L a h i r : Jambi, 05 Oktober 1955
Game over : Jakarta, 25 November 2010
Ardith langsung protes “ kenapa harus game over sih pa., apa gak ada kata kata yang lain..?
Alkitab menulis “ Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman “ ( 2 Timotius 4 : 7 ).
Mangapul Nasution adalah anak bungsu dari 6 bersaudara, Mangapul sendiri dalam bahasa batak berarti penghiburan, mungkin yang dimaksud orangtuanya adalah, sebagai penghibur bagi keluarganya atau juga sebagai laki laki penghibur bagi sesamanya, inilah doa dan pengharapan orangtua terhadap anak bungsunya. Amin..!
Memang sebagai laki laki penghibur dia rada cocok, setiap minggu semua keluarga besarnya, dikirimin ayat ayat alkitab untuk pencerahan, gak lupa ditutup dengan kata Selharming ( selamat hari minggu ), diulang tahun namborunya yang ke 85 thn, yang lain pada ngucapin selamat dengan berkata kata dan dengan nada terharu, dia nya ngucapin selamat malah dengan bernyanyi, dengan senyum sumringahnya dan dengan gaya yang kocak, ngebayang gak sih., badannya yang begitu gede, nyanyi dengan lagu yang kata katanya diplesetkan, udah gitu pake goyang goyang segala lagi., yang tadinya suasana sunyi, sepi dan haru membiru, mendadak langsung penuh tawa dan ceria, itulah Mangapul., laki laki penghibur untuk orang orang disekelilingnya.
Mangapul biasanya dipanggil dengan Apul saja, sedangkan gue manggilnya ‘bang Apul, dia itu anak dari tulangnya Duma, sedangkan duma itu adalah istri gue.
Mangapul ini mempunyai istri 1, namanya Friedalena Rambe dan mempunyai anak 2, namanya Soritua Samuel Nasution ( laki laki ) dan Nina Frima Nasution ( perempuan ), sesuai dengan kartu KK dan KTP nya mereka tinggal di jalan Klaseman I, desa Minomertani, kec Ngaglik Kabupaten Sleman Jogjakarta, walaupun meninggalnya di RS Cikini Jakarta, Mangapul dimakamkan nya, di pemakaman gunung sempu di kabupaten Bantul Jogjakarta pada tanggal 27 November 2010.
Ada yang bilang “ koq gue ama dia bisa deket dan akrab sih.,? “ oh itu ceritanya begini., waktu akhir tahun 80 an, dia ditempatkan oleh BRI di cabang Surabaya, saat itu gue ditempatkan oleh PT Perkebunan di Gresik, gak jauh jauh amatlah, jadi kita suka jalan bareng, makan bareng, apalagi anak anak gue ama anak anak dia masih seumuran, jadi mereka akur akur aja., malah kalau gue ama duma mau nonton, mereka gak mau nonton, anak anak gue, dititipin dirumahnya. Kita makin akrab, pada saat dia menjadi Pimpinan Cabang BRI di Sidoarjo, sedangkan saat itu gue ama keluarga lagi getol getolnya main di Surabaya.
kita pernah janjian dan barengan jalan ke Bali, dia ama keluarganya Effendi Rambe jalan duluan, gue ama keluarga nyusul belakangan, karena saat sampai di Bali gue sakit, jadilah anak anak gue jalannya sama mereka selama disana,
kita pernah barengan juga masuk hotel Polonia di Medan, dan malamnya jalan jalan cari makanan cina didaerah pasar keling didaerah Kesawan.
Kita pernah barengan rame rame jalan ke Gunung Bromo, pernah juga jalan bareng ke Taman Safari di Pandaan Jawa Timur, malah pernah juga, dia nya tidak ikut, tapi kita dapet fasilitasnya untuk jalan ke Bungabondar dan Sibolga. Itulah Mangapul Nasution, kalau bisa berbuat, kenapa tidak berbuat.
