jauh juga dengan rumahnya Tulang Parmon, disana cuman ngobrol ngobrol ringan sambil ngenalin diri, pulang darisana kerumah Baldwin Simanjuntak dan memang udah janjian dengan Laut disana, sorenya ketemu dgn William pengusaha mesin photocopy di Medan, janjian ketemunya di KFC depan bandara, supaya gak repot repot kalau mau check in dulu dan gak repot repot juga kalau mau ngembali’in mobil ( ras bujur mejuah juah lagi Cerah Bangun untuk kendaraannya, maaf ngambil dan ngembali’innya di bandara ).
Karena pesawat Lion Air yang jam 21 terlambat berangkat, terlambat juga kita sampainya di Bandara Cengkareng , effeknya terlambat juga kita mendapatkan bis Damri dari Bandara ke Bogor.
Saat Ito Diana nelpon gue ngasih tau mamanya meninggal, gue telpon Natal untuk turut mengucapkan berduka cita dan mohon maaf tidak dapat hadir, makanya pagi itu duma yang berangkat ke Surabaya untuk menghadiri acara pemakaman, tiket dibeli pulang pergi, dengan janjian, malamnya kita ketemu di bandara cengkareng , jadi bertemulah kita malam itu di bandara dan pulang barengan, berhubung bis Damri sudah gak ada, terpaksalah kita pulang dengan mobil sewaan Pelita Air Service yang lagi nyolong waktu, maunya ambil tiket murah dengan penerbangan malam, buntutnya yah., sama ajakan.
Bogor, April 2011
DmH
Kamis, 16 Juni 2011
MOTHER INLAW IN MEMORY Part 5
Di part 5 ini, gue hanya mau cerita tentang pernak perniknya aja,
Rombongan pertama Boy pulang pada hari kamis sore dari Padangsidempuan, dilanjutkan naik travel ke Padang dan berangkat pada Jum’at pagi menuju Jakarta,
Jum’at pagi, kita semua anak, boru, parumaen dan hela kumpul untuk konferensi tingkat tinggi, disini membicarakan mengenai rumah di Bogor dan yang di Cibogo, intinya untuk sementara tidak ada perubahan apa apa, hal hal yang menyangkut lain lain, akan dibicarakan lain waktu, karena setelah acara ini akan ada rombongan yang akan mulai pulang, maka saat itu kita saling mendoakan dan saling berpengharapan Horas tondi mandingin pir tondi matogu, Horas jala gabe..!
Jum’at sorenya rombongan keluarga Iya pulang ke Medan, berangkat dengan mobil Telkomsel yang memang mau dipulangin kesana,
Sabtu, tgl 26 Maret 2011 ( Happy birthday, happy birthday, happy birthday to you..! )
Hari ini gue ulang tahun yang ke 56, karena selama disana kita hanya makan makanan yang bersantan melulu, maka di ultah gue ini, menu dirubah menjadi chinese food plus pesana daging yang digoreng garing, lalu dipakein sambel dan asam dari siang malam di Sipirok, Wow mantaaap..!
terkesannya gue saat ini bermacem macem, macem yang pertama., “ Segala sesuatu didunia ini ada waktunya, ada waktu untuk berduka dan ada waktu yang indah untuk bersuka, maka dari itu., belajarlah untuk mengucap syukurlah dalam segala hal “, tanpa terasa baru kemarin kita menyelesaikan seluruh prosesi acara pemakaman orangtua yang kita kasihi, tapi sekarang..? itulah Tuhan kita, Dia menciptakan segala sesuatu indah pada waktunya , dan seumur umur baru inilah gue acara ultah di Bungabondar , dan gue bangga untuk acara ini, gue pernah dibuatkan acara ultah dipelataran swimming pool Hotel Shangrilla dan pernah juga di Hanamasa, tapi gak ada artinya dibandingkan dengan acara disini, wah., segitunya dom..!
Macem yang ke 2., saat acara ultah anak panggoaran gue, andre gak ikut ( I’m so sad ),
Macem yang ke 3., kaget, bangga dan terharu biru, saat yang kumpul diacara ultah gue, ada Tulang dan Nantulang Padangmatinggi, ada Nimrod Nasution dan ada Tulangku hasian, ( Tulang yang selalu hadir dalam suka maupun duka ), di acara itu gue dapet indahan horas horas dari mora gue Siregar, dan yang menyerahkan adalah 2 opung bayo gue, bahat tarimo kasih di hamu sude Tulang dohot moraku..!
Macem yang ke 4., yang mandok hata ‘Bang Tunggal, mengucapkan selamat ultah ke gue dan mengucapkan selamat jalan untuk rombongan yang nanti malam akan berangkat, sedangkan yang berdoa Tulang Padangmatinggi, Tulang gue koq gak dilibatkan ya .? padahal tinggal itu lho satu 1 nya Tulang kandung gue.
Macem yang ke 5., saat motong kue ultah dan nyuapin kue ke istri tercinta, nyuapin kue ke anak terkasih dan nyuapin kue ke parumaen tersayang.
Macem ke 6., saat Iya telpon gue dan ngucapin selamat ulang tahun dan bilang ; kenapa gak bilang bilang dom, tau gitukan gue gak pulang buru buru, he..he..he., basa basi nih yee..!
Malamnya rombongan besar berangkat, yang dari pamulang, yang dari cibogo dan yang dari bogor (Ardith), mereka charter 2 mobil travel yang ngejemput ke Bungabondar langsung ke Padang, dan minggu paginya naik Lion Air ke Jakarta, gue, duma, kak Idar, ‘Bang Uli dan Tulang Agus rombongan terakhir yang pulang, sedangkan Hanny pulang ke Pekanbaru rencananya hari senen, rombongan gue ini, nganter kak Idar dulu ke Sibolga, sudah barangnya banyak, penumpang banyak, jadilah gue kejepit sendiri dibangku belakang, untungnya sebelum pinggang sakit, kita berhenti dulu di Batangtoru, ngopi ngopi dulu, makan pisang goreng dulu dan makan indomie goreng dulu, yang traktir Tulang pake uang busuk katanya, itu hasil kemenangan joker semalam di Bungabondar.
Sampai di Sibolga kita santai santai dulu, makan macam macam ikan laut dulu , pulangnya gue mulai duduk ditengah, pas banget dengan jalan yang hancur lebur menuju bonandolok dan bonandolok menuju perbatasan dengan Tarutung, sekarang kebagian ‘Bang Uli yang remuk pinggangnya, di bonandolok kita santai santai lagi dan foto foto dulu melihat pemandangan pelabuhan Sibolga dari ketinggian, malamnya kita masuk Siantar dan diajak makan mie Pangsit dulu sama Tulang di Ameng, selesai makan barulah nganterin Tulang ke Kerasaan, disini Tulang turun dan pinjeman koper gue juga turun, selamat berpisah Tulang ya., sampai ketemu lagi di Jakarta..?
Jam 12 malam kita masuk Medan, langsung numpang nginep dikamarnya Nimrod, yang kebetulan juga habis acara di Bungabondar langsung dinas ke Medan, Puji Tuhan banget..!
Oh iya., waktu di Bungabondar, gue telpon ke Tulang Parmon Sinambela ( BC di Belawan Medan ) minta tolong untuk bayarin tiket gue bertiga dari Medan Jakarta di Lion Air Medan, sedangkan tiket pesennya dari Padang, nah., untuk urusan itu, senen paginya gue kekantor BC Belawan, niat sih., untuk ngembali’in uang, siangnya kita makan rame rame dengan semua PFPD Belawan , katanya Tulang Parmon; ada gule kambing yang enak banget, kalau kita telat dateng pasti gak kebagian, bener juga rupanya, dari kita yang 11 orang, yang kebagian cuman gue ama dia aja, yang hebatnya juga, saat kita lagi kumpul bareng, eh., Cerah Bangun nelpon, dia ngasih tau, gak bisa ketemu, karena lagi jalan dengan Kakanwil ke Sibolga, oke kawan., untuk semua bantuandan dukungannya, ras bujur mejuah juah ya..!
Waktu gue berangkat ke Belawan dianterin supir namanya Asdi, dah gitu supir ama mobil gue suruh balik lagi ke hotel, gue pulangnya dianterin sama Budi Lubis ke hotel, sedangkan duma dan ‘Bang Uli kelilingan dengan istrinya Laung Siregar.
Sebelum berangkat, kita mampir dulu kerumah Laung Siregar, disana kita disediakan segepok babi panggang, dan disana juga Tunggane gue itu, gue kerjain habis habisan, maklum aja, yang punya anak perempuan dengan punya anak laki bedakan,..? setidaknya yang punya anak perempuan harus sedikit rada ja’im.
Untungnya saat itu Lion Air sesuai jadwal, jadi kita gak ketinggalan Bis Damri yang terakhir dari Bandara Cengkareng ke Bogor, sampailah kita dirumah tengah malam dengan hati mengucap syukur, mata yang mengantuk dan badan yang sudah remuk redam kelelahan.
Kita semua sudah sampai kerumah masing masing, tinggal kita mempersiapkan diri untuk menerima penghiburan yang membuka luka lama dari sanak dan saudara, namanya juga budaya, mau tidak mau yah., harus kita terima juga, walau…..,
Tgl 9 April 2011, Peserta Penghibur pertama , adalah rombongan Pomparan opu Amir Nasution plus keluarga besar Yosopandoyo, umumnya mereka mengatakan KAGET, kalau gue bilang ke mereka SYUKUR karena mereka yang pertama, kalau mereka yang terakhir, repot kita nantinya, kapan kita mau melupakan, kalau setiap mereka ngomong pada nangis.
Tgl 17 April 2011, peserta penghibur ke dua adalah rombongan pomparan Opung Jarumahut Nasution bersama dengan rombongan GKPA resort 2 Diponegoro, diacara ini cukup rame, karena dua rombongan dijadikan 1, yang membawakan firman pada saat itu Pdt.Gabe Panggabean.
Tgl 30 April 2011, peserta penghibur ke 3, inilah adalah rombongan dari Pomparan Raja Ondak Sojuangon Siregar (ROSS ), inilah keluarganya dari mami, cukup rame dan sangat rame malah, sampai gue terkaget kaget, yang pimpin acaranya ‘Bang Arthur Sitorus, sedangkan yang bawakan firman Tuhan nya Ipar Binsar Siregar, karena awal pembukaan acara sudah dibuka dengan lagu Holan Jesus do Hubaen dongan ku ( versi Angkola ) jadilah diacara itu gue teringat terus sama mami, di acara ini gue yang menceritakan riwayat hidup dan riwayat menjelang kembalinya mertua kepangkuan Bapak di Surga, yang sebelumnya yang menceritakan ‘Bang Udin, dan pada saat Tulang Rempoa mandok hata, barulah keluarga yang lain pada tau, kalau Andre hari ini berulang tahun ke 24 .
Tgl 8 Mey 2011, peserta penghibur ke 4, adalah rombongan punguan Siregar Dongoran , yang pimpin acara dan yang membawakan firman Tuhan, kembali ipar Binsar Siregar, kalau di acara ini sekalian acara arisan, jadi yang dapet arisan keluarga Hutagaol, tapi yang siapin makanannya keluarga Binsar Siregar, saat ini yang menceritakan curriculum vitae nya mertua adalah Duma, katanya waktu gue yang bawain banyak salah, salah satunya , memang rada rancu kalau ditanya pomparan dari mertua gue ini, awalnya ‘Bang Udin bilang 26, 26, 26, dah gitu waktu gue ngomong ada 93, terakhir duma bilang ada 95, ada juga yang bilang jumlahnya 97 orang, yang terakhir gue gak nanya lagi jumlahnya berapa.
Tgl 14 Mey 2011, peserta penghibur ke 5, adalah rombongan keluarga pomparan Opung Constan Harahap ( Ompu ni Magda ), terharu gue menerima penghiburan dari keluarga terdekat gue ini, dan inilah pertama kalinya pomparan melaksanakan kebaktian penghiburan, makanya pada saat gue mangampu (ungkapan balasan), gue bilang ; hal yang baik dan indah seperti ini, baiknya kita lestarikan dan dijadikan kegiatan wajib dari pomparan, untuk itu., kita akan cari waktu dan meminta waktu kepada ipar Natal Siahaan untuk dapat menerima pomparan kita berkunjung kerumahnya untuk kebaktian penghiburan, karena tgl 29 April kemarin, mertuanya meninggal dunia. Acara ini dipandu oleh Lena Gultom/Br Sitompul sebagai liturgost, sedangkan yang membawakan firman Tuhan nya Henry Siahaan, selesai acara kita rapat mengenai rencana keberangkatan untuk retreat ke Ciater ketempatnya Yance Siregar, tks ya Hen., gue tau ini semua bisa terlaksana karena elo yang jadi promotornya.
Tgl 15 Mey 2011, ditanggal ini ada 2 acara kebaktian penghiburan, yang pertama dirumahnya Manus Siregar akan datang rombongan Tambunan, sekalian acara arisan mereka, yang kedua dirumahnya Kak Idar akan datang rombongan Pasaribu, di acara inipun sekalian arisan mereka, karena berada didua tempat, maka kitapun terpaksa berbagi juga, ‘Bang Uli dan duma ditempat Manus, gue dan “Bang Udin ditempat Kak Idar.
Sebenarnya masih ada yang belum datang untuk kebaktian penghiburan ini, merekalah yang seharusnya membuka atau menutup perhelatan ini , yang berangkat ini adalah orangtua mereka dan itupun tinggal satu satunya, kalau orang batak bilang “ suhut paduahon “ dimana yang mengatur, yang menerima , yang mendampingi dan yang mengucapkan terima kasih kepada yang hadir adalah mereka, siapakah mereka itu..? sekeras itukah mereka ..? atau inikah yang disebut dengan Bungabondar sihutur na mata..?
Bogor, Juni 2011.
Rombongan pertama Boy pulang pada hari kamis sore dari Padangsidempuan, dilanjutkan naik travel ke Padang dan berangkat pada Jum’at pagi menuju Jakarta,
Jum’at pagi, kita semua anak, boru, parumaen dan hela kumpul untuk konferensi tingkat tinggi, disini membicarakan mengenai rumah di Bogor dan yang di Cibogo, intinya untuk sementara tidak ada perubahan apa apa, hal hal yang menyangkut lain lain, akan dibicarakan lain waktu, karena setelah acara ini akan ada rombongan yang akan mulai pulang, maka saat itu kita saling mendoakan dan saling berpengharapan Horas tondi mandingin pir tondi matogu, Horas jala gabe..!
Jum’at sorenya rombongan keluarga Iya pulang ke Medan, berangkat dengan mobil Telkomsel yang memang mau dipulangin kesana,
Sabtu, tgl 26 Maret 2011 ( Happy birthday, happy birthday, happy birthday to you..! )
Hari ini gue ulang tahun yang ke 56, karena selama disana kita hanya makan makanan yang bersantan melulu, maka di ultah gue ini, menu dirubah menjadi chinese food plus pesana daging yang digoreng garing, lalu dipakein sambel dan asam dari siang malam di Sipirok, Wow mantaaap..!
terkesannya gue saat ini bermacem macem, macem yang pertama., “ Segala sesuatu didunia ini ada waktunya, ada waktu untuk berduka dan ada waktu yang indah untuk bersuka, maka dari itu., belajarlah untuk mengucap syukurlah dalam segala hal “, tanpa terasa baru kemarin kita menyelesaikan seluruh prosesi acara pemakaman orangtua yang kita kasihi, tapi sekarang..? itulah Tuhan kita, Dia menciptakan segala sesuatu indah pada waktunya , dan seumur umur baru inilah gue acara ultah di Bungabondar , dan gue bangga untuk acara ini, gue pernah dibuatkan acara ultah dipelataran swimming pool Hotel Shangrilla dan pernah juga di Hanamasa, tapi gak ada artinya dibandingkan dengan acara disini, wah., segitunya dom..!
Macem yang ke 2., saat acara ultah anak panggoaran gue, andre gak ikut ( I’m so sad ),
Macem yang ke 3., kaget, bangga dan terharu biru, saat yang kumpul diacara ultah gue, ada Tulang dan Nantulang Padangmatinggi, ada Nimrod Nasution dan ada Tulangku hasian, ( Tulang yang selalu hadir dalam suka maupun duka ), di acara itu gue dapet indahan horas horas dari mora gue Siregar, dan yang menyerahkan adalah 2 opung bayo gue, bahat tarimo kasih di hamu sude Tulang dohot moraku..!
Macem yang ke 4., yang mandok hata ‘Bang Tunggal, mengucapkan selamat ultah ke gue dan mengucapkan selamat jalan untuk rombongan yang nanti malam akan berangkat, sedangkan yang berdoa Tulang Padangmatinggi, Tulang gue koq gak dilibatkan ya .? padahal tinggal itu lho satu 1 nya Tulang kandung gue.
Macem yang ke 5., saat motong kue ultah dan nyuapin kue ke istri tercinta, nyuapin kue ke anak terkasih dan nyuapin kue ke parumaen tersayang.
Macem ke 6., saat Iya telpon gue dan ngucapin selamat ulang tahun dan bilang ; kenapa gak bilang bilang dom, tau gitukan gue gak pulang buru buru, he..he..he., basa basi nih yee..!
Malamnya rombongan besar berangkat, yang dari pamulang, yang dari cibogo dan yang dari bogor (Ardith), mereka charter 2 mobil travel yang ngejemput ke Bungabondar langsung ke Padang, dan minggu paginya naik Lion Air ke Jakarta, gue, duma, kak Idar, ‘Bang Uli dan Tulang Agus rombongan terakhir yang pulang, sedangkan Hanny pulang ke Pekanbaru rencananya hari senen, rombongan gue ini, nganter kak Idar dulu ke Sibolga, sudah barangnya banyak, penumpang banyak, jadilah gue kejepit sendiri dibangku belakang, untungnya sebelum pinggang sakit, kita berhenti dulu di Batangtoru, ngopi ngopi dulu, makan pisang goreng dulu dan makan indomie goreng dulu, yang traktir Tulang pake uang busuk katanya, itu hasil kemenangan joker semalam di Bungabondar.
Sampai di Sibolga kita santai santai dulu, makan macam macam ikan laut dulu , pulangnya gue mulai duduk ditengah, pas banget dengan jalan yang hancur lebur menuju bonandolok dan bonandolok menuju perbatasan dengan Tarutung, sekarang kebagian ‘Bang Uli yang remuk pinggangnya, di bonandolok kita santai santai lagi dan foto foto dulu melihat pemandangan pelabuhan Sibolga dari ketinggian, malamnya kita masuk Siantar dan diajak makan mie Pangsit dulu sama Tulang di Ameng, selesai makan barulah nganterin Tulang ke Kerasaan, disini Tulang turun dan pinjeman koper gue juga turun, selamat berpisah Tulang ya., sampai ketemu lagi di Jakarta..?
Jam 12 malam kita masuk Medan, langsung numpang nginep dikamarnya Nimrod, yang kebetulan juga habis acara di Bungabondar langsung dinas ke Medan, Puji Tuhan banget..!
Oh iya., waktu di Bungabondar, gue telpon ke Tulang Parmon Sinambela ( BC di Belawan Medan ) minta tolong untuk bayarin tiket gue bertiga dari Medan Jakarta di Lion Air Medan, sedangkan tiket pesennya dari Padang, nah., untuk urusan itu, senen paginya gue kekantor BC Belawan, niat sih., untuk ngembali’in uang, siangnya kita makan rame rame dengan semua PFPD Belawan , katanya Tulang Parmon; ada gule kambing yang enak banget, kalau kita telat dateng pasti gak kebagian, bener juga rupanya, dari kita yang 11 orang, yang kebagian cuman gue ama dia aja, yang hebatnya juga, saat kita lagi kumpul bareng, eh., Cerah Bangun nelpon, dia ngasih tau, gak bisa ketemu, karena lagi jalan dengan Kakanwil ke Sibolga, oke kawan., untuk semua bantuandan dukungannya, ras bujur mejuah juah ya..!
Waktu gue berangkat ke Belawan dianterin supir namanya Asdi, dah gitu supir ama mobil gue suruh balik lagi ke hotel, gue pulangnya dianterin sama Budi Lubis ke hotel, sedangkan duma dan ‘Bang Uli kelilingan dengan istrinya Laung Siregar.
Sebelum berangkat, kita mampir dulu kerumah Laung Siregar, disana kita disediakan segepok babi panggang, dan disana juga Tunggane gue itu, gue kerjain habis habisan, maklum aja, yang punya anak perempuan dengan punya anak laki bedakan,..? setidaknya yang punya anak perempuan harus sedikit rada ja’im.
Untungnya saat itu Lion Air sesuai jadwal, jadi kita gak ketinggalan Bis Damri yang terakhir dari Bandara Cengkareng ke Bogor, sampailah kita dirumah tengah malam dengan hati mengucap syukur, mata yang mengantuk dan badan yang sudah remuk redam kelelahan.
Kita semua sudah sampai kerumah masing masing, tinggal kita mempersiapkan diri untuk menerima penghiburan yang membuka luka lama dari sanak dan saudara, namanya juga budaya, mau tidak mau yah., harus kita terima juga, walau…..,
Tgl 9 April 2011, Peserta Penghibur pertama , adalah rombongan Pomparan opu Amir Nasution plus keluarga besar Yosopandoyo, umumnya mereka mengatakan KAGET, kalau gue bilang ke mereka SYUKUR karena mereka yang pertama, kalau mereka yang terakhir, repot kita nantinya, kapan kita mau melupakan, kalau setiap mereka ngomong pada nangis.
Tgl 17 April 2011, peserta penghibur ke dua adalah rombongan pomparan Opung Jarumahut Nasution bersama dengan rombongan GKPA resort 2 Diponegoro, diacara ini cukup rame, karena dua rombongan dijadikan 1, yang membawakan firman pada saat itu Pdt.Gabe Panggabean.
Tgl 30 April 2011, peserta penghibur ke 3, inilah adalah rombongan dari Pomparan Raja Ondak Sojuangon Siregar (ROSS ), inilah keluarganya dari mami, cukup rame dan sangat rame malah, sampai gue terkaget kaget, yang pimpin acaranya ‘Bang Arthur Sitorus, sedangkan yang bawakan firman Tuhan nya Ipar Binsar Siregar, karena awal pembukaan acara sudah dibuka dengan lagu Holan Jesus do Hubaen dongan ku ( versi Angkola ) jadilah diacara itu gue teringat terus sama mami, di acara ini gue yang menceritakan riwayat hidup dan riwayat menjelang kembalinya mertua kepangkuan Bapak di Surga, yang sebelumnya yang menceritakan ‘Bang Udin, dan pada saat Tulang Rempoa mandok hata, barulah keluarga yang lain pada tau, kalau Andre hari ini berulang tahun ke 24 .
Tgl 8 Mey 2011, peserta penghibur ke 4, adalah rombongan punguan Siregar Dongoran , yang pimpin acara dan yang membawakan firman Tuhan, kembali ipar Binsar Siregar, kalau di acara ini sekalian acara arisan, jadi yang dapet arisan keluarga Hutagaol, tapi yang siapin makanannya keluarga Binsar Siregar, saat ini yang menceritakan curriculum vitae nya mertua adalah Duma, katanya waktu gue yang bawain banyak salah, salah satunya , memang rada rancu kalau ditanya pomparan dari mertua gue ini, awalnya ‘Bang Udin bilang 26, 26, 26, dah gitu waktu gue ngomong ada 93, terakhir duma bilang ada 95, ada juga yang bilang jumlahnya 97 orang, yang terakhir gue gak nanya lagi jumlahnya berapa.
Tgl 14 Mey 2011, peserta penghibur ke 5, adalah rombongan keluarga pomparan Opung Constan Harahap ( Ompu ni Magda ), terharu gue menerima penghiburan dari keluarga terdekat gue ini, dan inilah pertama kalinya pomparan melaksanakan kebaktian penghiburan, makanya pada saat gue mangampu (ungkapan balasan), gue bilang ; hal yang baik dan indah seperti ini, baiknya kita lestarikan dan dijadikan kegiatan wajib dari pomparan, untuk itu., kita akan cari waktu dan meminta waktu kepada ipar Natal Siahaan untuk dapat menerima pomparan kita berkunjung kerumahnya untuk kebaktian penghiburan, karena tgl 29 April kemarin, mertuanya meninggal dunia. Acara ini dipandu oleh Lena Gultom/Br Sitompul sebagai liturgost, sedangkan yang membawakan firman Tuhan nya Henry Siahaan, selesai acara kita rapat mengenai rencana keberangkatan untuk retreat ke Ciater ketempatnya Yance Siregar, tks ya Hen., gue tau ini semua bisa terlaksana karena elo yang jadi promotornya.
Tgl 15 Mey 2011, ditanggal ini ada 2 acara kebaktian penghiburan, yang pertama dirumahnya Manus Siregar akan datang rombongan Tambunan, sekalian acara arisan mereka, yang kedua dirumahnya Kak Idar akan datang rombongan Pasaribu, di acara inipun sekalian arisan mereka, karena berada didua tempat, maka kitapun terpaksa berbagi juga, ‘Bang Uli dan duma ditempat Manus, gue dan “Bang Udin ditempat Kak Idar.
Sebenarnya masih ada yang belum datang untuk kebaktian penghiburan ini, merekalah yang seharusnya membuka atau menutup perhelatan ini , yang berangkat ini adalah orangtua mereka dan itupun tinggal satu satunya, kalau orang batak bilang “ suhut paduahon “ dimana yang mengatur, yang menerima , yang mendampingi dan yang mengucapkan terima kasih kepada yang hadir adalah mereka, siapakah mereka itu..? sekeras itukah mereka ..? atau inikah yang disebut dengan Bungabondar sihutur na mata..?
Bogor, Juni 2011.
MOTHER INLAW IN MEMORY. Part 4
18 tahun dikurangi 3,5 tahun kami tinggal di PMI ( Perumahan Mertua Indah ) bersama dengan mertua di Bogor, maksudnya begini, tahun 1993 sampai dengan tahun 2002 kami tinggal bersama, 2002 sampai dengan tahun 2005 kami tinggal diluar ,tapi masih tetap di Bogor dan masih deket deket dengan rumah mertua, udah gitu dari tahun 2005 sampai dengan sekarang tahun 2011 kembali lagi ke PMI, maklumlah anak bungsu ( boru siampudan ) gak bisa jauh jauh dengan orangtuanya, atau juga orangtua gak bisa jauh jauh dengan si bungsu, jauh dimata dekat dihati, tapi kalau dekat dimata, banyak makan hati, masa sih..? kayaknya gak sampai segitu gitunya deh.,
Ada suatu ungkapan Batak yang sangat populer, “ boru hangoluan, anak hamatean “, kira kira maksudnya begini, pada masa hidup, orangtua tinggal bersama dengan anak perempuannya, pada saat mati, yang tinggal., bersama dengan anak laki lakinya.
Akhir tahun 1992, inilah cerita awalnya., mertua dan opung bayo ( kak Enim, istri dari abang Ananda ) datang ke Gresik, saat itu gue masih bekerja di IKPT mengerjakan Project Ammonia & Urea di Petrokimia Gresik sebagai Site Finance Project, saat itulah ada satu permintaan dan menurut gue bukan suatu permohonan ke kami ( maksudnya gue & duma ), agar tinggal dan kembali bekerja di Jakarta, karena pada saat itu mertua dirumah hanya tinggal berdua saja dengan Iya, itupun sehari harinya Iya berangkat kerja pagi, pulangnya sudah malam, kalau gak salah, Iya pulang kerja langsung kuliah lagi di Akademi Bahasa Asing.
Ada beberapa pertimbangan pada waktu itu yang harus gue ambil, pertimbangan pertama, awal tahun depan gue putus kontrak kerja dengan IKPT, dan belum tau lagi kemana gue ditempatkan sesudah itu, yang kedua, ngebayangin., betapa sepinya kehidupan mertua gue sehari hari dirumah dari pagi sampai malam, yang ketiga., HOLONG ( ini bisa berarti KASIH, bisa juga berarti kasihan deh..! ), mungkin inilah yang menjadi prioritas, bukan apa apa sih., waktu gue kena PHK akhir bulan Februari 1991 dari PT.Perkebunan XI, bulan Aprilnya gue sudah bekerja lagi di IKPT, kalau memang gue gak ada niat pindah ke Jakarta, bisa aja gue nyari lagi disana, karena memang habitat pekerjaan gue sudah mengakar di Jawa Timur, kalau di Jakarta..? wow…!
Maret 1993, itulah awal gue pindah ke Jakarta dan tinggal bersama mertua didaerah Cilandak Dalam, lalu lanjut bulan Novembernya pindah ke Bogor dan tetap tinggal bersama mertua.
Dan inilah “ MOTHER INLAW IN MEMORY “.
Orang bijak mengatakan “ cerita cerita yang pahit, yang getir, yang pedes, yang ngenesin dan yang nyebelin, lebih baik dipendam dalam dalam kedalam sumur, tapi cerita tentang terang, tentang garam, tentang matahari, tentang bulan dan tentang anggur, kereklah setinggi mungkin, kalau perlu bintangpun dapat merasakannya “ .
Disini gue mau cerita tentang hal hal yang manis, yang berkesan, yang indah dan yang abadi saat kebersamaan kami ( gue, Duma, Andre dan Ardith ) bersama orangtua / opung tercinta.
Siang hari di pertengahan tahun 1993, ‘Bang Nanda telpon gue dan nanyain “ Dom, kamu bisa gak mengantar mamak ke Jambi, ada saudara kita Poltak Nasution meninggal disana dan akan dimakamkan besok “,
sore harinya gue kerumah ‘Bang Nanda ambil mobil Taft GT , uang untuk bahan bakar dan biaya selama disana , berangkatlah kita sekitar jam 6 sore, yang berangkat, gue sebagai driver, Eddy Nasution sebagai penggembira, David Nasution, Ny.Haman Nasution, Duma dan Mertua gue, saat itu Andre gak ikut dan langsung diboyong untuk nginep dirumah ‘Bang Nanda, inilah pertama kalinya gue bawa mobil ke Sumatra, karena gak tau jalan, gak tau daerah yang rawan, yah., singkat aja terus, malah tengah malam kita sempet berhenti dulu untuk istirahat di warung di tengah hutan disekitar daerah Beringin, mungkin yang pada nongkrong di warung pada bingung dan berpikir, nih., orang pada nekad nekad amat berhenti disini, kalau gak orang gila pastilah koppasus mereka itu, kita disana santai santai tuh., gue gerak badan sambil ngelurusin badan, sedangkan ibu ibunya pada masuk ke toilet, memang dasarnya gak tau yah., mau diapain lagi, awalnya rencana pemakaman jam 4 sore, katanya menunggu kedatangan kita dari Jakarta, eh.., gak taunya jam 1 siang kita udah nyampe , malah udah bersih dan rapi, memang sebelum masuk Jambi kita ke SPBU dulu dan ibu ibunya pada bedandan dulu, sampai di rumah Jambi, ‘Bang Apul langsung nanya “ elo lewat mana Dom, koq nyampenya cepet banget..? ”.
November 1993 kita pindah ke Bogor, Andre yang masih kelas 1 SD, tadinya sekolah di PSKD Melawai , jadi ikutan pindah dan bersekolah di Regina Pacis, wah.. Puji Tuhan sekali masih bisa dapet sekolah disana, padahal itu baru tengah tahun pelajaran, dan Puji Tuhan juga, uang masuk dan semua semuanya mertua yang bayarin ( remember tuh., dre ), saat pindah ke Bogor, dirumah itu kita masih tinggal bersama keluarganya ‘Bang Uli dan Iya, sesudah awal tahun 1994, barulah ‘Bang Uli dan keluarga pindah kedaerah Babakan madang sekitar 5 Km dari rumah, sedangkan Iya pindah ke Pamulang, sesudah menikah pada pertengahan tahun 1996.
Tahun 1994, gue sempet 2 kali ngawal mertua pulang ke Bungabondar, yang pertama kita main main sampai Danau Toba, yang kedua nganterin rapat di kantor pusat GKPA di Padang sidempuan, yang pertamanya, Iya ikut, Hanni,istrinya dan Yuni ikut juga, mereka naik dan turunnya di Teluk Kuantan, saat di Danau Toba inilah , andre nyemplung di air langsung nyanyi “Halaeluya, Haleluya” versi Batak, mertua langsung komentar ; “ Wah., andre kerasukkan sisingamangaraja “, bukan apa apa sih.,inilah pertama kalinya andre nyanyi lagu batak, sebenarnya dia tau, karena sejak dia bayi selalu gue timang timang dengan lagu batak, oh iya., ada satu kenangan manis manis jelek pada saat perjalanan ke danau toba, ceritanya gini., waktu di Pekanbaru kita nginepnya di hotel Badarusamsi, gue tidur sekamar sama Iya dan dan ratusan kecoa, masuk kamar mandi ada kecoa, mau tidur banyak kecoa, di pesawat telponpun banyak kecoanya, akhirnya gue gak tidur, hanya semedi aja semalaman, kalau Iya mah., MGP, besoknya kita jalan lagi, waktu kita mau masuk Balige, gue bilang bilang ke Iya, gantian yang nyetir, belum juga 1 Km Iya nyetir, ada polisi iseng yang berhentiin kita, minta SIM dan STNK dan periksa semua perlengkapan kendaraan, He..he..he..! tepat banget deh, padahal selama perjalanan itu gue gak punya SIM lho., sebenarnya polisi itu hanya mau cari duit aja, kita diancam tilang.,karena di mobil kotak P3 nya sudah tidak lengkap lagi, kita minta tilang., karena Mertua marah liat polisi seperti itu, alasan mertua saat itu, “sekarang inikan lagi dicanangkan konsep Marsipature huta nabe, kenapa masih ada aja polisi yang begitu, gimana mau maju bona pasogit kita ini “ Amin..!
Yang kedua, ini hanya acaranya ibu ibu di kantor pusat GKPA, karena gue bukan ibu ibu, makanya gue ama andre dan rulli berangkat ke Pematang Siantar naik bis Sampagul, kebetulan Uda Leo Simanjuntak jadi Kajari disana, dan kebetulan pula bujing juga lagi disana, jadilah kita nginep disana, pulangnya bareng bujing yang juga mau ke Bungabondar dan nginepnya di hotel Tor Sibohi.
Tahun Februari 1995, gue, duma, andre dan coco berangkat lagi ke Sumatra, tapi kita jemput U’eng dan nginep dulu di Palembang, besoknya kita langsung berangkat menuju Pekanbaru lewat Jambi, besok paginya rombongan Mertua, tulang dan nantulang Cempaka Putih dan Kak Rasmi nyampe di Pekanbaru dari Jakarta dan langsunglah dari bandara kita berangkat menuju Sipirok, saat itu isinya mobil 9 penumpang plus barang barang bawaan yang ditaruh diatas kap mobil, penumpangnya rata rata berukuran jumbo, penumpang didepan tulang Arifin baru pulang dari Rumah Sakit karena serangan jantung, jadi ngebayangkan..? waktu nyampe di Padang Matinggi kita langsung ke makam, dan tul Arifin langsung sesunggukkan kaya anak kecil yang gak dapet permen, rupanya dia sudah puluhan tahun gak pulang pulang, jadi panteslah kalau meweknya sampai segitunya, yang parah waktu kita pulangnya, barang bawaan makin bertambah, penumpang gak berkurang, jadilah beberapa kali ban kempes bukan karena bocor, tapi karena keberatan isi, kita nganter lagi rombongan ke Bandara Pekanbaru, barulah dari Pekanbaru kita pulang ngelewatin kelok 9 menuju Bukittinggi, dari Bukittinggi menuju Lubuklinggau gue mulai gantian bawa mobil sama U’eng, dan dia begitu bangganya, saat gue kasih bawa mobil dari Lubuklinggau sampai Jakarta.
16 Desember 1995, Ardith Yohanes Pardamean Harahap lahir di RS Melania Bogor, inilah cucu yang sejak dari merah, yang buka udelnya sampai yang bersihkan dari awal dilakukan oleh opungnya, cucu yang sangat manja, yang berani membangkang, berani taruh kepalanya ke pangkuan opungnya sambil minta pijitin, yang minta gak dapet dari mamanya, langsung minta ke opungnya, yang gampang minta jajan, yang pinter ngelesin opungnya, tapi kalau disuruh opungnya, gak pernah ngedumel apalagi gak mau. Didompetnya yang ada bukan foto papa mamanya, abangnya atau idolanya, tapi yang dipajang foto opungnya , ardith bilang “ ini foto pacar “, cucu yang ini, temen opungnya nonton TV, temen berantem, temen curhat dan temen berkasih kasihan, yang 1 ngasih senyum dan perhatian,yang 1 nya, ngasih uang dan perhatian, yang 1 seneng disuapin, yang 1 nya senang nyuapin, yang 1 senang di nina bobo’in, yang 1 nya senang menina bobo’in, yah., sudah kloplah mereka berdua.
Pertengahan 1996, Yunindra ( Iya ) Siregar menikah dengan Verra Br Matondang, pelaksanaan pemberkatan nikah dilaksanakan di GKPA Bungabondar, sedangkan pelaksanaan adatnya dirumah parsadaan Ompung Hasiholan di Bungabondar juga, berangkatlah kita semua kesana dengan mobil, sedangkan mertua dan ‘Bang Nanda berangkat duluan ke Medan untuk acara mangalap boru, pada saat itu , gue semobil dengan ‘Bang Dame dan ardith yang masih berumur sekitar 4 bulan, yang teringat banget waktu perjalanan itu adalah, saat keluar dari Lubuklinggau menuju Bangko, saat gue lagi ngantuk ngantuknya mau tertidur, ‘Bang Dame ngajakkin gantian nyetir, ngebayangkan., jalan menuju Bangko hanya lurus dan naik turun aja, gue disuruh gantian dan yang lain pada tidur, yah., udah selama jalan untuk ngilangin ngantuk gue makanin aja kripik paru, waktu kak Ambar bangun, dia kaget ngeliat kripik parunya yang setengah kilo sudah tandas gue makan, yah., mau gimana lagi,what ever will be will be lah,
Apa yang gue dapet dari cerita cerita diatas ini ;
Mertua gue ini, begitu mencintai semua keturunannya, dia ingin semua maju, baik dalam pendidikkan maupun dalam kerohanian, rajin berdoa untuk semua keturunannya dan rajin bertanya tentang semua keturunannya, yang hebatnya lagi, begitu banyak cucu dan cicitnya, tapi dia hapal semua nama namanya, dia begitu cinta dengan tanah leluhurnya Padangmatinggi dan Bungabondar, beliau seakan mengajarkan anak2nya, boru2nya, mantu2nya dan cucu cucunya agar ikut mencintai tanah leluhur (bona Pasogit), habis uang gak masalah, yang penting hatinya senang dan keturunannya ikut senang dan bangga serta ada kerinduan untuk terus kembali dan kembali, dan puncak dari kebanggaannya adalah., pada saat menikahkan Iya , katanya., “ inilah pesta pernikahan keluarga kita yang terakhir, dan saya mau dilaksanakan HORJA di Bungabondar “, itulah metua gue ini, untuk meraih HASANGAPON, HAGABEON dan HAMORAON semua sudah dijalankan dan semua itu dijalankan dengan HABISUKKON, sampai adiknyapun yang sudah lama tidak pulang, dibujuknya dan ikut diantarnya pulang ke Padangmatinggi, jika akhirnya beliau dimakamkan di Bungabondar, saat itu kami sudah mencintai dan rindu untuk kembali, imbasnya., harusnya beliau tidak akan sepi disana minimal sampai di level cucu, karena kami tetap akan kembali kesana untuk melihat makam, sekaligus duduk dan memijak kembali tanah yang kami cintai dan yang selalu kami rindukan. Amin…!
Loncat jauh kedepan ditahun 1998, gue mulai merintis usaha dibidang Pestisida, yang sebelumnya gue gagal bermain di bidang speedy courier, saat saat awal usaha, gue pinjem uang mertua sebesar 26,5 juta, sayangnya gue gak bagus ngelola uang hasil usaha, dan terlalu enak punya mertua gak nuntut macem macem, kebangetannya gue juga, karena mertua gak nuntut macem macem, jadinya gue suka suka aja cara ngembalikannya, menurut catatan gue yang terakhir, gue ngebalikkinnya cuma sampai 23,5 juta, yah., gitulah mertua gue ini, untuk maju dan suksesnya anak,mantu atau siapapun itu, pasti akan dibantu dan didukung, baik moril maupun materil, mantapkan., punya mertua seperti ini..?
Tahun 1999, usaha gue dibidang pestisida lagi moncer moncernya, berangkatlah gue, duma, ardith dan mertua jalan jalan ke Jawa Timur, sekalian ngirim barang ke Lamongan, dari Bogor kita berangkat pagi dan sampai di Tuban sore, nginep sehari di Tuban besoknya langsung berangkat lagi ke Lamongan, sampai di Lamongan siang, gue ditinggalin disana untuk ngurus kerjaan, mereka berangkat ke Tanggulangin untuk shoping dan langsung nginep di Jombang, mereka jalannya bersama temen gue Eddy pegawai PTP.N XI, sorenya urusan gue di Lamongan selesai dan dapet duit lumayan, gue langsung nyusul malemnya ke Jombang, besok paginya gue ngurus ngurus dulu ke PTP.N XI di Jombang, barulah selesai itu kita piknik beneran, gak ada lagi yang gue urusin disana, dari Jombang kita nginep di Kopeng Salatiga, daerahnya dingin dan pemandangannya bagus, hotelnya bagus dan bersih, kamarnya diatas kolam ikan, makanannya juga enak, macem macem ikan bakar kita cobain, besoknya kita lanjut lagi, dari Kopeng kita lewat Temanggung, Parakan, masuk Wonosobo beli lidah asap dulu, naik ke Dieng dan turunnya di Banjarnegara, masuklah kita kedaerah Purwokerto, disinilah mertua mulai banyak cerita nostalgia pada saat penjajahan Belanda, dan wanti wanti, “ jangan lupa beli getuk goreng dulu nanti ya dum., karena dulu Amang paling suka makan getuk dan selalu beli getuk goreng ini kalau pas mampir di Purwokerto “, sorenya kita nginep di hotel di Baturaden, kita ambil yang kamarnya ada connecting door, dan sepanjang sore sampai malam , mertua terus bernostalgia dengan cerita ceritanya bersama Amang pada jaman pengungsian, dia juga cerita dan ngajakkin melihat tugu monument perjuangan di area taman Baturaden, disana ada prasasti nama nama pejuang rakyat yang melawan Belanda dan ada nama adiknya disana ( Oloan Nasution ).
Tahun 2001 mertuaku bersabda “ bahwa., untuk maju dan berhasil dimasa mendatang, setiap anak harus bisa menguasai bahasa Inggris, karena dengan semakin mendunianya kehidupan ini, komunikasi lisan harus bisa dikuasai, untuk itu Andre harus kursus bahasa Inggris , nanti mamak yang akan bayar biaya kursusnya “ sabda dari panglima besar memang sedikit dogma, jadi tidak bisa diacuhkan begitu saja, dan kalau ditimbang timbang memang benar, dan saat itu kami memang tidak terpikirkan, maka kami daftarkanlah Andre di LIA dan bayarkan biaya kursusnya untuk 1 periode kursus, sejak itulah andre mengikuti kursus di LIA sampai tamat ditingkat Advance, dorongan dan dukungan dari mertua sangat memacu, jadi janganlah ditambah lagi dengan dukungan financial untuk seterusnya, jadi cukuplah diawal kursus, selanjutnya biarlah kami yang berusaha. ( remember lagi tuh dre., ).
Ada juga yang hanya awal dan selanjutnya diteruskan sendiri,mertua senang sekali kalau kami mengikuti undangan adat batak dan ikut hadir, dia juga senang kalau kami akrab akrab yang bersaudara, dukungan pasti ada, minimal mobilnya bebas digunakan, suatu saat duma cerita ; kalau ada kumpulan arisan Siregar Dongoran, wah., kita dibujuk untuk ikutan, malah ditawarkan, biar nanti mamak yang bayar, akhirnya kita ikutan juga dan memang awal arisan mertua yang bayar, malah waktu Tulang Agus minta kepada anggota arisan agar diadakan di Bogor, wow., mertua seneng banget, “ oh happy day “ katanya.
Kenangan kenangan bersama, yang indah dan yang abadi banyak kami alami bersama, ardith tentu gak bakalan lupa, pada saat dia bujukkin opungnya untuk naik pesawat pertama kali, apa sih., yang dia minta yang gak diikutin oleh opungnya, jadilah dia naik pesawat bersama opungnya dari Surabaya ke Jakarta, itulah ardith, cucu kesayangan dan kecintaan dari opungnya.
indah pada saat kita bersama sama ke Bromo, kita bareng dengan keluarga ‘Bang Apul, bersama dengan Tulang dan nantulang Padangmatinggi, keabadian pada saat ardith, duma dan mertua foto bareng dengan busana musim dinginnya, sukacita pada saat mereka jalan jalan ke Taman Safari di Pandaan, trenyuh pada saat kita berangkat ke Jogja dan gue cekukan melulu di mobil, dan duma diomelin gara gara gak peduli saat itu, yg lucunya., gue mendadak sembuh saat naik ketempat tidur diruang UGD RS Panti Rapih Jogja, terharu dan sedikit bingung, terjadi juga pada saat tutup tahun 2010 dirumah Bogor, pertama kali dan itulah yang terakhir, mertua bilang ke gue “ untuk bere domu, nantulang minta maaf kalau ada kesalahan selama ini, dan kepada boruku, mamak mengucapkan terima kasih karena telah menjaga dan merawat mamak selama ini “ puncak dari semua itu, saat kita salam salaman, gue mendapat cipika cipiki dari mertua, sampai sampai ardith langsung lapor ke mamanya, wah., tadi ada kejutan dari opung ‘ma “ tadi saat kita salam salaman papa dicium opung lho..! ”.
Mertuaku memang tidak ada duanya, gue bangga jadi mantu dan bangga menjadi ayah dari kedua cucunya, selamat jalan Nantulang, selamat bertemu dengan Tuhan Yesus dan selamat bersama kembali dengan orang orang yang Nantulang cintai dan mencintai Nantulang.
“ Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan,
di hadapan Mu ada sukacita berlimpah limpah,
dan ditangan kanan Mu, ada nikmat senantiasa “ Amin..!
( Mazmur 16 : 11 )
Bogor, April 2011
DmH
Ada suatu ungkapan Batak yang sangat populer, “ boru hangoluan, anak hamatean “, kira kira maksudnya begini, pada masa hidup, orangtua tinggal bersama dengan anak perempuannya, pada saat mati, yang tinggal., bersama dengan anak laki lakinya.
Akhir tahun 1992, inilah cerita awalnya., mertua dan opung bayo ( kak Enim, istri dari abang Ananda ) datang ke Gresik, saat itu gue masih bekerja di IKPT mengerjakan Project Ammonia & Urea di Petrokimia Gresik sebagai Site Finance Project, saat itulah ada satu permintaan dan menurut gue bukan suatu permohonan ke kami ( maksudnya gue & duma ), agar tinggal dan kembali bekerja di Jakarta, karena pada saat itu mertua dirumah hanya tinggal berdua saja dengan Iya, itupun sehari harinya Iya berangkat kerja pagi, pulangnya sudah malam, kalau gak salah, Iya pulang kerja langsung kuliah lagi di Akademi Bahasa Asing.
Ada beberapa pertimbangan pada waktu itu yang harus gue ambil, pertimbangan pertama, awal tahun depan gue putus kontrak kerja dengan IKPT, dan belum tau lagi kemana gue ditempatkan sesudah itu, yang kedua, ngebayangin., betapa sepinya kehidupan mertua gue sehari hari dirumah dari pagi sampai malam, yang ketiga., HOLONG ( ini bisa berarti KASIH, bisa juga berarti kasihan deh..! ), mungkin inilah yang menjadi prioritas, bukan apa apa sih., waktu gue kena PHK akhir bulan Februari 1991 dari PT.Perkebunan XI, bulan Aprilnya gue sudah bekerja lagi di IKPT, kalau memang gue gak ada niat pindah ke Jakarta, bisa aja gue nyari lagi disana, karena memang habitat pekerjaan gue sudah mengakar di Jawa Timur, kalau di Jakarta..? wow…!
Maret 1993, itulah awal gue pindah ke Jakarta dan tinggal bersama mertua didaerah Cilandak Dalam, lalu lanjut bulan Novembernya pindah ke Bogor dan tetap tinggal bersama mertua.
Dan inilah “ MOTHER INLAW IN MEMORY “.
Orang bijak mengatakan “ cerita cerita yang pahit, yang getir, yang pedes, yang ngenesin dan yang nyebelin, lebih baik dipendam dalam dalam kedalam sumur, tapi cerita tentang terang, tentang garam, tentang matahari, tentang bulan dan tentang anggur, kereklah setinggi mungkin, kalau perlu bintangpun dapat merasakannya “ .
Disini gue mau cerita tentang hal hal yang manis, yang berkesan, yang indah dan yang abadi saat kebersamaan kami ( gue, Duma, Andre dan Ardith ) bersama orangtua / opung tercinta.
Siang hari di pertengahan tahun 1993, ‘Bang Nanda telpon gue dan nanyain “ Dom, kamu bisa gak mengantar mamak ke Jambi, ada saudara kita Poltak Nasution meninggal disana dan akan dimakamkan besok “,
sore harinya gue kerumah ‘Bang Nanda ambil mobil Taft GT , uang untuk bahan bakar dan biaya selama disana , berangkatlah kita sekitar jam 6 sore, yang berangkat, gue sebagai driver, Eddy Nasution sebagai penggembira, David Nasution, Ny.Haman Nasution, Duma dan Mertua gue, saat itu Andre gak ikut dan langsung diboyong untuk nginep dirumah ‘Bang Nanda, inilah pertama kalinya gue bawa mobil ke Sumatra, karena gak tau jalan, gak tau daerah yang rawan, yah., singkat aja terus, malah tengah malam kita sempet berhenti dulu untuk istirahat di warung di tengah hutan disekitar daerah Beringin, mungkin yang pada nongkrong di warung pada bingung dan berpikir, nih., orang pada nekad nekad amat berhenti disini, kalau gak orang gila pastilah koppasus mereka itu, kita disana santai santai tuh., gue gerak badan sambil ngelurusin badan, sedangkan ibu ibunya pada masuk ke toilet, memang dasarnya gak tau yah., mau diapain lagi, awalnya rencana pemakaman jam 4 sore, katanya menunggu kedatangan kita dari Jakarta, eh.., gak taunya jam 1 siang kita udah nyampe , malah udah bersih dan rapi, memang sebelum masuk Jambi kita ke SPBU dulu dan ibu ibunya pada bedandan dulu, sampai di rumah Jambi, ‘Bang Apul langsung nanya “ elo lewat mana Dom, koq nyampenya cepet banget..? ”.
November 1993 kita pindah ke Bogor, Andre yang masih kelas 1 SD, tadinya sekolah di PSKD Melawai , jadi ikutan pindah dan bersekolah di Regina Pacis, wah.. Puji Tuhan sekali masih bisa dapet sekolah disana, padahal itu baru tengah tahun pelajaran, dan Puji Tuhan juga, uang masuk dan semua semuanya mertua yang bayarin ( remember tuh., dre ), saat pindah ke Bogor, dirumah itu kita masih tinggal bersama keluarganya ‘Bang Uli dan Iya, sesudah awal tahun 1994, barulah ‘Bang Uli dan keluarga pindah kedaerah Babakan madang sekitar 5 Km dari rumah, sedangkan Iya pindah ke Pamulang, sesudah menikah pada pertengahan tahun 1996.
Tahun 1994, gue sempet 2 kali ngawal mertua pulang ke Bungabondar, yang pertama kita main main sampai Danau Toba, yang kedua nganterin rapat di kantor pusat GKPA di Padang sidempuan, yang pertamanya, Iya ikut, Hanni,istrinya dan Yuni ikut juga, mereka naik dan turunnya di Teluk Kuantan, saat di Danau Toba inilah , andre nyemplung di air langsung nyanyi “Halaeluya, Haleluya” versi Batak, mertua langsung komentar ; “ Wah., andre kerasukkan sisingamangaraja “, bukan apa apa sih.,inilah pertama kalinya andre nyanyi lagu batak, sebenarnya dia tau, karena sejak dia bayi selalu gue timang timang dengan lagu batak, oh iya., ada satu kenangan manis manis jelek pada saat perjalanan ke danau toba, ceritanya gini., waktu di Pekanbaru kita nginepnya di hotel Badarusamsi, gue tidur sekamar sama Iya dan dan ratusan kecoa, masuk kamar mandi ada kecoa, mau tidur banyak kecoa, di pesawat telponpun banyak kecoanya, akhirnya gue gak tidur, hanya semedi aja semalaman, kalau Iya mah., MGP, besoknya kita jalan lagi, waktu kita mau masuk Balige, gue bilang bilang ke Iya, gantian yang nyetir, belum juga 1 Km Iya nyetir, ada polisi iseng yang berhentiin kita, minta SIM dan STNK dan periksa semua perlengkapan kendaraan, He..he..he..! tepat banget deh, padahal selama perjalanan itu gue gak punya SIM lho., sebenarnya polisi itu hanya mau cari duit aja, kita diancam tilang.,karena di mobil kotak P3 nya sudah tidak lengkap lagi, kita minta tilang., karena Mertua marah liat polisi seperti itu, alasan mertua saat itu, “sekarang inikan lagi dicanangkan konsep Marsipature huta nabe, kenapa masih ada aja polisi yang begitu, gimana mau maju bona pasogit kita ini “ Amin..!
