Sabtu, 06 Februari 2010

KELUAR KANDANG

KELUAR KANDANG

‘Juli 1986 gue berangkat ke Lumajang Jawa Timur, gue pindah kerja dan menjadi pegawai PT.Perkebunan disana, rencananya gue menjadi calon pegawai selama 6 bulan, dengan honor Rp.70.000,- sementara tidurnya di mess perusahaan, yang gak ada kasur dan gak ada apa2nya, bangun pagi nyuci baju, pulang kerja setrika baju, sarapan pagi nasi pecel plus sepotong tempe, cukup dengan harga 250 perak, makan siang dan makan malamnya hanya beda2 tipis aja dengan makan paginya, kalau sabtu atau minggu mau piknik, keluarin aja truk dari bengkel dan kita bawa kabur ke pantai didaerah Pasirian. Beda banget dengan gaya hidup gue waktu jadi auditor dan gaya hidup yang selalu dilayani kalau lagi dirumah,

Masalahnya, kenapa gue mau ngejalanin gaya hidup seperti ini.?

Ceritanya begini., saat itu ada 2 boru regar yang sangat berperan dalam hidup gue, yang satu berkeinginan agar mimpi masa lalunya menjadi kenyataan, yang satunya ingin mimpi masa depannya menjadi kenyataan.

Masa kecil dan remaja mami memang di Bungabondar, tapi sebelum berangkat ke Jakarta, mami masih transit dulu dirumah orangtuanya di Kerasaan, nah., didaerah sinilah mami mengenal gaya hidup orang2 Perkebunan, apalagi tidak jauh dari rumah Opung ada rumah Asisten Perkebunan, rumahnya luas, rapi,bersih dan paling hebatlah penampilannya,

Jadi waktu gue masih kecil, ceritalah mami mengenai orang2 Perkebunan itu, malah mami sampai ber angan2 menjadi seorang istri pegawai perkebunan, padahal yang ada dalam pandangan nyata mami hanya sampai seorang Asisten, tapi cita citanya menjadi istri seorang Administratur Perkebunan, biasalah perempuan, cita citanya kadang2 melampaui garis pembatas, tapi akhirnya mami bilang begini, yah., udahlah gak jadi istri orang kebun juga gapapa, kali aja nanti mami jadi ibu dari orang kebun,tuh., kan jadi kenyataan ‘mi.

Nah., itu alasan boru yang regar yang 1, kalau yang 1 nya lagi ceritanya begini :

Gue kan kerja di Kantor Akuntan Publik DL.Pamintori.S ( Coopers & Lybrand ), nah., Pamintori itu masih abangnya dan saudara2nya juga banyak yang kerja disitu, jadi pada saat ketua dewan syuro tidak menyetujui hubungan gue dengan borunya, secara serentak dan aklamasi semua ikut ikutan berjemaah untuk menentang hubungan gue ini, nah., gue tinggal punya 2 keputusan yang harus cepat gue ambil, angkat tangan dan tetap bekerja disana, atau angkat kaki tinggalkan pekerjaan disana,

Hasil rembug2 dengan kedua boru regar, akhirnya gue ambil opsi yang ke 2 dan gue angkat kaki dari kantor akuntan pada bulan Juni 1986. Itu namanya perjuangan gak ya..?

Inilah proloognya kenapa gue sampai jadi pegawai perkebunan, kalau cerita selama gue 5 tahun disana, inilah ceritanya :

Oktober 1986, gue bertugas memeriksa semua laporan keuangan kantor2 cabang untuk wilayah Jawa Timur, suatu saat gue pegang laporan dari kantor cabang Jombang, ada laporan khusus yang namanya Laporan pembelian benih dari petani, mungkin saat itu feeling audit gue masih moncer ya., gue cek, gue korek, gue bandingkan semua angka2 dengan data, dan yang terakhir gue bikin network proses dari mulai pembelian, pengiriman benih ke gudang sampai dengan pembayarannya, gue plototin tuh., network, gue analisa, gue ber angan2, kalau gue mau bermain curang dengan proses seperti ini, caranya gimana ya..? akhirnya gue tentukan titik titik kritis dari proses tsb, dengan data dan network gue menghadap kepada KTU, gue jelasin semuanya dan kecenderungan2 yang mungkin terjadi, Puji Tuhan beliau percaya tuh., gue ditugasin deh ke Jombang dengan hak yang sama dengan KTU, karena gue masih capeg harusnya belum punya hak apa apa, makanya gue berangkat dengan Surat Perjalanan Dinasnya KTU, he..he..he.., dapet deh gue kendaraan, dapet hotel dan uang jalan yang melebihi honor gue sebulan.

Udah 4 hari di Jombang gue gak nemuin kejanggalan apapun disana, semua angka selalu didukung oleh data dan approval yang lengkap dari pejabat yang berwenang, network yang gue bikin, satu persatu gue uji, petugas yang berwenang satu persatu gue panggil dan gue tanyain, masih tetap aja gue gak nemuin kejanggalan, yah., ampun gue harus gimana lagi nih, uang dinas gue udah dapet, tapi tidak ada data apapun yang gue dapat untuk membuktikan kecurigaan gue, malunya itu lho..! Tuhan rupanya kasihan juga ya ama gue, pada Jum’at siang saat semua pegawai pada sholat, gue nongkrong di pos satpam sambil buka buka laporannya. Gue nyanyi deh ‘ I now the Lord will make away for me “, pesan yang gue dapet dari cerita ini adalah, kalau mau bermain, bermainlah, tapi lakukan secara berjemaah, sekecil apapun kerikil, tetap saja kerikil, dia akan bikin sakit juga kalau terinjak saat kita jalan. Kalau saja satpam dilibatkan dalam kasus kolusi besar ini, bereslah semuanya dan gue pulang dengan tangan hampa dan malu yang gak ketolongan lagi. Thanks my Lord.!

