Kamis, 19 Januari 2012

Batak Barelang Pusing Pusing

Tanggal 27 Januari s/d 08 Februari gue keliling sebagian Tapanuli dan Samosir,
Tanggal 08 Februari s/d 10 Februari gue keliling Batam, Rampang dan Galang ( BARELANG ).
Inilah ceritanya :
Gue berangkat bareng Barita Laut Simanjuntak naik Lion Air, sampai di Polonia Medan, dijemput oleh Saut Napitupulu dan diajak nginap di Hotel Semarak Jln, Sisingamangaraja. Yang membuat nikmat nginep di hotel tsb, katanya lagi discount 50 %, sekamar boleh bertiga tanpa tambahan biaya dan pas disamping hotel, ada restoran melayu yang makanannya enak, murah dan selalu dalam kondisi panas, restoran itu buka 24 jam, selalu ramai malah kadang di jam jam tertentu terpaksa harus ngantri.
Siangnya adiknya Laut dateng ke hotel, namanya Baldwin Simanjuntak, dia ini pengusaha Lapo didaerah sekitar Amplas, laponya terbilang komplit, disana ada ayam namargota, ada bebek pinadar, ada saksak B1, ada B2, ada B3 ( ular ) dan ada B4 ( biawak ), ciri khas orangnya ; tinggi besar, kulit hitam, sepatunya boot, bajunya berbunga model Versace, 2 kancing atas bajunya dibuka, walaupun bulu dadanya cuman ada 17 lembar, banyak senyumnya dan sedikit ngambeknya.
Selama 4 hari di Medan, kerjanya keliling keliling aja, hari pertama nemuin nantulang Asni Simatupang br Nasution, dia ini adik dari mertua gue, ada titipan dari mertua, katanya inilah kain Parmanoan (kenang2an utk perpisahan) dari kakak untuk adiknya , berhubung Simatupangnya juga baru meninggal, dan sekarang ada istilah Parmanoan dari kakaknya, maka terjadilah isak tangis dan semakin terisak berkepanjangan pada saat gue sambungkan mereka untuk bertelponan.
malamnya ada marga Sinambela yang dateng ke hotel, dia itu Pemeriksa di BC Belawan dia dateng bersama Apoy, orang keling yang kerjanya kasak kusuk di BC Belawan, terimakasih Lae ya., sudah minjemin mobil untuk jemput di bandara..?
besoknya kita ke BC di Belawan, disana ketemu dengan Tulang Parmon Sinambela yg bertugas di PFPD dan tukaran mobil, sekarang kita dapet mobil pinjaman dari teman2 di P2 Wilayah ( Despan Sinaga ), pulang dari Belawan mampir dulu ketempat Rossy Hutagaol ditempat penggilingan berasnya di daerah Percut.
Hari Senen, tanggal 31 Januari 2011, gue bersama Laut Simanjuntak, Saut Napitupulu dan Baldwin Simanjuntak berangkat dari Medan menuju Tebingtinggi, disini gue nemuin temen gue waktu di SMA, namanya Jamal Agustar Harahap, disana kita sebentar aja dan langsung diajak makan seafood bersama dengan istri terbarunya Sonya, malamnya kita langsung lanjut menuju Balige dan tidur dirumah Abangnya Laut, yang kebetulan pula istrinya adalah Ito dari Eddy Jongga Tampiubolon, nah., Jongga ini ngambil boru dari Amangtua gue Domine FKN Harahap.
Nah., rumah di Balige inilah yang menjadi basecamp gue selama around to Tapanuli, mulai dari ngeliat tumbak ( kuburan ) dan rumah dari orangtua Amangboru gue, Jonh Hardy Samsudin Siahaan, jalan jalan dan ngeliat museum TB Silalahi, nongkrong sambil minum tuak di tepi Danau Toba di Lintong ni Huta, naik bukit turun bukit didaerah Sianipar Sihailhail, melakukan penyuluhan obat Kilian di daerah Lumban Sirait di Porsea dengan Sukun Sirait dan Simarmata, ke gereja GKPI di desa Tambunan di Narumonda, nyekar ketempat makamnya Nomensen di Sigumpar, nyekar sambil bersih bersih kuburannya Gustav Pilgrim, yang punya cerita bilang ; beliaulah tokoh misioneries Kristen pertama di luat Balige, pernah juga makan malam dengan nasi goreng di kedai boru Batak yang bermarga Al Idroes,
itulah kegiatan gue selama di Balige, sedangkan diluar Balige.? Gue cs bersama mobil nyebrang dari pelabuhan Ajibata dekat Prapat menuju Tomok di Pulau Samosir, darisana gue menuju Pangururan ketemu dengan AKBP Edward Sirait, dia adalah Kapolres Kabupaten Samosir, udah gitu kita disediakan 2 kamar di hotel Dainang dan malamnya diajak sama Kapolres makan malam plus karaokean di aek milas Saulina resort, tempatnya..? wow.., fantastic dan sangat indah, lokasinya tepat ditepi Danau Toba dengan pemandangan menuju tanah seberang.