Yang kedua, ini hanya acaranya ibu ibu di kantor pusat GKPA, karena gue bukan ibu ibu, makanya gue ama andre dan rulli berangkat ke Pematang Siantar naik bis Sampagul, kebetulan Uda Leo Simanjuntak jadi Kajari disana, dan kebetulan pula bujing juga lagi disana, jadilah kita nginep disana, pulangnya bareng bujing yang juga mau ke Bungabondar dan nginepnya di hotel Tor Sibohi.
Tahun Februari 1995, gue, duma, andre dan coco berangkat lagi ke Sumatra, tapi kita jemput U’eng dan nginep dulu di Palembang, besoknya kita langsung berangkat menuju Pekanbaru lewat Jambi, besok paginya rombongan Mertua, tulang dan nantulang Cempaka Putih dan Kak Rasmi nyampe di Pekanbaru dari Jakarta dan langsunglah dari bandara kita berangkat menuju Sipirok, saat itu isinya mobil 9 penumpang plus barang barang bawaan yang ditaruh diatas kap mobil, penumpangnya rata rata berukuran jumbo, penumpang didepan tulang Arifin baru pulang dari Rumah Sakit karena serangan jantung, jadi ngebayangkan..? waktu nyampe di Padang Matinggi kita langsung ke makam, dan tul Arifin langsung sesunggukkan kaya anak kecil yang gak dapet permen, rupanya dia sudah puluhan tahun gak pulang pulang, jadi panteslah kalau meweknya sampai segitunya, yang parah waktu kita pulangnya, barang bawaan makin bertambah, penumpang gak berkurang, jadilah beberapa kali ban kempes bukan karena bocor, tapi karena keberatan isi, kita nganter lagi rombongan ke Bandara Pekanbaru, barulah dari Pekanbaru kita pulang ngelewatin kelok 9 menuju Bukittinggi, dari Bukittinggi menuju Lubuklinggau gue mulai gantian bawa mobil sama U’eng, dan dia begitu bangganya, saat gue kasih bawa mobil dari Lubuklinggau sampai Jakarta.
16 Desember 1995, Ardith Yohanes Pardamean Harahap lahir di RS Melania Bogor, inilah cucu yang sejak dari merah, yang buka udelnya sampai yang bersihkan dari awal dilakukan oleh opungnya, cucu yang sangat manja, yang berani membangkang, berani taruh kepalanya ke pangkuan opungnya sambil minta pijitin, yang minta gak dapet dari mamanya, langsung minta ke opungnya, yang gampang minta jajan, yang pinter ngelesin opungnya, tapi kalau disuruh opungnya, gak pernah ngedumel apalagi gak mau. Didompetnya yang ada bukan foto papa mamanya, abangnya atau idolanya, tapi yang dipajang foto opungnya , ardith bilang “ ini foto pacar “, cucu yang ini, temen opungnya nonton TV, temen berantem, temen curhat dan temen berkasih kasihan, yang 1 ngasih senyum dan perhatian,yang 1 nya, ngasih uang dan perhatian, yang 1 seneng disuapin, yang 1 nya senang nyuapin, yang 1 senang di nina bobo’in, yang 1 nya senang menina bobo’in, yah., sudah kloplah mereka berdua.
Pertengahan 1996, Yunindra ( Iya ) Siregar menikah dengan Verra Br Matondang, pelaksanaan pemberkatan nikah dilaksanakan di GKPA Bungabondar, sedangkan pelaksanaan adatnya dirumah parsadaan Ompung Hasiholan di Bungabondar juga, berangkatlah kita semua kesana dengan mobil, sedangkan mertua dan ‘Bang Nanda berangkat duluan ke Medan untuk acara mangalap boru, pada saat itu , gue semobil dengan ‘Bang Dame dan ardith yang masih berumur sekitar 4 bulan, yang teringat banget waktu perjalanan itu adalah, saat keluar dari Lubuklinggau menuju Bangko, saat gue lagi ngantuk ngantuknya mau tertidur, ‘Bang Dame ngajakkin gantian nyetir, ngebayangkan., jalan menuju Bangko hanya lurus dan naik turun aja, gue disuruh gantian dan yang lain pada tidur, yah., udah selama jalan untuk ngilangin ngantuk gue makanin aja kripik paru, waktu kak Ambar bangun, dia kaget ngeliat kripik parunya yang setengah kilo sudah tandas gue makan, yah., mau gimana lagi,what ever will be will be lah,
Apa yang gue dapet dari cerita cerita diatas ini ;
Mertua gue ini, begitu mencintai semua keturunannya, dia ingin semua maju, baik dalam pendidikkan maupun dalam kerohanian, rajin berdoa untuk semua keturunannya dan rajin bertanya tentang semua keturunannya, yang hebatnya lagi, begitu banyak cucu dan cicitnya, tapi dia hapal semua nama namanya, dia begitu cinta dengan tanah leluhurnya Padangmatinggi dan Bungabondar, beliau seakan mengajarkan anak2nya, boru2nya, mantu2nya dan cucu cucunya agar ikut mencintai tanah leluhur (bona Pasogit), habis uang gak masalah, yang penting hatinya senang dan keturunannya ikut senang dan bangga serta ada kerinduan untuk terus kembali dan kembali, dan puncak dari kebanggaannya adalah., pada saat menikahkan Iya , katanya., “ inilah pesta pernikahan keluarga kita yang terakhir, dan saya mau dilaksanakan HORJA di Bungabondar “, itulah metua gue ini, untuk meraih HASANGAPON, HAGABEON dan HAMORAON semua sudah dijalankan dan semua itu dijalankan dengan HABISUKKON, sampai adiknyapun yang sudah lama tidak pulang, dibujuknya dan ikut diantarnya pulang ke Padangmatinggi, jika akhirnya beliau dimakamkan di Bungabondar, saat itu kami sudah mencintai dan rindu untuk kembali, imbasnya., harusnya beliau tidak akan sepi disana minimal sampai di level cucu, karena kami tetap akan kembali kesana untuk melihat makam, sekaligus duduk dan memijak kembali tanah yang kami cintai dan yang selalu kami rindukan. Amin…!
Loncat jauh kedepan ditahun 1998, gue mulai merintis usaha dibidang Pestisida, yang sebelumnya gue gagal bermain di bidang speedy courier, saat saat awal usaha, gue pinjem uang mertua sebesar 26,5 juta, sayangnya gue gak bagus ngelola uang hasil usaha, dan terlalu enak punya mertua gak nuntut macem macem, kebangetannya gue juga, karena mertua gak nuntut macem macem, jadinya gue suka suka aja cara ngembalikannya, menurut catatan gue yang terakhir, gue ngebalikkinnya cuma sampai 23,5 juta, yah., gitulah mertua gue ini, untuk maju dan suksesnya anak,mantu atau siapapun itu, pasti akan dibantu dan didukung, baik moril maupun materil, mantapkan., punya mertua seperti ini..?
Tahun 1999, usaha gue dibidang pestisida lagi moncer moncernya, berangkatlah gue, duma, ardith dan mertua jalan jalan ke Jawa Timur, sekalian ngirim barang ke Lamongan, dari Bogor kita berangkat pagi dan sampai di Tuban sore, nginep sehari di Tuban besoknya langsung berangkat lagi ke Lamongan, sampai di Lamongan siang, gue ditinggalin disana untuk ngurus kerjaan, mereka berangkat ke Tanggulangin untuk shoping dan langsung nginep di Jombang, mereka jalannya bersama temen gue Eddy pegawai PTP.N XI, sorenya urusan gue di Lamongan selesai dan dapet duit lumayan, gue langsung nyusul malemnya ke Jombang, besok paginya gue ngurus ngurus dulu ke PTP.N XI di Jombang, barulah selesai itu kita piknik beneran, gak ada lagi yang gue urusin disana, dari Jombang kita nginep di Kopeng Salatiga, daerahnya dingin dan pemandangannya bagus, hotelnya bagus dan bersih, kamarnya diatas kolam ikan, makanannya juga enak, macem macem ikan bakar kita cobain, besoknya kita lanjut lagi, dari Kopeng kita lewat Temanggung, Parakan, masuk Wonosobo beli lidah asap dulu, naik ke Dieng dan turunnya di Banjarnegara, masuklah kita kedaerah Purwokerto, disinilah mertua mulai banyak cerita nostalgia pada saat penjajahan Belanda, dan wanti wanti, “ jangan lupa beli getuk goreng dulu nanti ya dum., karena dulu Amang paling suka makan getuk dan selalu beli getuk goreng ini kalau pas mampir di Purwokerto “, sorenya kita nginep di hotel di Baturaden, kita ambil yang kamarnya ada connecting door, dan sepanjang sore sampai malam , mertua terus bernostalgia dengan cerita ceritanya bersama Amang pada jaman pengungsian, dia juga cerita dan ngajakkin melihat tugu monument perjuangan di area taman Baturaden, disana ada prasasti nama nama pejuang rakyat yang melawan Belanda dan ada nama adiknya disana ( Oloan Nasution ).
Tahun 2001 mertuaku bersabda “ bahwa., untuk maju dan berhasil dimasa mendatang, setiap anak harus bisa menguasai bahasa Inggris, karena dengan semakin mendunianya kehidupan ini, komunikasi lisan harus bisa dikuasai, untuk itu Andre harus kursus bahasa Inggris , nanti mamak yang akan bayar biaya kursusnya “ sabda dari panglima besar memang sedikit dogma, jadi tidak bisa diacuhkan begitu saja, dan kalau ditimbang timbang memang benar, dan saat itu kami memang tidak terpikirkan, maka kami daftarkanlah Andre di LIA dan bayarkan biaya kursusnya untuk 1 periode kursus, sejak itulah andre mengikuti kursus di LIA sampai tamat ditingkat Advance, dorongan dan dukungan dari mertua sangat memacu, jadi janganlah ditambah lagi dengan dukungan financial untuk seterusnya, jadi cukuplah diawal kursus, selanjutnya biarlah kami yang berusaha. ( remember lagi tuh dre., ).
Ada juga yang hanya awal dan selanjutnya diteruskan sendiri,mertua senang sekali kalau kami mengikuti undangan adat batak dan ikut hadir, dia juga senang kalau kami akrab akrab yang bersaudara, dukungan pasti ada, minimal mobilnya bebas digunakan, suatu saat duma cerita ; kalau ada kumpulan arisan Siregar Dongoran, wah., kita dibujuk untuk ikutan, malah ditawarkan, biar nanti mamak yang bayar, akhirnya kita ikutan juga dan memang awal arisan mertua yang bayar, malah waktu Tulang Agus minta kepada anggota arisan agar diadakan di Bogor, wow., mertua seneng banget, “ oh happy day “ katanya.
Kenangan kenangan bersama, yang indah dan yang abadi banyak kami alami bersama, ardith tentu gak bakalan lupa, pada saat dia bujukkin opungnya untuk naik pesawat pertama kali, apa sih., yang dia minta yang gak diikutin oleh opungnya, jadilah dia naik pesawat bersama opungnya dari Surabaya ke Jakarta, itulah ardith, cucu kesayangan dan kecintaan dari opungnya.
indah pada saat kita bersama sama ke Bromo, kita bareng dengan keluarga ‘Bang Apul, bersama dengan Tulang dan nantulang Padangmatinggi, keabadian pada saat ardith, duma dan mertua foto bareng dengan busana musim dinginnya, sukacita pada saat mereka jalan jalan ke Taman Safari di Pandaan, trenyuh pada saat kita berangkat ke Jogja dan gue cekukan melulu di mobil, dan duma diomelin gara gara gak peduli saat itu, yg lucunya., gue mendadak sembuh saat naik ketempat tidur diruang UGD RS Panti Rapih Jogja, terharu dan sedikit bingung, terjadi juga pada saat tutup tahun 2010 dirumah Bogor, pertama kali dan itulah yang terakhir, mertua bilang ke gue “ untuk bere domu, nantulang minta maaf kalau ada kesalahan selama ini, dan kepada boruku, mamak mengucapkan terima kasih karena telah menjaga dan merawat mamak selama ini “ puncak dari semua itu, saat kita salam salaman, gue mendapat cipika cipiki dari mertua, sampai sampai ardith langsung lapor ke mamanya, wah., tadi ada kejutan dari opung ‘ma “ tadi saat kita salam salaman papa dicium opung lho..! ”.
Mertuaku memang tidak ada duanya, gue bangga jadi mantu dan bangga menjadi ayah dari kedua cucunya, selamat jalan Nantulang, selamat bertemu dengan Tuhan Yesus dan selamat bersama kembali dengan orang orang yang Nantulang cintai dan mencintai Nantulang.
“ Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan,
di hadapan Mu ada sukacita berlimpah limpah,
dan ditangan kanan Mu, ada nikmat senantiasa “ Amin..!
( Mazmur 16 : 11 )
Bogor, April 2011
DmH
MOTHER IN-LAW IN MEMORY. Part 3
Kedengarannya mustahil, apalagi kalau diceritain secara panjang lebar, tapi kenyataan dilapangan benar benar terbukti, ceritanya begini ; rombongan gue tertinggal hampir 3 jam dari rombongan besar, tapi pada saat masuk ke Bungabondar , kita semuanya masuk berbarengan, believe it or not, anda boleh percaya boleh tidak, tapi begitulah kenyataannya, kalau dibilang mobil gue jalan ngebut, enggak juga, kalau dibilang gue gak makan gak istirahat, enggak juga, gue sempet koq., makan nasi goreng arab waktu tengah malam di kota Balige, kalau rombongan besar, memang kalau istirahat makannya cukup lama, udah gitu sempet berhenti nungguin gue di simpang sipirok, malah bis nya sempet ditarik truk derek, gara gara gak kuat nanjak di Aek Latong, yah…, begitulah kenyataannya, banyak tantangan, tapi bukan menjadi halangan, kalau Pdt Jusuf Ronny bilang ; semakin dihambat, semakin merambat, gak nyambung kayanya ya..?
Penunjuk waktu di camera gue saat itu tanggal 23 Maret 2011, jam 03.48, saat itulah pertama kali gue mulai jeprat jepret mengabadikan kedatangan jenazah mertua, jadi kira kira jam segitulah kita nyampe di Bungabondarnya, sampai disana kita sudah disambut dengan meriah riah dibagas godang Opung Hasiholan Siregar, mungkin saja mereka memang sudah menunggu, atau mungkin juga kebangun dari tidur, gara garanya sirene ambulance mulai ngaung ngaung sejak dari Sibadoar, coba bayangin letak dari desa tsb., Bungabondar itu desa kecil dari suatu kecamatan yang kecil, untuk kesana ngelewatin beberapa desa yang kecil kecil juga yang terpisah pisah dengan sawah atau ladang, dia berada dikaki gunung yang berbukit bukit, udaranya tidak sejuk, tapi dingin , masyarakatnya hobby berkain sarung diwaktu siang dan malam, kalau pagi, mereka berangkat ke sawah atau ke ladang, kalau malam, mereka cepat masuk kedalam peraduan, karena diwaktu malam tidak ada tempat kumpul kumpul, paling ada warung kopi, intinya semua desa disana sunyi, sepi dan hanya sedikit saja ada kehidupan, jadi bisa dibayangkanlah., bila tiba tiba ada suara ngaung ngaung di tengah malam, tapi apapun itu., kita sangat bersyukur., karena dengan suasana ramai seperti itu, kita merasa terhibur, kecuali ‘Bang Tunggal dan Hanny tentunya, yang tadinya ambulance yang meraung raung, sekarang gantian mereka yang meraung raung, sesudah selesai acara raung raung dan peluk kanan peluk kiri, cium kanan cium kiri selesai, kita mulai berkumpul dan berdoa bersama, mengucapkan syukur dan terima kasih kepada Tuhan, karena telah sampai di Bungabondar untuk membawa jenazah orangtua yang kita cintai ini, dan kita semua sehat sehat tanpa kekurangan apapun, kecuali air mata tentunya, itupun masih diklasifikasi lagi, karena ada yang keluar sampai 1 gelas air minum, ada yang keluar sampai 1 sendok makan dan ada juga yang hanya 1 titik, itupun keluarnya dari mata yang sebelah kiri. Maksud elo…?
Mau tidur tanggung, mau gak tidur badan sudah serasa cape, tapi mata sudah gak mau merem lagi, jadi deh., di pagi pagi yang dingin ini, kita nyibukkin diri sambil ngopi, sambil ngobrol ngobrol dan bebenah bebenah yang gak jelas, tapi yang paling jelas disana adalah ; gue itu anak boru , jadi harus lebih kelihatan sibuk, disana ada juga yang statusnya mora, yang harus lebih kelihatan berwibawa, mora boleh duduk manis didepan rumah dan berdiri bertolak pinggang, anak boru juga boleh, tapi dibelakang sana dekat dapur, inilah play of the game masyarakat kita di kampung sana.
Jam 12 siang, kita semua yang laki laki berkumpul dirumah sebelah, istilahnya yang 1 pinggan panganan, untuk mengajukan permohonan kepada masyarakat , hatobangon dan raja adat di Bungabondar agar dapat melaksanakan adat godang untuk keberangkatan jenazah dari rumah ketempat peristirahatannya yang terakhir, sedangkan yang perempuannya, tidak terlibat didalam perhelatan adat, mereka hanya berkumpul, bernyanyi nyanyi disekitar peti jenazah, menerima tamu yang datang dan yang sebagian lagi sibuk sibuk mempersiapkan makanan untuk peserta rapat adat, itulah fungsi perempuan, gak punya hak suara, apalagi hak veto dalam membicarakan adat.