Januari 1987 gue diangkat menjadi pegawai PT.Perkebunan dan ditempatkan dibagian pengawasan wilayah, gaji udah lumayan ( 3 kali lipat dari gaji pegawai negeri ) udah bisalah ngajak jajan dan jalan2 nyonya besar di Lumajang, status gue saat itu udeh menikah dan nyonya besar udah gue ajak pindah dari lamongan ke lumajang.

April 1987 gue diangkat jadi pelaksana tugas Kepala Kantor Perkebunan wilayah Pantura Jawa Timur, Mey 1987 gue udah definitive jadi Kepala Kantor, jadi waktu anak gue lahir, mereka sudah menikmati nikmatnya fasilitas dan tunjangan yang ada di PT.Perkebunan. bulan Agustus 1987 yang selama ini mereka masih tinggal di Lumajang, gue ajak boyongan di Lamongan.

Apa cerita ini sudah beres.? Wow., belum dan masih panjang, rupanya buntut dari pengungkapan kasus kolusi yang gue kerjain di Jombang, jadi cerita positif & negativ dari perjalanan karier gue di Perkebunan,

Positifnya, nama gue berkibar ditingkat kantor direksi, dan gue diangkat menjadi kepala kantor dengan golongan yang harusnya belum pantas menjabat jabatan tsb, gue kepala kantor yang paling muda dan dengan golongan yang paling rendah, kata Direksi sih., bahwa jabatan kepala kantor adalah jabatan manajemen, jadi gak ada hubungannya dengan disiplin ilmu dan golongan kepangkatan. Jadi kalau memang pantas, yah., siapapun bisa2aja. adu balap lari kira kira gitulah.

Negatifnya, banyak juga sih., rupanya yang terlibat dalam kolusi itu tidak hanya melibatkan kantor Jombang aja, tapi ada juga setoran Jombang ke kantor wilayah Jawa Timur dan kantor Direksi, termasuk bagian SPI ( Satuan Pengawasan Intern ), nah., kena deh gue . selama gue menjabat kepala kantor ada aja yang dicari cari, dari mulai penerimaan pegawai, uang kas kelebihan 100 ribu, target tidak mencapai 100 %, padahal produksi gue yang paling tinggi, dan harga pokok yang paling rendah ditempat gue, pokoknya macem2 deh., kalau ketempat lain SPI datang selalu bilang dulu, kalau ketempat gue lain lagi, gue belum masuk kantor eh., mereka udeh nongol, langsung minta buka brankas dan laporan harian kas dan bank.

Sejak kapan ya., tugas pengawasan itu mencari cari kesalahan..?

Yah., ginilah kalau jadi pegawai negeri, maunya bener, tapi jadinya tidak bener, kadang kita mau bener, tapi sistem yang membuat kita jadi gak bener.

Makanya Build in control tidak akan bisa berjalan bener di pemerintahan, gimana mau bener, kalau bossnya juga gak bener, malah dia yang ngajarin gak bener.

Benar yang dikatakan oleh Moechtar Lubis, bahwa di Indonesia adalah jaman KEBENEREN, kalau kita salah, tapi kebeneran kita lagi kuat, yah., bener aja, tapi kalau kita tidak salah, tapi kebeneran kita tidak kuat, yah., jadi salah juga.

28 Februari 1991 gue kena PHK dari PT.Perkebunan, gue termasuk gelombang pertama yang kena, karena Perusahaannya kena di merger dengan PT.Perkebunan yang lebih kuat,

Gua kena yang pertama, mungkin karena gue bandel, karena gue dianggap tidak berprestasi dan karena gue banyak coreng moreng dalam laporan SPI, atau bisa juga karena gue pernah nangkep basah kepala SPI yang begitu kelihatan rohani, tapi sedang gendag gendag an di Tretes pada saat hari kerja. nekadnya gue juga, mobil dinasnya walau sudah di parkir ngumpet2 masih juga gue foto dan gue kirim ke dia,, gue tantang dia untuk ketemu berdua, eh., gak berani tuh.? Makanya boss, selama ini elo injak2 gue, akhirnya elo kena juga ama gue kan.? Surat sama foto2 mobil dinas yang ngumpet gue kirim aja ke Direksi, sekarang bukan urusan gue lagi, tinggal beliau dengan Direksi, wajahnya beliau itu rohani banget lho., tapi kalau ngeliat kelakuannya jasmani banget,

Maaf ya boss, kalau gue ngebalesnya dengan cara gitu, gue bukan orang yang rohani2 banget sih., jadi kalau ada yang berbuat tidak baik, gue usahakan juga tidak baik.

28 Februari 1991 gue kena PHK dari Perkebunan, dan per 1 Mey 1991 gue kerja lagi di perusahaan Engineering Construction di Gresik. Disini nanti lebih banyak anekdot2 yang cukup menggelitik.

Kita tunggu aja ya..?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar