Kamis, 26 Agustus 2010

L A R E N

L A R E N .


Nama ini gak ada hubungannya dengan Mc Laren - Mercedes di ajang Formula dunia, dia hanya sebuah kecamatan kecil di kabupaten kecil di Jawa Timur, tepatnya di Kabupaten Lamongan.

Tapi sejak 1 dasawarsa ini, nama Lamongan menggeliat dan dikenal karena beberapa hal :
1. Dibawah pimpinan Bupati H.Mashfuk selama 2 periode, terasa sekali peningkatan pembangunan dan perekonomiannya, dulu tahun ’80 an kota lamongan pemukiman penduduknya hanya 1 baris, karena belakangnya langsung sawah atau tambak, sekarang sudah penuh dengan bangunan ruko, bangunan kantor, malah sekarang sudah punya plaza, walau plaza kecil2an, dulu yang ada hanya bank BRI sekarang sudah macem2 bank ada disini, dulu kalau kita ke Tanjung Kodok di Paciran, kita teringat, inilah tempat ngeker para ahli hisab untuk menentukan kapan mulainya bulan Ramadhan, Tanjung Kodokpun terkenal dengan hutan kaktusnya, sekarang udah jadi Water Park Bahari, kalau mau lihat kaktus.? disamping water park ada hotel, disitu ada kaktus jadi jadian yg dibuat dari semen,
dulu Lamongan hanya punya Rumah Sakit Umum, sekarang sudah ada RS Muhammadiyah dan kampus Muhammadiyah yang megah, dulu industrinya hanya tingkat lokal, sekarang , jangankan tingkat nasional, yang tingkat internasionalpun ada, dulu yang ada hanya perumahan Perumnas, sekarang real estate pun ada, namanya keren keren lagi.
Gak mau kalah dengan daerah lain, Lamongan juga punya klub bola profesional, namanya Persela, ini bukan tim kacangan yang gampang dipecundangi lawan, dia sebuah tim jago kandang dan jago dibabak putaran pertama, sayangnya sering loyo diputaran kedua, setidaknya dengan adanya Persela ini, masyarakat Lamongan menjadi suatu 1 kesatuan yang kuat, hebat memang sang Bupati ini, beliau tahu persis maunya masyarakat Lamongan, jadi pantaslah kalau 2 periode jabatan tsb diembannya.

2. Masyarakat Lamongan umumnya petani petani tangguh, gak salah kalau lamongan menjadi salah 1 penyumbang hasil pertanian utama di Jawa Timur, tambak tambak bandeng dan udangpun menjadi andalan peningkatan perekonomian mereka, puaskah mereka..? rasanya tidak, keinginan untuk terus maju dan berkembang membuat mereka terus berusaha untuk lebih maju lagi, terlebih dengan bertambahnya jumlah penduduk dan berkurangnya lahan pertanian, dengan sifat dasar masyarakat lamongan yang mengutamakan kebersamaan, persaudaraan dan barangkali juga dengan sedikit modal nekad, banyak diantara mereka yang pergi merantau dan sukses berdagang seafood dan pecel lele, dan inilah sifat yang paling bagusnya, mereka sukses dirantau, tapi membangun dikampung halamannya, gak heran kalau kita melihat rumah rumah mereka sangat bagus, dan mewah dengan mobil terparkir dihalamannya. Komunitas mereka tinggal, jauh dari kota Lamongan itu sendiri, jangan kaget kalau kita melintas didaerah Kecamatan Sekaran, yang katanya perintis dari pedagang2 pecel lele dan seafood, disana banyak rumah mewah dengan kendaraan2 yang ber nomer Jakarta, jangan kaget juga, kalau kita mampir dirumahnya, akan dihidangkan anggur, apel dan buah pear yang masih segar2, dan masih tidak perlu kaget juga, kalau para orang kaya tsb, setiap pagi masih berangkat ke sawah untuk bertani, masih bermain lumpur di sawah2 dan jagongan di pojok2 kampung, karena mereka adalah perintis yang sukses, yang warung2nya dirantau sudah dikelola oleh anak2nya, saudara2nya atau para tetangga2nya. Itulah arti dari kebersamaan dan persaudaraan yang mereka bina, kalau ada yang mau merantau dan berdagang, cukup sediakan tenda, meja, kursi dan carilah lapak, nanti saudagar2 lele dan seafood akan mendukung anda, karena bandar lele, ayam dan seafood dirantau, yah., mereka2 juga.
tidak bisa dipungkiri, mereka inilah agent of development, dari para perantau inilah roda pergerakkan ekonomi pedesaan bertumbuh, ini juga perbedaannya yang mendasar dengan daerah lain, kalau orang Lamongan membangun desa dengan merantau dan berdagang, kalau daerah lain membangun desa dengan merantau untuk menjadi TKI.
3. last but not least ( yg terakhir,tapi penting juga ), Lamongan saat ini dikenal bukan hanya di Indonesia, tapi juga sudah mendunia, karena Kec. Solokuro dengan desa Tenggulunnya , nah., inilah tempat tinggalnya Amrozy dengan saudara2nya. tapi jangan salah tanggap., dia itu hanya seperti sebutir pasir di pantai, tidak ada apa apanya dan tidak mewakili ciri khas masyarakat Lamongan yang terbuka, ramah dan yang selalu menjaga santun dalam berhubungan dengan dunia luar, karena ukhuwah ikhsaniyah, ukhuwah wattoniyah dan ukhuwah islamiyah sudah berurat berakar dalam budaya mereka. Amin…!