Selesai acara adat partahion dan permohonan kita disetujui oleh mereka, yang nantinya merekalah yang akan membawa permohonan kita ini kepada raja raja adat diseantero desa yang berada disekitar Sibual buali, barulah kita ngasih makan ke mereka, tinggal gue yang bertanya tanya, jika permohonan kita tidak disetujui, apakah kita tetap kasih makan ke mereka..? setau gue dan yang selama ini gue ikutin, belum pernah ada sih., yang tidak disetujui, karena adat adalah pemufakatan dari suatu pemusyawarahan.
Ngasih makanan ke mereka juga ada aturan mainnya, yang menghidangkan harus dari fihak anak boru, menghidangkannya gak boleh nungging apalagi jongkok, ngasihnya harus satu satu, harus pake tangan kanan, gak boleh pake tangan kiri dan yang ngasih dengkulnya harus nempel pada lantai, yang gak biasa kaya gue ini, pastinya gemeteran tuh dengkul, gue udah 4 kali menjalankan prosesi adat seperti ini di Bungabondar, jadi gue udeh tau cara ngakalinnya, gue cukup berdiri dipintu masuk dan hanya melanjutkan setiap kiriman dari dapur kepada petugas yang menghidangkan kedalam, jadi gue gak perlu harus bongkok bongkok didalam, konpensasinya., setiap acara tsb, gue pasti sudah mempersiapkan beberapa bungkus ji samsu untuk mereka, supaya mereka gak ngambek dan komplain ke gue, maklumlah tinggal gue satu satunya hela ( bere pendatang ) dirumah tsb .
Malamnya dilanjutkan kembali permohonan untuk dapat melaksanakan adat godang, yang sekarang ini dilakukan oleh hatobangon dan raja adat Bungabondar ( Suhut dan kahanggi hanya mendampingi ) kepada raja raja adat disekitar wilayah Sibualbuali ( mardomu bulung napa napa ni Sibual buali ), dan kembali lagi Ji sam su beredar. Yah., begitulah nasib yang takut dengkulnya gemetaran.
Acara hari ini dari pagi sampai malam cukup dan malah sangat melelahkan, yang hadir dirumah untuk melihat jenazah sangat beragam, tidak mengenal tingkatan, tidak mengenal kasta, malah membedakan mana yang muslim dan non muslim saja tidak ketauan, inilah hebatnya Bungabondar, makanya gue selalu bangga dan selalu rindu untuk kembali kesana, yang datang, ada yang langsung masuk kerumah, ada juga yang menyerahkan beras dulu kedepan rumah , pas didalamnya, ada yang langsung duduk manis, ada yang melihat jenazah dulu dan berdoa dan kalau datangnya rombongan, biasanya mereka buat acara kebaktian penghiburan dulu ( rombongan pomparan Sutan Doli dari Pd Sidempuan ) ada juga yang habis bikin acara langsung pada manortor mengelilingi peti jenazah ( rombongan Tambunan dari Pd Sidempuan ), akhirnya juga, parumaennya, borunya dan beberapa pahompunya dari mertua gue ikut juga manortor mengelilingi peti jenazah, tentunya dengan berbagai gaya dan ekspresi.
Alkitab ada menulis :
“ Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan, sekali lagi Ku katakan bersukacitalah.! “ ( Filipi 4 : 4 ).
Kalau orang Batak bilang :
“ Bersukacitalah., karena Orangtuamu, Opungmu telah berumur panjang, dia telah mempunyai
keturunan, anak maupun boru, dia telah mempunyai pahompu dari anak maupun dari boru, itu namanya saur martua, jadi sekali lagi orang Batak katakan bersukacitalah.!
Maka sore harinya, datanglah rombongan musik dari gereja GKPA resort Bungabondar lengkap dengan terompet besarnya, kita bernyanyi dengan nada nada sendu tapi yang berpengharapan, kita bernyanyi nada nada dengan riang yang penuh dengan sukacita dan mereka yang mengiringi, kadang timbul isak tangis yang pilu, kadang ada juga yang mangandung ( ratapan gaya orang batak ) yang mengiris hati (malattuk ate ate ki, kata orang Angkola), kadang pula ada yang marnortor dengan gaya yang atraktif pada saat menyanyikan lagu “ Marolop olop tondingki “, bener benerlah pada saat itu, hati kita diaduk aduk bercampu aduk dengan diiringi lagu lagu yang bercampur sari.
Menjelang jam 10 malam datanglah rombongan Pendeta, majelis dan naposobulung gereja GKPA, mereka membuat kebaktian penghiburan, dilanjutkan dengan nyanyian nyanyian penghiburan sampai tengah malam, berhubung saat itu gue sudah ngantuk banget dan naposobulung masih lanjut terus yang nyanyinya , yah., akhirnya gue menyerah juga, tanpa ragu dan sungkan, gue masuk kekolong tempat tidur dimana peti jenazah itu ditempatkan, nah., gue tidurlah disana sambil tutup kuping dengan bantal, dan tertidurlah gue sampai pagi,
Hari Kamis, tgl 24 Maret 2011 jam setengah 7 pagi, gue udah hadir dipelataran tanah kosong disebelah rumah, katanya., karena gue boru, makanya gue harus hadir untuk menyaksikan pemotongan kerbau, saat itu, disaksikan juga oleh raja adat berikut para staff ahlinya, nantinya gue harus lapor kepada keluarga yang berduka bersama dengan yang berduka lainnya ( Siregar ), yang mengatakan, bahwa ; Kerbau telah dipotong dan semua perangkat untuk melaksanakan acara adat ( topi bercerobong, pedang, tombak, gong dan bendera bendera raja ) telah siap untuk digunakan, sesudah laporan selesai, maka dimulailah semua atribut itu dipasang didepan rumah, untuk yang berfungsi sebagai raja, topi bercerobong dipakaikan kepada Boy Siregar ( cucu tertua Siregar ), sedangkan yang berfungsi sebagai bodyguard, pakaiannya diserahkan kepada Ardith Harahap ( sebagai boru ), yang megang payung untuk melindungi raja diserahkan kepada Daniel Tanjung, pemegang tombak diserahkan kepada Tauji Sihombing , yang pegang pedang, gue lupa , yang pegang salib Iwan Batubara, yang pegang foto Yuni Siregar, kira kira gitulah pembagian tugasnya.
Sesudah makan siang selesai, dimulailah acara adat di halaman rumah, peti jenazah dibawa keluar, sudah gitu dimasukkan kedalam hombung ( penutup peti ), lalu dimulai acara mandok hata ( kata sambutan ) termasuk membacakan daftar riwayat hidup Almarhumah oleh Yunindra Siregar, tulang Agus kebagian mandok hata mewakili Siregar anak rantau, gue mewakili sebagai anak boru/hela, barulah yang lain lain menyusul, terakhir., sesudah raja panusunan bulung selesai bicara, barulah ditebar beras kuning dan uang logam receh 500 an di halaman rumah, disinilah anak anak kecil pada berebut mungutin recehan, pada saat acara mandok hata hujan turun dan cukup lebat, jadi yang ngomong maupun yang ngedengerin pada mepet kedeket tembok, termasuk Boy yang menjadi raja setengah hari bersama pasukannya, tapi pada saat nebarin uang, hujan langsung berhenti, kira kira apa artinya ya..? mungkin juga orang Bungabondar sudah terbiasa melihat orang menebarkan omongan, tapi jarang melihat orang menebarkan uang, jadi alampun ikut mendukung kenyataan itu, namanya juga berasumsi, boleh boleh aja dong.,
Setelah acara tebar menebar selesai, diangkatlah hombung tsb, aturannya juga ada, yang berduka ngangkatnya dari depan, yang lebih sedikit berduka ( boru ) ngangkatnya yang dibelakang, aturan lainnya., sebelum maju terus, harus maju mundur dulu sebanyak 7 kali sambil mengikuti aba aba dari raja panusunan bulung ( raja adat pada saat itu, yang ditunjuk mewakili dari raja raja adat yang lain ), selesai maju mundur, barulah diangkat menuju tempat pemakaman, karena yang meninggal Kristen, maka jenazah dibawa dulu ke gereja GKPA resort Bungabondar, karena didalam gereja tidak ada acara adat, maka semua atribut yang menyangkut dengan urusan adat harus dilepaskan, masuklah peti jenazah kedalam gereja untuk disemayamkan, dan disanalah kita membuat kebaktian pemberangkatan yang dipimpin oleh Pendeta J Siregar STh dan yang terakhir, prosesi melihat wajah terakhir dari mendiang sebelum peti ditutup untuk terakhir kalinya, kita semua termasuk jemaat gereja berjalan kedepan altar dan mengelilingi peti jenazah untuk memandang, menikmati, dan menghayati detik detik terakhir bersama orangtua tercinta didunia ini, isak tangis, gumamam yang tidak jelas dan ucapan selamat jalan terus didesahkan oleh kita kita semua,
“ Selamat jalan mamak, selamat jalan nantulang, selamat jalan namboru dan selamat jalan opung, kami sangat bersyukur dan sangat berterima kasih kepada Tuhan, karena mempunyai orangtua yang begitu mengasihi kami, menyayangi kami dan selalu berada di tengah tengah kami, pada saat kami terkendala dalam kehidupan ini, doa doamu tak pernah putus dihadapan Tuhan untuk kami, dan kami akan terus mengenang semua kebaikkanmu, keteladanmu dan berusaha untuk terus menjalankan dan belajar apa yang telah kau ajarkan kepada kami, kesejukkan senyummu, tentulah menjadi kenangan manis bagi kami semua. Amin…!
Tempat pemakamannya tepat disamping gereja, dari jendela gereja kita dapat liat langsung melihatnya, jadi gak terlalu jauh kita mengangkat peti jenazah, posisi liang makam ditaruh disamping dari makam namborunya dan bukan sejajar dengan posisi makam dari Tulang ( mertua laki laki ), kenapa seperti itu..? yah., itulah salah satu permintaan dari nantulang ( mertua perempuan ) pada saat hidupnya, jadi kita semua turunannya hanya menjalankan permintaan itu, kalau ada yang mau protes, proteslah., tapi nanti saja kalau sudah bertemu diatas ( banua ginjang ) dengan semua orangtua kita yang dimakamkan disana, itupun kalau kita bisa ketemu mereka diatas, jangan jangan kita semua hanya kebagian jatah dibawah, gue ngomong begini, karena ada aja yang nanya, koq.. ditaruh disitu sih, kenapa tidak disitu sih..? yah., kita repot dong ngejelasinnya, wasiat yah., wasiat, gak usahlah diperdebatkan terus, apalagi gara gara hal kecil seperti itu, sampai ada yang harusnya ikut, jadi gak ikut, sampai ada yang mau mendukung, jadi gak ikut mendukung, apa ini yang dimaksud dengan sihutur na mata..? no comment..!
Malamnya kita semua kumpul lagi, sekarang acara paulakkon mora ( acara adat untuk mengucapkan tks kepada mora Nasution, karena telah hadir dan telah mendukung dalam acara adat pemakaman ), disini kita memberikan kenang kenangan ( parmanoan ) kepada mereka, biasanya dalam bentuk pakaian , kain atau apapun itu yang biasa dipakai oleh almarhum, nah., pada saat memberikan makan kepada mereka, yang mehidangkan bukan oleh grup gue lagi, tapi oleh anak borunya Nasution, jadilah para Siregar yang sibuk, pokoknya dalam setiap acara orang Batak, gak ada acara yang gak pake makan, tinggallah gue yang enak enak nontonin Siregar sibuk, tapi inget., jangan deket deket, pamali.., kata orang Sunda.
Urusan dengan mora selesai, sekarang hari Jum’at tanggal 25 Maret, tinggal urusannya Suhut beserta kahangginya Siregar berhadapan dengan anakboru plus parhobas lainnya, kita semua anakboru duduk manis, mereka yang melayani, kita semua anak boru mesem mesem,mereka tersipu sipu, kita santai santai mereka pada pegel linu yang menghidangkan,
diacara ini mereka mengucapkan tks juga kepada kita, dengan sedikit basa basi, katanya ; tanpa kalian kami tidak bisa berbuat apa2, karena kalianlah, makanya acara kita dapat berjalan dengan baik, Amin..! udah gitu diserahkanlah oleh mereka jambar ( potongan daging kerbau ) kepada anakboru, jambar jatah anakboru adalah leher, yang menandakan bahwa anakboru adalah penopang, pendukung bagi moranya, padahal menurut gue, sebenarnya leher itu adalah pengatur kemana kepala berputar,
wow.. mudah mudahan mora gue gak baca nih.,
Selesai dibagikan jambar, kita gak dapet kenang kenangan seperti mora mereka, tapi kita dapetnya jatah amplop, tapi cukuplah untuk beli yang bekas bekas juga , yang ini mudah mudahan gak dibaca juga.
Puji Tuhan..! Selesai sudah semua acara pemakaman, baik adat maupun gerejanya, tinggallah kita semua tercenung dan merenung,
“ Masih adakah matahariku yang selalu memberikan sinarnya kepadaku, di hari hari esok kehidupanku,
Dan, masih adakah bulanku, yang selalu meredam teriknya panas matahari dihari hari esok kehidupanku “.
Bogor, Maret 2011
DmH
Penunjuk waktu di camera gue saat itu tanggal 23 Maret 2011, jam 03.48, saat itulah pertama kali gue mulai jeprat jepret mengabadikan kedatangan jenazah mertua, jadi kira kira jam segitulah kita nyampe di Bungabondarnya, sampai disana kita sudah disambut dengan meriah riah dibagas godang Opung Hasiholan Siregar, mungkin saja mereka memang sudah menunggu, atau mungkin juga kebangun dari tidur, gara garanya sirene ambulance mulai ngaung ngaung sejak dari Sibadoar, coba bayangin letak dari desa tsb., Bungabondar itu desa kecil dari suatu kecamatan yang kecil, untuk kesana ngelewatin beberapa desa yang kecil kecil juga yang terpisah pisah dengan sawah atau ladang, dia berada dikaki gunung yang berbukit bukit, udaranya tidak sejuk, tapi dingin , masyarakatnya hobby berkain sarung diwaktu siang dan malam, kalau pagi, mereka berangkat ke sawah atau ke ladang, kalau malam, mereka cepat masuk kedalam peraduan, karena diwaktu malam tidak ada tempat kumpul kumpul, paling ada warung kopi, intinya semua desa disana sunyi, sepi dan hanya sedikit saja ada kehidupan, jadi bisa dibayangkanlah., bila tiba tiba ada suara ngaung ngaung di tengah malam, tapi apapun itu., kita sangat bersyukur., karena dengan suasana ramai seperti itu, kita merasa terhibur, kecuali ‘Bang Tunggal dan Hanny tentunya, yang tadinya ambulance yang meraung raung, sekarang gantian mereka yang meraung raung, sesudah selesai acara raung raung dan peluk kanan peluk kiri, cium kanan cium kiri selesai, kita mulai berkumpul dan berdoa bersama, mengucapkan syukur dan terima kasih kepada Tuhan, karena telah sampai di Bungabondar untuk membawa jenazah orangtua yang kita cintai ini, dan kita semua sehat sehat tanpa kekurangan apapun, kecuali air mata tentunya, itupun masih diklasifikasi lagi, karena ada yang keluar sampai 1 gelas air minum, ada yang keluar sampai 1 sendok makan dan ada juga yang hanya 1 titik, itupun keluarnya dari mata yang sebelah kiri. Maksud elo…?
Mau tidur tanggung, mau gak tidur badan sudah serasa cape, tapi mata sudah gak mau merem lagi, jadi deh., di pagi pagi yang dingin ini, kita nyibukkin diri sambil ngopi, sambil ngobrol ngobrol dan bebenah bebenah yang gak jelas, tapi yang paling jelas disana adalah ; gue itu anak boru , jadi harus lebih kelihatan sibuk, disana ada juga yang statusnya mora, yang harus lebih kelihatan berwibawa, mora boleh duduk manis didepan rumah dan berdiri bertolak pinggang, anak boru juga boleh, tapi dibelakang sana dekat dapur, inilah play of the game masyarakat kita di kampung sana.
Jam 12 siang, kita semua yang laki laki berkumpul dirumah sebelah, istilahnya yang 1 pinggan panganan, untuk mengajukan permohonan kepada masyarakat , hatobangon dan raja adat di Bungabondar agar dapat melaksanakan adat godang untuk keberangkatan jenazah dari rumah ketempat peristirahatannya yang terakhir, sedangkan yang perempuannya, tidak terlibat didalam perhelatan adat, mereka hanya berkumpul, bernyanyi nyanyi disekitar peti jenazah, menerima tamu yang datang dan yang sebagian lagi sibuk sibuk mempersiapkan makanan untuk peserta rapat adat, itulah fungsi perempuan, gak punya hak suara, apalagi hak veto dalam membicarakan adat.
Selesai acara adat partahion dan permohonan kita disetujui oleh mereka, yang nantinya merekalah yang akan membawa permohonan kita ini kepada raja raja adat diseantero desa yang berada disekitar Sibual buali, barulah kita ngasih makan ke mereka, tinggal gue yang bertanya tanya, jika permohonan kita tidak disetujui, apakah kita tetap kasih makan ke mereka..? setau gue dan yang selama ini gue ikutin, belum pernah ada sih., yang tidak disetujui, karena adat adalah pemufakatan dari suatu pemusyawarahan.
Ngasih makanan ke mereka juga ada aturan mainnya, yang menghidangkan harus dari fihak anak boru, menghidangkannya gak boleh nungging apalagi jongkok, ngasihnya harus satu satu, harus pake tangan kanan, gak boleh pake tangan kiri dan yang ngasih dengkulnya harus nempel pada lantai, yang gak biasa kaya gue ini, pastinya gemeteran tuh dengkul, gue udah 4 kali menjalankan prosesi adat seperti ini di Bungabondar, jadi gue udeh tau cara ngakalinnya, gue cukup berdiri dipintu masuk dan hanya melanjutkan setiap kiriman dari dapur kepada petugas yang menghidangkan kedalam, jadi gue gak perlu harus bongkok bongkok didalam, konpensasinya., setiap acara tsb, gue pasti sudah mempersiapkan beberapa bungkus ji samsu untuk mereka, supaya mereka gak ngambek dan komplain ke gue, maklumlah tinggal gue satu satunya hela ( bere pendatang ) dirumah tsb .