Mangapul Nasution adalah pegawai BRI, yang pada tanggal 16 Desember 2010 ini, akan mendapatkan satya lencana pengabdian 25 Thn kerja.dia mempunyai pengalaman kerja di BRI yang unik dan spesifik, bayangkanlah., separuh pengabdiaannya di BRI dia menjabat sebagai Pimpinan Cabang, mulai dari kota kecil di Kotamobagu sampai kota kota besar di Indonesia,
9 kali dia menjabat sebagai pimpinan cabang, barangkali ini menjadi catatan khusus untuk sejarah di BRI, 9 kali pimpinan cabang barangkali juga menjadi hal yang aneh dan menjadi 1 bahan pertanyaan,
“ koq levelnya hanya sebagai Pimpinan Cabang saja, apa hanya sampai segitu saja kemampuannya..? atau Mangapul Nasution ini, hebat ya..? begitu dipercaya oleh Direksi BRI, sampai 9 kali menjadi pimpinan cabang ”,
6 bulan sebelum menjalani masa MPP, dia ditugaskan sebagai wakil Inspektur wilayah di Jawa Tengah. dan dalam masa MPP ini sampai wafatnya, dia masih diberikan kepercayaan lagi oleh Direksi BRI menjadi Dewan Audit di YDP karyawan BRI.
Kalau dalam pertuturan di orang batak, gue harusnya manggil dia Opung, tapi karena gue, merasa sok kenal dan sok dekat, gue manggilnya abang, dengan gue manggilnya abang, jadi kita sepertinya tidak ada sekat sekat yang membatasi hubungan dalam persaudaran diadat batak, kita bebas ngobrol ngalor ngidul. kita bebas cerita sambil tertawa ngakak, mau saling curhatpun gak masalah.
Karena saling dekat inilah, makanya kita bisa saling ngambek2an, bisa saling protes dan bisa saling tidak bertegor sapa, namanya juga dekat., apapun bisa kita saling lakukan, kalau gak deket..? tentunya satu sama lain punya prinsip, “ emangnya gue pikirin, emangnya siapa eloe..! “
Ada satu cerita yang menarik, yang selalu gue inget dan setiap gue inget cerita ini, gue selalu senyum, karena ceritanya seperti anak anak Tk yang lagi berseteru, ceritanya gini :
Waktu itu dia Pinca BRI di Sidoarjo dan gue lagi di Surabaya, gue telponlah dia dan bilang : “ Bang gue nanti malam main kerumah ya..? jawaban dia rada sengit dan sinis, dia bilang gini : “ dom, yang bersaudara ama gue itu bukan elo, tapi ama duma, jadi kalau elo mau main kerumah gue, harusnya ama duma “,
Waduuuh., ada cerita apalagi nih.! mungkin karena saat itu gue lagi waras dan penuh dengan sukacita, gue gak ladenin omongannya, dan gue juga rada tau, kalau abang gue ini rada tipis kupingnya, setiap informasi langsung diserap dan bereaksi tanpa di konfirmasi dulu, dengan langkah pasti dan rada sedikit cu’ek, gue tetap datang kerumahnya, untung aja si Kakak (istrinya) ada disana, jadi gue tetap dipersilahkan masuk.
Kita ngobrol2nya di meja makan, walau saat itu mukanya segi 4 kaya gajah mada, dia ikut juga duduk, walaupun gak ngomong, tapi gue tau dia ngedengerin, yah., gue ngobrol aja ngalor ngidul ama si kakak, sambil nebak nebak.kira kira apa ya., masalahnya..?
Suatu saat gue cerita tentang mertua yang pergi pesta natal siregar di jakarta, berangkatnya mertua dari Bogor ke Jakarta naik taxi dan saat itu ditemani andre dan yuni, disitu gue cerita permasalahannya dengan rinci, kenapa mertua gak naik mobilnya sendiri, dan kenapa mobilnya gue yang pake berdua dengan duma dan kenapa harus ditemani ama andre dan yuni , selesai gue cerita, eh.., dia nyeletuk “ oh.. gitu ceritanya..! “ gak lama kemudian , gue diajak dia makan rawon dipinggir jalan di pinggiran kota Sidoarjo. prosesnya cepet dan langsung selesai, nah., itulah Mangapul Nasution.