Esok harinya gue main kerumah Lae Victor Simbolon (istrinya boru Harahap,inangtuanya Rossy Ht Gaol ) di daerah Simbolon Purba, Lae ini anggota DPRD Kabupaten Samosir, gitulah si domu ini, kenal gak kenal yang penting kenalan dulu, dan yang penting lagi, keluarganya yang lain gue kenal, karena gue yakin juga, walau dia gak kenal muka gue, tapi mereka pasti kenal nama gue. Tuh kan…bener…!
Siangnya kejadian seperti itu gue ulangin lagi, gue dateng kerumah orangtuanya Mode Silalahi di pusat kota Pangururan, Mode Silalahi ini adalah hela dari Esther Simanjuntak br Harahap.
ada suatu cerita yang menarik pada saat menunggu dirumah Mode ini, gak ada angin, gak ada badai, Kak Magda Sitompul nelpon gue, dia nanya kapan rencana pomparan opung Constan Harahap kumpul2 dirumahnya dan nanya dimana gue saat ini, waktu gue bilang lagi di Pangururan, dia pun cerita , kalau anaknya Ucok ( Danie Sitompul )sekarang ini tinggal dan bekerja di Doloksanggul, lho., kebetulan sekali, karena rencananya gue akan pulang siang ini ke Balige melewati Doloksanggul. Di Jakarta aja ketemu dengan bere gue ini susah banget, eh., ini malah ketemuannya didaerah pedalaman batak, kita main deh kerumahnya yang masih kosong melompong, dah gitu diajak makan bakpao kuda di pasar Doloksanggul,
yang gue sangat berkesan., pada saat perjalanan dari Pangururan ke Doloksanggul melewati Tele, kita lewati daerah yang jalannya berputar putar seperti spiral, semakin tinggi, semakin indah pemandangannya dan semakin ngeri memandangnya, katanya Kapolres ; lewat daerah itu, bukan hanya keterampilan yang diperlukan, tapi juga masalah mental, dan daerah tsb semakin terkenal mengerikan, pada saat mobil mantan Wakasad Rajaguguk terguling guling jatuh kecebur di danau.
Pulang dari Doloksanggul kita sempetin mampir di Bahalbatu siborongborong kerumah Tauji Sihombing, disinipun ada cerita yang menarik, mobil diparkir dihalaman rumahnya dibawah pohon, saat Laut tidur tiduran di mobil, tiba tiba ada yang nendang dia sampai terpental keluar mobil, setengah jam kemudian Baldwin yang masuk ke mobil, kembali dia ditendang dari mobil dan kembali terpental keluar mobil, waktu Baldwin cerita, si Laut ketawa ngakak, dia bilang ; “ gue tadi juga kena, tapi kalau tadi gue cerita, elo pasti gak tidur di mobil, kalau beginikan kita jadi sama sama ngerasa’in “.
Hari Sabtu keesokan harinya kita berangkat dari Balige menuju Bungabondar, sampai di Sipirok siang, kita masuk warung makan, kalau gue nyari gule ikan limbat dan daging bakar yang diasam, sedangkan yang lain pada makan sop kerbau sama sambal teri, ehm.. nikmatnya..!
Puas makan dan melepas pegel pegel, berangkatlah kita menuju Bungabondar, saat nyetir kesana gue pake kacamata kuda, gak nengok kanan gak nengok kiri, mata lurus aja kedepan dan langsung menuju kuburan mertua yang berada disamping gereja GKPA Bungabondar, disana gue cuman ngebersihin kuburan, lap lap dikit dan nyabut tanaman yang nempel ditembok makam, langsung keluar lagi dari Bungabondar dan rasanya tidak memakan waktu sampai 5 menit, dan inilah guiness book record gue selama ke Bungabondar.
Yang jalan bareng gue inikan orang orang Toba dan anggota HKBP, mereka suka dan pernah denger yang namanya nama Bungabondar, tapi baru kali inilah mereka tau yang namanya desa Bungabondar, wah., seneng banget mereka pada saat itu,
Mereka sempatkan untuk foto foto didepan gereja, malah mereka juga sempetin foto ditembok ucapan selamat datang BUNGABONDAR. Waduuh sampai segitunya kalian itu.,
Darisana kita menuju Parausorat, sambil lewat mampir dulu ngeliat makamnya Pdt Petrus Nasution, yang empunya cerita bilang ; beliau adalah salah satu Pendeta pertama orang batak, walau makamnya belum terawat dan belum rapi, tapi disitu baru dibuat spanduk nama yang masih baru dan masih rapi, perjalanan dilanjutkan menuju gereja GKPA di Parausorat, gerejanya kecil , berada dipojok jalan dengan warna kuning yang menyolok, inilah Gereja yang sepertinya menyiratkan sebagai sebuah prasasti, yang tertulis di agenda GKPA dan HKBP sebagai daerah penyebaran agama Kristen pertama di tanah Batak, tidak jauh ke arah belakang Gereja, ada monument atau tugu atau bangunan makam dari Jarumahut Nasution, bangunan ini baru dibangun dan diresmikan bulan November 2010 oleh para pomparannya, antara lain ada tanda tangan Viktor Nasution di prasasti makam dan ada nama Fernando Nasution yang menulis sejarah ringkasnya, katanya ; Jarumahut Nasution ini, adalah Bapak pemersatu agama di tanah Batak, khususnya di luat Angkola.