Malamnya dilanjutkan kembali permohonan untuk dapat melaksanakan adat godang, yang sekarang ini dilakukan oleh hatobangon dan raja adat Bungabondar ( Suhut dan kahanggi hanya mendampingi ) kepada raja raja adat disekitar wilayah Sibualbuali ( mardomu bulung napa napa ni Sibual buali ), dan kembali lagi Ji sam su beredar. Yah., begitulah nasib yang takut dengkulnya gemetaran.
Acara hari ini dari pagi sampai malam cukup dan malah sangat melelahkan, yang hadir dirumah untuk melihat jenazah sangat beragam, tidak mengenal tingkatan, tidak mengenal kasta, malah membedakan mana yang muslim dan non muslim saja tidak ketauan, inilah hebatnya Bungabondar, makanya gue selalu bangga dan selalu rindu untuk kembali kesana, yang datang, ada yang langsung masuk kerumah, ada juga yang menyerahkan beras dulu kedepan rumah , pas didalamnya, ada yang langsung duduk manis, ada yang melihat jenazah dulu dan berdoa dan kalau datangnya rombongan, biasanya mereka buat acara kebaktian penghiburan dulu ( rombongan pomparan Sutan Doli dari Pd Sidempuan ) ada juga yang habis bikin acara langsung pada manortor mengelilingi peti jenazah ( rombongan Tambunan dari Pd Sidempuan ), akhirnya juga, parumaennya, borunya dan beberapa pahompunya dari mertua gue ikut juga manortor mengelilingi peti jenazah, tentunya dengan berbagai gaya dan ekspresi.
Alkitab ada menulis :
“ Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan, sekali lagi Ku katakan bersukacitalah.! “ ( Filipi 4 : 4 ).
Kalau orang Batak bilang :
“ Bersukacitalah., karena Orangtuamu, Opungmu telah berumur panjang, dia telah mempunyai
keturunan, anak maupun boru, dia telah mempunyai pahompu dari anak maupun dari boru, itu namanya saur martua, jadi sekali lagi orang Batak katakan bersukacitalah.!
Maka sore harinya, datanglah rombongan musik dari gereja GKPA resort Bungabondar lengkap dengan terompet besarnya, kita bernyanyi dengan nada nada sendu tapi yang berpengharapan, kita bernyanyi nada nada dengan riang yang penuh dengan sukacita dan mereka yang mengiringi, kadang timbul isak tangis yang pilu, kadang ada juga yang mangandung ( ratapan gaya orang batak ) yang mengiris hati (malattuk ate ate ki, kata orang Angkola), kadang pula ada yang marnortor dengan gaya yang atraktif pada saat menyanyikan lagu “ Marolop olop tondingki “, bener benerlah pada saat itu, hati kita diaduk aduk bercampu aduk dengan diiringi lagu lagu yang bercampur sari.
Menjelang jam 10 malam datanglah rombongan Pendeta, majelis dan naposobulung gereja GKPA, mereka membuat kebaktian penghiburan, dilanjutkan dengan nyanyian nyanyian penghiburan sampai tengah malam, berhubung saat itu gue sudah ngantuk banget dan naposobulung masih lanjut terus yang nyanyinya , yah., akhirnya gue menyerah juga, tanpa ragu dan sungkan, gue masuk kekolong tempat tidur dimana peti jenazah itu ditempatkan, nah., gue tidurlah disana sambil tutup kuping dengan bantal, dan tertidurlah gue sampai pagi,
Hari Kamis, tgl 24 Maret 2011 jam setengah 7 pagi, gue udah hadir dipelataran tanah kosong disebelah rumah, katanya., karena gue boru, makanya gue harus hadir untuk menyaksikan pemotongan kerbau, saat itu, disaksikan juga oleh raja adat berikut para staff ahlinya, nantinya gue harus lapor kepada keluarga yang berduka bersama dengan yang berduka lainnya ( Siregar ), yang mengatakan, bahwa ; Kerbau telah dipotong dan semua perangkat untuk melaksanakan acara adat ( topi bercerobong, pedang, tombak, gong dan bendera bendera raja ) telah siap untuk digunakan, sesudah laporan selesai, maka dimulailah semua atribut itu dipasang didepan rumah, untuk yang berfungsi sebagai raja, topi bercerobong dipakaikan kepada Boy Siregar ( cucu tertua Siregar ), sedangkan yang berfungsi sebagai bodyguard, pakaiannya diserahkan kepada Ardith Harahap ( sebagai boru ), yang megang payung untuk melindungi raja diserahkan kepada Daniel Tanjung, pemegang tombak diserahkan kepada Tauji Sihombing , yang pegang pedang, gue lupa , yang pegang salib Iwan Batubara, yang pegang foto Yuni Siregar, kira kira gitulah pembagian tugasnya.
Sesudah makan siang selesai, dimulailah acara adat di halaman rumah, peti jenazah dibawa keluar, sudah gitu dimasukkan kedalam hombung ( penutup peti ), lalu dimulai acara mandok hata ( kata sambutan ) termasuk membacakan daftar riwayat hidup Almarhumah oleh Yunindra Siregar, tulang Agus kebagian mandok hata mewakili Siregar anak rantau, gue mewakili sebagai anak boru/hela, barulah yang lain lain menyusul, terakhir., sesudah raja panusunan bulung selesai bicara, barulah ditebar beras kuning dan uang logam receh 500 an di halaman rumah, disinilah anak anak kecil pada berebut mungutin recehan, pada saat acara mandok hata hujan turun dan cukup lebat, jadi yang ngomong maupun yang ngedengerin pada mepet kedeket tembok, termasuk Boy yang menjadi raja setengah hari bersama pasukannya, tapi pada saat nebarin uang, hujan langsung berhenti, kira kira apa artinya ya..? mungkin juga orang Bungabondar sudah terbiasa melihat orang menebarkan omongan, tapi jarang melihat orang menebarkan uang, jadi alampun ikut mendukung kenyataan itu, namanya juga berasumsi, boleh boleh aja dong.,
Setelah acara tebar menebar selesai, diangkatlah hombung tsb, aturannya juga ada, yang berduka ngangkatnya dari depan, yang lebih sedikit berduka ( boru ) ngangkatnya yang dibelakang, aturan lainnya., sebelum maju terus, harus maju mundur dulu sebanyak 7 kali sambil mengikuti aba aba dari raja panusunan bulung ( raja adat pada saat itu, yang ditunjuk mewakili dari raja raja adat yang lain ), selesai maju mundur, barulah diangkat menuju tempat pemakaman, karena yang meninggal Kristen, maka jenazah dibawa dulu ke gereja GKPA resort Bungabondar, karena didalam gereja tidak ada acara adat, maka semua atribut yang menyangkut dengan urusan adat harus dilepaskan, masuklah peti jenazah kedalam gereja untuk disemayamkan, dan disanalah kita membuat kebaktian pemberangkatan yang dipimpin oleh Pendeta J Siregar STh dan yang terakhir, prosesi melihat wajah terakhir dari mendiang sebelum peti ditutup untuk terakhir kalinya, kita semua termasuk jemaat gereja berjalan kedepan altar dan mengelilingi peti jenazah untuk memandang, menikmati, dan menghayati detik detik terakhir bersama orangtua tercinta didunia ini, isak tangis, gumamam yang tidak jelas dan ucapan selamat jalan terus didesahkan oleh kita kita semua,
“ Selamat jalan mamak, selamat jalan nantulang, selamat jalan namboru dan selamat jalan opung, kami sangat bersyukur dan sangat berterima kasih kepada Tuhan, karena mempunyai orangtua yang begitu mengasihi kami, menyayangi kami dan selalu berada di tengah tengah kami, pada saat kami terkendala dalam kehidupan ini, doa doamu tak pernah putus dihadapan Tuhan untuk kami, dan kami akan terus mengenang semua kebaikkanmu, keteladanmu dan berusaha untuk terus menjalankan dan belajar apa yang telah kau ajarkan kepada kami, kesejukkan senyummu, tentulah menjadi kenangan manis bagi kami semua. Amin…!
Tempat pemakamannya tepat disamping gereja, dari jendela gereja kita dapat liat langsung melihatnya, jadi gak terlalu jauh kita mengangkat peti jenazah, posisi liang makam ditaruh disamping dari makam namborunya dan bukan sejajar dengan posisi makam dari Tulang ( mertua laki laki ), kenapa seperti itu..? yah., itulah salah satu permintaan dari nantulang ( mertua perempuan ) pada saat hidupnya, jadi kita semua turunannya hanya menjalankan permintaan itu, kalau ada yang mau protes, proteslah., tapi nanti saja kalau sudah bertemu diatas ( banua ginjang ) dengan semua orangtua kita yang dimakamkan disana, itupun kalau kita bisa ketemu mereka diatas, jangan jangan kita semua hanya kebagian jatah dibawah, gue ngomong begini, karena ada aja yang nanya, koq.. ditaruh disitu sih, kenapa tidak disitu sih..? yah., kita repot dong ngejelasinnya, wasiat yah., wasiat, gak usahlah diperdebatkan terus, apalagi gara gara hal kecil seperti itu, sampai ada yang harusnya ikut, jadi gak ikut, sampai ada yang mau mendukung, jadi gak ikut mendukung, apa ini yang dimaksud dengan sihutur na mata..? no comment..!
Malamnya kita semua kumpul lagi, sekarang acara paulakkon mora ( acara adat untuk mengucapkan tks kepada mora Nasution, karena telah hadir dan telah mendukung dalam acara adat pemakaman ), disini kita memberikan kenang kenangan ( parmanoan ) kepada mereka, biasanya dalam bentuk pakaian , kain atau apapun itu yang biasa dipakai oleh almarhum, nah., pada saat memberikan makan kepada mereka, yang mehidangkan bukan oleh grup gue lagi, tapi oleh anak borunya Nasution, jadilah para Siregar yang sibuk, pokoknya dalam setiap acara orang Batak, gak ada acara yang gak pake makan, tinggallah gue yang enak enak nontonin Siregar sibuk, tapi inget., jangan deket deket, pamali.., kata orang Sunda.
Urusan dengan mora selesai, sekarang hari Jum’at tanggal 25 Maret, tinggal urusannya Suhut beserta kahangginya Siregar berhadapan dengan anakboru plus parhobas lainnya, kita semua anakboru duduk manis, mereka yang melayani, kita semua anak boru mesem mesem,mereka tersipu sipu, kita santai santai mereka pada pegel linu yang menghidangkan,
diacara ini mereka mengucapkan tks juga kepada kita, dengan sedikit basa basi, katanya ; tanpa kalian kami tidak bisa berbuat apa2, karena kalianlah, makanya acara kita dapat berjalan dengan baik, Amin..! udah gitu diserahkanlah oleh mereka jambar ( potongan daging kerbau ) kepada anakboru, jambar jatah anakboru adalah leher, yang menandakan bahwa anakboru adalah penopang, pendukung bagi moranya, padahal menurut gue, sebenarnya leher itu adalah pengatur kemana kepala berputar,
wow.. mudah mudahan mora gue gak baca nih.,
Selesai dibagikan jambar, kita gak dapet kenang kenangan seperti mora mereka, tapi kita dapetnya jatah amplop, tapi cukuplah untuk beli yang bekas bekas juga , yang ini mudah mudahan gak dibaca juga.
Puji Tuhan..! Selesai sudah semua acara pemakaman, baik adat maupun gerejanya, tinggallah kita semua tercenung dan merenung,
“ Masih adakah matahariku yang selalu memberikan sinarnya kepadaku, di hari hari esok kehidupanku,
Dan, masih adakah bulanku, yang selalu meredam teriknya panas matahari dihari hari esok kehidupanku “.
Bogor, Maret 2011
DmH
MOTHER IN-LAW IN MEMORY. Part 2
Tgl 21 Maret 2011 jam 7 pagi, mumpung belum ada saudara saudara yang datang dan suasana dirumah juga masih sepi, kita yang laki laki kumpul untuk membuat rencana ini hari dan rencana keberangkatan jenazah ke Bungabondar, karena gue yang memulai, yah., gue lah yang harus mencatat, karena gue yang tukang catat, maka gue lah yang harus banyak bertanya, dan karena gue terlalu banyak bertanya, konsekuensinya gue yang harus bertanggung jawab untuk pelaksanaannya, ditempat lain gue bisa, kenapa dikandang sendiri gue gak bisa, kira kira gitulah pikiran gue saat itu.
‘Bang Udin bilang, “ kita banyak tantangan, tapi itu bukan menjadi halangan kita ”, terbukti., pada saat kita mengurus tiket pesawat ke Medan untuk 22 orang, kita langsung dapat penerbangan dengan Lion Air pada hari Selasa tgl 22 Maret 2011 jam 11, dan itu tanpa terpisah dalam jadwal penerbangannya, malah dapat dengan harga setengah promosi, waduuuh.. thanks you banget Lion Air..! ada juga tantangan yang lain, rupanya agent Lion Air di Bogor tidak bisa membantu mengurus cargo peti jenazah, harus langsung ke bandara dan harus mengurus sendiri, lho…, kalau pesawat yang jam 11 cargonya sudah penuh, masa peti jenazah tidak ada yang dampingin sih…? kutak sana kutik sini, pikir sana pikir sini, gue langsung inget, kalau Lion Air punya jadwal penerbangan keluar negeri, kalau punya yang keluar negeri, pastinya ada juga ketergantungannya dengan bea dan cukai, nah.., untuk apa gue banyak temen bea cukai disana kalau gue gak bisa minta tolong ke mereka, kira kira gitulah pikiran gue saat itu, hari ini, siang ini urusan tiket dan cargo beres, tinggal lapor dan umumkan kepada khalayak ramai, bahwa “ Orangtua kami, akan diberangkatkan dari rumah ini besok pada tanggal 22 Maret jam 6 pagi menuju bandara Soekarno-Hatta dan dilanjutkan dengan pesawat Lion Air menuju Medan pada penerbangan jam 11 “.
“ ORANG DIKENANG, DIHORMATI & DIHARGAI BUKAN PADA SAAT DIA HIDUP, TAPI PADA SAAT DIA MATI ”, nah., disinilah mertua gue menunjukkan taringnya, gadingnya, belangnya dan nama besarnya, dari pagi sampai tengah malam, gak ada putus putusnya orang yang pada datang untuk turut mengucapkan dan turut merasakan duka citanya, berpuluh puluh episode penghiburan yang kita terima pada hari ini, dan berpuluh puluh orang juga diluar kami yang perlu mendapat penghiburan, karena mereka turut juga merasakan kehilangan panutannya, sokogurunya dan senyum yang menyejukkannya, jangankan hanya gedung 7, jalanan skip aja penuh dengan mobil yang pada parkir, malah lapangan futsal mendadak ditutup untuk lapangan parkir, memang ikutan bangga juga kalau punya mertua yang berkelas .
Untuk kehadiran dan penghiburan, gue angkat topi yang setinggi tingginya untuk keluarga ipar gue Sayon Lubis dan Henry Siahaan, mereka tidak hanya sekedar hadir, tapi mereka ikut didalamnya, mereka bukan hanya sekedar mengucapkan turut berdukacita, tapi memang mereka merasakan dukacita itu sendiri. Terima kasih saudaraku., kalian selalu hadir dan mendampingi kami, baik dalam suasana sukacita kami, terlebih lagi dalam suasana hati kami sedang berduka. Amin…!
Terima kasih untuk Bang Pollie, walau sakit tapi tetap datang, malah datangnya 2 kali siang dan malam, terima kasih untuk keluarga Tulang Rempoa, Kelg ‘Bang Arthur, Mida, Kak Esther, kelg Joe Simanjuntak yang datangnya ngebela belain tengah malam, Ade, coco dan sasa yang ikutan begadang dirumah, terima kasih juga untuk Toga, Tiur, Kelg Posma Pospos, Diana Siahaan, Laut Simanjuntak, Sarpin Gultom Saut Napitupulu, dan Keluarga besar Pomparan Opung Kenan Harahap yang turut memberikan penghiburan tengah malam dan yang terakhir, terima kasih juga untuk sahabat sahabat gue waktu kecil di Grogol , Caca, Entis dan keluarga Herry Supriadi. Thanks for all y .
Hari Selasa tgl 22 Maret, jam setengah 5 pagi, gue udah dibangunin ama duma, sedangkan duma sendiri gak bangun bangun, karena memang dia gak tidur tidur, saat itu., kita semua sudah mulai bersiap siap untuk berangkat, sedangkan andre bersiap siap untuk berangkat kerja, jam setengah 6 kita buat acara kebaktian singkat untuk keberangkatan, yang dipimpin oleh Bapak Pdt Thomas .
Jam 6 berangkatlah jenazah dari rumah, diikuti dengan isak tangis keluarga yang tinggal dan tetangga yang turut merasakan kehilangan, gue ama Manus naik dengan ambulance, sedangkan rombongan lainnya berangkat ke bandara dengan bis Damri.
Jam 08.30 kita sampai di bagian cargo bandara Soekarno-Hatta, dan ada 2 hal yang yang membuat gue surprise pada saat itu,
Yang pertama : sebenarnya dari awal gue gak kepikiran, apalagi berencana untuk kontak sahabat gue Cerah Bangun di Medan, gak disangka dan gak dinyana, gue dikasih mobil berikut supir, yang bebas gue gunakan selama disana, malah dia menawarkan juga ambulance dan bis untuk rombongan, wah…., ras bujur mejuah juah kawan..! Yang kedua : saat awal kita ngurus peti jenazah di bagian cargo Lion Air, gue iseng iseng ngelongo ke ruangan supervisor cargo, eh., disitu ada tulisan yang nempel dibagian pelayanan yang isinya “ Domu Harahap agar dilayani dengan baik “ he..he..he..! jadi deh kita disana duduk duduk dengan manis .