Tahun 2007, saat gue lagi didaerah Tebingtinggi ( Sumatra Utara ) ngejalanin obat Kilian gue didaerah sana, dapet kabar kalau Iparnya ‘Bang Apul akan menikah di daerah Bintang Bayu Simeulungun, mumpung lagi disana dan memang gak terlalu jauh, datanglah gue ke tempat pemberkatannya di gereja Simeulungun, daerahnya dipedaleman, mau kesana, harus keluar masuk perkebunan dulu, mulai masuk kebun kelapa sawit, keluar kebun karet, masuk lagi kebun kelapa sawit, baru deh., nyampe disana, karena gue datengnya pake mobil camat dan parkirnya pas didepan gereja, orang orang sana pada melongo ngeliatin gue, mungkin mereka pada berfikir “gak salah nih Pak Camat dateng ke gereja dan blusuk blusuk.dikebun sendirian.? Sampai disana gue langsung masuk gereja, gereja masih terbuat dari papan, bangkunya juga cuman dari papan, karena penuh, makanya gue berdiri aja didepan pintu gereja, saat acara selesai dan jemaat mulai keluar,eh., si kakak saat liat gue didepan pintu gereja langsung teriak “ hay! “ he..he..he..! rupanya si kakak lupa, kalau ini di kampungnya orang batak, tanpa sadar main teriak Hay.. sama opung bayonya.
Selama disana, gue ikutin semua prosesi adat simeulungun, mulai masuknya pengantin laki laki bawa ayam yang digendong sampai bawa meriam bambu, terus gue ngikut sampai acara makan makannya, kita makannya duduk dihalaman yang sudah dialaskan terpal, waktu pembagian makanan, saksangnya ditaruh didalam ember, ngebagi’innya pake tangan dan yang ngebagi’in hanya pake singlet,
ih..! rasanya gue ama ori saat itu belum siap deh., akhirnya gue ama ori pelan pelan mundur dari arena makan, dan jalan keluar cari makan di warung diujung jalan. rasanya jauh lebih nikmat makan mie rebus, daripada makan saksang tapi campur keringat.
Waktu disana, mungkin kebetulan atau memang lagi pas aja waktunya, ‘Bang Apul telpon gue, telponnya gak gue langsung angkat, tapi gue kasih Ori yang jawab, ter kaget2lah dianya, gimana gak kagetlah, yang ditelpon gue, yang angkat anaknya, padahal saat itu dia tau, anaknya lagi dinegeri diujung langit.
Pulang dari acara, gue sempetin untuk kerumah mereka dulu di Siantar, walau cuman sebentar, tapi yang penting gue udah tau, besoknya gantian , gue yang ikut mereka balik ke Medan.
Banyak memang hal hal indah yang bisa dikenang antara gue dengan ‘bang Apul, saat dia baru operasi mata di Jogja, gue dateng ama ardith dan nginep dirumahnya selama 2 hari, kita ngobrol berlama lama dibelakang rumahnya, cumannya saat itu dia lebih banyak cerita mengenai borunya Nina ( what happened Nin..? ), kita juga barengan kerumah sakit Dr Yap untuk kontrol matanya, pernah juga kita diajak ngeliat bekas bekas gunung merapi meledak didaerah Kaliadem, dan ditunjukkin rumahnya mbah marijan, pernah juga dan sering banget malah, makan macem macem ikan di morolejar, makan pecel, sambil ditemanin musik keroncong atau sarapan pagi dideket kampus gajah mada.
Urusan bagi bagi..? wah., jangan ditanyalah, banyak yang sudah gue dapet dari dia, memang abang gue ini punya prinsip “ LEBIH INDAH MEMBERI, DARIPADA MENERIMA “.
Pada saat dia baru menjabat menjadi Pinca di Jogja, dia cerita, kalau cash flownya rada jeblok, jadi dia perlu dana segar untuk merubah yang jeblok jadi lancar, dia keluarkanlah program untuk merubah pola menyimpan uang dibawah kasur menjadi pola menyimpan uang di Bank, namanya juga konco, apalagi juga masih saudara, maka termasuklah gue yang pertama melaksanakan program tsb di Banknya, sampai sampai gue dikenalkan sama para managernya, dan dikatakan “ bahwa program ini benar dan bisa dijalankan, buktinya saudara gue ini bisa melakukannya “
Tahun 2010 ini, gue kerumahnya di Jogja 4 x, duma 3 x, andre 3 x dan ardith 5 x, sedangkan kerumahnya yang di Semarang kita 1 x, banyak banget ya..?