Kecamatan Laren, yang membentang mulai dari desa gampang sejati sampai duri kulon kearah barat, dan mulai dari desa keduyung sampai desa gelap kearah utara, adalah salah satu kecamatan di Kab,Lamongan, kecamatan ini berada di sepanjang sungai Bengawan Solo, jarak dengan kota Lamongan sekitar 40 Km, atau 1,5 jam perjalanan dengan sepeda motor, kalau mau langsung mencapai tengahnya kecamatan Laren, jauh lebih baik dan cepat naik sepeda motor, karena dari Pangean ada tempat penyebrangan dengan perahu menuju desa Mojoasem.
Sejak November 1986, gue udah mengenal LAREN secara dekat dengan daerah dan warga disini, saat itu gue masih menjadi calon pegawai PT.Perkebunan XVII dan semakin dekat lagi, saat gue menjabat Kepala Kantor PT.Perkebunan XVII di Lamongan mulai Mei 1987 sampai dengan Agustus 1989.
Secara rutin dan selalu konsisten, kecamatan ini setiap tahun selalu masuk menjadi pemberitaan nasional, baik di media cetak maupun di media TV, bukan karena daerahnya mencetak tingkat kenaikkan wisatawan, atau kenaikkan produksi dibidang pertanian, apalagi sebagai daerah penerima penghargaan PAD tertinggi, tapi pemberitaan mengenai musibah banjir.
Ironis memang., tapi dibalik percobaan dan musibah itu, ada rencana Tuhan yang lebih indah untuk masyarakat disana, dengan melimpah ruahnya air sungai, tanaman Kenaf atau Rosella ( bahan dasar utk membuat karung goni ) sesudah siap ditebas, harus segera direndam, dengan adanya banjir ini, tidak perlu digotong lagi kemana mana, cukup ditebas dan diikat, sudah langsung merendam sendiri. praktis, effektif dan effisien,
Dengan kondisi alam seperti ini, Kecamatan Laren menjadi basis utama penanaman Kenaf dan Rosella di Indonesia, karena tingkat kwalitasnya maupun tingkat produktifitasnya sangat tinggi, maka daerah tsb dampaknya menjadi produk bahan dasar karung dengan harga pokok yang terendah.