Urusan dengan cargo sudah beres, sekarang gue ama Manus mau ngegabung dengan rombongan lain dibagian keberangkatan pesawat, disinipun gue kembali dapet surprise ++, dapet kabar, kalau koper yang paling gede dan yang paling bagus hilang pada saat turun dari bis Damri, isinya ada baju gue, ada baju ardith dan ada baju duma, yang hebatnya pula., semuanya ada disitu, cuman cd dan kaos dalam gue aja yang ada di tas tentengan gue, dan yang lebih hebatnya lagi., saat itu duma santai santai aja tuh., mungkin dia lagi error karena 2 hari gak tidur, atau error karena yang lebih berat dan lebih berharga malah baru kehilangan, tapi saat itu masih ada 2 keuntungan menurut versinya orang jawa, yang pertama : Untung yang hilang kopernya kita, coba kalau yang hilang koper yang berisi pakaian second nya mamak, mau cari kemana lagi dan pada saat acara paulakkon mora, apa lagi yang mau dibagikan.? Yang kedua : untung saja hilangnya bukan pada saat menjadi tanggung jawab gue, kalau enggak, wow..! jangankan sehari, atau seminggu, sebulanpun mungkin aja masih ada pertanyaan dan sentilan sentilan yang rada nyelekit , jangan jangan pada saat ajal menjelang , masih ada pertanyaan “sebenarnya, kenapa sih ‘pa., koper kita pada saat itu bisa hilang..? “.
Tepat atau memang pas ketepatan pesawat berangkat jam 11, yang sudah pada naik ada yang langsung tidur, ada yang masih ngobrol ngobrol dulu dan ada juga yang makan dulu, kalau gue karena gak bisa tidur tidur, akhirnya kerja’an gue makan melulu selama di pesawat, karena di Lion Air gak dapat apa apa dan yang dijual juga gak ada apa apanya, jadi deh., kita bawa perlengkapan makan dan minum selama di pesawat, terima kasih untuk Ucok Hasibuan, yang telah sangu’in nasi uduk yang enak dan mantap untuk kita selama diperjalanan, selama didalam pesawat, di wilayah bangku bangku yang kita dudukkin tidak pernah sepi, bayangkan aja., kita ini 22 orang, kalau lagi pada bangun, pada ngomong semua, kalau lagi pada tidur, pada ngorok semua, sampai sampai pramugari pada bolak balik ke wilayah kita, mungkin mereka pikir., ada mesin pesawat yang lagi ngadat.
Jam 14.30 kita mendarat di bandara Polonia, disana sudah ada Tulang Rempoa dan Eddy Nasution yang rupanya berangkat duluan, sudah ada keluarga Matondang, sudah ada keluarganya Hutagalung yang di Sibolga, sudah ada keluarga besar Simatupang, Ny.Hasibuan dengan borunya , sudah ada juga Ny,Pdt Pasaribu dari GKPA jln.Cangkir, sudah ada mobil pinjaman gue plus supirnya, sudah ada ambulance dan bis besar yang akan membawa rombongan kita tu bona pasogit.
Asal muasal cerita tentang keberadaan ambulance dan bis itu begini ; Awal maret pada saat gue di Medan gue ketemu dengan Ipar Sanggam Simatupang, sambil cerita cerita di lobby hotel semarak, gue bilang ke dia, “ menurut gue, mertua gue ini jika terjadi apa apa dengannya, pasti sifatnya mendadak dan yang pasti juga, akan diberangkatkan ke Bungabondar dgn pesawat melalui Medan, ‘Bang Apul (Mangapul Nasution ) pernah ngomong ke gue, ‘ Dom.., namboru gue itu udah tua dan udah berumur 86 tahun, jika dia pergi, elo semua pasti otaknya pada blank saat itu, jadi gak ada salahnya buat perencanaan dari awal, gapapa koq., supaya jangan pada saat kejadian, elo pada kelabakkan semua ‘ nah., itulah awal cerita yang gue kembangkan, jadi deh., pada saat itu gue deal dan saling berjabat tangan dengan Sanggam, yang isinya , ”Sanggam akan mempersiapkan ambulance, bis besar dan 2 buah kijang Innova di Medan jika terjadi apa apa dengan Inangtuanya ( mertua gue )“.
“ Karena bagiku hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan “ ( Filipi 1 : 21 ).
Inilah firman Tuhan yang disampaikan oleh Ny.Pdt Pasaribu pada saat kita mengadakan kebaktian singkat di area Parkir bandara Polonia, beliau juga berdoa dan mengucap syukur pada Tuhan, karena kita telah sampai dengan selamat di Medan, dan berdoa juga kepada Tuhan, mohon pertolongan dan penyertaan Tuhan Jesus , agar kita sampai dengan penuh DAMAI SEJAHTERA di Bungabondar. Amin..! bahat tarimokasih Inang da..?
Jam 3 sore rombongan kita 1 ambulance, 1 bis dan 3 mobil suv dengan 30 an penumpang berangkat ke Bungabondar, cumannya ada 1 mobil dgn 4 penumpang ( gue, duma , ardith,Tulang rempoa & supir) terpaksa harus memisahkan diri dulu , kita kita ini mau cari pinjaman jas dulu, pinjaman kebaya dulu, pinjaman kaos dan baju dulu, pokoknya kalau bisa pinjam, kenapa sih., harus beli, malah kalau bisa cari lagi yang mau ngasih, jadi berangkatlah kita kerumah Tulang Silalahi untuk memulai misi tsb, Puji Tuhan…! disana gue dapet stelan jas yang bagus, dapet celana jeans yang baru, duma dapet stelan kebaya yang bagus dan kita semua dapet gado gado yang maknyuuus, mauliate godang Tulang da..? dari rumah tulang Silalahi di Medan, kita langsung tancap ke Kerasaan, disini bukannya pinjam atau minta, tapi sifatnya sudah menjarah pakaian pakaian Tulang dan Nantulang, kita semua dapat, apalagi ardith, sekoper penuh kita bawa dari sana, he..he..he..! Tulangku memang gak ada 2 nya ya..?
BUNGABONDAR AKU KAN KEMBALI………..!
Bogor, Maret 2011
‘Bang Udin bilang, “ kita banyak tantangan, tapi itu bukan menjadi halangan kita ”, terbukti., pada saat kita mengurus tiket pesawat ke Medan untuk 22 orang, kita langsung dapat penerbangan dengan Lion Air pada hari Selasa tgl 22 Maret 2011 jam 11, dan itu tanpa terpisah dalam jadwal penerbangannya, malah dapat dengan harga setengah promosi, waduuuh.. thanks you banget Lion Air..! ada juga tantangan yang lain, rupanya agent Lion Air di Bogor tidak bisa membantu mengurus cargo peti jenazah, harus langsung ke bandara dan harus mengurus sendiri, lho…, kalau pesawat yang jam 11 cargonya sudah penuh, masa peti jenazah tidak ada yang dampingin sih…? kutak sana kutik sini, pikir sana pikir sini, gue langsung inget, kalau Lion Air punya jadwal penerbangan keluar negeri, kalau punya yang keluar negeri, pastinya ada juga ketergantungannya dengan bea dan cukai, nah.., untuk apa gue banyak temen bea cukai disana kalau gue gak bisa minta tolong ke mereka, kira kira gitulah pikiran gue saat itu, hari ini, siang ini urusan tiket dan cargo beres, tinggal lapor dan umumkan kepada khalayak ramai, bahwa “ Orangtua kami, akan diberangkatkan dari rumah ini besok pada tanggal 22 Maret jam 6 pagi menuju bandara Soekarno-Hatta dan dilanjutkan dengan pesawat Lion Air menuju Medan pada penerbangan jam 11 “.
“ ORANG DIKENANG, DIHORMATI & DIHARGAI BUKAN PADA SAAT DIA HIDUP, TAPI PADA SAAT DIA MATI ”, nah., disinilah mertua gue menunjukkan taringnya, gadingnya, belangnya dan nama besarnya, dari pagi sampai tengah malam, gak ada putus putusnya orang yang pada datang untuk turut mengucapkan dan turut merasakan duka citanya, berpuluh puluh episode penghiburan yang kita terima pada hari ini, dan berpuluh puluh orang juga diluar kami yang perlu mendapat penghiburan, karena mereka turut juga merasakan kehilangan panutannya, sokogurunya dan senyum yang menyejukkannya, jangankan hanya gedung 7, jalanan skip aja penuh dengan mobil yang pada parkir, malah lapangan futsal mendadak ditutup untuk lapangan parkir, memang ikutan bangga juga kalau punya mertua yang berkelas .
Untuk kehadiran dan penghiburan, gue angkat topi yang setinggi tingginya untuk keluarga ipar gue Sayon Lubis dan Henry Siahaan, mereka tidak hanya sekedar hadir, tapi mereka ikut didalamnya, mereka bukan hanya sekedar mengucapkan turut berdukacita, tapi memang mereka merasakan dukacita itu sendiri. Terima kasih saudaraku., kalian selalu hadir dan mendampingi kami, baik dalam suasana sukacita kami, terlebih lagi dalam suasana hati kami sedang berduka. Amin…!
Terima kasih untuk Bang Pollie, walau sakit tapi tetap datang, malah datangnya 2 kali siang dan malam, terima kasih untuk keluarga Tulang Rempoa, Kelg ‘Bang Arthur, Mida, Kak Esther, kelg Joe Simanjuntak yang datangnya ngebela belain tengah malam, Ade, coco dan sasa yang ikutan begadang dirumah, terima kasih juga untuk Toga, Tiur, Kelg Posma Pospos, Diana Siahaan, Laut Simanjuntak, Sarpin Gultom Saut Napitupulu, dan Keluarga besar Pomparan Opung Kenan Harahap yang turut memberikan penghiburan tengah malam dan yang terakhir, terima kasih juga untuk sahabat sahabat gue waktu kecil di Grogol , Caca, Entis dan keluarga Herry Supriadi. Thanks for all y .
Hari Selasa tgl 22 Maret, jam setengah 5 pagi, gue udah dibangunin ama duma, sedangkan duma sendiri gak bangun bangun, karena memang dia gak tidur tidur, saat itu., kita semua sudah mulai bersiap siap untuk berangkat, sedangkan andre bersiap siap untuk berangkat kerja, jam setengah 6 kita buat acara kebaktian singkat untuk keberangkatan, yang dipimpin oleh Bapak Pdt Thomas .
Jam 6 berangkatlah jenazah dari rumah, diikuti dengan isak tangis keluarga yang tinggal dan tetangga yang turut merasakan kehilangan, gue ama Manus naik dengan ambulance, sedangkan rombongan lainnya berangkat ke bandara dengan bis Damri.
Jam 08.30 kita sampai di bagian cargo bandara Soekarno-Hatta, dan ada 2 hal yang yang membuat gue surprise pada saat itu,
Yang pertama : sebenarnya dari awal gue gak kepikiran, apalagi berencana untuk kontak sahabat gue Cerah Bangun di Medan, gak disangka dan gak dinyana, gue dikasih mobil berikut supir, yang bebas gue gunakan selama disana, malah dia menawarkan juga ambulance dan bis untuk rombongan, wah…., ras bujur mejuah juah kawan..! Yang kedua : saat awal kita ngurus peti jenazah di bagian cargo Lion Air, gue iseng iseng ngelongo ke ruangan supervisor cargo, eh., disitu ada tulisan yang nempel dibagian pelayanan yang isinya “ Domu Harahap agar dilayani dengan baik “ he..he..he..! jadi deh kita disana duduk duduk dengan manis .
Urusan dengan cargo sudah beres, sekarang gue ama Manus mau ngegabung dengan rombongan lain dibagian keberangkatan pesawat, disinipun gue kembali dapet surprise ++, dapet kabar, kalau koper yang paling gede dan yang paling bagus hilang pada saat turun dari bis Damri, isinya ada baju gue, ada baju ardith dan ada baju duma, yang hebatnya pula., semuanya ada disitu, cuman cd dan kaos dalam gue aja yang ada di tas tentengan gue, dan yang lebih hebatnya lagi., saat itu duma santai santai aja tuh., mungkin dia lagi error karena 2 hari gak tidur, atau error karena yang lebih berat dan lebih berharga malah baru kehilangan, tapi saat itu masih ada 2 keuntungan menurut versinya orang jawa, yang pertama : Untung yang hilang kopernya kita, coba kalau yang hilang koper yang berisi pakaian second nya mamak, mau cari kemana lagi dan pada saat acara paulakkon mora, apa lagi yang mau dibagikan.? Yang kedua : untung saja hilangnya bukan pada saat menjadi tanggung jawab gue, kalau enggak, wow..! jangankan sehari, atau seminggu, sebulanpun mungkin aja masih ada pertanyaan dan sentilan sentilan yang rada nyelekit , jangan jangan pada saat ajal menjelang , masih ada pertanyaan “sebenarnya, kenapa sih ‘pa., koper kita pada saat itu bisa hilang..? “.
Tepat atau memang pas ketepatan pesawat berangkat jam 11, yang sudah pada naik ada yang langsung tidur, ada yang masih ngobrol ngobrol dulu dan ada juga yang makan dulu, kalau gue karena gak bisa tidur tidur, akhirnya kerja’an gue makan melulu selama di pesawat, karena di Lion Air gak dapat apa apa dan yang dijual juga gak ada apa apanya, jadi deh., kita bawa perlengkapan makan dan minum selama di pesawat, terima kasih untuk Ucok Hasibuan, yang telah sangu’in nasi uduk yang enak dan mantap untuk kita selama diperjalanan, selama didalam pesawat, di wilayah bangku bangku yang kita dudukkin tidak pernah sepi, bayangkan aja., kita ini 22 orang, kalau lagi pada bangun, pada ngomong semua, kalau lagi pada tidur, pada ngorok semua, sampai sampai pramugari pada bolak balik ke wilayah kita, mungkin mereka pikir., ada mesin pesawat yang lagi ngadat.
Jam 14.30 kita mendarat di bandara Polonia, disana sudah ada Tulang Rempoa dan Eddy Nasution yang rupanya berangkat duluan, sudah ada keluarga Matondang, sudah ada keluarganya Hutagalung yang di Sibolga, sudah ada keluarga besar Simatupang, Ny.Hasibuan dengan borunya , sudah ada juga Ny,Pdt Pasaribu dari GKPA jln.Cangkir, sudah ada mobil pinjaman gue plus supirnya, sudah ada ambulance dan bis besar yang akan membawa rombongan kita tu bona pasogit.
Asal muasal cerita tentang keberadaan ambulance dan bis itu begini ; Awal maret pada saat gue di Medan gue ketemu dengan Ipar Sanggam Simatupang, sambil cerita cerita di lobby hotel semarak, gue bilang ke dia, “ menurut gue, mertua gue ini jika terjadi apa apa dengannya, pasti sifatnya mendadak dan yang pasti juga, akan diberangkatkan ke Bungabondar dgn pesawat melalui Medan, ‘Bang Apul (Mangapul Nasution ) pernah ngomong ke gue, ‘ Dom.., namboru gue itu udah tua dan udah berumur 86 tahun, jika dia pergi, elo semua pasti otaknya pada blank saat itu, jadi gak ada salahnya buat perencanaan dari awal, gapapa koq., supaya jangan pada saat kejadian, elo pada kelabakkan semua ‘ nah., itulah awal cerita yang gue kembangkan, jadi deh., pada saat itu gue deal dan saling berjabat tangan dengan Sanggam, yang isinya , ”Sanggam akan mempersiapkan ambulance, bis besar dan 2 buah kijang Innova di Medan jika terjadi apa apa dengan Inangtuanya ( mertua gue )“.
“ Karena bagiku hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan “ ( Filipi 1 : 21 ).
Inilah firman Tuhan yang disampaikan oleh Ny.Pdt Pasaribu pada saat kita mengadakan kebaktian singkat di area Parkir bandara Polonia, beliau juga berdoa dan mengucap syukur pada Tuhan, karena kita telah sampai dengan selamat di Medan, dan berdoa juga kepada Tuhan, mohon pertolongan dan penyertaan Tuhan Jesus , agar kita sampai dengan penuh DAMAI SEJAHTERA di Bungabondar. Amin..! bahat tarimokasih Inang da..?
Jam 3 sore rombongan kita 1 ambulance, 1 bis dan 3 mobil suv dengan 30 an penumpang berangkat ke Bungabondar, cumannya ada 1 mobil dgn 4 penumpang ( gue, duma , ardith,Tulang rempoa & supir) terpaksa harus memisahkan diri dulu , kita kita ini mau cari pinjaman jas dulu, pinjaman kebaya dulu, pinjaman kaos dan baju dulu, pokoknya kalau bisa pinjam, kenapa sih., harus beli, malah kalau bisa cari lagi yang mau ngasih, jadi berangkatlah kita kerumah Tulang Silalahi untuk memulai misi tsb, Puji Tuhan…! disana gue dapet stelan jas yang bagus, dapet celana jeans yang baru, duma dapet stelan kebaya yang bagus dan kita semua dapet gado gado yang maknyuuus, mauliate godang Tulang da..? dari rumah tulang Silalahi di Medan, kita langsung tancap ke Kerasaan, disini bukannya pinjam atau minta, tapi sifatnya sudah menjarah pakaian pakaian Tulang dan Nantulang, kita semua dapat, apalagi ardith, sekoper penuh kita bawa dari sana, he..he..he..! Tulangku memang gak ada 2 nya ya..?
BUNGABONDAR AKU KAN KEMBALI………..!
Bogor, Maret 2011
MOTHER IN-LAW IN MEMORY. part 1
FOR YOU TO REMEMBER 1 :
Apabila aku pergi, berikan apa yang kumiliki kepada saudara saudaramu.