Ada satu cerita yang menarik tentang kedatangan Andre ke Jogja, beberapa minggu sebelum ‘Bang Apul lelayu, siang siang Andre telpon kerumah dan bilang, kalau kamis malam ini sesudah pulang kantor, dia akan langsung berangkat ke Jogja, dan hari Jum’atnya dia telah ijin untuk tidak masuk kerja dan pulangnya hari minggu, gue ama duma dengernya sih., sebel banget, tanpa ijin dulu, main langsung berangkat aja. tapi mau bilang apa lagi, dia udah bawa baju dan udah beli tiket keretanya, pulangnya dia cerita, selama disana dia ngobrol sama Tulangnya, sabtu pagi bersih bersih kebun sama tulangnya, minggu ke gereja sama tulangnya, kayanya dia lagi mencanangkan program week end bersama tulang.
Waktu kita tanyakan “ kenapa mendadak mau ke Jogja..? “ dia hanya cengengesan aja, gak pernah dijawab dan gak pernah ditanggapi, tapi sesudah Tulangnya berangkat ke negeri diatas langit, barulah dia menjawab, dia bilang begini; “ waktu kamis pagi jam 3, andre kebangun dan se olah olah mendengar suara mama yang mengatakan, ‘dre., temanilah tulangmu itu, dia ingin ngobrol2 sama kamu ‘ yah udah., pagi sebelum berangkat kantor, andre pastikan malam ini juga andre harus berangkat ke Jogja “ oh gitu toh dre..!
Itulah saat saat indah, saat andre bersama tulangnya. saat dia pergi ke jogja dengan tuntunan spiritualnya.
Itu ceritanya andre, kalau dengan ardith lain lagi, mungkin inilah satu satunya bere yang berani suka suka ama tulangnya, gak ada takutnya sama tulang, kalau diledekkin, pasti bales ngeledekkin, kalau dija’ilin, pasti bales ngeja’ilin, tapi mereka sangat kompak, sering sms an, sering telpon telponan, kadang pake rahasia rahasiaan lagi.
Sekarang ini dengan adanya macem macem makanan yang di presto, ardith langsung ngeluarin ungkapan baru, yang mengatakan “ bere makan tulang ” kita taulah., pasti ini ledekkan terbaru ardith untuk tulang Apul nya.
Gue inget, waktu gue ama ardith ke Jogja, waktu ‘bang Apul harus istirahat dirumah, karena habis operasi mata, saat itu nantulangnya lagi ikut pertandingan bowling BRI di Jakarta, malam malam kita kumpul kumpul diruang tengah, Ori main piano, ardith main gitar, tulangnya nyanyi lagu I saw her standing there nya Beatles, mendadak ruangan penuh dengan gelak tawa, canda dan sukacita,
Itulah saat saat indah, saat indah ardith bercengkrama bersama tulangnya.
Kalau dengan duma..? yah., pastilah mereka punya saat saat indah, saat saat mereka bercengkrama bersama, saat mereka saling sms an dan bertelponan untuk cari informasi urusan keluarga, tapi biarlah duma aja yang nulis, kalau yang ini, gue gak berani mewakilkan mereka.
Hari Minggu ,tanggal 21 November 2010, kakak mama Ori telpon ke duma, ngasih tau kalau ‘bang Apul dirawat dirumah sakit, tapi dengan alasan gak mau di bezuuk, maka gak dikasih taulah dirawat dimana, namanya juga duma, makin gak dikasih tau, makin jadi penasaran, di telponlah semua rumah sakit yang ada di Jakarta, eh.. kamu ketauan..! rupanya saat itu ‘bang Apul dirawat di RS Cikini dan sudah dirawat mulai hari Jum’at tgl 19 November, duma sendiri baru bezuuknya hari selasa, saat itu kondisinya sudah pasang surut kaya pantai di jakarta, dan berita yang menggelegar, gue terima pada hari rabunya, yang mengatakan, bahwa ‘bang apul kondisinya semakin kritis, tanpa duma tau, kondisi gue saat itu juga lagi gak karuan, kemarinnya di RS Lamongan gue test gula darah dan kolesterol, hasilnya gula darah gue 425 dan kolesterolnya 204, untungnya tensi gue 130 per 85, dokter sana dengan entengnya bilang “ gue harus di opname “, duma nya sibuk disana, gue nya sakit disini, jadilah gue gak cerita ke duma,gue konsultasi aja ama Ucok Pasaribu, tapi sepanjang perjalanan dari Lamongan ke Surabaya di taxi gue mewek aja.