Ada ungkapan, “kalau kita sudah merasakan air bengawan solo, pasti kita akan selalu rindu untuk kembali kesana “, nah., inilah yang gue alami, sudah melanglang jauh dan sangat lama gue meninggalkan Laren, tapi sejak Agustus 1998 gue kembali lagi kesana, hingga sekarang., tidak terasa sudah 12 tahun lamanya gue secara rutin dan berkesimbungan masih tetap kesana, yang dulunya, kalau gue ke Laren, tapi tidurnya di Hotel Mahkota di Lamongan, tapi akhir akhir ini gue tidurnya malah dirumah sahabat gue, saudara gue Liliek di desa Pesanggrahan.
Rumahnya bagus, orangnya bagus, istri dan anak2nya juga bagus, teman2 yang sering mampir dirumahnya juga bagus2, malah ada temannya yang namanya Bagus, tapi ada juga yang lebih bagus., ayam bakar dan sate kambing di warung perempatan desa Keduyung, wah., pokoknya kalau gue ama Purnomo kesana, hal hal yang bagus yang selalu gue dapatkan.
Dirumah Liliek atau dari rumah Lilieklah gue sering bertemu dengan sahabat2 lama, ada H.Syamsul Anam dari ds Plangwot, ada H.Sun’an dari ds Bulutigo, ada Imron kades Siser, ada Khuzaimi dari ds Kruyo, ada Mufid kades mojoasem bersama warganya Suhairi, Rodi dan kelg Alm H.Mashadi, ada Suadi, H. Mubin dan Nursilah ( mereka ini dari dulu kerjanya tukang kritik dan nyentil, tapi yang dia bilang memang bener juga sih, ) dari ds Pesanggrahan, ada Haji Kasdam dan calhaj Sholekhan dari ds Keduyung, ada alm Mulyono dan Romli dari ds Duri kulon, ada Basri dari ds Centini, rasanya dari ujung ke ujung Laren, gue punya sobat deh., belum lagi yang biasa ketemu dirumahnya Liliek, ada Fadlan, Bagus, mbah Mul ( pawang ular ) dll.
Ini cerita lain, ada 1 desa namanya Jabung, kalau yang lain sudah tidak kebanjiran, desa ini kadang masih terendam air, tapi didesa ini banyak rumah mewah dan lebih mewah lagi ada 2 bangunan mesjid, jarak mesjid yang 1 dengan mesjid 1 nya hanya sekitar 50 meter, katanya yang 1 punya Muhammadiyah dan yang 1 nya lagi punya NU.
Ada juga 1 desa yang namanya Gelap, letak ujung desanya sudah mepet dengan hutan jati, ini aneh juga, gak ada tanaman duren, gak ada yang makan duren, tapi sehari hari desa ini wangi duren, disini juga banyak sobat2 gue, ada Haji Mulyadi, ada Uztad Imam Ansyori dan ada juga saudagar ayam, beras, kenaf, dia seorang pekerja keras yang sukses, namanya Haji Mushlich.
Tambah lagi 1 desa yang unik, namanya Dateng, bisa aja desa ini terimbas dengan majunya komunikasi dan publikasi, atau mungkin karena kebiasaan warganya nonton check & recheck, Insert dan infotainment lainnya, ada 1 warung kopi yang biasa dipake untuk nongkrong2 sehabis pelepas lelah, julukkannya MANOHARA, yang manohara itu nama warungnya atau nama pemiliknya, gue tau deh., he..he..he..! gue gak komentar ..!

Tahun 1986 sampai dengan tahun 1989, gue di Laren sebagai seorang birokrat, tapi bukan birokrat yang maunya hanya rapat dan evaluasi kerjanya sampai ditingkat kantor kecamatan saja, gue terjun langsung kedesa desa, kalau perlu kita tarkam sepakbola sambil melakukan penyuluhan, tapi nendang bolanya jangan kenceng2, nanti bolanya bisa nyebur di bengawan solo. kalau inget ini, gue jadi teringat sama Alm H. Suto Kadesnya Duri Kulon. sedangkan tahun 1998 sampai dengan sekarang tahun 2010, gue sebagai pedagang keliling,
Tulisan LAREN ini, adalah tulisan ucapan terima kasih dan penghargaan kami yang setulus tulusnya kepada semua masyarakat LAREN, dari kalianlah kami ada, sebagaimana kami ada saat ini.
Kiranya Kasih dan Berkat dari Allah SWT, selalu menyertai kita semua. Amin…!


Bogor, 17 Agustus 2010


Domu Harahap

Tidak ada komentar:

Posting Komentar