Kalau kau perlu menangis, menangislah untuk saudara saudaramu yg berjalan disampingmu,
Lingkarkan tanganmu pada setiap saudaramu, dan beri mereka apa yg kau perlu berikan kepadaku,
Aku ingin meninggalkanmu dengan sesuatu, sesuatu yg lebih baik dibanding dgn kata kata,
Lihatlah diriku, dalam diri orang orang yg kukenal dan kucintai,
Dan., apabila kau tidak bisa hidup tanpa aku, maka biarkan aku hidup terus dalam matamu, dalam pikiranmu, dan dalam tindakkan tindakkan kebaikkanmu,
Kau bisa mencintaiku dengan membiarkan tangan tanganmu saling menyentuh untuk berdoa dan memberikan pundakmu untuk menaruh kepala dari saudara saudaramu,
Karena cinta tidak akan mati, tetapi manusia akan mati,
Jadi.., bila semua yang tersisa dariku adalah C I N T A…,
Relakanlah aku….!
R (rest) I ( in) P (Peace), telah beristirahat dalam damai :
Hanifah Nasution
Lahir : Padangmatinggi, 07 November 1924
Wafat: Bogor, 21 Maret 2011
Dimakamkan pada tanggal 24 Maret 2011 di Bungabondar Tapanuli Selatan.
Sehat itu mahal, benar…! tapi dengan sehat saja belum menjamin kita lepas dari cengkraman Nya, kelihatannya sehat, tetapi tidak menjamin kita sehat beneran,sehat itu pilihan, benar..! tapi pilihan kita, belum tentu menjadi pilihan Nya, Orang Latin bilang “ Mensana in corpore sana “ dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat, benar..! tapi dengan tubuh dan jiwa yang kuat, tidak menjamin dapat lepas dari panggilan Nya.
Karena Alkitab mencatat “ Rencanamu, bukan rencanaKu, Rancanganmu, bukan pula rancanganKu “ malah lagu dangdut lebih tegas mengatakan “ kau yang memulai, kau yang mengakhiri, kau yang berjanji, kau yang mengingkari “, yang dimaksud dengan mengingkari, yaitu ; ketuklah.., maka pintu akan Ku bukakan, pintalah, maka semuanya akan Ku berikan, karena prinsipnya., Tuhan memberikan kepada kita bukan apa yang kita perlukan atau apa yang kita pintakan, tapi apa yang kita butuhkan.
Inilah proloog, mari kita lanjutkan..!
Hari minggu pagi tgl 20 Maret 2011, semua yang dirumah belum mulai bergerak, malah masih ada juga yang belum bangun, tapi mertua sudah mulai sibuk bikin pisang goreng, katanya untuk dibawa diacaranya Nasution yang lagi retreat di Gadog, katanya juga., pisangnya dipotong potong rada kecil, tapi tepungnya yang rada dibanyakkin, supaya kelihatannya rada gede, niatnya sih.., biar semua yang hadir kebagian.
Jam 8 pagi berangkatlah mertua bersama ‘Bang Udin, rencananya supaya bisa ikut kebaktian minggu bersama dengan saudara saudaranya, selesai kebaktian dilanjutkan dengan acara makan siang bersama sambil karaokean bersama dan foto foto bersama dipinggir kolam renang, dan semua itu dilakukan selalu bersama dengan edanya Ny.Arifin Nasution, pokoknya mereka berdua sdh seperti perangko, lengket teruuus.., malah mereka berdua sempet juga menyanyikan lagu “ Na sonang do hita nadua “, maklumlah, karena tinggal mereka berdua di Jakarta ini yang merupakan sesepuh dari punguan Nasution ompu ni Amir.
Jam 2 siang, mereka kembali dari acara di Gadog, jam 3 nya, rombongan Pamulang pulang, dan mertua langsung masuk kamar untuk istirahat, sedangkan gue cs sama linda cs kongkow2 di kebunnya linda, yang memang gak jauh dari rumah, jam 5 sore, andre berangkat ke gereja, ardith pulang kerumah, katanya mau nemenin opung, jam 6 kita pulang, ardith langsung lapor ; ‘ma., opung sakit, katanya dadanya sesak, padahal daritadi ardith sdh pijitin,’
Werwerwerwer….! duma langsung lari kekamar mertua, dan casciscuscasciscus…! duma langsung memberikan perintah, sabdanya saat itu kira kira begini, “ domu bertugas menjemput Dokter Ira dan membawanya langsung keruang UGD di RS PMI, Sayon dan Linda dan duma membawa mamak ke UGD di RS PMI, sedangkan ardith dan anggi tunggu dirumah “ keras, tegas dan tanpa kompromi. He..he..he.!
Saat berangkat dari rumah naik ke mobil, turun dari mobil di rumah sakit dan naik lagi ke tempat tidur diruang UGD, mertua melakukannya sendiri, tapi saat sampai di UGD mulai dari jam setengah 8 sampai jam 11 malam, mulai terjadilah pasang surut kondisinya, mulai dari sesak nafas, batuk batuk, terhenti pernafasan sampai katanya dokter sempat berhenti pula detak jantung, disaat saat kondisi mulai kritis, dengan cepat gue telpon ardith dan andre, dengan instruksi “ segera berangkat ke Rumah Sakit,opung kritis “, ardith langsung meninggalkan makanannya, lari dan naik ojek, tidak sampai setengah jam sudah sampai di rumah sakit, dan langsung teriak “ opung… jangan tinggalin adit…! “ sedangkan andre dan anggi melanjutkan makanannya, lalu jalan kedepan menunggu angkot dan 2 jam kemudian baru sampai. dan langsung bertanya “ siapa saja yang sudah datang ‘pa..? ”
Karena jam 11 malam kondisinya mulai stabil, maka dipindahkanlah perawatannya keruang ICCU, dan karena Dr.Ira pernah jadi kepala Sub jantung di RS PMI, maka duma boleh menunggu didalam ruangan dan bergantian jaga dengan ‘Bang Udin, yang lain harap nunggunya diluar aja, yang mau pulang, silahkan pulang, yang mau nunggu, silahkan tunggu, tapi sekitar jam 2 pagi ada hal yang menarik perhatian gue, menurut gue., yang namanya ruang ICCU, harusnya bersih dan bebas dari apapun, tapi saat itu , didalam ruangannya ada kupu2 coklat yang berterbangan, yang anehnya pula, dia terbang hanya disekitar mertua gue aja, lalu gue bangunin Yuni dan bilang “ liat tuh Yun., ada kupu2 yang selalu terbang disekitar opung, malaikat kali ya Yun..? “
Sekitar jam 3 pagi, mertua mulai anfaal lagi, mulai batuk2 lagi disertai riak, mulai sesak napas lagi dan terakhir mulai kena serangan jantung lagi, satu persatu kita semua masuk kedalam ruangan ICCU sambil melihat petugas yang memompa jantung secara manual, awalnya kita masih bisa menyanyi dan berdoa, lama lama dan semakin lama dan malah kelamaan yang dipompa, kita semua menjadi tidak tega dan tidak berpengharapan lagi, akhirnya pada nangis sesunggukkan dan berbisik pilu “ berangkatlah dalam damai ‘mak, kami begitu mencintai mamak, tapi Tuhan Jesus rupanya lebih lebih lagi mencintai mamak, TUHAN..… ! Kedalam kuasa tanganMu, kami serahkan orangtua yang kami cintai ini. Amin…! “ .
IN OPTIMA FORMA berarti dalam kondisi yang sangat prima, atau dalam keadaan sehat wal ‘afiat, itulah yang tercermin dari kondisi terakhir dari mertua , bayangkan saja., minggu pagi masih bisa bikin pisang goreng, siangnya masih bisa nyanyi “ Na sonang do hita na 2 “ sorenya masih bisa naik turun mobil dan jalan sendiri keruang UGD, malamnya koq., bisa bisanya anfaal terkena serangan jantung, dan senin paginya sekitar jam 4, berangkatlah beliau kepangkuan Bapak di surga, “ enak yang berangkat, gak enak yang ditinggalin ”, kira kira begitulah kondisi kita semua saat itu.
FOR YOU TO REMEMBER 2 :
Keluargaku yang terkasih, janganlah terlalu lama berduka untukku
Bukankah kita semua hanya singgah didunia ini,
Percayalah., dunia ini hanyalah rumah sementara
Aku pulang ke surga,
Untuk menyembah dihadapan takhtaNya yang mulia,
Saat kita pergi..,
Roh kita akan berkumpul dengan roh orang orang yang kita kasihi.
Yah., kita semua akan berkumpul bersama dengan Anak Allah,
Kita akan hidup di istana, melewati bulan, naik turun bukit, tetapi tetap dalam pengawasanNya
Tetaplah minta Jesus datang dalam hatimu,
Sehingga kita dapat hidup bersama, sehingga kita takkan pernah berpisah,
Janganlah susah karena kepergianku
Karena saat ini., aku sedang bernyanyi bersukaria dan dalam suasana sukacita.
Amin….!
Bogor, Maret 2011
Apabila aku pergi, berikan apa yang kumiliki kepada saudara saudaramu.
Kalau kau perlu menangis, menangislah untuk saudara saudaramu yg berjalan disampingmu,
Lingkarkan tanganmu pada setiap saudaramu, dan beri mereka apa yg kau perlu berikan kepadaku,
Aku ingin meninggalkanmu dengan sesuatu, sesuatu yg lebih baik dibanding dgn kata kata,
Lihatlah diriku, dalam diri orang orang yg kukenal dan kucintai,
Dan., apabila kau tidak bisa hidup tanpa aku, maka biarkan aku hidup terus dalam matamu, dalam pikiranmu, dan dalam tindakkan tindakkan kebaikkanmu,
Kau bisa mencintaiku dengan membiarkan tangan tanganmu saling menyentuh untuk berdoa dan memberikan pundakmu untuk menaruh kepala dari saudara saudaramu,
Karena cinta tidak akan mati, tetapi manusia akan mati,
Jadi.., bila semua yang tersisa dariku adalah C I N T A…,
Relakanlah aku….!
R (rest) I ( in) P (Peace), telah beristirahat dalam damai :
Hanifah Nasution
Lahir : Padangmatinggi, 07 November 1924
Wafat: Bogor, 21 Maret 2011
Dimakamkan pada tanggal 24 Maret 2011 di Bungabondar Tapanuli Selatan.
Sehat itu mahal, benar…! tapi dengan sehat saja belum menjamin kita lepas dari cengkraman Nya, kelihatannya sehat, tetapi tidak menjamin kita sehat beneran,sehat itu pilihan, benar..! tapi pilihan kita, belum tentu menjadi pilihan Nya, Orang Latin bilang “ Mensana in corpore sana “ dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat, benar..! tapi dengan tubuh dan jiwa yang kuat, tidak menjamin dapat lepas dari panggilan Nya.
Karena Alkitab mencatat “ Rencanamu, bukan rencanaKu, Rancanganmu, bukan pula rancanganKu “ malah lagu dangdut lebih tegas mengatakan “ kau yang memulai, kau yang mengakhiri, kau yang berjanji, kau yang mengingkari “, yang dimaksud dengan mengingkari, yaitu ; ketuklah.., maka pintu akan Ku bukakan, pintalah, maka semuanya akan Ku berikan, karena prinsipnya., Tuhan memberikan kepada kita bukan apa yang kita perlukan atau apa yang kita pintakan, tapi apa yang kita butuhkan.
Inilah proloog, mari kita lanjutkan..!
Hari minggu pagi tgl 20 Maret 2011, semua yang dirumah belum mulai bergerak, malah masih ada juga yang belum bangun, tapi mertua sudah mulai sibuk bikin pisang goreng, katanya untuk dibawa diacaranya Nasution yang lagi retreat di Gadog, katanya juga., pisangnya dipotong potong rada kecil, tapi tepungnya yang rada dibanyakkin, supaya kelihatannya rada gede, niatnya sih.., biar semua yang hadir kebagian.
Jam 8 pagi berangkatlah mertua bersama ‘Bang Udin, rencananya supaya bisa ikut kebaktian minggu bersama dengan saudara saudaranya, selesai kebaktian dilanjutkan dengan acara makan siang bersama sambil karaokean bersama dan foto foto bersama dipinggir kolam renang, dan semua itu dilakukan selalu bersama dengan edanya Ny.Arifin Nasution, pokoknya mereka berdua sdh seperti perangko, lengket teruuus.., malah mereka berdua sempet juga menyanyikan lagu “ Na sonang do hita nadua “, maklumlah, karena tinggal mereka berdua di Jakarta ini yang merupakan sesepuh dari punguan Nasution ompu ni Amir.
Jam 2 siang, mereka kembali dari acara di Gadog, jam 3 nya, rombongan Pamulang pulang, dan mertua langsung masuk kamar untuk istirahat, sedangkan gue cs sama linda cs kongkow2 di kebunnya linda, yang memang gak jauh dari rumah, jam 5 sore, andre berangkat ke gereja, ardith pulang kerumah, katanya mau nemenin opung, jam 6 kita pulang, ardith langsung lapor ; ‘ma., opung sakit, katanya dadanya sesak, padahal daritadi ardith sdh pijitin,’
Werwerwerwer….! duma langsung lari kekamar mertua, dan casciscuscasciscus…! duma langsung memberikan perintah, sabdanya saat itu kira kira begini, “ domu bertugas menjemput Dokter Ira dan membawanya langsung keruang UGD di RS PMI, Sayon dan Linda dan duma membawa mamak ke UGD di RS PMI, sedangkan ardith dan anggi tunggu dirumah “ keras, tegas dan tanpa kompromi. He..he..he.!
Saat berangkat dari rumah naik ke mobil, turun dari mobil di rumah sakit dan naik lagi ke tempat tidur diruang UGD, mertua melakukannya sendiri, tapi saat sampai di UGD mulai dari jam setengah 8 sampai jam 11 malam, mulai terjadilah pasang surut kondisinya, mulai dari sesak nafas, batuk batuk, terhenti pernafasan sampai katanya dokter sempat berhenti pula detak jantung, disaat saat kondisi mulai kritis, dengan cepat gue telpon ardith dan andre, dengan instruksi “ segera berangkat ke Rumah Sakit,opung kritis “, ardith langsung meninggalkan makanannya, lari dan naik ojek, tidak sampai setengah jam sudah sampai di rumah sakit, dan langsung teriak “ opung… jangan tinggalin adit…! “ sedangkan andre dan anggi melanjutkan makanannya, lalu jalan kedepan menunggu angkot dan 2 jam kemudian baru sampai. dan langsung bertanya “ siapa saja yang sudah datang ‘pa..? ”
Karena jam 11 malam kondisinya mulai stabil, maka dipindahkanlah perawatannya keruang ICCU, dan karena Dr.Ira pernah jadi kepala Sub jantung di RS PMI, maka duma boleh menunggu didalam ruangan dan bergantian jaga dengan ‘Bang Udin, yang lain harap nunggunya diluar aja, yang mau pulang, silahkan pulang, yang mau nunggu, silahkan tunggu, tapi sekitar jam 2 pagi ada hal yang menarik perhatian gue, menurut gue., yang namanya ruang ICCU, harusnya bersih dan bebas dari apapun, tapi saat itu , didalam ruangannya ada kupu2 coklat yang berterbangan, yang anehnya pula, dia terbang hanya disekitar mertua gue aja, lalu gue bangunin Yuni dan bilang “ liat tuh Yun., ada kupu2 yang selalu terbang disekitar opung, malaikat kali ya Yun..? “
Sekitar jam 3 pagi, mertua mulai anfaal lagi, mulai batuk2 lagi disertai riak, mulai sesak napas lagi dan terakhir mulai kena serangan jantung lagi, satu persatu kita semua masuk kedalam ruangan ICCU sambil melihat petugas yang memompa jantung secara manual, awalnya kita masih bisa menyanyi dan berdoa, lama lama dan semakin lama dan malah kelamaan yang dipompa, kita semua menjadi tidak tega dan tidak berpengharapan lagi, akhirnya pada nangis sesunggukkan dan berbisik pilu “ berangkatlah dalam damai ‘mak, kami begitu mencintai mamak, tapi Tuhan Jesus rupanya lebih lebih lagi mencintai mamak, TUHAN..… ! Kedalam kuasa tanganMu, kami serahkan orangtua yang kami cintai ini. Amin…! “ .
IN OPTIMA FORMA berarti dalam kondisi yang sangat prima, atau dalam keadaan sehat wal ‘afiat, itulah yang tercermin dari kondisi terakhir dari mertua , bayangkan saja., minggu pagi masih bisa bikin pisang goreng, siangnya masih bisa nyanyi “ Na sonang do hita na 2 “ sorenya masih bisa naik turun mobil dan jalan sendiri keruang UGD, malamnya koq., bisa bisanya anfaal terkena serangan jantung, dan senin paginya sekitar jam 4, berangkatlah beliau kepangkuan Bapak di surga, “ enak yang berangkat, gak enak yang ditinggalin ”, kira kira begitulah kondisi kita semua saat itu.
FOR YOU TO REMEMBER 2 :
Keluargaku yang terkasih, janganlah terlalu lama berduka untukku
Bukankah kita semua hanya singgah didunia ini,
Percayalah., dunia ini hanyalah rumah sementara
Aku pulang ke surga,
Untuk menyembah dihadapan takhtaNya yang mulia,
Saat kita pergi..,
Roh kita akan berkumpul dengan roh orang orang yang kita kasihi.
Yah., kita semua akan berkumpul bersama dengan Anak Allah,
Kita akan hidup di istana, melewati bulan, naik turun bukit, tetapi tetap dalam pengawasanNya
Tetaplah minta Jesus datang dalam hatimu,
Sehingga kita dapat hidup bersama, sehingga kita takkan pernah berpisah,
Janganlah susah karena kepergianku
Karena saat ini., aku sedang bernyanyi bersukaria dan dalam suasana sukacita.
Amin….!
Bogor, Maret 2011
Langganan:
Postingan (Atom)