Rabu, tanggal 24 November 2010, gue pulang dari Surabaya dengan pesawat Lion air yang jam 12.40, sedangkan Ori dan Nina rencananya datang dari Jogja ke Jakarta dengan Garuda jam 11, gue nya nyampe duluan di bandara Soetta, mereka rupanya cancel sampai jam 15 an, jadi deh., gue nungguin mereka di Bandara, dari bandara kita barengan dengan jemputan mobil BRI ke RS Cikini, sepanjang perjalanan, bolak balik yang pada telpon dan sms Ori dan Nina, ada yang pake nangis, ada yang gak pake nangis, tapi pada cerita, kalau kita secepatnya nyampe di RS, kalau perlu naik ojek aja supaya cepet nyampe, idiih sebel banget deh., ”eloe eloe enak pada disana, nah., gue disini ama mereka”, ngademin orang yang lagi bingung dan gak tau mau berbuat apa, memangnya enak..!
Sampai di RS, kita langsung masuk keruang ICU, Ori langsung nangis dan meluk papanya dengan suara 3, Nina nangis dan meluk papanya dengan suara 1, sedangkan mamanya menyambut mereka dengan tangisan dengan suara 2, langsung pecahlah paduan isak tangis diruang ICU dengan nada dan irama yang teratur, sedangkan gue hanya bisa melongo memandang wajah Mangapul, gak lama gue sedikit bergeser kearah mojok, sambil ngitungin, berapa tetes air mata yang keluar dari mata kiri dan berapa yang keluar dari mata kanan.
Malamnya gue ngomong ama Nimrod, Pendi dan Ori, gue bilang “ bahwa ‘bang apul, hidupnya sudah tergantung dengan mesin, dan mesin sendiri, tidak bisa menjadi bahan gantungan, jadi untuk Ori., kalau terjadi dengan papa, akan dibawa kemana papa nantinya.? “ saat itu Ori bilang “ bahwa papanya pernah bilang, kalau terjadi apa apa dengan papa, makamkanlah papa di Jogja“, malam itu juga gue ngomong sama orang orang BRI, “ bahwa Pak Mangapul secara ilmu kedokteran sudah tidak ada harapan lagi, tapi kami keluarga masih tetap berharap dan berdoa, agar ada Mukjizat dari Tuhan dan agar yang terbaik yang Tuhan berikan kepada kami “
Tengah malam menjelang pagi kita pulang ke Bogor, karena mertua gue harus pulang juga ke Bogor, dengan rencana sorenya kami akan kembali kerumah sakit.
Rencana boleh kita ciptakan, tapi rupanya Tuhan bertindak lain, siangnya kita di telpon, bahwa ‘bang Apul kritis, tanpa ba bi bu lagi, semua bertindak cepat, pakaian langsung disiapkan untuk beberapa hari, termasuk yang warna gelap gelap, sampai disana jam 16, dan jam 17 ‘bang Apul berangkatlah ke negeri seberang.
“ AKU AKAN PERGI, DAN AKAN PERGI
KESEBUAH RUMAH DIATAS LANGIT
DIMANA HAMPARAN RUMPUT BEGITU HIJAU
DAN MATAHARI TIDAK AKAN PERNAH MATI “
Saudaraku..! sahabatku..! berangkatlah dalam damai, Tuhan memberkatimu dan memberkati keluargamu.
Amin….!
Rabu, 15 Desember 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Makasih ya ambor, ori jadi ingat kenangan-kenangan pait manis ama papa :), farewell pap....
BalasHapusyang pait2 mah dilupain aja or, yang manis2 terus dikenang, kalau perlu malah dibingkai
BalasHapus