kembali kea rah belakang dari bangunan Jarumahut Nasution, ditengah tengah ilalang yang tinggi dan jalan setapak menuju tanah lapang, ada lagi monument atau tugu atau bangunan untuk mengenang Nomensen, tempatnya kotor, sekelilingnya tak terawat, tapi dikatakan beliau adalah Rasulnya orang Batak, diprasasti itu bertanda tangan a/l Rudolf Pardede ( Gubsu ), HR Agung Laksono ( Ket.DPR ), Effendy Sianipar (ket Panitia ) dan Basauli Siregar (Tokoh masyarakat Tapsel ),
Kalau menurut gue sih., jauh lebih berperan H(Heine), K(Klammer),B(Bezt),V atau P( Van Asselt) di tanah Angkola dibandingkan dengan peran Nomensen, jadi apa manfaatnya monument Nomensen dibangun di Parausorat..? apalagi jelas jelas dikatakan daerah Parausorat adalah awal dari pelayanannya Gerrit Van Asselt.
Darisana kita sempatkan mampir kerumah tulang di Padang Matinggi, disini kita disediakan tuak, dan pulangnya Baldwin di oleh olehin kulit pohon yang berfungsi sebagai salah satu bahan pembuat tuak.
Pulangnya kita puter dulu lewat Sibolga, targetnya, mau liat kota dan pelabuhan Sibolga dari daerah Bonandolok, yang kita dapet malah jalanan yang hancur lebur, hujan sepanjang jalan dan perut lapar yang dari siang belum diisi, masuk Sibolga dari arah Padang Sidempuan sampai keluar Sibolga menuju Tarutung, banyak spanduk Bonaran Situmeang yang sedang mencalonkan diri sebagai Bupati Sibolga, kita ingat Bonaran adalah pengacaranya Anggodo, sedangkan Anggodo adalah adiknya Anggoro, dan mereka berdua sama saja, sama sama pemain dan sama sama mengatur, bagaimana bermain kasar, tapi tetap dalam koridor hukum yang tentunya didukung oleh para ahli hukum.
Tgl 8 Februari dengan pesawat Batavia air gue dengan Laut berangkat ke Batam, saat itu kita berangkat dengan uang ngepas,karena janji dengan orang Arpeni gagal, gara2 mereka membatalkan janji dengan sefihak, sedangkan tiket ke Batam sudah dibeli, yah., dengan modal nekad berangkatlah kesana, apa yang terjadi disana kita akan selesaikan disana, di Batam kita dijemput oleh Soeleman Nababan (Laenya Jans Siregar ), dengan yakinnya dia ngajak kita tidur di hotel Nagoya, hotel tua dan cukup berkelas di Batam, siangnya diajak makan dengan keluarganya, malamnya diajak makan ikan bakar, tarimokasih bere da..? kompensasinya ..? gue ajak dia kenalan dan foto2 dengan Deputi Otorita Batam.
Oh iya., dengan bantuan dari Tulang Parmon Sinambela, kita dapet mobil dari Bea Cukai Batam melalui temannya Salomo Silitonga ( Kasie Intel BC Batam ), dengan mobil inilah kita keliling Barelang sampai tempat pengungsian orang2 Vietnam di Pulau Galang, makan mewah di Gold Fish Resort dan masuk Batam resort hotel, dari sana kita bisa liat langsung Singapur dan ada patung Dewi Kwan Im emas yg terletak di resort tsb, jadi kalau ditanya., apakah gue pernah ke Singapur..? yah., gue pernah liat.he..he..he..!
Disana gue ketemu dengan Taskar Membalik, pegawai P2 BC di kantor Pos Batam, gue ketemu dengan Syahroni Harahap, salah 1 Deputi di Otorita Batam dan ketemu dgn Baginda Nasution, adiknya Nimrod. Ada satu target sebenarnya yang akan dikejar di Batam, yang dikejar malah lari, yang tidak dikejar malah melengkapi target tsb, yah., begitulah kerjanya Tuhan itu, Tuhan melengkapi dan bekerja diluar nalar kita sebagai manusia.
Terima kasih Tuhan dan terima kasih teman2ku di Batam.
Tgl 10 Februari kami kembali dari Batam dengan Lion Air dan kembali kepada keluarga masing masing, hampir 2 minggu keluyuran dan berpisah dengan keluarga, ini hari bertemu hanya membawa sejuta kenangan, tanpa ada yang dibawa sama sekali ( kebangetan memang..! ).

Bogor, Februari 2011






===========================================================
=========================================================================

Tidak ada komentar:

Posting Komentar